WhatsApp Image 2026-04-11 at 13.46.19

“Belajar Menang Bersama: Membangun Pola Pikir Win-Win” Leadership Program: Rekoleksi 7 Habits (Habit-4)

Rekoleksi bulanan menjadi bagian penting dalam perjalanan pembentukan karakter mahasiswa tingkat 1 yang tinggal di Dormitory Xaverius. Didampingi oleh para pamong serta tim Promoter of Leaders, mahasiswa/i angkatan 23 kembali berhenti sejenak untuk merefleksikan diri dan belajar bersama. Memasuki rekoleksi ke-6 yang dilaksanakan pada Jumat, 6 Maret 2026 hingga Minggu, 8 Maret 2026, mahasiswa/i kembali diajak menyelami makna Habit 4: Win-Win Solution tentang bagaimana belajar untuk tidak hanya menang sendiri, tetapi bertumbuh bersama.

Rekoleksi dimulai dengan sebuah ajakan yang sederhana namun menantang: melihat ke dalam diri sendiri. Bersama Rm. Kristiono Puspo, SJ, mahasiswa/i diajak menyadari bahwa akar dari setiap tindakan adalah integritas, yaitu kesatuan antara apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan.

Dalam proses belajar, bahkan di hal teknis seperti permesinan, pertanyaan utamanya bukan sekadar “bagaimana caranya”, tetapi “apakah aku sungguh memahami dan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan?”. Pada titik inilah integritas diuji.

Mahasiswa/i juga diajak masuk ke tahap berikutnya: kedewasaan, yaitu kemampuan untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga melihat pertumbuhan orang lain sebagai bagian dari keberhasilan bersama. Dari sini, lahirlah mentalitas abundance cara pandang yang tidak dilandasi rasa takut kekurangan, tetapi keyakinan bahwa semua orang bisa bertumbuh dan “cukup”.

Antara Kompetisi dan Kolaborasi: Belajar dari Realita

Melalui money games dan berbagai aktivitas kelompok, mahasiswa/i merasakan langsung dinamika antara kompetisi dan kolaborasi. Dalam permainan, seringkali terlihat bahwa “bandar tetap menang,” sebuah refleksi bahwa sistem tertentu bisa membuat sebagian pihak selalu tertinggal.

`Dari pengalaman ini, muncul kesadaran bahwa dunia nyata tidak hanya soal menjadi yang terbaik, tetapi juga tentang bagaimana kita bertumbuh bersama. Kolaborasi bukan berarti menghilangkan kompetisi, melainkan menempatkannya secara sehat, di mana proses saling membantu justru memperkuat hasil akhir.

Dari Rasa Takut ke Rasa Cukup

Salah satu refleksi penting dalam rekoleksi ini adalah tentang dua pola pikir: mentalitas kelangkaan dan mentalitas kelimpahan.

Ketika seseorang hidup dalam rasa takut seperti takut kalah, takut tersaingi, takut tidak cukup, maka keputusan yang diambil cenderung defensif, bahkan bisa merugikan orang lain. Sebaliknya, ketika seseorang merasa “cukup”, ia lebih mampu bersyukur, berbagi, dan membuka ruang bagi orang lain untuk berkembang.

Melalui refleksi hirarki kebutuhan Maslow, mahasiswa/i diajak bertanya secara jujur:
“Apakah aku sudah cukup?” Bukan untuk cepat menjawab, tetapi untuk benar-benar memahami posisi diri dalam perjalanan hidup masing-masing.

Memahami Cara Kita Berelasi: 6 Paradigma Interaksi Manusia

Dalam sesi berikutnya, mahasiswa/i dikenalkan pada 6 paradigma interaksi manusia, mulai dari win-lose, lose-win, hingga win-win or no deal. Hal yang menarik, tidak ada satu paradigma yang bisa langsung dilabelkan begitu saja dalam sebuah situasi. Sebuah konflik bisa terlihat seperti “menang-kalah”, namun jika dilihat lebih dalam, bisa jadi berubah menjadi “kalah-kalah” dalam jangka panjang.

Di sinilah pentingnya keseimbangan antara keberanian dan tenggang rasa. Menjadi pribadi win-win bukan berarti selalu mengalah, tetapi mampu mencari titik temu tanpa kehilangan prinsip.

Menjadi Pribadi Win-Win: Sebuah Kebiasaan, Bukan Kebetulan

Seluruh rangkaian rekoleksi mulai dari refleksi, permainan, materi, hingga kebersamaan dalam makrab dan kegiatan santai, mengarah pada satu benang merah: Bahwa menjadi pribadi win-win bukan sesuatu yang terjadi sekali jadi. Ia adalah kebiasaan yang dilatih setiap hari dalam cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Pada ruang Dormitory Xaverius, proses ini tidak berhenti di ruang rekoleksi. Justru di sanalah ia dimulai dalam kehidupan bersama, dalam konflik kecil sehari-hari, dan dalam pilihan-pilihan sederhana yang membentuk karakter.

🌱 Menang bersama bukan berarti semua menjadi sama, tetapi semua diberi ruang untuk bertumbuh.

Promoter of Leaders – Xaverius Dormitory

WhatsApp Image 2026-04-10 at 10.56.36 (2)

Merayakan Tri Hari Suci Paskah 2026 ala KMK Pedro Arrupe Jalan Kaki ‘ Camino’ dari Bekasi ke Kolese Kanisius

Secara fisik kami lelah tapi di saat bersamaan kami merasa penuh. Itulah yang dialami oleh para pendamping dan mahasiswa KMK Pedro Arrupe Politeknik Industri ATMI Cikarang dalam kegiatan yang bertajuk Camino “Bekasi to Canisius College” pada perayaan Tri Hari Suci tahun ini. Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan fisik dari satu titik ke titik lain, melainkan sebuah ziarah yang mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesamanya, dan dengan Tuhan yang hadir dalam pengalaman konkret. Pengalaman ini menghidupkan apa yang disebut sebagai contemplativus in actione atau sebuah cara beriman di mana kontemplasi tidak menjauh dari dunia, tetapi justru ditemukan di tengah tindakan, di tengah gerak, dan di tengah kehidupan yang nyata.

Berangkat dari pengalaman Camino tahun sebelumnya, penyelenggaraan kali ini terasa lebih matang, lebih terarah, dan lebih sadar akan tujuan reflektif yang hendak dicapai. Setiap detail dipersiapkan bukan hanya demi kelancaran acara, tetapi demi menciptakan pengalaman yang otentik dan transformatif. Bahkan medali yang dibuat dari daur ulang tutup botol oleh ATMI Recycle Studio menjadi simbol bahwa sesuatu yang tampak sederhana, bahkan terbuang, dapat diolah menjadi tanda makna dan pencapaian. Sejak awal, Camino ini telah mengundang para pesertanya untuk melihat hidup dengan cara yang baru dengan berbagai pengalamannya. 

Perjalanan Camino kali ini diawali dengan perayaan Ekaristi Kamis Putih yang dirayakan bersama di Aula Xaverius Dormitory. Ekaristi ini menjadi sebuah momen yang langsung menempatkan kami para peserta dalam pengalaman iman yang tidak biasa. Dalam ritus pembasuhan kaki, kami tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku yang saling membasuh kaki teman di sebelahnya sekaligus menghadirkan pengalaman konkret tentang kerendahan hati dan pelayanan. Dalam homilinya, Romo Kris, SJ mengajak semua yang hadir untuk tidak hanya melihat dengan mata, tetapi dengan hati dan batin yang peka. Ia menunjukkan sebuah karya Yesus memanggul salib yang terbuat dari bahan daur ulang, yang tampak indah dari satu sisi namun menyimpan ketidaksempurnaan (cacat produksi) di sisi lainnya. Dari sana, kami diajak menyadari bahwa hidup manusia pun demikian, penuh dengan sisi rapuh yang sering kali tersembunyi di balik tampilan luar. Pesan ini menjadi semacam kompas yang menemani perjalanan Camino yang akan segera dimulai. Setelah misa, suasana kebersamaan semakin diperteguh melalui makan malam dan bonding dalam kelompok kecil sekaligus menciptakan rasa aman dan keterhubungan sebelum memasuki perjalanan yang tidak mudah. Dengan semangat contemplativus in actione, momen-momen sederhana ini menjadi kontemplasi di mana relasi, tubuh, dan pengalaman menjadi jalan untuk menemukan makna yang lebih dalam.

Perjalanan Camino dimulai dengan dinamika yang tidak terduga yakni ketika hujan deras dan angin kencang sempat menunda keberangkatan kami menuju Stasiun Cikarang. Keterbatasan akses transportasi menjadi tantangan awal yang harus dihadapi bersama, menguji kesabaran sekaligus solidaritas di antara anggota kelompok. Namun justru dalam ketidaknyamanan itulah pengalaman mulai berbicara, mengajak kami untuk keluar dari zona nyaman dan masuk ke dalam realitas. Setibanya di Stasiun Bekasi, langkah kaki benar-benar kami mulai. Setiap langkah dan kelelahan menjadi pintu masuk menuju kesadaran diri. Dinamika kelompok pun mulai terlihat dengan jelas, menghadirkan wajah-wajah yang apa adanya. Ada yang berjalan cepat hingga tanpa sadar meninggalkan temannya, ada yang memilih berjalan pelan namun konsisten, dan ada pula yang mulai merasakan sakit ketika tubuh mencapai batasnya.

Di tengah segala dinamika, muncul pula momen-momen kecil yang justru menjadi sumber kekuatan yang tidak terduga. Tawa ringan, percakapan sederhana, dan kata-kata penyemangat menjadi penopang yang menjaga langkah tetap bergerak maju. Bahkan kalimat sederhana seperti “sedikit lagi sampai” menjadi bentuk harapan yang meskipun tidak selalu akurat, mampu menjaga semangat tetap menyala. Beberapa memilih berjalan berdua agar perjalanan terasa lebih ringan, sementara yang lain menemukan kekuatan dalam kebersamaan kelompok. Melalui pengalaman ini, nilai solidaritas tidak diajarkan sebagai konsep, tetapi dialami sebagai kenyataan yang menghidupkan. Camino memperlihatkan bahwa dalam perjalanan hidup, kita tidak pernah benar-benar berjalan sendiri, meskipun terkadang merasa demikian. Setiap orang membawa beban masing-masing, tetapi juga menjadi penopang bagi yang lain. Di hadapan kelelahan yang sama, kami menemukan bahwa kebersamaan adalah bentuk rahmat yang sering kali baru disadari ketika dibutuhkan. Dalam contemplativus in actione, relasi ini bukan sekadar interaksi sosial, melainkan ruang di mana Tuhan hadir melalui sesama yang berjalan bersama kita.

Setibanya di Kolese Kanisius, kami disambut dengan hangat oleh panitia dan para pendamping. Momen tersebut menegaskan bahwa setiap perjuangan dan perjalanan layak untuk dihargai. Medali yang dikalungkan dan jersey yang diberikan bukan sekadar simbol penyelesaian perjalanan, tetapi pengakuan atas proses yang telah dilalui dengan segala dinamika di dalamnya. Namun Camino tidak berhenti pada pencapaian fisik tersebut, melainkan berlanjut dalam proses refleksi yang menjadi inti dari pedagogi Ignatian. Pada Jumat Agung, setelah ibadat, para peserta diajak untuk masuk ke dalam sharing kelompok dan pleno, mengolah pengalaman yang telah kami jalani menjadi makna yang lebih dalam. Cerita-cerita yang muncul sangat beragam, mulai dari rasa syukur, kegembiraan, hingga kejengkelan terhadap dinamika kelompok yang tidak selalu mudah. Namun justru dari keberagaman itulah terlihat bahwa setiap orang mengalami Camino dengan cara yang unik dan personal. Pengalaman melihat “dunia malam” membuka mata kami terhadap realitas kehidupan yang lebih luas, menghadirkan rasa syukur yang sebelumnya mungkin tidak disadari. Dalam refleksi tersebut, kami yang menyadari bahwa rasa sakit yang kami alami hanyalah sebagian kecil dari penderitaan yang dialami Yesus dalam jalan salib-Nya.

Perjalanan ini mencapai puncaknya dalam perayaan Vigili Paskah yang dirayakan bersama di Sport Hall Kolese Kanisius.  Ekaristi ini menjadi momen yang merangkum seluruh pengalaman dalam terang kebangkitan Paskah. Dalam homilinya, Romo Kris mengajak semua umat yang hadir untuk tidak berhenti pada pengalaman dan refleksi semata, tetapi melangkah lebih jauh menuju aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dunia yang kita hidupi ini sedang terluka. Ia menekankan pentingnya pemulihan semesta yang dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab. Pesan ini menjadi peneguhan bahwa Camino bukanlah sebuah peristiwa yang selesai ketika langkah berhenti, melainkan sebuah cara hidup yang terus berlanjut. Semangat contemplativus in actione menyadarkan bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, dapat menjadi perjumpaan dengan Tuhan jika dijalani dengan kesadaran batin yang reflektif. Ketika kami kembali ke ATMI Cikarang, kami tidak hanya membawa kenangan, tetapi juga cara pandang baru terhadap hidup dan iman. Kami telah belajar bahwa iman tidak selalu hadir dalam momen besar dan spektakuler, tetapi justru dalam hal-hal sederhana yang dijalani dengan kesadaran penuh. Dalam setiap langkah yang lelah, dalam setiap tawa kecil di tengah perjalanan, dan dalam setiap keheningan batin yang muncul, kami menemukan bahwa Tuhan hadir secara nyata. Camino ini menjadi pengingat bahwa hidup itu sendiri adalah sebuah perjalanan, dan dalam perjalanan itu, kita selalu diundang untuk melihat lebih dalam, merasakan lebih jujur, dan berjalan bersama dengan penuh harapan.

Sebagai penutup, tak lupa kami mengucapkan terima kasih kepada para donatur dan sponsor, antara lain: ATMI Recycle Studio, PT. Trimitra Nusantara Sakti, Batik Trikusumo, Bp. Arman, Bp. Angga Limanggus, Bp. Arief Rachmat, Bp. Yohanes Purnomo, Bp. Gregorius Superma, dan Bp. R. Agung Nugraha.

Mau paskahanmu berbeda dari biasanya? Join KMK Pedro Arrupe, Man for Others. (HM-Campus Ministry)

Ad Maiorem Dei Gloriam.

Refleksi : Walking the wounded world 

WhatsApp Image 2026-04-10 at 11.22.48 (1)

Walking the Wounded World

Sebenarnya apa arti berjalan ini? Apakah ini hanya sekadar perjalanan fisik yang menguji kekuatan tubuh? Camino sama seperti perjalanan panjang setiap manusia semasa hidup. Perjalanan yang penuh kejutan, kelelahan, ketakutan juga harapan. Perjalanan yang bukan hanya soal sampai tujuan, bukan tentang seberapa cepat, bukan tentang seberapa jauh, juga bukan tentang seberapa tangguh tetapi tentang seberapa rela kita, seberapa peka kita, dan seberapa peduli kita terhadap proses perjalanan yang panjang ini. Apakah kita sudah membuka hati nurani kita untuk segala hal yang ada di sekitar kita? Kita kerap kali tidak peduli pada diri sendiri, pada sesama, pada dunia dan kerap kali tutup mata tentang Tuhan yang selalu sabar dan setia menuntun perjalanan kita.

Aku sangat bersyukur bisa memiliki pengalaman camino ini. Berjalan bersama dunia yang terluka dan rapuh adalah pengalaman yang sangat berharga juga menyakitkan bagiku. Ketika aku melihat anak kecil mengemis dan mengamen di jam 12 malam, lalu ada pengemudi taxi tidur di kursi mobil, pemulung yang merogoh tempat sampah, orang yang tidur di depan sebuah ruko dengan beralaskan kardus tanpa menggunakan bantal ataupun selimut, seorang waria yang merayu pria di pinggir jalan, hingga seorang penjaga parkir di alfamart yang sedang bertengkar dengan seseorang demi memperebutkan lahan parkir, mereka bertarung mati-matian dengan segala kondisi demi bisa hidup. Aku mulai menyadari bahwa luka dunia yang kulihat bukan hanya milik mereka yang hidup di pinggir jalan, tetapi juga ada dalam diriku sendiri luka karena kurang bersyukur, luka karena sering mengeluh, luka karena memilih untuk tidak peduli. Hatiku bergejolak, bagaimana bisa aku yang hidup jauh lebih aman dan nyaman dari mereka masih selalu mengeluh atas apa yang sudah kumiliki. Aku merasa seperti ditampar kenyataan, aku yang sedikit lelah justru memilih ingin menyerah, sedangkan mereka terus memperjuangkan hidupnya hari demi hari, detik demi detik. Sangat tidak pantas kita menyalahkan dunia ataupun menyalahkan Tuhan padahal kita sendiri sering acuh tak acuh pada nilai-nilai kemanusiaan kita sendiri. Kita tidak dapat memilih lahir dari siapa dan tinggal di lingkungan yang bagaimana. Kaum behavioristik (Skinner) menganggap bahwa manusia sepenuhnya makhiuk reaktif, yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Lingkungan menjadi penentu tunggal tingkah laku manusia. Manusia tidak pada dasarnya baik atau jelek, tetapi netral, menjadi baik atau jelek tergantung lingkungannya. Kepribadian manusia terbentuk dari hubungan individu dengan lingkungannya. Aku sering berpikir bahwa aku adalah pribadi yang cukup peka dan peduli. Namun perjalanan ini seperti membuka topeng yang selama ini kupakai. Hingga aku berpikir apakah aku mampu membuat lingkungan yang aman dan nyaman bagi orang-orang seperti mereka?

Di tengah perjalanan aku benar-benar sangat lelah, kakiku lecet dan sakit, aku merasa sangat jengkel terhadap diriku sendiri, aku ingin menyerah, tapi setiap bertemu orang-orang yang berjuang untuk hidupnya dipinggir jalan membuatku merasa sangat bersalah jika aku memilih menyerah. Bahkan tanpa kusadari ternyata rekan seperjalananku sudah merasa lelah dan tidak kuat untuk melanjutkan perjalan. Aku sadari ternyata aku salah satu bagian dari manusia yang ingin menutup mata dari luka dunia. Ketika kakiku semakin sakit dan langkahku semakin berat, aku mulai memahami bahwa kelelahan ini bukan hanya tentang fisik. Ada kelelahan batin yang selama ini mungkin aku abaikan. Aku lelah karena terlalu sering menuntut hidup berjalan sesuai keinginanku. Aku lelah karena terlalu fokus pada diriku sendiri. Dan dalam kelelahan itu, aku justru dipaksa untuk berhenti sejenak, untuk melihat, untuk mendengar, dan untuk merasakan dengan lebih jujur. Tuhan hadir dalam setiap langkah yang terasa berat, dalam setiap perjumpaan yang membuka mataku, bahkan dalam rasa lelah yang hampir membuatku menyerah. Tuhan tidak menghilangkan rasa sakitku, tetapi Ia memberiku kekuatan untuk tetap melangkah. Dalam kelelahan dan rasa sakit itu, aku juga mulai merenungkan penderitaan Yesus Kristus ketika memanggul salib-Nya.

Jalan salib bukan hanya tentang penderitaan fisik, tetapi tentang kesetiaan untuk terus berjalan meskipun ditolak, disakiti, dan ditinggalkan. Aku menyadari bahwa sering kali aku mudah menyerah dalam hal hal kecil, sementara Yesus tetap melangkah dalam penderitaan yang begitu besar, bukan untuk diri-Nya sendiri, tetapi demi kasih kepada manusia. Bukan untuk menyamakan penderitaanku dengan penderitaan Kristus, tetapi untuk belajar setia, belajar bertahan, dan belajar mengasihi di tengah ketidaknyamanan. Harapan bagiku sekarang bukan lagi tentang hidup tanpa masalah, tetapi tentang keberanian untuk tetap berjalan meskipun ada luka. Harapan adalah percaya bahwa setiap langkah kecil memiliki arti, dan bahwa Tuhan bekerja bahkan dalam hal-hal yang tidak terlihat.

Sebagai langkah nyata, aku tidak ingin refleksi ini berhenti hanya sebagai tulisan atau perasaan sesaat. Dalam minggu ini, aku ingin mulai dari hal-hal kecil: lebih sadar ketika melihat orang lain yang membutuhkan, tidak langsung menghakimi, dan berani memberikan bantuan sederhana entah itu waktu, perhatian, atau materi sesuai kemampuanku. Aku juga ingin melatih diriku untuk tidak mengeluh dalam hal-hal kecil, tetapi belajar bersyukur dalam setiap keadaan. Perjalanan ini mengajarkanku bahwa berjalan bersama dunia yang terluka berarti juga bersedia terluka. Terluka karena berani melihat, karena berani peduli, dan karena berani mengasihi. Camino ini belum selesai, bukan hanya karena jarak yang belum kutempuh, tetapi karena proses di dalam diriku yang masih terus berjalan. Aku ingin belajar untuk tidak hanya berjalan melewati dunia yang terluka, tetapi juga berjalan bersama dunia itu dengan hati yang lebih terbuka, dengan langkah yang lebih sadar, dan dengan iman yang lebih hidup.

(Simon Permadi, TRM tk2)

IMG_0940

Mendahulukan yang Utama: Rekoleksi 7 Habits (Habit 3) Belajar Memilih Yang Paling Bermakna

Leadership Program: Rekoleksi Habit 3 “Dahulukan yang Utama”

Ada satu kebiasaan yang hampir dimiliki semua mahasiswa: sibuk. Jadwal penuh, tugas selesai, agenda berjalan. Dari luar semuanya tampak produktif. Namun jika ditanya dengan jujur, tidak jarang muncul perasaan yang sulit dijelaskan: mengapa rasanya lelah, tetapi tidak jelas lelah untuk apa?

Pertanyaan inilah yang menjadi titik awal Rekoleksi 7 Habits – Habit 3: Dahulukan yang Utama, yang diselenggarakan di Dormitory mahasiswa tingkat 1 Politeknik Industri ATMI pada 13–14 Februari 2026.

Program ini merupakan bagian dari Leadership Program pembentukan karakter mahasiswa, yang mengajak mahasiswa tidak hanya belajar mengatur waktu, tetapi juga memahami apa yang benar-benar penting dalam hidup mereka.

Ketika Hal Mendesak Selalu Menjadi Prioritas

Dalam sesi refleksi pembuka berjudul “Yang Utama Menunggu”, mahasiswa diajak melihat pola yang sangat manusiawi: kita hampir selalu merespons hal yang paling mendesak.

Pesan yang masuk langsung dibalas.
Tugas dengan deadline dikerjakan terlebih dahulu.
Hal yang menuntut perhatian segera otomatis menjadi prioritas.

Namun masalahnya, hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup sering kali tidak datang dengan alarm.

Relasi yang perlu dirawat tidak selalu menuntut segera.
Nilai hidup tidak datang dengan notifikasi.
Arah hidup juga tidak memiliki tenggat waktu.

Akibatnya, semuanya terasa seperti “bisa nanti saja.”

Di sinilah paradoks kehidupan muncul: yang paling penting justru sering paling sering ditunda.

Seperti diingatkan oleh Viktor Frankl, manusia selalu hidup tertarik pada sesuatu yang memberinya makna. Namun tanpa disadari, cara kita mengatur hari sebenarnya sudah menunjukkan apa yang kita anggap penting. Apa yang kita dahulukan, lama-kelamaan akan membentuk siapa diri kita.

Manajemen Waktu atau Manajemen Hidup?

Dalam berbagai sesi rekoleksi, mahasiswa diperkenalkan dengan beberapa alat sederhana seperti:

  • To-do list

  • Skala prioritas

  • Perencanaan mingguan

  • Perencanaan bulanan

Sekilas semua ini tampak seperti teknik manajemen waktu biasa. Namun sebenarnya ada pertanyaan yang lebih mendasar di baliknya:

Waktu kita sedang dipakai untuk apa?

Konsep empat kuadran prioritas dari Stephen R. Covey membantu mahasiswa melihat pola hidup manusia. Banyak orang terjebak pada hal-hal yang mendesak, sementara hal-hal penting yang bersifat jangka panjang justru sering tertunda.

Salah satu ilustrasi yang digunakan dalam rekoleksi adalah botol, batu besar, dan pasir.

Jika pasir dimasukkan terlebih dahulu, batu besar tidak akan muat.
Namun jika batu besar dimasukkan terlebih dahulu, pasir masih dapat mengisi ruang yang tersisa.

Pesannya sederhana namun kuat: Jika hidup sudah penuh dengan “pasir”, jangan heran jika hal-hal besar tidak pernah mendapat tempat.

Kebebasan Memilih dan Tanggung Jawab Hidup

Salah satu sesi rekoleksi juga membahas tema yang cukup mendalam, yaitu pembedaan roh dalam spiritualitas Ignasian.

Intinya sederhana tetapi menantang: manusia itu bebas.

Kita bebas memilih untuk belajar, menunda tugas, tidur, makan, atau bahkan menghindari tanggung jawab. Namun setiap kebebasan selalu membawa konsekuensi. Pilihan kecil hari ini perlahan membentuk arah hidup kita.

Dalam tradisi spiritualitas Ignatian, latihan seperti Examen, refleksi, dan agere contra membantu seseorang mengenali gerak batin dalam dirinya.

Pendiri spiritualitas ini, Ignatius Loyola, pernah menulis:

“Bukan banyaknya pengetahuan yang memuaskan jiwa, melainkan merasakan dan mengecap sesuatu secara batin.”

Artinya, memahami hidup tidak cukup hanya melalui teori. Manusia perlu mengalaminya secara reflektif.

Mengapa Kita Sering Ikut Arus?

Salah satu bagian yang paling menarik dalam rekoleksi ini adalah permainan tentang konformitas sosial.

Melalui simulasi sederhana, mahasiswa melihat kenyataan yang cukup mengejutkan: manusia bisa ikut menjawab sesuatu yang salah hanya karena semua orang lain menjawab salah.

Fenomena ini berkaitan dengan dua kebutuhan dasar manusia:

  • ingin benar

  • ingin diterima

Kadang seseorang tahu sesuatu tidak tepat, tetapi tetap mengikuti arus karena tidak ingin menjadi orang yang berbeda.

Masalahnya, jika terlalu sering mengikuti arus, seseorang bisa menjalani hidup yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dipilihnya sendiri.

Yang Paling Penting Tidak Pernah Berisik

Pada akhirnya, rekoleksi ini tidak menawarkan rumus hidup instan. Tidak ada jadwal ajaib yang membuat semua orang tiba-tiba disiplin.

Yang ditawarkan justru sesuatu yang lebih sederhana: kesadaran.

Kesadaran bahwa hidup tidak hanya diisi oleh apa yang kita lakukan, tetapi juga oleh apa yang kita pilih untuk didahulukan.

Karena dalam kenyataannya, hal-hal yang paling penting dalam hidup jarang berteriak. Ia tidak mendesak, tidak memaksa, dan tidak panik.

Ia hanya menunggu.

Kadang yang perlu kita lakukan hanyalah berhenti sejenak, melihat isi “botol” hidup kita, lalu memutuskan: batu mana yang sebenarnya perlu dimasukkan lebih dulu.

Valentine yang Berbeda di Dormitory ATMI

Tanggal 14 Februari sering identik dengan coklat, bunga, dan pesan singkat bertuliskan Happy Valentine’s Day. Namun di Dormitory Politeknik Industri ATMI, hari tersebut dirayakan dengan cara yang berbeda: melalui rekoleksi tentang prioritas hidup.

Alih-alih bertanya “siapa yang kita cintai?”, rekoleksi ini justru mengajak mahasiswa bertanya sesuatu yang lebih mendasar:

“Apa yang sebenarnya kita cintai dalam hidup kita?”

Kegiatan ditutup dengan sebuah sesi unik yaitu Candle Light Dinner—yang justru dilakukan pada siang hari.

Mahasiswa makan bersama dalam kelompok basis dengan suasana sederhana namun hangat, ditemani cahaya lilin yang memberi nuansa reflektif. Dalam momen tersebut, mahasiswa diajak berbagi pengalaman personal:

  • kapan mereka merasa sungguh dicintai

  • kapan mereka merasa telah mencintai orang lain

Percakapan sederhana ini membuka kesadaran bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar atau dramatis. Sering kali cinta muncul dalam hal-hal kecil: perhatian, kehadiran, dan kesediaan meluangkan waktu bagi orang lain.

Dari sana muncul satu refleksi yang jujur:

Apa yang kita cintai biasanya terlihat dari apa yang kita dahulukan.

Dan mungkin itulah pesan paling tenang dari rekoleksi ini:

Yang utama dalam hidup tidak pernah berisik—ia hanya menunggu untuk dipilih.

Promoter of Leaders Xaverius Dormitory

WhatsApp Image 2026-02-06 at 16.11.03

Rekoleksi Our Identity Sebagai Ruang Jeda dan Peneguhan Arah

Pada Jumat, 6 Februari 2026, Politeknik Industri ATMI Cikarang mengambil jeda yang tidak biasa. Di tengah ritme perkuliahan yang padat, setelah pekan ujian dan di sela special course, mahasiswa tingkat II dan III diajak berhenti sejenak dari dunia target, capaian, dan performa. Bukan untuk menambah materi kuliah, melainkan untuk kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar siapakah aku, dan bagaimana aku hadir di dunia? Rekoleksi singkat bertajuk “Our Identity” ini menjadi yang pertama bagi mahasiswa tingkat II dan III, sebuah tonggak baru dalam pembinaan manusia berkelanjutan di Polin ATMI. Di sinilah pendidikan vokasi berbasis Jesuit kembali menegaskan jati dirinya untuk mendidik manusia secara utuh, bukan sekadar mencetak tenaga terampil. Rekoleksi ini bukan ruang pelarian, melainkan ruang pendalaman sebagai tempat mahasiswa belajar mendengarkan hidupnya sendiri.

Sebagai institusi pendidikan tinggi vokasi yang berakar pada tradisi Jesuit School, Politeknik Industri ATMI memandang refleksi-rekoleksi sebagai bagian esensial dari proses belajar. Dalam spiritualitas Ignasian, refleksi bukan aktivitas tambahan, melainkan cara hidup finding God in all things. Mahasiswa tingkat I telah mengalami ritme refleksi-rekoleksi bulanan selama tinggal di dormitory, dengan fokus pada pertanyaan who am I? dan pendalaman Seven Habits Stephen Covey. Namun perjalanan pembentukan manusia tidak berhenti di tahun pertama. Oleh karena itu, Campus Ministry bersama Tim Kemahasiswaan menggagas rekoleksi bagi tingkat II dan III sebagai bentuk pendampingan yang berkelanjutan. Rekoleksi ini menjadi penanda bahwa perhatian pada dimensi batin mahasiswa tidak berakhir saat mereka meninggalkan asrama. Pendidikan manusia tetap berjalan, seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan tanggung jawab.

Tema Our Identity dipilih bukan tanpa alasan. Mahasiswa tingkat II dan III berada dalam fase hidup yang berbeda dari tahun pertama lebih sadar akan diri, mulai bergulat dengan pilihan, relasi, kegagalan, dan harapan. Identitas tidak lagi sekadar “siapa aku”, tetapi “bagaimana aku hidup, bertindak, dan mengambil sikap”. Karena itu, rekoleksi ini diarahkan pada pendalaman cara bertindak reflektif dan internalisasi nilai 4C 1L (competence, conscience, compassion, commitment, and leadership). Khusus bagi mahasiswa tingkat III, rekoleksi ini juga diberi aksen Man on Mission, sebagai persiapan batin menjelang masa magang dan perutusan ke dunia kerja. Identitas tidak berhenti pada pemahaman diri, tetapi menemukan arah dan tujuan hidup.

Secara teknis, peserta rekoleksi dibagi ke dalam tiga kelas yakni Tingkat II Program Studi Mesin Industri, Tingkat II Program Studi Manajemen Industri yang digabung dengan Teknologi Rekayasa Mekatronika, serta Tingkat III Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika. Meskipun berada dalam kelas yang berbeda, seluruh sesi dirancang dalam kerangka yang sama. Rekoleksi ini menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry, sebuah metode yang menekankan kekuatan, pengalaman hidup, dan harapan. Metode ini tidak diperkenalkan secara teoritis kepada mahasiswa, tetapi dihadirkan secara implisit melalui alur sesi. Empat tahap (Discover, Dream, Design, Destiny) diterjemahkan ke dalam pengalaman konkret yang dekat dengan dunia mahasiswa. Dengan cara ini, refleksi tidak terasa abstrak, melainkan kontekstual dan personal.

Sesi pertama menjadi pintu masuk yang hening dan personal. Seluruh peserta, dari ketiga kelas, diajak membaca artikel yang sama berjudul “Aku Dikasihi–Dicintai”, sebuah refleksi yang terinspirasi dari buku The Art of Loving karya Erich Fromm. Bacaan ini tidak disajikan sebagai materi akademik, melainkan sebagai teks reflektif yang dibaca dalam suasana silentium terbatas, menyerupai praktik Lectio Divina. Mahasiswa membaca perlahan, berhenti ketika menemukan kalimat yang “menempel”, lalu diam untuk membiarkan perasaan dan pikiran hadir. Dalam keheningan itu, teks menjadi cermin pengalaman hidup. Banyak mahasiswa menyadari bahwa berbicara tentang cinta ternyata tidak sesederhana yang mereka bayangkan.

Artikel tersebut mengajak peserta menyelami tema-tema mendasar antara lain trauma of birth, pengalaman dicintai, dan pemahaman cinta sebagai sebuah seni. Bagi sebagian mahasiswa, kata-kata dalam teks itu beresonansi dengan luka masa lalu, relasi keluarga, atau dinamika cinta yang sedang mereka jalani. Setelah membaca, peserta diminta menuliskan satu kalimat yang paling menyentuh serta merefleksikan apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Proses ini sederhana, tetapi dampaknya nyata. Tidak sedikit mahasiswa yang mengaku mendapatkan cara pandang baru tentang cinta bukan sebagai sesuatu yang instan, melainkan sebagai proses belajar, merawat, dan bertumbuh. Di titik ini, sesi Discover dan Dream mulai bekerja secara halus dan tidak langsung.

Sesi kedua membawa peserta masuk lebih jauh ke dalam kisah hidupnya masing-masing. Metode yang digunakan berbeda di setiap kelas, tetapi tujuannya sama untuk membantu mahasiswa mengenali diri secara lebih jujur dan mendalam. Di kelas Mesin Industri Tingkat II, sesi ini dinamai My Mindmap. Mahasiswa diajak mengenali figur-figur berpengaruh dalam hidupnya, talenta yang dimiliki, serta gambaran diri yang mereka sadari selama ini. Semua itu diekspresikan dalam bentuk mindmap yang dilengkapi simbol-simbol personal. Proses visual ini membantu mahasiswa melihat dirinya secara utuh, bukan sekadar potongan-potongan pengalaman.

Di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, sesi kedua diberi nama Life Investigation. Dengan pendekatan metafora seorang detektif, mahasiswa diajak menelusuri pola-pola hidup, keputusan penting, serta figur yang membentuk perjalanan mereka. Namun yang membedakan sesi ini adalah sudut pandang syukur. Mahasiswa tidak hanya diminta mengenali peristiwa, tetapi juga memaknainya dengan rasa terima kasih bahkan atas pengalaman yang tidak selalu menyenangkan. Proses ini membuka kesadaran bahwa identitas dibentuk bukan hanya oleh keberhasilan, tetapi juga oleh kegagalan dan keterbatasan. Di sinilah refleksi mulai bersentuhan dengan kedewasaan.

Untuk kelas TRM Tingkat III, alur sesi sedikit dimodifikasi. Sesi pertama diawali dengan perkenalan yang unik dengan menyebutkan fun fact tentang diri disertai gerakan. Dinamika ini mencairkan suasana sekaligus membuka sisi lain dari diri dan sesama yang jarang terlihat di ruang kelas. Baru pada sesi kedua, peserta diajak membaca teks “Aku Dikasihi–Dicintai”. Urutan ini membantu mahasiswa tingkat akhir memasuki refleksi dengan kesiapan emosional yang lebih terbuka. Mereka tidak hanya membaca teks, tetapi membacanya dari ruang relasi yang sudah terbangun.

Sesi ketiga dan keempat merupakan turunan dari tahap Design dan Destiny dalam Appreciative Inquiry. Di kelas Mesin Industri Tingkat II, setelah menyelesaikan mindmap, mahasiswa diajak mengikuti Peer Walk. Dalam sesi ini, mahasiswa berpasangan dan berjalan bersama sambil mengontemplasikan pengalaman hidup dan cinta secara empatik. Peer Walk menjadi latihan nyata kontemplasi empatik untuk belajar mendengarkan tanpa menghakimi, hadir tanpa memberi solusi. Banyak mahasiswa menyadari bahwa didengarkan dengan sungguh adalah pengalaman yang menyembuhkan. Empati tidak diajarkan lewat teori, tetapi dialami secara langsung.

Di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, kontemplasi empatik dilakukan dalam kelompok kecil berisi tiga orang. Setiap peserta bergantian berperan sebagai pencerita, pendengar aktif, dan pendengar pasif. Dinamika ini melatih keterampilan mendengarkan, melakukan probing, dan paraphrase seperti sebuah latihan menjadi konselor awam. Prinsipnya sederhana yakni we listen, we don’t judge. Mahasiswa belajar bahwa kehadiran yang penuh perhatian sering kali lebih bermakna daripada nasihat. Latihan ini menumbuhkan kepekaan sosial dan belas kasih sebagai bagian dari identitas diri.

Di kelas TRM Tingkat III, sesi ketiga dikemas dalam aktivitas Life Graph dan simbol diri. Mahasiswa diajak memetakan perjalanan hidupnya dalam bentuk grafik, dari masa lalu hingga saat ini. Melalui visualisasi ini, peserta diajak menemukan pola, titik balik, dan momen penting yang membentuk diri mereka. Lebih dari itu, mereka diajak melihat kembali jejak Tuhan dalam setiap fase hidup. Aktivitas ini membantu mahasiswa tingkat akhir memaknai perjalanan panjang yang telah mereka lalui sebelum melangkah ke fase baru.

Sesi keempat menjadi puncak rekoleksi yakni tentang perumusan diri. Di kelas Mesin Industri Tingkat II dan TRM Tingkat III, perumusan ini dikaitkan dengan Latihan Rohani 23 tentang asas dan dasar. Mahasiswa diajak mengenali prinsip-prinsip hidup yang menjadi fondasi tindakan mereka. Identitas diri dirumuskan dalam kaitannya dengan nilai 4C 1L, bukan sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai arah hidup yang konkret. Sementara itu, di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, mahasiswa diajak mendalami self-concept. Mereka merefleksikan aspek diri yang sudah kuat dan yang masih perlu dikembangkan dalam terang Our Identity 4C 1L.

Sebagai penutup, seluruh peserta menuliskan refleksi jurnal secara utuh atas pengalaman rekoleksi dari pagi hingga sore hari. Refleksi ini menggunakan kerangka Pedagogi Ignasian untuk mengenali gerak batin, mensyukuri pengalaman, menemukan makna, dan merumuskan kehendak atau aksi ke depan. Menulis menjadi ruang dialog batin, tempat mahasiswa menyusun kembali pengalaman yang telah mereka jalani. Tidak ada jawaban benar atau salah, hanya kejujuran pada diri sendiri. Sarana yang digunakan membantu mahasiswa berdamai dengan dirinya dan berani melangkah.

Dengan terselenggaranya rekoleksi tingkat II dan III ini, Politeknik Industri ATMI menegaskan komitmennya pada pendampingan manusia secara berkelanjutan. Perhatian pada dimensi batin tidak hanya menjadi hak mahasiswa dormitory, tetapi dialami oleh seluruh mahasiswa. Rekoleksi ini juga membuka jalan bagi pengembangan kurikulum pendidikan manusia yang lebih utuh dan berkesinambungan. Rekoleksi menjadi ruang jeda, ruang napas, sekaligus ruang peneguhan arah hidup. Harapannya, setiap mahasiswa semakin mengenal dirinya, sesamanya, dan panggilan hidupnya. (HM-Campus Ministry) 

Ad Maiorem Dei gloriam.

 

Refleksi peserta : (Rekoleksi Our Identity) 

WhatsApp Image 2026-02-13 at 08.07.02

Refleksi Mahasiswa dalam rekoleksi : Our Identity

Rekoleksi Our Identity yang diikuti mahasiswa tingkat 2 dan 3 Politeknik ATMI menjadi kesempatan bagi para peserta untuk berhenti sejenak, merefleksikan perjalanan hidup, serta meneguhkan nilai dan tujuan pribadi. Dalam suasana yang hening dan reflektif, mahasiswa diajak untuk semakin mengenal diri dan memaknai proses pembelajaran yang mereka jalani.

Tulisan-tulisan berikut ini merupakan rangkuman hasil refleksi para peserta rekoleksi. Setiap refleksi menggambarkan pengalaman, kesadaran baru, serta komitmen pribadi yang tumbuh selama kegiatan berlangsung. Semoga refleksi ini dapat menjadi inspirasi dan pengingat akan pentingnya proses mengenal diri dalam perjalanan pendidikan dan kehidupan.

Who Am I? – Refleksi Memahami Makna Cinta dan Diri

Sudah lama aku tidak merasakan rekoleksi. Rasanya aku diajak kembali untuk melihat apa saja yang sudah kulewati. Banyak hal yang kupelajari tentang makna cinta yang sebenarnya. Aku merasa terpanggil ketika membaca teks The Art of Love. Selama ini, aku mengira cinta yang kujalani sudah merupakan makna cinta yang sebenarnya.

Aku terlalu terlena untuk terus berharap pada orang lain, pencapaian, bahkan pada pengakuan bahwa aku adalah orang yang spesial atau berharga. Aku berharap lewat cinta, hidupku bisa terisi. Semua itu bukanlah kesalahan, melainkan kekeliruan, karena cinta ternyata bukan hanya tentang perasaan yang harus dipenuhi, tetapi juga sikap hidup yang membutuhkan pembelajaran dan proses. Aku mengira aku selalu gagal dalam percintaan, ternyata akulah yang belum sungguh belajar apa itu cinta sejati.

Melalui rekoleksi ini, aku juga diajak kembali untuk menengok peristiwa-peristiwa yang terus kuingat hingga saat ini. Aku membayangkan kembali bagaimana perasaanku saat berada dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Dari sana, aku mulai mengenali emosi yang paling menonjol dalam diriku, serta figur-figur yang paling berkesan dalam perjalanan hidupku. Aku juga diajak untuk melihat sejauh mana 4C & 1L berperan dalam diriku.

Dari semua proses itu, aku belajar bahwa manusia akan terus belajar sepanjang hidupnya: belajar memahami cinta yang sesungguhnya, belajar mengenali emosi dalam diri, dan belajar melihat peran 4C & 1L dalam hidup. (Hizkia Putra Azarya-Prodi TRM Tk2)

“Cinta karena luka, dan luka membentuk cinta”

Saya selalu merasa senang saat rekoleksi karena saya diajak untuk mengolah diri saya melalui materi-materi yang dibawakan.

Setiap orang datang ke dunia dengan membawa cerita bahkan sebelum ia mampu merangkai kata. Dan saya yakin bahwa setiap orang datang ke dunia dengan membawa luka bahkan sebelum ia mampu merangkai kata. Luka karena rasa aman atau bahkan luka karena merasa terancam. Saya baru menyadari bahwa “luka” memiliki arti yang sangat dalam, pengaruh yang sangat dalam, padahal kita sendiri tidak menyadari bahwa itu adalah luka. Luka membentuk dialog batin dan dialog batin lah yang menentukan bagaimana cara kita mencintai.

Di sini, di titik ini saya menyadari bahwa cinta dalam diriku adalah cinta yang salah. Maka dari itu, aku ingin memperbaikinya, memperbaiki bagaimana aku mencintai diriku sendiri. (Simon Permadi – Prodi TRM)

Saat saya membaca “The Art of Loving,” dimana saya dapat memahami cinta itu adalah seni, banyak yang dipahami untuk mencintai kita, tetapi harus berdamai terlebih dahulu dengan masa lalu. Memahami cinta itu rumit tetapi itu penting untuk kita ketahui bahwa cinta bukan kata yang indah. Ada satu kalimat yang membuat saya benar-benar tersentuh. Kalimat itu berbunyi, “Pengenalan diri membawa kita pada satu kesadaran mendasar bahwa aku adalah pribadi yang dikasihi.”

Ketika mengulang kembali kejadian-kejadian masa lalu sebagai rangkaian batin yang belum selesai. Kita diajak untuk berdamai dengan masa lalu. Bagaimana kehidupan dahulu kita, respon di setiap orang yang kadang menyedihkan, merasa senang dan lain-lain perasaan waktu itu. dimana letak dominan yang kita terima waktu itu dan dikelompokan menjadi satu bingkai identitas kita. (Muhammad Habib – Prodi TRM)

“Cinta yang Menumbuhkan”

Saya memaknai kegiatan hari ini untuk menyelami kedalaman batin dan memeriksa apa yang salah dari diri ini serta langkah apa yang dapat dilakukan untuk kedepannya. Hasil dari pengolahan 4C+1L menunjukkan bahwa kedepannya saya harus lebih berani ambil tanggung jawab yang lebih besar dari apa yang saya lakukan hari ini, mengingat logo saya adalah vas bunga pecah yang mana vas bunga pecah ini disambung menggunakan lem berwarna emas, yang mana maknanya lebih dalam saya lebih percaya diri akan kemampuan dan being shape not broken. hail ini membuat vas bunga menjadi lebih cantik. karena retakannya aksi konkrit saya di masa yang akan datang jauh lebih intentional dalam setiap tindakan berkata dan bertindak, memastikan bahwa semua keputusan diambil dalam dasar kesadaran, serta niat menjadi lebih baik. (Efrata Gading Pasoloran – Prodi TRM)

“Who Am I?”

Sudah lama aku tidak merasakan rekoleksi. Rasanya aku diajak kembali lagi, untuk melihat apa saja yang sudah kulewati. Banyak hal yang kupelajari tentang makna cinta yang sebenarnya. Aku merasa terpanggil ketika membaca teks tentang Art of Love. Rasanya cinta yang kujalani ku mengira merupakan makna sebenarnya dari cinta itu sendiri. Akuterlalu terlena untuk terus berharap pada orang lain, pencapaian, bahkan hingga pengakuan bahwa aku adalah orang spesial / berharga. Aku berharap lewat cinta, hidupku bisa terisi. Dan hal itu semua bukan kesalahan, tapi kekeliruan, karena cinta ternyata bukan hanya tentang perasaan yang harus dipenuhi, namun juga sikap hidup, dimana disitu butuh pembelajaran, proses, dan lainnya. Aku kira aku selalu gagal dalam percintaan, ternyata diriku lah yang tak pernah belajar apa itu cinta sejati?

Dari rekoleksi ini aku juga diajak kembali untuk flashback peristiwa apa saja yang membuatku terus mengingatnya hingga saat ini. Dan aku pun membayangkan bagaimana perasaanku saat ada di peristiwa itu. Dari situ aku mulai tau, emosional apa yang paling menonjol dari diriku, serta figur yang paling berkesan dalam peristiwa hidupku. Aku juga diajak untuk mengenal diriku sejauh mana 4C+1L berperan dalam diriku.

Dari itu semua aku belajar, bahwa sampai kapanpun manusia akan terus belajar. Belajar mengerti cinta sesungguhnya. Belajar mengenali emosional dalam diri kita, belajar sejauh mana 4C+1L berperan dalam hidup kita. (Hizkia Putra Azarya – Prodi TRM)

Pada saat kita lahir, kita memiliki trauma karena kita seperti terpisah dari kondisi nyaman, maka bayi pada saat lahir itu menangis. Kemudian aku sadar terkadang diriku yang terkadang aku masih terlalu sibuk dengan apa yang di luar diri. Ternyata diri sendiri pun perlu diperhatikan. Pada bagian kekosongan yang disangkal terkadang aku sering ingin melupakan pengalaman-pengalaman yang pahit, ternyata pengalaman itu seharusnya merasakan kembali dan menerimanya. Aku disini untuk belajar untuk fokus terhadap diri sendiri untuk memberikan perhatian dan aku juga belajar untuk mengingat dan menerima perasaan yang dipendam. (Timothy Joseph Wijaya – Prodi TRM)

“Apa itu CINTA”

Hari ini aku belajar banyak hal dimulai membaca buku dari Erich Fromm yang berjudul “The Art of Loving.” Aku sadari ada banyak hal dari kutipan buku ini yang menarik bagiku. Menurut buku ini, manusia selalu dibentuk oleh pengalaman dicintai atau tidak dicintai. Aku sadar diriku yang seperti ini, baik sifat emosi dan lain-lain disebabkan oleh pengalaman dicintai seiring perkembangan waktu rasa pengalaman dicintai dan tidak dicintai ini membentuk diri hingga saat ini aku belajar cara menginvestigasi diri dari yang diremehkan hingga diterima oleh orang disekitarku. Saat ini aku menyadari bahwa aku adalah pribadi yang cuek karena beberapa pengalaman sebelumnya. Aku akan banyak berlatih untuk menerima dan aku sedang belajar untuk lebih baik lagi. Aku belajar 4C & 1L melalui gambar timbangan dan bagian mana yang diriku banget ternyata competence dan conscience adalah keunggulanku. Aku berusaha agar 2C lainnya bisa aku kembangkan dalam diri ini. (Muhammad Zidan K – Prodi TRM)

“Arti Kata Cinta”

Dari situ saya menyadari bahwa saya adalah saya, bukan orang lain. Saya sangatlah berharga terlepas dari apa yang telah saya lakukan dan lalui, saya sangat bangga terhadapdiri sendiri karena mampu melangkah sejauh ini, serta berjuang sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik di hidup ini. (Muhammad Rafi Pratama – Prodi)

Hii, aku Miko. Hari ini aku seneng banget bisa rekoleksi saling bertukar pikiran kembali ke dalam masa lalu ku yang rapuh. Hari ini banyak belajar tentang cinta. Ternyata cinta bukan hanya untaian kata, namun perlu aksi nyata. Tidak hanya cinta tetapi juga luka, luka juga perlu diberi ruang cerita agar dari luka menjadi sukacita. Hari ini aku juga menjadi pendengar sekaligus yang bercerita tentang suatu hal. Saling bertukar pikiran satu dengan yang lain, menumbuhkan rasa empati serta peduli kepada teman. 

Begitu banyak pelajaran, masukan, dan pengalaman hari ini yang dapat aku jadikan acuan dalam menata atau menyusun masa depan yang lebih baik, menjadi pribadi yang tidak lagi bergelut dengan luka batin, tetapi aku akan menjadi pribadi yang dengan rendah hati dalam melangkah untuk mencapai tujuan yang aku inginkan dengan semangat 4C&1L yang sudah kupelajari serta memahami siapakah aku. Aku sangat yakin dengan semua ini untuk menuju masa depan yang baik dan dengan selalu rendah hati/ Terimakasih kepada Mba Feli, Mas Hari, serta semua tim kemahasiswaan yang terlibat. (Yohanes Miko Gotama – Prodi Manajemen Industri)

Sharing bersama teman-teman memberikan pemahaman baru bahwa setiap orang memiliki lukanya masing-masing atau masalahnya sendiri. Cinta gagal karena manusia tidak mau belajar. Maka dari itu, pelan-pelan aku akan membuka diriku, mencintai diriku bersama dengan luka di masa lalu yang akan kujadikan sebagai pembelajaran. Menjadi diriku yang jauh lebih baik di masa depan. (Stefani Citra – Prodi Manajemen Industri)

“Rekoleksi Kembali”

Pada rekoleksi ini aku mendengarkan bahwa cinta itu adalah seni. Bukan hanya “Aku suka kamu, aku cinta kamu.” Bukan hanya sekedar omongan yang lewat telinga kanan keluar telinga kiri. Tetapi harus dimaknai. Kita harus mencintai dengan yang berisi bukan yang kosong lalu kita mencintai. Aku menjadi bersyukur bisa mengetahui tentang hal mencintai dan dicintai.

Aku juga menemukan melalui identifikasi kepribadian, aku siapa. Ternyata aku memiliki pola yang aku tidak ketahui, yaitu “kebebasan” yang dimana jika aku makin terikat maka aku akan stress. Maka dari itu aku harus memperbaiki agar tidak berkelanjutan dan mengontrolnya dengan baik. (Lukas Tatag Hari Utama – Prodi Manajemen Industri)

Berikut adalah refleksi mahasiswa yang dirangkum oleh pendamping sebagai potret perjalanan batin selama rekoleksi Our Identity.

“Setiap orang datang ke dunia dengan membawa cerita bahkan sebelum ia mampu merangkai kata. Dan saya yakin bahwa setiap orang datang ke dunia dengan membawa luka bahkan sebelum ia mampu merangkai kata. Luka membentuk dialog batin dan dialog batinlah yang menentukan bagaimana cara kita mencintai. Maka dari itu, aku ingin memperbaikinya, memperbaiki bagaimana aku mencintai diriku sendiri.” (Simon Permadi – Prodi TRM Tk2)

“Pengenalan diri membawa kita pada satu kesadaran mendasar bahwa aku adalah pribadi yang dikasihi. Ketika mengulang kembali kejadian-kejadian masa lalu sebagai rangkaian batin yang belum selesai, kita diajak untuk berdamai dengan masa lalu. Dari situlah identitas kita terbentuk.” (Muhammad Habib – Prodi TRM Tk2)

“Vas bunga pecah yang disambung menggunakan lem berwarna emas yang merupakan simbol diriku, memiliki makna bahwa i’m being shaped, not broken. Retakan membuat vas bunga menjadi lebih cantik.” (Efrata Gading Pasoloran – Prodi TRM Tk2)

“Aku sadar terkadang diriku masih terlalu sibuk dengan apa yang di luar diri. Pada bagian kekosongan yang disangkal, terkadang aku sering ingin melupakan pengalaman-pengalaman yang pahit. Ternyata pengalaman itu seharusnya dirasakan kembali dan diterima.” (Timothy Joseph Wijaya – Prodi TRM Tk2)

“Menurut buku ini, manusia selalu dibentuk oleh pengalaman dicintai atau tidak dicintai. Pengalaman dicintai dan tidak dicintai ini membentuk diri hingga saat ini. Aku menyadari bahwa aku adalah pribadi yang cuek karena beberapa pengalaman sebelumnya.”  (Muhammad Zidhan K – Prodi TRM Tk2)

“Saya menyadari bahwa saya adalah saya, bukan orang lain. Saya sangatlah berharga terlepas dari apa yang telah saya lakukan dan lalui. Saya sangat bangga terhadap diri sendiri karena mampu melangkah sejauh ini.” (Muhammad Rafi Pratama – Prodi TRM Tk2)

“Ternyata cinta bukan hanya untaian kata, namun perlu aksi nyata. Tidak hanya cinta tetapi juga luka, luka juga perlu diberi ruang cerita agar dari luka menjadi sukacita. Begitu banyak pelajaran yang dapat aku jadikan acuan dalam menata masa depan yang lebih baik.” (Yohanes Miko Gotama – Prodi Manajemen Industri Tk2) 

“Setiap orang memiliki lukanya masing-masing atau masalahnya sendiri. Cinta gagal karena manusia tidak mau belajar. Maka dari itu, pelan-pelan aku akan membuka diriku dan mencintai diriku bersama dengan luka di masa lalu.” (Stefani Citra – Prodi Manajemen Industri Tk2)

“Cinta itu adalah seni. Bukan hanya “aku suka kamu, aku cinta kamu,” tetapi harus dimaknai. Melalui identifikasi kepribadian, aku menemukan pola dalam diriku yang sebelumnya tidak aku ketahui.” (Lukas Tatag Hari Utama – Prodi Manajemen Industri Tk2)

(FSM – Kemahasiswaan)

WhatsApp Image 2026-02-05 at 10.57.18

Rekoleksi Habit 1 & Habit 2: See, Judge, Act Leadership Program Xaverius Dormitory: Menjadi Proaktif dan Merujuk pada Tujuan Akhir

Politeknik Industri ATMI melalui Xaverius Dormitory kembali menyelenggarakan Rekoleksi pada Bulan Januari tanggal 9–11 Januari 2026 di Aula Loyola bagi mahasiswa/i Tingkat 1. Kegiatan ini menjadi bagian dari Leadership Program yang bertujuan membentuk karakter mahasiswa agar lebih proaktif dan memiliki arah hidup yang jelas.

Dalam rekoleksi ini, mahasiswa mendalami Habit 1 (Be Proactive) dan Habit 2 (Begin with the End in Mind) dari buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey. Kedua habit ini diperkenalkan sebagai bekal untuk membangun kesadaran diri, tanggung jawab pribadi, serta perencanaan hidup yang terarah.

Selama tiga hari, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga menjalani proses refleksi secara menyeluruh—mulai dari cara memandang realitas, merespons situasi, hingga merancang tujuan hidup secara konkret.

Satu Realitas, Banyak Cara Pandang

Rekoleksi diawali dengan sesi pembuka yang mengajak peserta menyadari bahwa satu realitas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Melalui contoh visual dan diskusi kelompok, peserta memahami bahwa perbedaan pandangan tidak selalu berkaitan dengan benar atau salah, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman hidup masing-masing.

Kesadaran ini menjadi pintu masuk untuk memahami Seven Habits, bahwa perubahan sejati berawal dari dalam diri, bukan dari situasi di luar. Peserta diajak untuk lebih terbuka, tidak reaktif, serta berani menunda penilaian.

Habit 1 – Proaktif: Hening Sebelum Bertindak

Pada sesi Habit 1 (Be Proactive), peserta diajak membedakan sikap reaktif dan proaktif. Sikap reaktif ditandai dengan respons yang dikuasai emosi, pikiran yang “berisik”, dan kecenderungan mendramatisasi keadaan. Banyak peserta menyadari bahwa mereka sering menjadi “sutradara” atas pikiran dan perasaan sendiri.

Melalui latihan hening dan refleksi, peserta belajar mengambil jarak dari situasi, mempertimbangkan pilihan, dan tidak langsung mengikuti dorongan emosi. Sikap proaktif dimaknai sebagai kemampuan memilih respons secara sadar, bukan sekadar bereaksi.

Konsep See – Judge – Act diperkenalkan sebagai langkah praktis: melihat situasi secara objektif, menimbang dengan jernih, lalu bertindak secara sadar. Dari sini, peserta memahami bahwa sikap proaktif merupakan bentuk kemerdekaan pribadi.

Melatih Sikap Proaktif melalui Aktivitas

Pemahaman tentang proaktif diperdalam melalui berbagai aktivitas. Peserta membaca materi Habit 1 secara individu dalam suasana hening, kemudian membagikan pemahaman dalam diskusi kelompok.

Permainan kartu situasi dan kartu reaksi melatih peserta merespons berbagai kondisi secara spontan. Aktivitas ini membantu peserta mengenali perbedaan bahasa reaktif dan bahasa proaktif, sekaligus menyadari bahwa setiap respons adalah pilihan.

Selain itu, latihan menggambar alam sekitar dalam keheningan menjadi pengalaman reflektif yang sederhana namun bermakna. Peserta belajar untuk hadir sepenuhnya pada momen, melatih fokus, ketenangan, dan kesadaran diri.

Habit 2 – Merujuk pada Tujuan Akhir

Memasuki Habit 2 (Begin with the End in Mind), peserta diajak merenungkan pertanyaan mendasar: “Ke mana arah hidup saya?” Mereka diajak membayangkan tujuan akhir hidup untuk menyadari nilai, prinsip, dan harapan yang ingin diwujudkan.

Peserta juga diperkenalkan pada konsep “dua kali penciptaan”, yaitu penciptaan mental dan penciptaan fisik. Hidup tanpa arah disadari sebagai hidup yang mudah mengikuti jalur orang lain. Sebaliknya, hidup yang terarah adalah hidup yang direncanakan dan dipimpin oleh diri sendiri.

Sesi ini menegaskan bahwa tujuan hidup bukanlah batasan, melainkan panduan agar setiap keputusan memiliki makna.

Dari Tujuan ke Komitmen: Menyusun SMART Goals

Rekoleksi ditutup dengan penyusunan SMART Goals sebagai langkah konkret menerjemahkan tujuan hidup. Peserta membuat timeline rencana hidup selama masa studi di ATMI, setelah lulus, hingga sepuluh tahun ke depan.

Tujuan yang dirumuskan harus Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, dan Terikat Waktu. Proses ini membantu peserta memahami bahwa impian memerlukan perencanaan dan tanggung jawab pribadi.

Sebagai peneguhan komitmen, peserta membacakan tujuan hidupnya di hadapan teman-teman. Momen ini menjadi simbol keberanian untuk mengambil kendali atas hidup dan berkomitmen pada arah yang dipilih.

Rekoleksi ditutup dengan lari pagi, refleksi benang merah, dan post-test. Seluruh rangkaian kegiatan menegaskan bahwa proses refleksi tidak berhenti pada kegiatan ini, tetapi dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap yang lebih sadar, terarah, dan bertanggung jawab.

(Promoter of Leaders)

CW HARI OTANGTUA 2025.jpg

Hari Orang Tua Mahasiswa Xaverius Dormitory Politeknik Industri ATMI 2025: Momen Kebersamaan, Refleksi, dan Apresiasi Proses Pendidikan

Politeknik Industri ATMI melalui Xaverius Dormitory menyelenggarakan kegiatan Hari Orang Tua Mahasiswa (HOT) 2025 pada Sabtu, 13 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa/i Tingkat 1 yang tinggal di Xaverius Dormitory dan menjadi momen perjumpaan hangat untuk mempertemukan mahasiswa dengan orang tua, sekaligus memperlihatkan proses pendidikan, pembentukan karakter, dan kehidupan berasrama di lingkungan kampus Politeknik Industri ATMI (POLIN ATMI).

Selama enam bulan pertama menempuh pendidikan di Politeknik Industri ATMI, mahasiswa tidak hanya dibekali kompetensi akademik dan keterampilan vokasi, tetapi juga nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebersamaan. Seluruh rangkaian kegiatan Hari Orang Tua ini dipersiapkan dan dijalankan langsung oleh mahasiswa/i Tingkat 1, mulai dari kepanitiaan, dekorasi, hingga penampilan acara.

Rangkaian Acara Hari Orang Tua Mahasiswa ATMI

Kegiatan dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan kehadiran para orang tua dan wali mahasiswa. Acara dibuka oleh MC, dilanjutkan dengan menyanyikan Mars ATMI serta penampilan tarian pembuka bernuansa tradisional-modern yang menampilkan kreativitas mahasiswa.

Sambutan disampaikan oleh Romo Yakobus Rudiyanto, SJ, beliau adalah Ketua Yayasan Karya ATMI. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi refleksi bersama RomoCh. Kristiono Puspo SJ, yang mengajak mahasiswa dan orang tua untuk memaknai refleksi sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran, kehidupan berasrama, dan pertumbuhan pribadi.

Apresiasi Mahasiswa dan Promoter Xaverius Dormitory

Sebagai bentuk penghargaan atas keterlibatan aktif dan kedisiplinan mahasiswa selama tinggal di Xaverius Dormitory, diberikan beberapa penghargaan, antara lain:

Mahasiswa Ter-Proaktif:
Mandala Rizky Kusharyanto, Teddy Paschalis Giawa, Radhitya Kukuh Wicaksono, Valentino Yeriko Cargon

Mahasiswa Ter-Aktif:
Syaila Fiani, Chatarina Yumalouissa Crysanti, Frederick Liang

Mahasiswa Ter-Responsible:
Yohanes Vianney Agustino Sina, Muhammad Rizki Kurniawan

Award Promoter of Leaders:

  • Ter-Proaktif: Missella Amelia

  • Ter-Administratif: Antonius Mikael Noviar

  • Outstanding Mentor: Aditya Wahyu Santoso, Fransiskus Xaverius Dennis

  • Ter-Disiplin: Yuan Riveriano, Benediktus Diego De San Vitores

Tour Bengkel Politeknik Industri ATMI

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tour bengkel kampus ATMI yang dipandu langsung oleh mahasiswa/i Tingkat 1. Orang tua diajak mengunjungi berbagai fasilitas pembelajaran, seperti bench work, milling, turning, grinding, dan laboratorium. Pada setiap section, mahasiswa menjelaskan aktivitas perkuliahan dan praktik vokasi yang mereka jalani sebagai bagian dari kurikulum Politeknik Industri ATMI.

Sharing Orang Tua dan Mahasiswa

Setelah makan siang bersama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi sharing kelompok kecil yang difasilitasi oleh mahasiswa. Dalam sesi ini, orang tua menyampaikan apresiasi atas perubahan positif anak, harapan akan kemandirian dan tanggung jawab, serta dukungan terhadap proses pembentukan karakter mahasiswa melalui pendidikan vokasi dan kehidupan berasrama di Politeknik Industri ATMI.

Penampilan Mahasiswa dan Penutup

Acara ditutup dengan berbagai penampilan mahasiswa, seperti band, biola, dan pembacaan puisi. Sebagai penutup, mahasiswa/i Tingkat 1 menyerahkan surat refleksi enam bulan perjalanan pendidikan di Politeknik Industri ATMI serta bunga mawar kepada orang tua sebagai ungkapan terima kasih dan penghargaan.

Kegiatan Hari Orang Tua Mahasiswa Xaverius Dormitory ATMI 2025 menjadi ruang perjumpaan yang bermakna, di mana orang tua dapat melihat secara langsung proses pendidikan, pembentukan karakter, dan pertumbuhan mahasiswa selama menempuh pendidikan di Politeknik Industri ATMI.

(Promoter of Leaders)

Refleksi : (Harapan Kekhawatiran & Pertumbuhan)

CW REFLEKSI ORTU 2025.jpg

Di Balik Pilihan Menyekolahkan Anak di ATMI Refleksi Orang Tua tentang Harapan, Kekhawatiran, dan Pertumbuhan

(Berdasarkan sharing dalam acara Hari Orang Tua, Sabtu, 13 Desember 2025)

Di antara hiruk pikuk bengkel, jadwal padat, dan disiplin yang ketat, ada satu suara yang sering kali tidak terdengar dengan jelas: suara orang tua. Pada Hari Orang Tua Xaverius Dormitory, suara itu muncul, yaitu pelan, jujur, dan apa adanya. Bukan dalam bentuk tuntutan, melainkan refleksi tentang harapan, rasa lelah, kekhawatiran, dan kepercayaan.

Artikel ini bukan tentang keberhasilan acara, melainkan tentang makna pendidikan di ATMI dari sudut pandang mereka yang pertama kali percaya dan melepas anaknya pergi: orang tua.

“Kami Tidak Menyesal, Tapi Kami Lelah”

Hampir semua orang tua menyampaikan hal yang sama: tidak ada penyesalan menyekolahkan anak di ATMI. Mereka melihat ATMI sebagai tempat yang serius mendidik, tidak membuang waktu, dan sungguh menyiapkan anak untuk dunia kerja dan kehidupan nyata.

Namun di balik keyakinan itu, ada kejujuran yang menyentuh: lelah.
Lelah secara fisik, emosional, dan finansial. Terutama bagi orang tua tunggal, menyekolahkan anak di ATMI adalah perjuangan yang tidak ringan. Ada rasa pegal karena bekerja keras, ada rasa kehilangan karena anak tidak lagi tinggal di rumah, bahkan ada yang sempat jatuh dalam kesedihan karena harus berpisah.

Di sinilah pendidikan di Politeknik Industri ATMI bukan hanya soal mahasiswa, tetapi juga tentang orang tua yang sedang berproses melepaskan.

Disiplin yang Terlihat, Karakter yang Mulai Tumbuh

Banyak orang tua bersyukur melihat perubahan konkret: anak yang dulu sulit bangun pagi, kini mulai disiplin; anak yang dulu santai, kini lebih bertanggung jawab; anak yang dulu tertutup, kini mulai menyapa, peduli, dan berinteraksi.

 

Bagi sebagian orang tua, perubahan itu sangat terasa. Bagi sebagian lainnya, perubahan terlihat perlahan atau belum signifikan, terutama jika anak sejak awal sudah dibiasakan disiplin di rumah. Refleksi ini penting: pertumbuhan tidak selalu spektakuler, tetapi sering kali terjadi secara diam-diam.

Orang tua tidak menuntut anak menjadi sempurna. Mereka hanya berharap satu hal sederhana namun mendasar:

Bertumbuh menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi hidup.

ATMI: Mahal, Keras, Tapi Dipercaya

Beberapa orang tua dengan jujur menyebut ATMI sebagai pendidikan yang mahal dan keras. Anak diperlakukan “seperti orang kerja”, dengan ritme yang menuntut fisik dan mental. Ada kekhawatiran soal kelelahan, soal makan, soal minum saat praktik bengkel. Namun di saat yang sama, justru karena itu orang tua merasa lebih tenang. ATMI dipercaya karena ada sistem, ada pembinaan karakter, ada romo, pamong, dan promoter yang mendampingi. Pendidikan di ATMI dipandang bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan manusia.

Bagi orang tua, ATMI bukan tempat “menjerumuskan” anak, melainkan menempa.

Harapan Orang Tua: Sederhana, Tapi Dalam

Jika dirangkum, harapan orang tua sebenarnya tidak rumit:

  • Anak lulus
  • Anak bekerja
  • Anak mandiri dan bertanggung jawab
  • Anak punya karakter dan sikap yang baik
  • Anak tetap terbuka pada orang tua, terutama saat kesulitan

Mereka tidak menuntut anak menjadi orang besar. Mereka berharap anak bisa berdiri sendiri ketika suatu hari orang tua sudah tidak ada. Harapan ini sederhana, tetapi sarat cinta dan kecemasan.

Refleksi untuk Kita: Pendidik dan Mahasiswa

Bagi kita karyawan, pamong, romo, promoter, dan pendidik di Kampus Politeknik Industri ATMI, refleksi orang tua ini adalah cermin. Bahwa setiap aturan, jadwal, dan tuntutan bukan sekadar sistem, tetapi menyangkut anak yang dipercayakan sepenuhnya oleh keluarga.

Bagi mahasiswa Tingkat 1, suara orang tua ini adalah pengingat sunyi: bahwa di balik seragam bengkel yang bau oli, di balik uang jajan yang bertambah, dan di balik jadwal yang padat, ada orang tua yang lelah tapi percaya, rindu tapi mendukung.

Pendidikan di Politeknik Industri ATMI bukan hanya soal menjadi kompeten, tetapi juga tentang menghargai cinta yang sudah lebih dulu berjuang.

(Promoter of Leaders)

CW PEMBEKALAN REFLEKSI.jpg

Pembekalan Menulis dan Menanggapi Refleksi Dosen dan Instruktur Politeknik Industri ATMI Cikarang 27–28 Januari 2026

Di tengah dinamika pendidikan vokasi yang sarat target, kompetensi, dan tuntutan performa, Politeknik Industri ATMI Cikarang kembali menegaskan identitas pendidikannya sebagai Jesuit School yang menempatkan refleksi sebagai jantung proses belajar. Refleksi tidak dipahami sekadar sebagai jeda, melainkan sebagai cara memaknai pengalaman dan menemukan kehadiran Tuhan dalam keseharian akademik. Selama ini, praktik refleksi melalui jurnaling telah menjadi ritme hidup mahasiswa tingkat I yang tinggal di dormitory. Setiap malam, mahasiswa diajak menuliskan pengalaman, pergulatan, dan perasaan yang dialami sepanjang hari. Kini, semangat reflektif tersebut hendak diperluas agar hadir dalam seluruh proses perkuliahan, baik teori maupun praktik, sebagai bagian integral dari pembentukan pribadi mahasiswa.

Kesadaran inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya Pembekalan Menulis dan Menanggapi Refleksi bagi dosen dan instruktur Politeknik Industri ATMI pada 27–28 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi internal antara Tim SDM dan Campus Ministry, sebagai langkah awal sebelum praktik refleksi diintegrasikan secara lebih luas pada Semester II. Para pendidik tidak hanya dipersiapkan sebagai fasilitator akademik, tetapi juga sebagai pembaca yang empatik dan penanggap yang bijaksana atas refleksi mahasiswa. Membaca refleksi berarti memasuki ruang batin orang lain, dan memberi tanggapan berarti mengambil posisi etis sebagai pendamping. Oleh karena itu, pembekalan ini dirancang bukan sekadar teknis, melainkan menyentuh dimensi psikologis, pedagogis, dan spiritual.

 

Sesi pengantar dibuka oleh Felicia Sabrina (Pamong Dormitory) bersama Hari Maryanto (Campus Ministry) yang mengajak peserta terlebih dahulu memahami mahasiswa dari perspektif psikologi perkembangan. Felicia mengulas kondisi mahasiswa sebagai individu yang berada pada fase remaja akhir menuju dewasa awal, sebagaimana dijelaskan dalam teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Pada fase ini, mahasiswa mulai mampu berpikir abstrak, merefleksikan pengalaman, serta mempertanyakan makna di balik apa yang mereka jalani. Namun, kemampuan tersebut sering kali berjalan beriringan dengan kebingungan, ketidakpastian, dan proses coba-salah. Pemahaman ini menjadi penting agar para pendidik tidak terburu-buru menuntut kedewasaan yang belum sepenuhnya matang, melainkan mampu membaca proses yang sedang berlangsung.

 

Hari (CM) kemudian memperluas kerangka tersebut dengan mengulas teori psikososial Erik Erikson, yang melihat mahasiswa sebagai individu yang sedang bergulat dengan krisis identitas. Elaborasi dilanjutkan dengan pandangan Jacques Lacan mengenai desire dan symbolic order, yang menyoroti bagaimana hasrat mahasiswa kerap dibentuk oleh tuntutan sosial, simbol prestasi, dan ekspektasi lingkungan. Dalam konteks ini, refleksi menjadi ruang untuk menyadari hasrat mana yang sungguh berasal dari diri, dan mana yang sekadar tuntutan luar. Perspektif ini diperkaya dengan logoterapi Viktor Frankl tentang will to meaning, yang menegaskan bahwa manusia, termasuk mahasiswa, memiliki kebutuhan mendasar untuk menemukan makna dalam penderitaan maupun rutinitas. Refleksi pun dipahami bukan sebagai tambahan beban, melainkan sebagai sarana eksistensial untuk bertumbuh.

Pendalaman makna refleksi kemudian dilanjutkan oleh Romo Vincentius Doni Erlangga, SJ, melalui perspektif teologis yang kontekstual. Dalam pemaparannya, Romo Doni SJ berulang kali menekankan pentingnya kata “menemani” dalam pendampingan mahasiswa. Menemani berarti hadir tanpa mendominasi, berjalan bersama tanpa menggurui, dan memberi ruang bagi proses yang tidak selalu rapi. Mengacu pada Christus Vivit dari Paus Fransiskus, Romo Doni SJ menegaskan bahwa kaum muda bukanlah masalah yang harus diperbaiki, melainkan subjek yang sedang mencari arah hidup. Perumpamaan Anak yang Hilang (Injil Lukas) pun dihadirkan sebagai cermin bagi para pendidik, bahwa refleksi membantu mahasiswa menyadari perjalanan batinnya, sementara pendidik dipanggil untuk menyambut, bukan menghakimi.

Setelah sesi pengantar, para dosen dan instruktur diajak masuk ke pengalaman konkret melalui dinamika kelompok kecil yang difasilitasi oleh tim kemahasiswaan Politeknik Industri ATMI. Menggunakan alur Pedagogi Ignatian, para peserta menuliskan refleksi mereka sendiri, dimulai dari konteks pendampingan mahasiswa yang nyata. Para peserta diajak mengingat pengalaman, menafsirkan makna, merumuskan kehendak atau aksi, serta melakukan evaluasi atas pendampingan yang selama ini dijalani. Refleksi yang telah ditulis kemudian dipertukarkan untuk dibaca dan diberi tanggapan oleh peserta lain. Dinamika ini menjadi ruang belajar bersama, sekaligus simulasi (role play) nyata dari peran yang kelak mereka jalani bersama mahasiswa.

Beragam kesan muncul dari proses tersebut mencerminkan betapa refleksi adalah pengalaman personal yang tidak seragam. Sebagian peserta mengaku masih bingung karena baru pertama kali menulis refleksi secara terstruktur. Ada pula yang merasa canggung dan belum sepenuhnya leluasa menuangkan isi hati ke dalam tulisan. Namun, tidak sedikit yang merasa dikuatkan dan tervalidasi ketika refleksinya dibaca dengan sungguh dan ditanggapi secara empatik oleh orang lain. Pengalaman ini menyadarkan bahwa komentar atas refleksi bukan soal benar atau salah, melainkan soal kehadiran dan pengakuan.

Pembekalan ini menegaskan kembali bahwa refleksi adalah sarana pendampingan manusiawi, bukan sekadar metode pedagogis. Melalui refleksi, pendidik diajak untuk melihat mahasiswa sebagai pribadi yang utuh, dengan luka, harapan, dan pencarian makna. Sikap unconditional positive regard (penerimaan individual sebagaimana adanya) menjadi kunci agar mahasiswa memiliki ruang aman untuk jujur terhadap diri sendiri dan pengalamannya. Dengan membaca dan menanggapi refleksi, budaya appreciative inquiry pun diharapkan tumbuh, menggantikan budaya penilaian yang kaku. Dalam semangat inilah, Politeknik Industri ATMI terus melangkah, menemani mahasiswa menjadi pribadi yang reflektif, berdaya, dan semakin manusiawi terhadap sesamanya. (HM-campusministry)

Finding God in all things. 

Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG)