WhatsApp Image 2026-02-05 at 10.57.18

Rekoleksi Habit 1 & Habit 2: See, Judge, Act Leadership Program Xaverius Dormitory: Menjadi Proaktif dan Merujuk pada Tujuan Akhir

Politeknik Industri ATMI melalui Xaverius Dormitory kembali menyelenggarakan Rekoleksi pada Bulan Januari tanggal 9–11 Januari 2026 di Aula Loyola bagi mahasiswa/i Tingkat 1. Kegiatan ini menjadi bagian dari Leadership Program yang bertujuan membentuk karakter mahasiswa agar lebih proaktif dan memiliki arah hidup yang jelas.

Dalam rekoleksi ini, mahasiswa mendalami Habit 1 (Be Proactive) dan Habit 2 (Begin with the End in Mind) dari buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey. Kedua habit ini diperkenalkan sebagai bekal untuk membangun kesadaran diri, tanggung jawab pribadi, serta perencanaan hidup yang terarah.

Selama tiga hari, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga menjalani proses refleksi secara menyeluruh—mulai dari cara memandang realitas, merespons situasi, hingga merancang tujuan hidup secara konkret.

Satu Realitas, Banyak Cara Pandang

Rekoleksi diawali dengan sesi pembuka yang mengajak peserta menyadari bahwa satu realitas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Melalui contoh visual dan diskusi kelompok, peserta memahami bahwa perbedaan pandangan tidak selalu berkaitan dengan benar atau salah, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman hidup masing-masing.

Kesadaran ini menjadi pintu masuk untuk memahami Seven Habits, bahwa perubahan sejati berawal dari dalam diri, bukan dari situasi di luar. Peserta diajak untuk lebih terbuka, tidak reaktif, serta berani menunda penilaian.

Habit 1 – Proaktif: Hening Sebelum Bertindak

Pada sesi Habit 1 (Be Proactive), peserta diajak membedakan sikap reaktif dan proaktif. Sikap reaktif ditandai dengan respons yang dikuasai emosi, pikiran yang “berisik”, dan kecenderungan mendramatisasi keadaan. Banyak peserta menyadari bahwa mereka sering menjadi “sutradara” atas pikiran dan perasaan sendiri.

Melalui latihan hening dan refleksi, peserta belajar mengambil jarak dari situasi, mempertimbangkan pilihan, dan tidak langsung mengikuti dorongan emosi. Sikap proaktif dimaknai sebagai kemampuan memilih respons secara sadar, bukan sekadar bereaksi.

Konsep See – Judge – Act diperkenalkan sebagai langkah praktis: melihat situasi secara objektif, menimbang dengan jernih, lalu bertindak secara sadar. Dari sini, peserta memahami bahwa sikap proaktif merupakan bentuk kemerdekaan pribadi.

Melatih Sikap Proaktif melalui Aktivitas

Pemahaman tentang proaktif diperdalam melalui berbagai aktivitas. Peserta membaca materi Habit 1 secara individu dalam suasana hening, kemudian membagikan pemahaman dalam diskusi kelompok.

Permainan kartu situasi dan kartu reaksi melatih peserta merespons berbagai kondisi secara spontan. Aktivitas ini membantu peserta mengenali perbedaan bahasa reaktif dan bahasa proaktif, sekaligus menyadari bahwa setiap respons adalah pilihan.

Selain itu, latihan menggambar alam sekitar dalam keheningan menjadi pengalaman reflektif yang sederhana namun bermakna. Peserta belajar untuk hadir sepenuhnya pada momen, melatih fokus, ketenangan, dan kesadaran diri.

Habit 2 – Merujuk pada Tujuan Akhir

Memasuki Habit 2 (Begin with the End in Mind), peserta diajak merenungkan pertanyaan mendasar: “Ke mana arah hidup saya?” Mereka diajak membayangkan tujuan akhir hidup untuk menyadari nilai, prinsip, dan harapan yang ingin diwujudkan.

Peserta juga diperkenalkan pada konsep “dua kali penciptaan”, yaitu penciptaan mental dan penciptaan fisik. Hidup tanpa arah disadari sebagai hidup yang mudah mengikuti jalur orang lain. Sebaliknya, hidup yang terarah adalah hidup yang direncanakan dan dipimpin oleh diri sendiri.

Sesi ini menegaskan bahwa tujuan hidup bukanlah batasan, melainkan panduan agar setiap keputusan memiliki makna.

Dari Tujuan ke Komitmen: Menyusun SMART Goals

Rekoleksi ditutup dengan penyusunan SMART Goals sebagai langkah konkret menerjemahkan tujuan hidup. Peserta membuat timeline rencana hidup selama masa studi di ATMI, setelah lulus, hingga sepuluh tahun ke depan.

Tujuan yang dirumuskan harus Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, dan Terikat Waktu. Proses ini membantu peserta memahami bahwa impian memerlukan perencanaan dan tanggung jawab pribadi.

Sebagai peneguhan komitmen, peserta membacakan tujuan hidupnya di hadapan teman-teman. Momen ini menjadi simbol keberanian untuk mengambil kendali atas hidup dan berkomitmen pada arah yang dipilih.

Rekoleksi ditutup dengan lari pagi, refleksi benang merah, dan post-test. Seluruh rangkaian kegiatan menegaskan bahwa proses refleksi tidak berhenti pada kegiatan ini, tetapi dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap yang lebih sadar, terarah, dan bertanggung jawab.

(Promoter of Leaders)

CW HARI OTANGTUA 2025.jpg

Hari Orang Tua Mahasiswa Xaverius Dormitory Politeknik Industri ATMI 2025: Momen Kebersamaan, Refleksi, dan Apresiasi Proses Pendidikan

Politeknik Industri ATMI melalui Xaverius Dormitory menyelenggarakan kegiatan Hari Orang Tua Mahasiswa (HOT) 2025 pada Sabtu, 13 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa/i Tingkat 1 yang tinggal di Xaverius Dormitory dan menjadi momen perjumpaan hangat untuk mempertemukan mahasiswa dengan orang tua, sekaligus memperlihatkan proses pendidikan, pembentukan karakter, dan kehidupan berasrama di lingkungan kampus Politeknik Industri ATMI (POLIN ATMI).

Selama enam bulan pertama menempuh pendidikan di Politeknik Industri ATMI, mahasiswa tidak hanya dibekali kompetensi akademik dan keterampilan vokasi, tetapi juga nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebersamaan. Seluruh rangkaian kegiatan Hari Orang Tua ini dipersiapkan dan dijalankan langsung oleh mahasiswa/i Tingkat 1, mulai dari kepanitiaan, dekorasi, hingga penampilan acara.

Rangkaian Acara Hari Orang Tua Mahasiswa ATMI

Kegiatan dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan kehadiran para orang tua dan wali mahasiswa. Acara dibuka oleh MC, dilanjutkan dengan menyanyikan Mars ATMI serta penampilan tarian pembuka bernuansa tradisional-modern yang menampilkan kreativitas mahasiswa.

Sambutan disampaikan oleh Romo Yakobus Rudiyanto, SJ, beliau adalah Ketua Yayasan Karya ATMI. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi refleksi bersama RomoCh. Kristiono Puspo SJ, yang mengajak mahasiswa dan orang tua untuk memaknai refleksi sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran, kehidupan berasrama, dan pertumbuhan pribadi.

Apresiasi Mahasiswa dan Promoter Xaverius Dormitory

Sebagai bentuk penghargaan atas keterlibatan aktif dan kedisiplinan mahasiswa selama tinggal di Xaverius Dormitory, diberikan beberapa penghargaan, antara lain:

Mahasiswa Ter-Proaktif:
Mandala Rizky Kusharyanto, Teddy Paschalis Giawa, Radhitya Kukuh Wicaksono, Valentino Yeriko Cargon

Mahasiswa Ter-Aktif:
Syaila Fiani, Chatarina Yumalouissa Crysanti, Frederick Liang

Mahasiswa Ter-Responsible:
Yohanes Vianney Agustino Sina, Muhammad Rizki Kurniawan

Award Promoter of Leaders:

  • Ter-Proaktif: Missella Amelia

  • Ter-Administratif: Antonius Mikael Noviar

  • Outstanding Mentor: Aditya Wahyu Santoso, Fransiskus Xaverius Dennis

  • Ter-Disiplin: Yuan Riveriano, Benediktus Diego De San Vitores

Tour Bengkel Politeknik Industri ATMI

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tour bengkel kampus ATMI yang dipandu langsung oleh mahasiswa/i Tingkat 1. Orang tua diajak mengunjungi berbagai fasilitas pembelajaran, seperti bench work, milling, turning, grinding, dan laboratorium. Pada setiap section, mahasiswa menjelaskan aktivitas perkuliahan dan praktik vokasi yang mereka jalani sebagai bagian dari kurikulum Politeknik Industri ATMI.

Sharing Orang Tua dan Mahasiswa

Setelah makan siang bersama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi sharing kelompok kecil yang difasilitasi oleh mahasiswa. Dalam sesi ini, orang tua menyampaikan apresiasi atas perubahan positif anak, harapan akan kemandirian dan tanggung jawab, serta dukungan terhadap proses pembentukan karakter mahasiswa melalui pendidikan vokasi dan kehidupan berasrama di Politeknik Industri ATMI.

Penampilan Mahasiswa dan Penutup

Acara ditutup dengan berbagai penampilan mahasiswa, seperti band, biola, dan pembacaan puisi. Sebagai penutup, mahasiswa/i Tingkat 1 menyerahkan surat refleksi enam bulan perjalanan pendidikan di Politeknik Industri ATMI serta bunga mawar kepada orang tua sebagai ungkapan terima kasih dan penghargaan.

Kegiatan Hari Orang Tua Mahasiswa Xaverius Dormitory ATMI 2025 menjadi ruang perjumpaan yang bermakna, di mana orang tua dapat melihat secara langsung proses pendidikan, pembentukan karakter, dan pertumbuhan mahasiswa selama menempuh pendidikan di Politeknik Industri ATMI.

(Promoter of Leaders)

Refleksi : (Harapan Kekhawatiran & Pertumbuhan)

CW REFLEKSI ORTU 2025.jpg

Di Balik Pilihan Menyekolahkan Anak di ATMI Refleksi Orang Tua tentang Harapan, Kekhawatiran, dan Pertumbuhan

(Berdasarkan sharing dalam acara Hari Orang Tua, Sabtu, 13 Desember 2025)

Di antara hiruk pikuk bengkel, jadwal padat, dan disiplin yang ketat, ada satu suara yang sering kali tidak terdengar dengan jelas: suara orang tua. Pada Hari Orang Tua Xaverius Dormitory, suara itu muncul, yaitu pelan, jujur, dan apa adanya. Bukan dalam bentuk tuntutan, melainkan refleksi tentang harapan, rasa lelah, kekhawatiran, dan kepercayaan.

Artikel ini bukan tentang keberhasilan acara, melainkan tentang makna pendidikan di ATMI dari sudut pandang mereka yang pertama kali percaya dan melepas anaknya pergi: orang tua.

“Kami Tidak Menyesal, Tapi Kami Lelah”

Hampir semua orang tua menyampaikan hal yang sama: tidak ada penyesalan menyekolahkan anak di ATMI. Mereka melihat ATMI sebagai tempat yang serius mendidik, tidak membuang waktu, dan sungguh menyiapkan anak untuk dunia kerja dan kehidupan nyata.

Namun di balik keyakinan itu, ada kejujuran yang menyentuh: lelah.
Lelah secara fisik, emosional, dan finansial. Terutama bagi orang tua tunggal, menyekolahkan anak di ATMI adalah perjuangan yang tidak ringan. Ada rasa pegal karena bekerja keras, ada rasa kehilangan karena anak tidak lagi tinggal di rumah, bahkan ada yang sempat jatuh dalam kesedihan karena harus berpisah.

Di sinilah pendidikan di Politeknik Industri ATMI bukan hanya soal mahasiswa, tetapi juga tentang orang tua yang sedang berproses melepaskan.

Disiplin yang Terlihat, Karakter yang Mulai Tumbuh

Banyak orang tua bersyukur melihat perubahan konkret: anak yang dulu sulit bangun pagi, kini mulai disiplin; anak yang dulu santai, kini lebih bertanggung jawab; anak yang dulu tertutup, kini mulai menyapa, peduli, dan berinteraksi.

 

Bagi sebagian orang tua, perubahan itu sangat terasa. Bagi sebagian lainnya, perubahan terlihat perlahan atau belum signifikan, terutama jika anak sejak awal sudah dibiasakan disiplin di rumah. Refleksi ini penting: pertumbuhan tidak selalu spektakuler, tetapi sering kali terjadi secara diam-diam.

Orang tua tidak menuntut anak menjadi sempurna. Mereka hanya berharap satu hal sederhana namun mendasar:

Bertumbuh menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi hidup.

ATMI: Mahal, Keras, Tapi Dipercaya

Beberapa orang tua dengan jujur menyebut ATMI sebagai pendidikan yang mahal dan keras. Anak diperlakukan “seperti orang kerja”, dengan ritme yang menuntut fisik dan mental. Ada kekhawatiran soal kelelahan, soal makan, soal minum saat praktik bengkel. Namun di saat yang sama, justru karena itu orang tua merasa lebih tenang. ATMI dipercaya karena ada sistem, ada pembinaan karakter, ada romo, pamong, dan promoter yang mendampingi. Pendidikan di ATMI dipandang bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan manusia.

Bagi orang tua, ATMI bukan tempat “menjerumuskan” anak, melainkan menempa.

Harapan Orang Tua: Sederhana, Tapi Dalam

Jika dirangkum, harapan orang tua sebenarnya tidak rumit:

  • Anak lulus
  • Anak bekerja
  • Anak mandiri dan bertanggung jawab
  • Anak punya karakter dan sikap yang baik
  • Anak tetap terbuka pada orang tua, terutama saat kesulitan

Mereka tidak menuntut anak menjadi orang besar. Mereka berharap anak bisa berdiri sendiri ketika suatu hari orang tua sudah tidak ada. Harapan ini sederhana, tetapi sarat cinta dan kecemasan.

Refleksi untuk Kita: Pendidik dan Mahasiswa

Bagi kita karyawan, pamong, romo, promoter, dan pendidik di Kampus Politeknik Industri ATMI, refleksi orang tua ini adalah cermin. Bahwa setiap aturan, jadwal, dan tuntutan bukan sekadar sistem, tetapi menyangkut anak yang dipercayakan sepenuhnya oleh keluarga.

Bagi mahasiswa Tingkat 1, suara orang tua ini adalah pengingat sunyi: bahwa di balik seragam bengkel yang bau oli, di balik uang jajan yang bertambah, dan di balik jadwal yang padat, ada orang tua yang lelah tapi percaya, rindu tapi mendukung.

Pendidikan di Politeknik Industri ATMI bukan hanya soal menjadi kompeten, tetapi juga tentang menghargai cinta yang sudah lebih dulu berjuang.

(Promoter of Leaders)

CW PEMBEKALAN REFLEKSI.jpg

Pembekalan Menulis dan Menanggapi Refleksi Dosen dan Instruktur Politeknik Industri ATMI Cikarang 27–28 Januari 2026

Di tengah dinamika pendidikan vokasi yang sarat target, kompetensi, dan tuntutan performa, Politeknik Industri ATMI Cikarang kembali menegaskan identitas pendidikannya sebagai Jesuit School yang menempatkan refleksi sebagai jantung proses belajar. Refleksi tidak dipahami sekadar sebagai jeda, melainkan sebagai cara memaknai pengalaman dan menemukan kehadiran Tuhan dalam keseharian akademik. Selama ini, praktik refleksi melalui jurnaling telah menjadi ritme hidup mahasiswa tingkat I yang tinggal di dormitory. Setiap malam, mahasiswa diajak menuliskan pengalaman, pergulatan, dan perasaan yang dialami sepanjang hari. Kini, semangat reflektif tersebut hendak diperluas agar hadir dalam seluruh proses perkuliahan, baik teori maupun praktik, sebagai bagian integral dari pembentukan pribadi mahasiswa.

Kesadaran inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya Pembekalan Menulis dan Menanggapi Refleksi bagi dosen dan instruktur Politeknik Industri ATMI pada 27–28 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi internal antara Tim SDM dan Campus Ministry, sebagai langkah awal sebelum praktik refleksi diintegrasikan secara lebih luas pada Semester II. Para pendidik tidak hanya dipersiapkan sebagai fasilitator akademik, tetapi juga sebagai pembaca yang empatik dan penanggap yang bijaksana atas refleksi mahasiswa. Membaca refleksi berarti memasuki ruang batin orang lain, dan memberi tanggapan berarti mengambil posisi etis sebagai pendamping. Oleh karena itu, pembekalan ini dirancang bukan sekadar teknis, melainkan menyentuh dimensi psikologis, pedagogis, dan spiritual.

 

Sesi pengantar dibuka oleh Felicia Sabrina (Pamong Dormitory) bersama Hari Maryanto (Campus Ministry) yang mengajak peserta terlebih dahulu memahami mahasiswa dari perspektif psikologi perkembangan. Felicia mengulas kondisi mahasiswa sebagai individu yang berada pada fase remaja akhir menuju dewasa awal, sebagaimana dijelaskan dalam teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Pada fase ini, mahasiswa mulai mampu berpikir abstrak, merefleksikan pengalaman, serta mempertanyakan makna di balik apa yang mereka jalani. Namun, kemampuan tersebut sering kali berjalan beriringan dengan kebingungan, ketidakpastian, dan proses coba-salah. Pemahaman ini menjadi penting agar para pendidik tidak terburu-buru menuntut kedewasaan yang belum sepenuhnya matang, melainkan mampu membaca proses yang sedang berlangsung.

 

Hari (CM) kemudian memperluas kerangka tersebut dengan mengulas teori psikososial Erik Erikson, yang melihat mahasiswa sebagai individu yang sedang bergulat dengan krisis identitas. Elaborasi dilanjutkan dengan pandangan Jacques Lacan mengenai desire dan symbolic order, yang menyoroti bagaimana hasrat mahasiswa kerap dibentuk oleh tuntutan sosial, simbol prestasi, dan ekspektasi lingkungan. Dalam konteks ini, refleksi menjadi ruang untuk menyadari hasrat mana yang sungguh berasal dari diri, dan mana yang sekadar tuntutan luar. Perspektif ini diperkaya dengan logoterapi Viktor Frankl tentang will to meaning, yang menegaskan bahwa manusia, termasuk mahasiswa, memiliki kebutuhan mendasar untuk menemukan makna dalam penderitaan maupun rutinitas. Refleksi pun dipahami bukan sebagai tambahan beban, melainkan sebagai sarana eksistensial untuk bertumbuh.

Pendalaman makna refleksi kemudian dilanjutkan oleh Romo Vincentius Doni Erlangga, SJ, melalui perspektif teologis yang kontekstual. Dalam pemaparannya, Romo Doni SJ berulang kali menekankan pentingnya kata “menemani” dalam pendampingan mahasiswa. Menemani berarti hadir tanpa mendominasi, berjalan bersama tanpa menggurui, dan memberi ruang bagi proses yang tidak selalu rapi. Mengacu pada Christus Vivit dari Paus Fransiskus, Romo Doni SJ menegaskan bahwa kaum muda bukanlah masalah yang harus diperbaiki, melainkan subjek yang sedang mencari arah hidup. Perumpamaan Anak yang Hilang (Injil Lukas) pun dihadirkan sebagai cermin bagi para pendidik, bahwa refleksi membantu mahasiswa menyadari perjalanan batinnya, sementara pendidik dipanggil untuk menyambut, bukan menghakimi.

Setelah sesi pengantar, para dosen dan instruktur diajak masuk ke pengalaman konkret melalui dinamika kelompok kecil yang difasilitasi oleh tim kemahasiswaan Politeknik Industri ATMI. Menggunakan alur Pedagogi Ignatian, para peserta menuliskan refleksi mereka sendiri, dimulai dari konteks pendampingan mahasiswa yang nyata. Para peserta diajak mengingat pengalaman, menafsirkan makna, merumuskan kehendak atau aksi, serta melakukan evaluasi atas pendampingan yang selama ini dijalani. Refleksi yang telah ditulis kemudian dipertukarkan untuk dibaca dan diberi tanggapan oleh peserta lain. Dinamika ini menjadi ruang belajar bersama, sekaligus simulasi (role play) nyata dari peran yang kelak mereka jalani bersama mahasiswa.

Beragam kesan muncul dari proses tersebut mencerminkan betapa refleksi adalah pengalaman personal yang tidak seragam. Sebagian peserta mengaku masih bingung karena baru pertama kali menulis refleksi secara terstruktur. Ada pula yang merasa canggung dan belum sepenuhnya leluasa menuangkan isi hati ke dalam tulisan. Namun, tidak sedikit yang merasa dikuatkan dan tervalidasi ketika refleksinya dibaca dengan sungguh dan ditanggapi secara empatik oleh orang lain. Pengalaman ini menyadarkan bahwa komentar atas refleksi bukan soal benar atau salah, melainkan soal kehadiran dan pengakuan.

Pembekalan ini menegaskan kembali bahwa refleksi adalah sarana pendampingan manusiawi, bukan sekadar metode pedagogis. Melalui refleksi, pendidik diajak untuk melihat mahasiswa sebagai pribadi yang utuh, dengan luka, harapan, dan pencarian makna. Sikap unconditional positive regard (penerimaan individual sebagaimana adanya) menjadi kunci agar mahasiswa memiliki ruang aman untuk jujur terhadap diri sendiri dan pengalamannya. Dengan membaca dan menanggapi refleksi, budaya appreciative inquiry pun diharapkan tumbuh, menggantikan budaya penilaian yang kaku. Dalam semangat inilah, Politeknik Industri ATMI terus melangkah, menemani mahasiswa menjadi pribadi yang reflektif, berdaya, dan semakin manusiawi terhadap sesamanya. (HM-campusministry)

Finding God in all things. 

Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG)

CW ARRUPE EPS 4.jpg

Arrupe Insight Eps. 4 “Misteri Kehidupan : Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi”

Di teras yang tidak begitu besar, berdiri sebuah gazebo sederhana. Kursi-kursi tersusun rapi, lampu-lampu telah dinyalakan, dan para mahasiswa duduk dengan penuh perhatian, mendengarkan kisah dari seseorang yang telah lebih dahulu bergelut dalam kehidupan nyata.

Pada Kamis, 9 Oktober 2025, KMK Pedro Arrupe mengundang seorang alumnus Politeknik ATMI sebagai pembicara dalam kegiatan Arrupe Insight. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk bincang-bincang santai bersama alumnus, membahas seputar dunia kerja dan pengalaman selama menempuh pendidikan di Politeknik ATMI. Pada kesempatan ini, Gregorius Superma Putra hadir dengan penuh semangat mengisi Arrupe Insight episode keempat.

Akrab disapa Mas Greg, ia merupakan alumnus ATMI Surakarta Angkatan 41 dari jurusan Mekatronika. Lahir sebagai anak keenam dari enam bersaudara, Mas Greg besar di Magelang bersama ibunya yang berasal dari Klaten dan ayahnya dari Nusa Tenggara Timur. Ia menempuh pendidikan kejuruan di SMK Pangudi Luhur Muntilan, yang membentuk kedekatannya dengan dunia teknik perkakas.

Motivasi awal Mas Greg mendaftar ATMI adalah keinginannya untuk membanggakan sang ayah. Ia diterima sebagai mahasiswa Mekatronika meski sempat berada di posisi cadangan kelima. Masa-masa awal perkuliahan terasa berat karena muncul perasaan “salah masuk jurusan”. Namun, berkat dukungan teman-teman, ia memilih untuk bertahan. Kesulitan akademik yang dihadapi sempat menimbulkan kekhawatiran, tetapi melihat kakak tingkat yang tetap naik tingkat meski mendapat nilai kurang baik menjadi sumber kekuatan dan semangat tersendiri.

Masa perkuliahan di ATMI diwarnai banyak tantangan, salah satunya persaingan dengan mahasiswa dari kolese ternama seperti De Britto dan Loyola. Hal tersebut justru memacu Mas Greg untuk terus berkembang. Ia aktif berpartisipasi dalam berbagai organisasi kampus, bahkan menjadi salah satu mahasiswa pertama yang ditawari terlibat dalam berbagai kegiatan kampus. Pengalaman organisasi ini menjadi bekal berharga dalam membangun relasi dan membentuk pribadi yang lebih luwes.

Masa Bekerja

Mas Greg mengawali pengalaman kerjanya sebagai seorang mekanik, bidang yang tidak sepenuhnya sejalan dengan jurusan yang ia ambil. Ia memaknai hal tersebut sebagai bagian dari misteri kehidupan—tidak ada yang benar-benar tahu apa yang akan dihadapi ke depan. Tantangan dalam dunia kerja selalu ada, dan kunci utamanya adalah memiliki sikap terbuka serta kemauan untuk terus belajar.

Berkonsultasi dengan senior, berbagi pengalaman, dan mempertimbangkan masukan menjadi langkah konkret untuk beradaptasi. Salah satu pengalaman berkesan adalah saat bekerja di perusahaan asal Jerman. Ia kembali merasakan perasaan minder, serupa dengan yang dialami saat kuliah, ketika berhadapan dengan rekan kerja yang memiliki European-minded. Namun, dari kegelisahan tersebut muncul keberanian untuk tampil dan bersuara.

Dalam sebuah kepanitiaan, Mas Greg berani mengingatkan setiap divisi agar tidak bersikap egois, bahkan menyampaikan pendapat di hadapan jajaran pimpinan. Semua itu berangkat dari modal pengalaman berorganisasi di ATMI. “Kita harus membiasakan diri untuk tampil dan memimpin,” ujar Mas Greg.

Menggali Lebih Dalam

Seiring berjalannya waktu, antusiasme peserta semakin terasa. Beberapa mahasiswa mengangkat tangan untuk bertanya. Radi, mahasiswa tingkat dua, menanyakan sosok Romo Cassut, SJ semasa berkarya. Menurut Mas Greg, kesederhanaan, keramahan, dan ketekunan dalam doa merupakan gambaran pribadi Romo Cassut, SJ. Keramahannya terasa saat beliau menanyakan pengalaman kuliah Mas Greg ketika makan bersama. Ketekunannya dalam doa terlihat ketika beliau berkeliling bengkel sambil mendaraskan doa Rosario pada malam hari. Bahkan, Romo Cassut, SJ pernah memiliki proyek pembuatan eretan untuk menurunkan peti ke dalam tanah, dan beliau sendiri menjadi orang pertama yang menggunakannya. “Itulah misteri kehidupan,” ungkap Mas Greg.

Pertanyaan berikutnya datang dari Martin, Eric, dan Adam, mahasiswa tingkat satu, mengenai cara menjalani proses belajar agar efektif dan efisien. Berdasarkan pengalamannya, Mas Greg menekankan pentingnya fokus pada apa yang sedang dihadapi saat ini serta menemukan hal-hal yang memberi kebahagiaan ketika kembali ke bengkel. Jika menemui kegagalan, seperti ukuran yang tidak sesuai, jangan larut dalam satu kejatuhan. Segera beralih dan memperjuangkan hal-hal yang masih bisa diusahakan.

Menutup sesi tanya jawab, Mario, mahasiswa tingkat dua, menanyakan relevansi refleksi sebagai tradisi pendidikan Ignasian dalam dunia kerja. Bagi Mas Greg, refleksi merupakan sarana olah pikir dan olah rasa dalam memecahkan masalah. Refleksi mendorong munculnya pertanyaan “mengapa” serta mengajak seseorang untuk melihat persoalan dari sudut pandang orang lain. Refleksi adalah proses mempertimbangkan segala sesuatu secara mendalam dan mendasar.

Kuliah Kehidupan

Menutup rangkaian talkshow, Romo Kristiono Puspo , SJ hadir memberikan peneguhan yang memperdalam seluruh pembahasan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan hari itu merupakan “kuliah kehidupan”. “Hidup itu harian, bukan borongan,” ujar Romo Kristiono Puspo, SJ. Hidup dijalani hari demi hari, sepenuhnya pada saat ini.

Terkait refleksi, beliau memaknainya sebagai upaya menghadirkan Yang Ilahi dalam setiap pengalaman keseharian. Di akhir sesi, Romo Kristiono, SJ mengajak seluruh peserta untuk menjadi “Friends in the Lord”, teman dalam perutusan.

Selama kurang lebih satu setengah jam, para peserta diajak memaknai berbagai pengalaman yang relevan dengan tantangan perkuliahan dan dunia kerja ke depan. Dinamika Arrupe Insight episode keempat ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam menjalani proses pendidikan. Menutup keseluruhan acara, Mas Greg menyampaikan kalimat peneguh,
“Ad Maiorem Dei Gloriam—hebat bukan karena diri sendiri, melainkan karena keterlibatan Tuhan.”

Mario Imanuel (Mesin Industri Tk2)

CW TRAINING FOR TRAINER ANIMATOR.jpg

Refleksi Mengikuti Training for Trainer Animator: Belajar Mendengarkan dengan Hati

“Bagaimana rasanya didengarkan?”
Pertanyaan sederhana itu ternyata menyentuh banyak hal dalam diri saya. Banyak orang ingin didengarkan, namun tak banyak yang benar-benar mau mendengarkan orang lain dengan sepenuh hati.

Melalui pelatihan Training for Trainer (TFT) Animator yang saya ikuti bulan Agustus lalu, saya belajar bahwa memahami perasaan orang lain bukanlah hal mudah. Apa yang menurut kita baik, belum tentu dirasakan sama oleh orang lain. Bahkan, ketika seseorang sedang bercerita atau curhat, respons yang kita anggap menenangkan bisa saja justru membuatnya bingung, merasa dihakimi, atau semakin terbebani tanpa kita sadari. Alih-alih menemukan solusi, ia malah menutup diri.

Saya tidak pernah benar-benar berpikir untuk belajar menjadi pendengar yang baik. Namun, satu hari penuh dalam pelatihan ini membuka mata saya — betapa pentingnya hadir bagi orang lain dengan tulus, mendengarkan tanpa menghakimi, dan memberi ruang bagi mereka untuk memproses perasaannya sendiri.

Sebelum mengikuti TFT, saya merasa cukup hanya dengan “hadir” di sisi seseorang. Saya pikir, keberadaan saya saja sudah berarti. Tapi ketika tahu bahwa saya akan menjadi Promoter dan Fasilitator, saya sadar bahwa pengalaman saja tidak cukup. Ada dorongan untuk terbuka dan mengolah diri agar bisa mendampingi orang lain dengan lebih baik.

Awalnya, saya mengira materi yang disampaikan akan sama seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya — tentang Spiritualitas Ignasian. Namun, kali ini saya menangkap pesan yang lebih dalam: spiritualitas bukan sekadar soal mengenal Tuhan, tetapi juga tentang mengenal diri sendiri dan menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam TFT Animator, saya belajar bahwa seorang animator bukan hanya fasilitator, tetapi juga pendamping, asisten, dan sahabat rohani. Ia perlu memahami perasaan, pikiran, dan dinamika batin orang lain.

Pelatihan ini terdiri dari tiga sesi utama:

  1. Mendalami panggilan untuk mencintai melalui kisah Ignasian,
  2. Introduksi Animator dan percakapan rohani, dan
  3. Latihan Wawan Hati dalam kelompok kecil.

Di sesi latihan Wawan Hati, saya mendapat kesempatan menjadi “Pendengar” dan “Didengar”. Pengalaman itu membuka kesadaran baru: menjadi pendengar berarti hadir sepenuhnya — bukan hanya mendengar kata-kata, tetapi juga memahami rasa yang tersembunyi di baliknya. Ketika saya menjadi pihak yang didengarkan, saya ingin lawan bicara benar-benar hadir, tidak menghakimi, dan mendengarkan dengan hati. Sebaliknya, saat menjadi pendengar, saya belajar bahwa keterbukaan dari orang lain tidak muncul begitu saja; ia tumbuh dari respons yang tulus, empati, dan penerimaan.

Ada satu “aha moment” yang tak terlupakan: perasaan lega dan hangat ketika saya mampu membantu seseorang melihat kembali luka-lukanya dan berdamai dengan dirinya. Dari situ, saya menyadari bahwa menjadi pendamping bukan tentang memberi solusi, melainkan tentang menemani proses seseorang menemukan kedamaian batinnya.

Saya masih terus belajar. Namun, dari pelatihan ini saya membawa satu harapan kecil — semoga saya bisa menjadi Animator yang hadir dengan hati, yang mau mendengarkan, menemani, dan membantu orang lain membuka diri untuk sembuh dan bertumbuh.

Litani Marianju

Manajemen Industri/Tk2

CW ARRUPE EPS 3.jpg

Arrupe Insight Eps. 3 “Roda Kehidupan Selalu Berputar”

Salah satu yang menjadi kegiatan rutin Komunitas Mahasiswa Katolik (KMK), Arrupe INSIGHT, kembali digelar dengan menghadirkan narasumber istimewa, Yoannes Fredy Sakti, CEO PT Trimitra Nusantara Sakti. Dalam episode ke-3 ini, Pak Fredy berbagi kisah perjalanan hidup dan pelajaran berharga yang ia dapatkan selama berkecimpung di dunia industri.

Kisah Masa Kuliah: Belajar untuk Saling Membantu

Pak Fredy mengawali ceritanya dengan mengenang masa kuliah di ATMI Solo. Ia merupakan angkatan 37 (2007) dari jurusan Perancangan, yang saat itu masih tergolong baru. Menariknya, pada masa itu terdapat dua kelompok mahasiswa yang cukup kontras: lulusan SMK, yang unggul dalam praktik, dan lulusan SMA, yang lebih kuat di teori. Kedua kelompok cenderung berjalan sendiri-sendiri tanpa mau saling membantu.

Melihat kondisi itu, Pak Fredy bersama teman-temannya sepakat untuk menghapus sekat dan saling mendukung agar tidak ada yang tertinggal. Ia masih mengingat satu kejadian menyedihkan, ketika seorang teman harus dikeluarkan karena gagal dalam praktik, padahal ia sangat cerdas secara teori. Menurut Pak Fredy, hal tersebut bisa dihindari jika antar-mahasiswa mau saling membantu. Dari pengalaman itu, ia belajar pentingnya kerjasama dan solidaritas.

Bertahan di Masa Sulit: Ketika Pandemi Menguji

Tantangan besar datang ketika pandemi COVID-19 melanda dunia pada tahun 2019–2022. Saat itu, Pak Fredy baru saja mendirikan PT Trimitra Nusantara Sakti. Kebijakan pembatasan aktivitas membuat hampir seluruh bidang usaha lumpuh, termasuk perusahaannya yang kesulitan mendapatkan pesanan. Kondisi tersebut membuat Pak Fredy sempat mengalami tekanan mental dan mempertanyakan rencana Tuhan.

Namun, keajaiban datang dari arah yang tak terduga. Seorang alumni ATMI menghubunginya dan memesan baju hazmat, produk yang sebenarnya di luar bidang utama perusahaannya. Dengan tekad dan keyakinan, Pak Fredy menerima pesanan itu. Keputusan tersebut menjadi titik balik kebangkitan perusahaannya. Kini, PT Trimitra Nusantara Sakti telah berkembang pesat dan memiliki enam cabang di berbagai daerah.

Pelajaran Hidup: Roda Selalu Berputar

Dalam sesi sharing, Pak Fredy menegaskan bahwa roda kehidupan akan selalu berputar—kadang di bawah, kadang di atas. Ia teringat dengan teman-teman masa kuliah yang dulu ia bantu. Ia merasa bahwa segala kebaikan yang ia lakukan di masa lalu kini berbuah menjadi berkat di kehidupannya saat ini.

Menurutnya, kebaikan akan selalu kembali, meski tidak selalu melalui orang yang sama. “Kalau kita berbuat baik, hasilnya akan kembali dalam bentuk yang tak disangka. Begitu pula sebaliknya,” ujarnya. Saya pribadi sangat setuju dengan pesan tersebut. Dalam hidup, sering kali saat kita berada di posisi sulit, selalu ada jalan keluar yang muncul dengan cara yang tidak terduga. Kebaikan memang tidak pernah hilang.

Gigih dan Percaya pada Rencana Tuhan

Di akhir sesi, Pak Fredy berpesan kepada peserta untuk tetap gigih dan percaya pada Tuhan. Setiap kesulitan, adalah proses pembentukan diri agar menjadi pribadi yang lebih kuat. “Selalu ingat Tuhan dalam setiap langkah. Ajaklah Tuhan berbicara seperti kamu mengobrol dengan temanmu,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi penutup yang hangat sekaligus pengingat bahwa dalam setiap putaran roda kehidupan, iman, ketekunan, dan kebaikan hati akan selalu membawa kita menuju terang.

Renata Veronika

Prodi : Manajemen Industri (tk3)

CW REKOLEKSI COMMUNITY BUILDING.jpg

Rekoleksi Community Building: Mahasiswa/i Politeknik Industri ATMI Cikarang Melatih Kepekaan Diri dan Kepedulian Komunitas

Cikarang – Lebih dari sekedar kegiatan kampus biasa, Rekoleksi Community Building yang diikuti oleh Mahasiswa/i kampus Politeknik Industri ATMI, Cikarang, Angkatan 23 (Tahun Ajaran 2025/2026) pada Jumat – Minggu, 12 – 14 September 2025. Komunitas mengajak para peserta untuk menengok kembali pengalaman-pengalaman pribadi mereka, mengasah hati dan empati, dan melatih kebersamaan dengan melewati rangkaian sesi yang penuh dengan butir-butir refleksi dan eksperimen.

Acara ini adalah ajakan Xaverius Dormitory yang memadukan metode spiritual-reflektif dan praktik sosial secara konkret. Dalam pembukaan pada Jumat malam, telah ditekankan bahwa rekoleksi bukanlah kegiatan yang terlepas dari agama melainkan sebuah kesempatan untuk “recollect” pengalaman hidup — menghimpun pelajaran masa lalu sebagai pupuk untuk masa depan.

Enneagram hingga Examen Conscientiae

Sesi awal difokuskan pada pengenalan tes kepribadian Enneagram dan refleksi batin melalui Examen Conscientiae. Peserta mengisi Enneagram dan mencocokkan pola pribadi utama dan sekunder, lalu berpasangan untuk saling mencocokkan dan mendalami rasa kekeluargaan terhadap pasangannya serta membibitkan kepercayaan satu sama lain. Diawali oleh Imelda yang membagikan pengalamannya telah mengikuti tes MBTI, mengingatkan bahwa hasil tes bukanlah label tetap – melainkan titik awal untuk mengenal diri dan merencanakan perubahan.

Agere Contra: Menaklukkan Ketakutan Batin

Salah satu sesi spesial adalah Agere Contra. Di dalam suasana malam hari yang sengaja dibuat senyap, menantang dan ditemani oleh lilin, para peserta ditugaskan untuk memisahkan dan menghitung kerikil, biji-bijian, beras putih, dan beras merah yang sudah tercampur dalam satu wadah —  sebuah latihan simbolis untuk menghadapi kebingungan, rasa sepi, dan juga ketakutan.

Kegiatan ini dirancang untuk membantu setiap individu menyentuh disposisi batin mereka sendiri, menerima ketidaknyamanan, dan melatih rasa keberanian dalam bertindak yang juga bertentangan dengan naluri pasif.

Eksperimen Lapangan: Belajar dari Buku Kehidupan

Hari berikutnya, peserta dibagi menjadi kelompok untuk menjalankan Social Experiment — memungut puntung rokok dan tutup botol, mewawancarai dan membantu para “pejuang ekonomi” berpenghasilan rendah tanpa membawa perangkat komunikasi atau mata uang sepeserpun. Empat lokasi yang berada di sekitar kampus dipilih  sebagai titik pengamatan: komplek perumahan Graha Asri, Pasar Bersih, Stadion Wibawa Mukti, dan Pasimal. Selama sekitar 5 jam, para peserta juga berhasil mengumpulkan 5434 puntung rokok dan 5630 tutup botol plastik Tujuannya bukan untuk sekedar mengumpulkan data ataupun sampah, tetapi membuka ruang dialog tanpa medium yang biasa mengaburkan hubungan manusia, sehingga mahasiswa dapat mendengar narasi hidup nyata dan merespons dengan kehadiran langsung.

Sharing, Menjadi Tour Guide Pengalaman

Setiap basis kemudian melakukan sharing dari pengalaman eksperimen dan menjadikannya sebuah Museum yang mengekspresikan intisari temuan dan perasaan kelompok. Berisikan gambar dan ekspresi masing-masing basis dijadikan sebagai “Museum” — setiap basis bergiliran untuk mendengar pengalaman basis lain, memperkaya perspektif dan memungkinkan pembelajaran silang antar kelompok.

Treasure Hunting Dengan Kode

Pada Minggu pagi, di masa-masa lesu setelah beristirahat dari eksperimen. Dikumpulkan kembali antar basis untuk diberikan petunjuk harta karun, yang ternyata harus dipecahkan karena petunjuk tersebut bersifat kode. Ditekankan dengan pertandingan dengan basis lain untuk penemu harta karun tercepat, mengharuskan kerjasama antar anggota untuk menemukan lokasi harta karun yang sesungguhnya. Setiap basis disiapkan masing-masing satu harta karun dalam bentuk bendera — Bendera berisikan logo yang ditentukan oleh masing-masing basis.

Melalui banyaknya penjelajahan dunia batin telah mengajarkan banyaknya nilai-nilai moral untuk tetap bersyukur di dalam keadaan apapun. Dengan hasil memungut sekitar

5434 puntung rokok dan 5630 tutup botol oleh para peserta Rekoleksi juga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan alam semesta yang telah diberikan Tuhan. Semoga harapan agar kelancaran dinamika kehidupan Angkatan 23 Politeknik Industri ATMI Cikarang dapat terkabulkan melalui benih yang telah ditanam melalui acara Rekoleksi Community Building.

Fransiskus Xaverius Dennis, Promoter of Leaders 👊

CW ARRUPE EPS 2.jpg

Arrupe Insight Eps. 2 “Melampaui Titik Balik : Refleksi Daya Tahan, Transformasi, dan Jalan yang Tak Lurus”

Di tengah derasnya arus industri dan dinamisnya dunia kerja, dua alumni kolese Michael (ATMI Surakarta) – Mas Vincentius Santoso dan Mas Sonny Arianto – berbagi kisah perjalanan mereka. Bukan sekadar cerita karier yang berliku, tetapi juga tentang proses pemurnian diri, titik balik kehidupan, dan bagaimana pendidikan teknik yang solid menjadi fondasi transformasi menuju kedewasaan profesional sekaligus personal.

Perjalanan Dua Alumni

Mas Vincentius Santoso, lulusan program akselerasi ATMI Surakarta tahun 1972 yang hanya tersedia untuk 10 angkatan, memulai karier di bidang perawatan mesin dengan dasar teknikal yang kuat. Tak lama setelah lulus, beliau memperdalam ilmu di bidang ekonomi manajemen dan membuka jalan ke dunia penjualan alat-alat teknik. Tahun 2002 menjadi momentum penting ketika beliau masuk ke industri utilitas, menangani sistem boiler, turbin, dan genset pada berbagai proyek yang menuntut presisi teknik sekaligus kecakapan manajemen energi.

Sementara itu, Mas Sonny Arianto, lulusan SMK Santo Mikael dan ATMI Surakarta, menempuh jalur berbeda. Kariernya diawali di PT Kawan Lama Sejahtera sebagai sales hingga 2016, kemudian berlanjut di PT Isotema sejak 2018. Ia mengakui bahwa jalur karier tidak selalu sesuai dengan rencana awal, namun tetap penuh makna. Dari pengalaman tersebut, beliau belajar tentang pentingnya komunikasi, fleksibilitas, dan pembelajaran lintas bidang.

Pelajaran dari Titik Balik

Pengalaman jatuh bangun membentuk cara pandang mereka. Mas Vincent pernah mengalami cedera akibat gerinda tangan – sebuah momen sederhana yang mengajarkannya pentingnya keselamatan kerja. Sedangkan Mas Sonny mengingat pengalaman menitipkan benda kerja saat ujian sebagai pengingat bahwa jalan pintas tak selalu menyelamatkan.

Bagi keduanya, daya tahan bukan hanya kemampuan menyelesaikan pekerjaan, melainkan juga ketepatan waktu, integritas, dan kejujuran dalam proses. Soft skill, seperti kemampuan beradaptasi dan berkomunikasi lintas karakter, menjadi kunci penting yang menentukan kesuksesan.

Daya Tahan, Bukan Sekadar Kemampuan

ATMI bukan hanya membekali keterampilan teknis. “Yang ditanamkan adalah daya tahan,” ujar Mas Vincent. Ketahanan untuk menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas, ketepatan waktu, dan kejujuran dalam proses menjadi nilai-nilai inti yang membekas. Mas Sonny menegaskan, keterlambatan bukan hanya soal waktu, tapi soal integritas terhadap komitmen.

Dalam perbincangan, keduanya menyinggung tantangan yang tidak melulu bersifat teknis. Adaptasi, komunikasi lintas karakter, dan respons terhadap perbedaan menjadi tantangan terbesar di dunia kerja. Karakter, kata mereka, memang tidak bisa diubah, tetapi reaksi bisa dilatih. Inilah esensi dari soft skill: kemampuan yang tak tampak, namun menentukan.

Mas Vincent membagikan refleksi khas: “Doa itu tidak mengubah segalanya, tetapi mengubah dirimu. Dirimu yang berubah itu akan mengubah segalanya.” Dalam pandangannya, pemimpin bukan sekadar penunjuk arah, tapi pendayung bersama. Bukan pengatur, melainkan penggerak.

Antara Jatuh, Ritme, dan Tingkatan Kesadaran

“Jatuh itu persiapan untuk yang lain,” ujar Mas Vincent, menolak istilah ‘jatuh bangun’ yang seolah melukiskan penderitaan. Baginya, hidup adalah serangkaian turning point. Ia pernah tiga kali keluar-masuk perusahaan yang sama bukan karena kegagalan, tapi karena proses leveling up. “Jangan bilang ke HRD kamu mundur. Bilang kamu memajukan diri.”

Mas Sonny menambahkan, “Kenyamanan bisa membunuh.” Ritme kerja bukan soal tetap dalam zona nyaman, tapi tentang kesadaran akan dunia yang lebih luas. Refleksi, bagi mereka, bukan hanya mengenang masa lalu. Ia adalah kebiasaan yang membawa kejelasan arah dan tindakan konkret.

Pendidikan Vokasi dan Transformasi Diri

Pertanyaan dari peserta membuka ruang refleksi mendalam tentang sosok Romo Casutt pendiri ATMI yang melihat pendidikan vokasi bukan sekadar alat mencetak teknisi, melainkan wahana membentuk manusia utuh. “Soft skill memang tidak langsung terasa, tapi sangat menentukan,” ujar Mas Vincent. “ATMI memberi pondasi paling dasar agar siap kerja, tapi kamu harus tetap bertransformasi menjadi lebih besar.”

Bagi mereka, interaksi bukan sekadar soal bicara. Ia adalah seni memahami karakter orang lain, menyelaraskan diri, dan tetap menjadi diri sendiri. “Istilah ‘sok ATMI’ itu sebetulnya brand image yang baik. Orang menaruh harapan pada kita. Jangan kecewakan itu,” kata Mas Vincent.

Menakar Sukses dan Menjadi Manusia

Sukses, dalam pandangan mereka, bukan tujuan akhir, melainkan langkah-langkah kecil yang dijalani dengan kesadaran. Bagi Mas Vincent, sukses adalah “apakah hari ini kamu melakukan apa yang kamu inginkan?” Refleksi dan kontemplasi bukan aktivitas pasif, tapi cara memilah apa yang baik dan benar, lalu memilih untuk melakukannya.

Keduanya sepakat: membangun kesadaran dalam berinteraksi adalah bagian dari tanggung jawab sebagai manusia. Dan itu tidak bisa dibangun dalam diam. Interaksi, membaca, berdialog, dan mencoba semua adalah bentuk latihan agar kita tidak pasif dalam dunia yang penuh dinamika.

Hadir untuk Tumbuh

Mas Sonny menekankan pentingnya membaca dan terus belajar melalui seminar dan forum diskusi. Mas Vincent menutup dengan nada optimis, “Hadir di acara ini adalah langkah yang baik. Gunakan waktumu untuk kegiatan yang membawa kamu pada kemajuan. Agar saat waktunya datang, kamu sudah siap.”

Mereka tak menawarkan kisah heroik. Yang mereka tawarkan adalah kedalaman kisah tentang konsistensi, keberanian melangkah, dan kemauan terus belajar. Dunia kerja bukan ladang perang, tapi tempat menempa diri. Karena pada akhirnya, seperti kata Mas Vincent, saat kamu melakukan sesuatu dengan biasa, kamu akan menjadi orang biasa. Maka hasil luar biasa, muncul dari usaha yang luar biasa.

Mario Imanuel, Tingkat 1 Mesin Industri 

"Saat kamu melakukan sesuatu dengan biasa, kamu akan menjadi orang biasa. Maka hasil luar biasa, muncul dari usaha yang luar biasa".

CW MERAIH KESEMPATAN MENEMUKAN TUJUAN.jpg

Meraih Kesempatan, Menemukan Tujuan: Kisah Perjalanan Bapak Praditia, Alumni Politeknik ATMI Surakarta

Kamis, 10 Juli 2025, KMK Pedro Arrupe melaksanakan Arrupe Insight, kegiatan bincang-bincang Santai yang melibatkan alumni sebagai narasumber. Arrupe Insight digagas oleh KMK Pedro Arrupe sebagai sarana untuk berjejaring dengan para alumni, wadah berbagi tentang dunia industri dan relevansi pendidikan Atmi dalam praktik Industri kelak. Kesempatan kali ini dihadiri Mas Praditya Sih Ardihantoro sebagai narasumber.

Pengalaman yang paling berkesan selama kuliah di Solo

Bapak Praditya merupakan alumni ATMI Solo angkatan 38, lulusan jurusan Mekatronika. Saat ini beliau bekerja di perusahaan Adyawinsa Elektrikal and Power, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang kelistrikan dan energi.

Bagi beliau, pengalaman yang paling membekas adalah saat berhasil mempertahankan IPK di atas 3. Hal tersebut tidak mudah, apalagi ketika menghadapi tantangan besar pada mata kuliah komputer. Beliau sempat mendapat nilai E dan hampir DO karena sering tidak mengikuti praktik komputer yang berbasis Linux. Namun, bukan tanpa alasan—pada saat itu, beliau tergerak menjadi relawan saat terjadi gempa di Yogyakarta, sehingga kerap izin dari perkuliahan. Meski penuh tantangan, hal ini menunjukkan nilai kemanusiaan dan tanggung jawab sosial yang tinggi.

Setelah lulus, beliau sempat merasa galau dan bingung menentukan arah. Beliau mendapat tawaran dari tujuh perusahaan sekaligus, dan proses mempertimbangkan antara gaji dan jarak kerja menjadi momen reflektif. Menurutnya, banyak anak muda yang sibuk mengikuti arus dan rutinitas tanpa benar-benar tahu tujuan hidupnya. Maka dari itu, beliau menekankan pentingnya mengenal diri dan mengetahui arah yang ingin dituju.

“Tantangan terbesar adalah diri sendiri,” ungkap beliau. Untuk itu, beliau memberikan tips agar setiap tahun bisa terus naik jabatan, yaitu dengan mengambil setiap kesempatan tanpa terlebih dahulu memikirkan gaji. Kesempatan akan membawa pengalaman, dan pengalaman adalah aset yang tak ternilai. Prinsip inilah yang mengantarkan beliau meraih posisi saat ini.

Mengapa masih erat dengan ATMI?
Menurut beliau, apa yang diperoleh dari ATMI harus dikembalikan dalam bentuk kebaikan. Budaya di ATMI telah membentuk mentalitas bahwa kesempatan harus dijemput, bukan ditunggu. Jika tidak diambil, maka orang lain akan lebih dulu mengambilnya.

Diskusi Interaktif

Malik, mahasiswa program studi Tehnik Rekayasa Mekatronika memulai dengan pertanyaan “Bagaimana cara kita mencari peluang di dunia industri?”. Menurut Mas Praditya, peluang harus dicari dan dijemput dengan komitmen penuh. Jangan terlalu banyak menggunakan “tapi” sebagai alasan. Jika kita sudah tahu apa tujuan kita, berpindah perusahaan bisa menjadi langkah maju menuju target yang lebih jelas.

Sesi tanya jawab dilanjutkan, Bagaimana menghadapi perkembangan AI?
AI adalah alat bantu yang luar biasa, terutama dalam mencari solusi dan menganalisis data. Namun, jangan terlalu bergantung. AI bisa salah, terutama dalam hal teknis. Gunakan AI sebagai pendukung, bukan pengganti nalar, ujar Mas Praditya.

Reynaldus Dolu, mahasiswa Tingkat 1 program studi Mesin Industri bertanya tentang Bagaimana menyelesaikan masalah tanpa stres? masalah menjadi besar karena kita menyimpannya terlalu lama. Kuncinya adalah menyelesaikannya perlahan-lahan, satu per satu, jawab beliau.

Radi mahasiswa Tingkat 1 program studi Mesin Industri mengajukan pertanyaan “Bagaimana pandangan soal kerja di luar negeri?” Semua kembali ke diri sendiri. Apakah kita siap menikmati pekerjaan itu? Saat beliau bekerja di Guangzhou dan Korea, beliau banyak bertemu orang Indonesia. Intinya, kenali apakah pekerjaan itu sesuai dengan yang kita suka ujar Mas Praditya

Erhan mahasiswa Tingkat 2 program studi Mesin Industri bertanya”Apa yang membuat Mas Praditia tetap semangat dan berpikiran terbuka?” musik adalah salah satu hal yang membuat beliau semangat. Hobi menyanyi bahkan pernah dibayar. Namun saat sakit, semuanya harus berhenti. Maka, penting bagi kita untuk menemukan apa yang kita suka, dan menjalaninya dengan hati yang bahagia.

Gunta mahasiswa Tingkat 1 program studi Manajemen Industri  bertanya “Apa yang penting dalam pendidikan saat ini?” pendidikan vokasi adalah pondasi. Media sosial kini banyak menyita waktu dan menghalangi seseorang mengenali dirinya sendiri. Pesannya sederhana: “Hidup bahagia adalah ketika kita bisa memenuhi kebutuhan diri, bukan hanya fisik tapi juga mental.” Tegas Mas Praditya.

Pesan bagi para mahasiswa/i

Bapak Praditya menekankan pentingnya melihat dunia secara positif. Dunia ini berputar, kadang kita di atas, kadang di bawah. Resep agar tetap di atas adalah rendah hati, daripada harus direndahkan.

Romo Kristiono P. Sj turut hadir berpartisipasi mengingatkan bahwa sebagai sesama keluarga besar ATMI, ketika ada teman menangis hari ini, alumni seperti Bapak Praditya pun pernah merasakannya. Maka mari kita belajar untuk mengenali diri sendiri. Karena “ketika dunia lunak, maka diri kita harus keras.”

Jika kamu sedang bingung menentukan arah, ingatlah kata-kata ini:
“Kesempatan adalah pengalaman, dan pengalaman adalah aset. Jangan tunggu kesempatan datang—jemputlah.”

 Mario Imanuel
Divisi IGNITE KMK Pedro Arrupe

"Kesempatan adalah pengalaman, dan pengalaman adalah aset. Jangan tunggu kesempatan datang—jemputlah."