WhatsApp Image 2026-02-06 at 16.11.03

Rekoleksi Our Identity Sebagai Ruang Jeda dan Peneguhan Arah

Pada Jumat, 6 Februari 2026, Politeknik Industri ATMI Cikarang mengambil jeda yang tidak biasa. Di tengah ritme perkuliahan yang padat, setelah pekan ujian dan di sela special course, mahasiswa tingkat II dan III diajak berhenti sejenak dari dunia target, capaian, dan performa. Bukan untuk menambah materi kuliah, melainkan untuk kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar siapakah aku, dan bagaimana aku hadir di dunia? Rekoleksi singkat bertajuk “Our Identity” ini menjadi yang pertama bagi mahasiswa tingkat II dan III, sebuah tonggak baru dalam pembinaan manusia berkelanjutan di Polin ATMI. Di sinilah pendidikan vokasi berbasis Jesuit kembali menegaskan jati dirinya untuk mendidik manusia secara utuh, bukan sekadar mencetak tenaga terampil. Rekoleksi ini bukan ruang pelarian, melainkan ruang pendalaman sebagai tempat mahasiswa belajar mendengarkan hidupnya sendiri.

Sebagai institusi pendidikan tinggi vokasi yang berakar pada tradisi Jesuit School, Politeknik Industri ATMI memandang refleksi-rekoleksi sebagai bagian esensial dari proses belajar. Dalam spiritualitas Ignasian, refleksi bukan aktivitas tambahan, melainkan cara hidup finding God in all things. Mahasiswa tingkat I telah mengalami ritme refleksi-rekoleksi bulanan selama tinggal di dormitory, dengan fokus pada pertanyaan who am I? dan pendalaman Seven Habits Stephen Covey. Namun perjalanan pembentukan manusia tidak berhenti di tahun pertama. Oleh karena itu, Campus Ministry bersama Tim Kemahasiswaan menggagas rekoleksi bagi tingkat II dan III sebagai bentuk pendampingan yang berkelanjutan. Rekoleksi ini menjadi penanda bahwa perhatian pada dimensi batin mahasiswa tidak berakhir saat mereka meninggalkan asrama. Pendidikan manusia tetap berjalan, seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan tanggung jawab.

Tema Our Identity dipilih bukan tanpa alasan. Mahasiswa tingkat II dan III berada dalam fase hidup yang berbeda dari tahun pertama lebih sadar akan diri, mulai bergulat dengan pilihan, relasi, kegagalan, dan harapan. Identitas tidak lagi sekadar “siapa aku”, tetapi “bagaimana aku hidup, bertindak, dan mengambil sikap”. Karena itu, rekoleksi ini diarahkan pada pendalaman cara bertindak reflektif dan internalisasi nilai 4C 1L (competence, conscience, compassion, commitment, and leadership). Khusus bagi mahasiswa tingkat III, rekoleksi ini juga diberi aksen Man on Mission, sebagai persiapan batin menjelang masa magang dan perutusan ke dunia kerja. Identitas tidak berhenti pada pemahaman diri, tetapi menemukan arah dan tujuan hidup.

Secara teknis, peserta rekoleksi dibagi ke dalam tiga kelas yakni Tingkat II Program Studi Mesin Industri, Tingkat II Program Studi Manajemen Industri yang digabung dengan Teknologi Rekayasa Mekatronika, serta Tingkat III Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika. Meskipun berada dalam kelas yang berbeda, seluruh sesi dirancang dalam kerangka yang sama. Rekoleksi ini menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry, sebuah metode yang menekankan kekuatan, pengalaman hidup, dan harapan. Metode ini tidak diperkenalkan secara teoritis kepada mahasiswa, tetapi dihadirkan secara implisit melalui alur sesi. Empat tahap (Discover, Dream, Design, Destiny) diterjemahkan ke dalam pengalaman konkret yang dekat dengan dunia mahasiswa. Dengan cara ini, refleksi tidak terasa abstrak, melainkan kontekstual dan personal.

Sesi pertama menjadi pintu masuk yang hening dan personal. Seluruh peserta, dari ketiga kelas, diajak membaca artikel yang sama berjudul “Aku Dikasihi–Dicintai”, sebuah refleksi yang terinspirasi dari buku The Art of Loving karya Erich Fromm. Bacaan ini tidak disajikan sebagai materi akademik, melainkan sebagai teks reflektif yang dibaca dalam suasana silentium terbatas, menyerupai praktik Lectio Divina. Mahasiswa membaca perlahan, berhenti ketika menemukan kalimat yang “menempel”, lalu diam untuk membiarkan perasaan dan pikiran hadir. Dalam keheningan itu, teks menjadi cermin pengalaman hidup. Banyak mahasiswa menyadari bahwa berbicara tentang cinta ternyata tidak sesederhana yang mereka bayangkan.

Artikel tersebut mengajak peserta menyelami tema-tema mendasar antara lain trauma of birth, pengalaman dicintai, dan pemahaman cinta sebagai sebuah seni. Bagi sebagian mahasiswa, kata-kata dalam teks itu beresonansi dengan luka masa lalu, relasi keluarga, atau dinamika cinta yang sedang mereka jalani. Setelah membaca, peserta diminta menuliskan satu kalimat yang paling menyentuh serta merefleksikan apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Proses ini sederhana, tetapi dampaknya nyata. Tidak sedikit mahasiswa yang mengaku mendapatkan cara pandang baru tentang cinta bukan sebagai sesuatu yang instan, melainkan sebagai proses belajar, merawat, dan bertumbuh. Di titik ini, sesi Discover dan Dream mulai bekerja secara halus dan tidak langsung.

Sesi kedua membawa peserta masuk lebih jauh ke dalam kisah hidupnya masing-masing. Metode yang digunakan berbeda di setiap kelas, tetapi tujuannya sama untuk membantu mahasiswa mengenali diri secara lebih jujur dan mendalam. Di kelas Mesin Industri Tingkat II, sesi ini dinamai My Mindmap. Mahasiswa diajak mengenali figur-figur berpengaruh dalam hidupnya, talenta yang dimiliki, serta gambaran diri yang mereka sadari selama ini. Semua itu diekspresikan dalam bentuk mindmap yang dilengkapi simbol-simbol personal. Proses visual ini membantu mahasiswa melihat dirinya secara utuh, bukan sekadar potongan-potongan pengalaman.

Di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, sesi kedua diberi nama Life Investigation. Dengan pendekatan metafora seorang detektif, mahasiswa diajak menelusuri pola-pola hidup, keputusan penting, serta figur yang membentuk perjalanan mereka. Namun yang membedakan sesi ini adalah sudut pandang syukur. Mahasiswa tidak hanya diminta mengenali peristiwa, tetapi juga memaknainya dengan rasa terima kasih bahkan atas pengalaman yang tidak selalu menyenangkan. Proses ini membuka kesadaran bahwa identitas dibentuk bukan hanya oleh keberhasilan, tetapi juga oleh kegagalan dan keterbatasan. Di sinilah refleksi mulai bersentuhan dengan kedewasaan.

Untuk kelas TRM Tingkat III, alur sesi sedikit dimodifikasi. Sesi pertama diawali dengan perkenalan yang unik dengan menyebutkan fun fact tentang diri disertai gerakan. Dinamika ini mencairkan suasana sekaligus membuka sisi lain dari diri dan sesama yang jarang terlihat di ruang kelas. Baru pada sesi kedua, peserta diajak membaca teks “Aku Dikasihi–Dicintai”. Urutan ini membantu mahasiswa tingkat akhir memasuki refleksi dengan kesiapan emosional yang lebih terbuka. Mereka tidak hanya membaca teks, tetapi membacanya dari ruang relasi yang sudah terbangun.

Sesi ketiga dan keempat merupakan turunan dari tahap Design dan Destiny dalam Appreciative Inquiry. Di kelas Mesin Industri Tingkat II, setelah menyelesaikan mindmap, mahasiswa diajak mengikuti Peer Walk. Dalam sesi ini, mahasiswa berpasangan dan berjalan bersama sambil mengontemplasikan pengalaman hidup dan cinta secara empatik. Peer Walk menjadi latihan nyata kontemplasi empatik untuk belajar mendengarkan tanpa menghakimi, hadir tanpa memberi solusi. Banyak mahasiswa menyadari bahwa didengarkan dengan sungguh adalah pengalaman yang menyembuhkan. Empati tidak diajarkan lewat teori, tetapi dialami secara langsung.

Di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, kontemplasi empatik dilakukan dalam kelompok kecil berisi tiga orang. Setiap peserta bergantian berperan sebagai pencerita, pendengar aktif, dan pendengar pasif. Dinamika ini melatih keterampilan mendengarkan, melakukan probing, dan paraphrase seperti sebuah latihan menjadi konselor awam. Prinsipnya sederhana yakni we listen, we don’t judge. Mahasiswa belajar bahwa kehadiran yang penuh perhatian sering kali lebih bermakna daripada nasihat. Latihan ini menumbuhkan kepekaan sosial dan belas kasih sebagai bagian dari identitas diri.

Di kelas TRM Tingkat III, sesi ketiga dikemas dalam aktivitas Life Graph dan simbol diri. Mahasiswa diajak memetakan perjalanan hidupnya dalam bentuk grafik, dari masa lalu hingga saat ini. Melalui visualisasi ini, peserta diajak menemukan pola, titik balik, dan momen penting yang membentuk diri mereka. Lebih dari itu, mereka diajak melihat kembali jejak Tuhan dalam setiap fase hidup. Aktivitas ini membantu mahasiswa tingkat akhir memaknai perjalanan panjang yang telah mereka lalui sebelum melangkah ke fase baru.

Sesi keempat menjadi puncak rekoleksi yakni tentang perumusan diri. Di kelas Mesin Industri Tingkat II dan TRM Tingkat III, perumusan ini dikaitkan dengan Latihan Rohani 23 tentang asas dan dasar. Mahasiswa diajak mengenali prinsip-prinsip hidup yang menjadi fondasi tindakan mereka. Identitas diri dirumuskan dalam kaitannya dengan nilai 4C 1L, bukan sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai arah hidup yang konkret. Sementara itu, di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, mahasiswa diajak mendalami self-concept. Mereka merefleksikan aspek diri yang sudah kuat dan yang masih perlu dikembangkan dalam terang Our Identity 4C 1L.

Sebagai penutup, seluruh peserta menuliskan refleksi jurnal secara utuh atas pengalaman rekoleksi dari pagi hingga sore hari. Refleksi ini menggunakan kerangka Pedagogi Ignasian untuk mengenali gerak batin, mensyukuri pengalaman, menemukan makna, dan merumuskan kehendak atau aksi ke depan. Menulis menjadi ruang dialog batin, tempat mahasiswa menyusun kembali pengalaman yang telah mereka jalani. Tidak ada jawaban benar atau salah, hanya kejujuran pada diri sendiri. Sarana yang digunakan membantu mahasiswa berdamai dengan dirinya dan berani melangkah.

Dengan terselenggaranya rekoleksi tingkat II dan III ini, Politeknik Industri ATMI menegaskan komitmennya pada pendampingan manusia secara berkelanjutan. Perhatian pada dimensi batin tidak hanya menjadi hak mahasiswa dormitory, tetapi dialami oleh seluruh mahasiswa. Rekoleksi ini juga membuka jalan bagi pengembangan kurikulum pendidikan manusia yang lebih utuh dan berkesinambungan. Rekoleksi menjadi ruang jeda, ruang napas, sekaligus ruang peneguhan arah hidup. Harapannya, setiap mahasiswa semakin mengenal dirinya, sesamanya, dan panggilan hidupnya. (HM-Campus Ministry) 

Ad Maiorem Dei gloriam.

 

Refleksi peserta : (Rekoleksi Our Identity) 

WhatsApp Image 2026-02-13 at 08.07.02

Refleksi Mahasiswa dalam rekoleksi : Our Identity

Rekoleksi Our Identity yang diikuti mahasiswa tingkat 2 dan 3 Politeknik ATMI menjadi kesempatan bagi para peserta untuk berhenti sejenak, merefleksikan perjalanan hidup, serta meneguhkan nilai dan tujuan pribadi. Dalam suasana yang hening dan reflektif, mahasiswa diajak untuk semakin mengenal diri dan memaknai proses pembelajaran yang mereka jalani.

Tulisan-tulisan berikut ini merupakan rangkuman hasil refleksi para peserta rekoleksi. Setiap refleksi menggambarkan pengalaman, kesadaran baru, serta komitmen pribadi yang tumbuh selama kegiatan berlangsung. Semoga refleksi ini dapat menjadi inspirasi dan pengingat akan pentingnya proses mengenal diri dalam perjalanan pendidikan dan kehidupan.

Who Am I? – Refleksi Memahami Makna Cinta dan Diri

Sudah lama aku tidak merasakan rekoleksi. Rasanya aku diajak kembali untuk melihat apa saja yang sudah kulewati. Banyak hal yang kupelajari tentang makna cinta yang sebenarnya. Aku merasa terpanggil ketika membaca teks The Art of Love. Selama ini, aku mengira cinta yang kujalani sudah merupakan makna cinta yang sebenarnya.

Aku terlalu terlena untuk terus berharap pada orang lain, pencapaian, bahkan pada pengakuan bahwa aku adalah orang yang spesial atau berharga. Aku berharap lewat cinta, hidupku bisa terisi. Semua itu bukanlah kesalahan, melainkan kekeliruan, karena cinta ternyata bukan hanya tentang perasaan yang harus dipenuhi, tetapi juga sikap hidup yang membutuhkan pembelajaran dan proses. Aku mengira aku selalu gagal dalam percintaan, ternyata akulah yang belum sungguh belajar apa itu cinta sejati.

Melalui rekoleksi ini, aku juga diajak kembali untuk menengok peristiwa-peristiwa yang terus kuingat hingga saat ini. Aku membayangkan kembali bagaimana perasaanku saat berada dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Dari sana, aku mulai mengenali emosi yang paling menonjol dalam diriku, serta figur-figur yang paling berkesan dalam perjalanan hidupku. Aku juga diajak untuk melihat sejauh mana 4C & 1L berperan dalam diriku.

Dari semua proses itu, aku belajar bahwa manusia akan terus belajar sepanjang hidupnya: belajar memahami cinta yang sesungguhnya, belajar mengenali emosi dalam diri, dan belajar melihat peran 4C & 1L dalam hidup. (Hizkia Putra Azarya-Prodi TRM Tk2)

“Cinta karena luka, dan luka membentuk cinta”

Saya selalu merasa senang saat rekoleksi karena saya diajak untuk mengolah diri saya melalui materi-materi yang dibawakan.

Setiap orang datang ke dunia dengan membawa cerita bahkan sebelum ia mampu merangkai kata. Dan saya yakin bahwa setiap orang datang ke dunia dengan membawa luka bahkan sebelum ia mampu merangkai kata. Luka karena rasa aman atau bahkan luka karena merasa terancam. Saya baru menyadari bahwa “luka” memiliki arti yang sangat dalam, pengaruh yang sangat dalam, padahal kita sendiri tidak menyadari bahwa itu adalah luka. Luka membentuk dialog batin dan dialog batin lah yang menentukan bagaimana cara kita mencintai.

Di sini, di titik ini saya menyadari bahwa cinta dalam diriku adalah cinta yang salah. Maka dari itu, aku ingin memperbaikinya, memperbaiki bagaimana aku mencintai diriku sendiri. (Simon Permadi – Prodi TRM)

Saat saya membaca “The Art of Loving,” dimana saya dapat memahami cinta itu adalah seni, banyak yang dipahami untuk mencintai kita, tetapi harus berdamai terlebih dahulu dengan masa lalu. Memahami cinta itu rumit tetapi itu penting untuk kita ketahui bahwa cinta bukan kata yang indah. Ada satu kalimat yang membuat saya benar-benar tersentuh. Kalimat itu berbunyi, “Pengenalan diri membawa kita pada satu kesadaran mendasar bahwa aku adalah pribadi yang dikasihi.”

Ketika mengulang kembali kejadian-kejadian masa lalu sebagai rangkaian batin yang belum selesai. Kita diajak untuk berdamai dengan masa lalu. Bagaimana kehidupan dahulu kita, respon di setiap orang yang kadang menyedihkan, merasa senang dan lain-lain perasaan waktu itu. dimana letak dominan yang kita terima waktu itu dan dikelompokan menjadi satu bingkai identitas kita. (Muhammad Habib – Prodi TRM)

“Cinta yang Menumbuhkan”

Saya memaknai kegiatan hari ini untuk menyelami kedalaman batin dan memeriksa apa yang salah dari diri ini serta langkah apa yang dapat dilakukan untuk kedepannya. Hasil dari pengolahan 4C+1L menunjukkan bahwa kedepannya saya harus lebih berani ambil tanggung jawab yang lebih besar dari apa yang saya lakukan hari ini, mengingat logo saya adalah vas bunga pecah yang mana vas bunga pecah ini disambung menggunakan lem berwarna emas, yang mana maknanya lebih dalam saya lebih percaya diri akan kemampuan dan being shape not broken. hail ini membuat vas bunga menjadi lebih cantik. karena retakannya aksi konkrit saya di masa yang akan datang jauh lebih intentional dalam setiap tindakan berkata dan bertindak, memastikan bahwa semua keputusan diambil dalam dasar kesadaran, serta niat menjadi lebih baik. (Efrata Gading Pasoloran – Prodi TRM)

“Who Am I?”

Sudah lama aku tidak merasakan rekoleksi. Rasanya aku diajak kembali lagi, untuk melihat apa saja yang sudah kulewati. Banyak hal yang kupelajari tentang makna cinta yang sebenarnya. Aku merasa terpanggil ketika membaca teks tentang Art of Love. Rasanya cinta yang kujalani ku mengira merupakan makna sebenarnya dari cinta itu sendiri. Akuterlalu terlena untuk terus berharap pada orang lain, pencapaian, bahkan hingga pengakuan bahwa aku adalah orang spesial / berharga. Aku berharap lewat cinta, hidupku bisa terisi. Dan hal itu semua bukan kesalahan, tapi kekeliruan, karena cinta ternyata bukan hanya tentang perasaan yang harus dipenuhi, namun juga sikap hidup, dimana disitu butuh pembelajaran, proses, dan lainnya. Aku kira aku selalu gagal dalam percintaan, ternyata diriku lah yang tak pernah belajar apa itu cinta sejati?

Dari rekoleksi ini aku juga diajak kembali untuk flashback peristiwa apa saja yang membuatku terus mengingatnya hingga saat ini. Dan aku pun membayangkan bagaimana perasaanku saat ada di peristiwa itu. Dari situ aku mulai tau, emosional apa yang paling menonjol dari diriku, serta figur yang paling berkesan dalam peristiwa hidupku. Aku juga diajak untuk mengenal diriku sejauh mana 4C+1L berperan dalam diriku.

Dari itu semua aku belajar, bahwa sampai kapanpun manusia akan terus belajar. Belajar mengerti cinta sesungguhnya. Belajar mengenali emosional dalam diri kita, belajar sejauh mana 4C+1L berperan dalam hidup kita. (Hizkia Putra Azarya – Prodi TRM)

Pada saat kita lahir, kita memiliki trauma karena kita seperti terpisah dari kondisi nyaman, maka bayi pada saat lahir itu menangis. Kemudian aku sadar terkadang diriku yang terkadang aku masih terlalu sibuk dengan apa yang di luar diri. Ternyata diri sendiri pun perlu diperhatikan. Pada bagian kekosongan yang disangkal terkadang aku sering ingin melupakan pengalaman-pengalaman yang pahit, ternyata pengalaman itu seharusnya merasakan kembali dan menerimanya. Aku disini untuk belajar untuk fokus terhadap diri sendiri untuk memberikan perhatian dan aku juga belajar untuk mengingat dan menerima perasaan yang dipendam. (Timothy Joseph Wijaya – Prodi TRM)

“Apa itu CINTA”

Hari ini aku belajar banyak hal dimulai membaca buku dari Erich Fromm yang berjudul “The Art of Loving.” Aku sadari ada banyak hal dari kutipan buku ini yang menarik bagiku. Menurut buku ini, manusia selalu dibentuk oleh pengalaman dicintai atau tidak dicintai. Aku sadar diriku yang seperti ini, baik sifat emosi dan lain-lain disebabkan oleh pengalaman dicintai seiring perkembangan waktu rasa pengalaman dicintai dan tidak dicintai ini membentuk diri hingga saat ini aku belajar cara menginvestigasi diri dari yang diremehkan hingga diterima oleh orang disekitarku. Saat ini aku menyadari bahwa aku adalah pribadi yang cuek karena beberapa pengalaman sebelumnya. Aku akan banyak berlatih untuk menerima dan aku sedang belajar untuk lebih baik lagi. Aku belajar 4C & 1L melalui gambar timbangan dan bagian mana yang diriku banget ternyata competence dan conscience adalah keunggulanku. Aku berusaha agar 2C lainnya bisa aku kembangkan dalam diri ini. (Muhammad Zidan K – Prodi TRM)

“Arti Kata Cinta”

Dari situ saya menyadari bahwa saya adalah saya, bukan orang lain. Saya sangatlah berharga terlepas dari apa yang telah saya lakukan dan lalui, saya sangat bangga terhadapdiri sendiri karena mampu melangkah sejauh ini, serta berjuang sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik di hidup ini. (Muhammad Rafi Pratama – Prodi)

Hii, aku Miko. Hari ini aku seneng banget bisa rekoleksi saling bertukar pikiran kembali ke dalam masa lalu ku yang rapuh. Hari ini banyak belajar tentang cinta. Ternyata cinta bukan hanya untaian kata, namun perlu aksi nyata. Tidak hanya cinta tetapi juga luka, luka juga perlu diberi ruang cerita agar dari luka menjadi sukacita. Hari ini aku juga menjadi pendengar sekaligus yang bercerita tentang suatu hal. Saling bertukar pikiran satu dengan yang lain, menumbuhkan rasa empati serta peduli kepada teman. 

Begitu banyak pelajaran, masukan, dan pengalaman hari ini yang dapat aku jadikan acuan dalam menata atau menyusun masa depan yang lebih baik, menjadi pribadi yang tidak lagi bergelut dengan luka batin, tetapi aku akan menjadi pribadi yang dengan rendah hati dalam melangkah untuk mencapai tujuan yang aku inginkan dengan semangat 4C&1L yang sudah kupelajari serta memahami siapakah aku. Aku sangat yakin dengan semua ini untuk menuju masa depan yang baik dan dengan selalu rendah hati/ Terimakasih kepada Mba Feli, Mas Hari, serta semua tim kemahasiswaan yang terlibat. (Yohanes Miko Gotama – Prodi Manajemen Industri)

Sharing bersama teman-teman memberikan pemahaman baru bahwa setiap orang memiliki lukanya masing-masing atau masalahnya sendiri. Cinta gagal karena manusia tidak mau belajar. Maka dari itu, pelan-pelan aku akan membuka diriku, mencintai diriku bersama dengan luka di masa lalu yang akan kujadikan sebagai pembelajaran. Menjadi diriku yang jauh lebih baik di masa depan. (Stefani Citra – Prodi Manajemen Industri)

“Rekoleksi Kembali”

Pada rekoleksi ini aku mendengarkan bahwa cinta itu adalah seni. Bukan hanya “Aku suka kamu, aku cinta kamu.” Bukan hanya sekedar omongan yang lewat telinga kanan keluar telinga kiri. Tetapi harus dimaknai. Kita harus mencintai dengan yang berisi bukan yang kosong lalu kita mencintai. Aku menjadi bersyukur bisa mengetahui tentang hal mencintai dan dicintai.

Aku juga menemukan melalui identifikasi kepribadian, aku siapa. Ternyata aku memiliki pola yang aku tidak ketahui, yaitu “kebebasan” yang dimana jika aku makin terikat maka aku akan stress. Maka dari itu aku harus memperbaiki agar tidak berkelanjutan dan mengontrolnya dengan baik. (Lukas Tatag Hari Utama – Prodi Manajemen Industri)

Berikut adalah refleksi mahasiswa yang dirangkum oleh pendamping sebagai potret perjalanan batin selama rekoleksi Our Identity.

“Setiap orang datang ke dunia dengan membawa cerita bahkan sebelum ia mampu merangkai kata. Dan saya yakin bahwa setiap orang datang ke dunia dengan membawa luka bahkan sebelum ia mampu merangkai kata. Luka membentuk dialog batin dan dialog batinlah yang menentukan bagaimana cara kita mencintai. Maka dari itu, aku ingin memperbaikinya, memperbaiki bagaimana aku mencintai diriku sendiri.” (Simon Permadi – Prodi TRM Tk2)

“Pengenalan diri membawa kita pada satu kesadaran mendasar bahwa aku adalah pribadi yang dikasihi. Ketika mengulang kembali kejadian-kejadian masa lalu sebagai rangkaian batin yang belum selesai, kita diajak untuk berdamai dengan masa lalu. Dari situlah identitas kita terbentuk.” (Muhammad Habib – Prodi TRM Tk2)

“Vas bunga pecah yang disambung menggunakan lem berwarna emas yang merupakan simbol diriku, memiliki makna bahwa i’m being shaped, not broken. Retakan membuat vas bunga menjadi lebih cantik.” (Efrata Gading Pasoloran – Prodi TRM Tk2)

“Aku sadar terkadang diriku masih terlalu sibuk dengan apa yang di luar diri. Pada bagian kekosongan yang disangkal, terkadang aku sering ingin melupakan pengalaman-pengalaman yang pahit. Ternyata pengalaman itu seharusnya dirasakan kembali dan diterima.” (Timothy Joseph Wijaya – Prodi TRM Tk2)

“Menurut buku ini, manusia selalu dibentuk oleh pengalaman dicintai atau tidak dicintai. Pengalaman dicintai dan tidak dicintai ini membentuk diri hingga saat ini. Aku menyadari bahwa aku adalah pribadi yang cuek karena beberapa pengalaman sebelumnya.”  (Muhammad Zidhan K – Prodi TRM Tk2)

“Saya menyadari bahwa saya adalah saya, bukan orang lain. Saya sangatlah berharga terlepas dari apa yang telah saya lakukan dan lalui. Saya sangat bangga terhadap diri sendiri karena mampu melangkah sejauh ini.” (Muhammad Rafi Pratama – Prodi TRM Tk2)

“Ternyata cinta bukan hanya untaian kata, namun perlu aksi nyata. Tidak hanya cinta tetapi juga luka, luka juga perlu diberi ruang cerita agar dari luka menjadi sukacita. Begitu banyak pelajaran yang dapat aku jadikan acuan dalam menata masa depan yang lebih baik.” (Yohanes Miko Gotama – Prodi Manajemen Industri Tk2) 

“Setiap orang memiliki lukanya masing-masing atau masalahnya sendiri. Cinta gagal karena manusia tidak mau belajar. Maka dari itu, pelan-pelan aku akan membuka diriku dan mencintai diriku bersama dengan luka di masa lalu.” (Stefani Citra – Prodi Manajemen Industri Tk2)

“Cinta itu adalah seni. Bukan hanya “aku suka kamu, aku cinta kamu,” tetapi harus dimaknai. Melalui identifikasi kepribadian, aku menemukan pola dalam diriku yang sebelumnya tidak aku ketahui.” (Lukas Tatag Hari Utama – Prodi Manajemen Industri Tk2)

(FSM – Kemahasiswaan)

WhatsApp Image 2026-02-05 at 10.57.18

Rekoleksi Habit 1 & Habit 2: See, Judge, Act Leadership Program Xaverius Dormitory: Menjadi Proaktif dan Merujuk pada Tujuan Akhir

Politeknik Industri ATMI melalui Xaverius Dormitory kembali menyelenggarakan Rekoleksi pada Bulan Januari tanggal 9–11 Januari 2026 di Aula Loyola bagi mahasiswa/i Tingkat 1. Kegiatan ini menjadi bagian dari Leadership Program yang bertujuan membentuk karakter mahasiswa agar lebih proaktif dan memiliki arah hidup yang jelas.

Dalam rekoleksi ini, mahasiswa mendalami Habit 1 (Be Proactive) dan Habit 2 (Begin with the End in Mind) dari buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey. Kedua habit ini diperkenalkan sebagai bekal untuk membangun kesadaran diri, tanggung jawab pribadi, serta perencanaan hidup yang terarah.

Selama tiga hari, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga menjalani proses refleksi secara menyeluruh—mulai dari cara memandang realitas, merespons situasi, hingga merancang tujuan hidup secara konkret.

Satu Realitas, Banyak Cara Pandang

Rekoleksi diawali dengan sesi pembuka yang mengajak peserta menyadari bahwa satu realitas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Melalui contoh visual dan diskusi kelompok, peserta memahami bahwa perbedaan pandangan tidak selalu berkaitan dengan benar atau salah, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman hidup masing-masing.

Kesadaran ini menjadi pintu masuk untuk memahami Seven Habits, bahwa perubahan sejati berawal dari dalam diri, bukan dari situasi di luar. Peserta diajak untuk lebih terbuka, tidak reaktif, serta berani menunda penilaian.

Habit 1 – Proaktif: Hening Sebelum Bertindak

Pada sesi Habit 1 (Be Proactive), peserta diajak membedakan sikap reaktif dan proaktif. Sikap reaktif ditandai dengan respons yang dikuasai emosi, pikiran yang “berisik”, dan kecenderungan mendramatisasi keadaan. Banyak peserta menyadari bahwa mereka sering menjadi “sutradara” atas pikiran dan perasaan sendiri.

Melalui latihan hening dan refleksi, peserta belajar mengambil jarak dari situasi, mempertimbangkan pilihan, dan tidak langsung mengikuti dorongan emosi. Sikap proaktif dimaknai sebagai kemampuan memilih respons secara sadar, bukan sekadar bereaksi.

Konsep See – Judge – Act diperkenalkan sebagai langkah praktis: melihat situasi secara objektif, menimbang dengan jernih, lalu bertindak secara sadar. Dari sini, peserta memahami bahwa sikap proaktif merupakan bentuk kemerdekaan pribadi.

Melatih Sikap Proaktif melalui Aktivitas

Pemahaman tentang proaktif diperdalam melalui berbagai aktivitas. Peserta membaca materi Habit 1 secara individu dalam suasana hening, kemudian membagikan pemahaman dalam diskusi kelompok.

Permainan kartu situasi dan kartu reaksi melatih peserta merespons berbagai kondisi secara spontan. Aktivitas ini membantu peserta mengenali perbedaan bahasa reaktif dan bahasa proaktif, sekaligus menyadari bahwa setiap respons adalah pilihan.

Selain itu, latihan menggambar alam sekitar dalam keheningan menjadi pengalaman reflektif yang sederhana namun bermakna. Peserta belajar untuk hadir sepenuhnya pada momen, melatih fokus, ketenangan, dan kesadaran diri.

Habit 2 – Merujuk pada Tujuan Akhir

Memasuki Habit 2 (Begin with the End in Mind), peserta diajak merenungkan pertanyaan mendasar: “Ke mana arah hidup saya?” Mereka diajak membayangkan tujuan akhir hidup untuk menyadari nilai, prinsip, dan harapan yang ingin diwujudkan.

Peserta juga diperkenalkan pada konsep “dua kali penciptaan”, yaitu penciptaan mental dan penciptaan fisik. Hidup tanpa arah disadari sebagai hidup yang mudah mengikuti jalur orang lain. Sebaliknya, hidup yang terarah adalah hidup yang direncanakan dan dipimpin oleh diri sendiri.

Sesi ini menegaskan bahwa tujuan hidup bukanlah batasan, melainkan panduan agar setiap keputusan memiliki makna.

Dari Tujuan ke Komitmen: Menyusun SMART Goals

Rekoleksi ditutup dengan penyusunan SMART Goals sebagai langkah konkret menerjemahkan tujuan hidup. Peserta membuat timeline rencana hidup selama masa studi di ATMI, setelah lulus, hingga sepuluh tahun ke depan.

Tujuan yang dirumuskan harus Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, dan Terikat Waktu. Proses ini membantu peserta memahami bahwa impian memerlukan perencanaan dan tanggung jawab pribadi.

Sebagai peneguhan komitmen, peserta membacakan tujuan hidupnya di hadapan teman-teman. Momen ini menjadi simbol keberanian untuk mengambil kendali atas hidup dan berkomitmen pada arah yang dipilih.

Rekoleksi ditutup dengan lari pagi, refleksi benang merah, dan post-test. Seluruh rangkaian kegiatan menegaskan bahwa proses refleksi tidak berhenti pada kegiatan ini, tetapi dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap yang lebih sadar, terarah, dan bertanggung jawab.

(Promoter of Leaders)

WhatsApp Image 2026-01-28 at 14.29.47 (8)

Hari Orang Tua Mahasiswa Xaverius Dormitory Politeknik Industri ATMI 2025: Momen Kebersamaan, Refleksi, dan Apresiasi Proses Pendidikan

Politeknik Industri ATMI melalui Xaverius Dormitory menyelenggarakan kegiatan Hari Orang Tua Mahasiswa (HOT) 2025 pada Sabtu, 13 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa/i Tingkat 1 yang tinggal di Xaverius Dormitory dan menjadi momen perjumpaan hangat untuk mempertemukan mahasiswa dengan orang tua, sekaligus memperlihatkan proses pendidikan, pembentukan karakter, dan kehidupan berasrama di lingkungan kampus Politeknik Industri ATMI (POLIN ATMI).

Selama enam bulan pertama menempuh pendidikan di Politeknik Industri ATMI, mahasiswa tidak hanya dibekali kompetensi akademik dan keterampilan vokasi, tetapi juga nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebersamaan. Seluruh rangkaian kegiatan Hari Orang Tua ini dipersiapkan dan dijalankan langsung oleh mahasiswa/i Tingkat 1, mulai dari kepanitiaan, dekorasi, hingga penampilan acara.

Rangkaian Acara Hari Orang Tua Mahasiswa ATMI

Kegiatan dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan kehadiran para orang tua dan wali mahasiswa. Acara dibuka oleh MC, dilanjutkan dengan menyanyikan Mars ATMI serta penampilan tarian pembuka bernuansa tradisional-modern yang menampilkan kreativitas mahasiswa.

Sambutan disampaikan oleh Romo Yakobus Rudiyanto, SJ, beliau adalah Ketua Yayasan Karya ATMI. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi refleksi bersama RomoCh. Kristiono Puspo SJ, yang mengajak mahasiswa dan orang tua untuk memaknai refleksi sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran, kehidupan berasrama, dan pertumbuhan pribadi.

Apresiasi Mahasiswa dan Promoter Xaverius Dormitory

Sebagai bentuk penghargaan atas keterlibatan aktif dan kedisiplinan mahasiswa selama tinggal di Xaverius Dormitory, diberikan beberapa penghargaan, antara lain:

Mahasiswa Ter-Proaktif:
Mandala Rizky Kusharyanto, Teddy Paschalis Giawa, Radhitya Kukuh Wicaksono, Valentino Yeriko Cargon

Mahasiswa Ter-Aktif:
Syaila Fiani, Chatarina Yumalouissa Crysanti, Frederick Liang

Mahasiswa Ter-Responsible:
Yohanes Vianney Agustino Sina, Muhammad Rizki Kurniawan

Award Promoter of Leaders:

  • Ter-Proaktif: Missella Amelia

  • Ter-Administratif: Antonius Mikael Noviar

  • Outstanding Mentor: Aditya Wahyu Santoso, Fransiskus Xaverius Dennis

  • Ter-Disiplin: Yuan Riveriano, Benediktus Diego De San Vitores

Tour Bengkel Politeknik Industri ATMI

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tour bengkel kampus ATMI yang dipandu langsung oleh mahasiswa/i Tingkat 1. Orang tua diajak mengunjungi berbagai fasilitas pembelajaran, seperti bench work, milling, turning, grinding, dan laboratorium. Pada setiap section, mahasiswa menjelaskan aktivitas perkuliahan dan praktik vokasi yang mereka jalani sebagai bagian dari kurikulum Politeknik Industri ATMI.

Sharing Orang Tua dan Mahasiswa

Setelah makan siang bersama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi sharing kelompok kecil yang difasilitasi oleh mahasiswa. Dalam sesi ini, orang tua menyampaikan apresiasi atas perubahan positif anak, harapan akan kemandirian dan tanggung jawab, serta dukungan terhadap proses pembentukan karakter mahasiswa melalui pendidikan vokasi dan kehidupan berasrama di Politeknik Industri ATMI.

Penampilan Mahasiswa dan Penutup

Acara ditutup dengan berbagai penampilan mahasiswa, seperti band, biola, dan pembacaan puisi. Sebagai penutup, mahasiswa/i Tingkat 1 menyerahkan surat refleksi enam bulan perjalanan pendidikan di Politeknik Industri ATMI serta bunga mawar kepada orang tua sebagai ungkapan terima kasih dan penghargaan.

Kegiatan Hari Orang Tua Mahasiswa Xaverius Dormitory ATMI 2025 menjadi ruang perjumpaan yang bermakna, di mana orang tua dapat melihat secara langsung proses pendidikan, pembentukan karakter, dan pertumbuhan mahasiswa selama menempuh pendidikan di Politeknik Industri ATMI.

(Promoter of Leaders)

Refleksi : (Harapan Kekhawatiran & Pertumbuhan)

WhatsApp Image 2026-01-28 at 14.29.46

Di Balik Pilihan Menyekolahkan Anak di ATMI Refleksi Orang Tua tentang Harapan, Kekhawatiran, dan Pertumbuhan

(Berdasarkan sharing dalam acara Hari Orang Tua, Sabtu, 13 Desember 2025)

Di antara hiruk pikuk bengkel, jadwal padat, dan disiplin yang ketat, ada satu suara yang sering kali tidak terdengar dengan jelas: suara orang tua. Pada Hari Orang Tua Xaverius Dormitory, suara itu muncul, yaitu pelan, jujur, dan apa adanya. Bukan dalam bentuk tuntutan, melainkan refleksi tentang harapan, rasa lelah, kekhawatiran, dan kepercayaan.

Artikel ini bukan tentang keberhasilan acara, melainkan tentang makna pendidikan di ATMI dari sudut pandang mereka yang pertama kali percaya dan melepas anaknya pergi: orang tua.

“Kami Tidak Menyesal, Tapi Kami Lelah”

Hampir semua orang tua menyampaikan hal yang sama: tidak ada penyesalan menyekolahkan anak di ATMI. Mereka melihat ATMI sebagai tempat yang serius mendidik, tidak membuang waktu, dan sungguh menyiapkan anak untuk dunia kerja dan kehidupan nyata.

Namun di balik keyakinan itu, ada kejujuran yang menyentuh: lelah.
Lelah secara fisik, emosional, dan finansial. Terutama bagi orang tua tunggal, menyekolahkan anak di ATMI adalah perjuangan yang tidak ringan. Ada rasa pegal karena bekerja keras, ada rasa kehilangan karena anak tidak lagi tinggal di rumah, bahkan ada yang sempat jatuh dalam kesedihan karena harus berpisah.

Di sinilah pendidikan di Politeknik Industri ATMI bukan hanya soal mahasiswa, tetapi juga tentang orang tua yang sedang berproses melepaskan.

Disiplin yang Terlihat, Karakter yang Mulai Tumbuh

Banyak orang tua bersyukur melihat perubahan konkret: anak yang dulu sulit bangun pagi, kini mulai disiplin; anak yang dulu santai, kini lebih bertanggung jawab; anak yang dulu tertutup, kini mulai menyapa, peduli, dan berinteraksi.

 

Bagi sebagian orang tua, perubahan itu sangat terasa. Bagi sebagian lainnya, perubahan terlihat perlahan atau belum signifikan, terutama jika anak sejak awal sudah dibiasakan disiplin di rumah. Refleksi ini penting: pertumbuhan tidak selalu spektakuler, tetapi sering kali terjadi secara diam-diam.

Orang tua tidak menuntut anak menjadi sempurna. Mereka hanya berharap satu hal sederhana namun mendasar:

Bertumbuh menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi hidup.

ATMI: Mahal, Keras, Tapi Dipercaya

Beberapa orang tua dengan jujur menyebut ATMI sebagai pendidikan yang mahal dan keras. Anak diperlakukan “seperti orang kerja”, dengan ritme yang menuntut fisik dan mental. Ada kekhawatiran soal kelelahan, soal makan, soal minum saat praktik bengkel. Namun di saat yang sama, justru karena itu orang tua merasa lebih tenang. ATMI dipercaya karena ada sistem, ada pembinaan karakter, ada romo, pamong, dan promoter yang mendampingi. Pendidikan di ATMI dipandang bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan manusia.

Bagi orang tua, ATMI bukan tempat “menjerumuskan” anak, melainkan menempa.

Harapan Orang Tua: Sederhana, Tapi Dalam

Jika dirangkum, harapan orang tua sebenarnya tidak rumit:

  • Anak lulus
  • Anak bekerja
  • Anak mandiri dan bertanggung jawab
  • Anak punya karakter dan sikap yang baik
  • Anak tetap terbuka pada orang tua, terutama saat kesulitan

Mereka tidak menuntut anak menjadi orang besar. Mereka berharap anak bisa berdiri sendiri ketika suatu hari orang tua sudah tidak ada. Harapan ini sederhana, tetapi sarat cinta dan kecemasan.

Refleksi untuk Kita: Pendidik dan Mahasiswa

Bagi kita karyawan, pamong, romo, promoter, dan pendidik di Kampus Politeknik Industri ATMI, refleksi orang tua ini adalah cermin. Bahwa setiap aturan, jadwal, dan tuntutan bukan sekadar sistem, tetapi menyangkut anak yang dipercayakan sepenuhnya oleh keluarga.

Bagi mahasiswa Tingkat 1, suara orang tua ini adalah pengingat sunyi: bahwa di balik seragam bengkel yang bau oli, di balik uang jajan yang bertambah, dan di balik jadwal yang padat, ada orang tua yang lelah tapi percaya, rindu tapi mendukung.

Pendidikan di Politeknik Industri ATMI bukan hanya soal menjadi kompeten, tetapi juga tentang menghargai cinta yang sudah lebih dulu berjuang.

(Promoter of Leaders)

WhatsApp Image 2026-01-29 at 15.12.13 (1)

Pembekalan Menulis dan Menanggapi Refleksi Dosen dan Instruktur Politeknik Industri ATMI Cikarang 27–28 Januari 2026

Di tengah dinamika pendidikan vokasi yang sarat target, kompetensi, dan tuntutan performa, Politeknik Industri ATMI Cikarang kembali menegaskan identitas pendidikannya sebagai Jesuit School yang menempatkan refleksi sebagai jantung proses belajar. Refleksi tidak dipahami sekadar sebagai jeda, melainkan sebagai cara memaknai pengalaman dan menemukan kehadiran Tuhan dalam keseharian akademik. Selama ini, praktik refleksi melalui jurnaling telah menjadi ritme hidup mahasiswa tingkat I yang tinggal di dormitory. Setiap malam, mahasiswa diajak menuliskan pengalaman, pergulatan, dan perasaan yang dialami sepanjang hari. Kini, semangat reflektif tersebut hendak diperluas agar hadir dalam seluruh proses perkuliahan, baik teori maupun praktik, sebagai bagian integral dari pembentukan pribadi mahasiswa.

Kesadaran inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya Pembekalan Menulis dan Menanggapi Refleksi bagi dosen dan instruktur Politeknik Industri ATMI pada 27–28 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi internal antara Tim SDM dan Campus Ministry, sebagai langkah awal sebelum praktik refleksi diintegrasikan secara lebih luas pada Semester II. Para pendidik tidak hanya dipersiapkan sebagai fasilitator akademik, tetapi juga sebagai pembaca yang empatik dan penanggap yang bijaksana atas refleksi mahasiswa. Membaca refleksi berarti memasuki ruang batin orang lain, dan memberi tanggapan berarti mengambil posisi etis sebagai pendamping. Oleh karena itu, pembekalan ini dirancang bukan sekadar teknis, melainkan menyentuh dimensi psikologis, pedagogis, dan spiritual.

 

Sesi pengantar dibuka oleh Felicia Sabrina (Pamong Dormitory) bersama Hari Maryanto (Campus Ministry) yang mengajak peserta terlebih dahulu memahami mahasiswa dari perspektif psikologi perkembangan. Felicia mengulas kondisi mahasiswa sebagai individu yang berada pada fase remaja akhir menuju dewasa awal, sebagaimana dijelaskan dalam teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Pada fase ini, mahasiswa mulai mampu berpikir abstrak, merefleksikan pengalaman, serta mempertanyakan makna di balik apa yang mereka jalani. Namun, kemampuan tersebut sering kali berjalan beriringan dengan kebingungan, ketidakpastian, dan proses coba-salah. Pemahaman ini menjadi penting agar para pendidik tidak terburu-buru menuntut kedewasaan yang belum sepenuhnya matang, melainkan mampu membaca proses yang sedang berlangsung.

 

Hari (CM) kemudian memperluas kerangka tersebut dengan mengulas teori psikososial Erik Erikson, yang melihat mahasiswa sebagai individu yang sedang bergulat dengan krisis identitas. Elaborasi dilanjutkan dengan pandangan Jacques Lacan mengenai desire dan symbolic order, yang menyoroti bagaimana hasrat mahasiswa kerap dibentuk oleh tuntutan sosial, simbol prestasi, dan ekspektasi lingkungan. Dalam konteks ini, refleksi menjadi ruang untuk menyadari hasrat mana yang sungguh berasal dari diri, dan mana yang sekadar tuntutan luar. Perspektif ini diperkaya dengan logoterapi Viktor Frankl tentang will to meaning, yang menegaskan bahwa manusia, termasuk mahasiswa, memiliki kebutuhan mendasar untuk menemukan makna dalam penderitaan maupun rutinitas. Refleksi pun dipahami bukan sebagai tambahan beban, melainkan sebagai sarana eksistensial untuk bertumbuh.

Pendalaman makna refleksi kemudian dilanjutkan oleh Romo Vincentius Doni Erlangga, SJ, melalui perspektif teologis yang kontekstual. Dalam pemaparannya, Romo Doni SJ berulang kali menekankan pentingnya kata “menemani” dalam pendampingan mahasiswa. Menemani berarti hadir tanpa mendominasi, berjalan bersama tanpa menggurui, dan memberi ruang bagi proses yang tidak selalu rapi. Mengacu pada Christus Vivit dari Paus Fransiskus, Romo Doni SJ menegaskan bahwa kaum muda bukanlah masalah yang harus diperbaiki, melainkan subjek yang sedang mencari arah hidup. Perumpamaan Anak yang Hilang (Injil Lukas) pun dihadirkan sebagai cermin bagi para pendidik, bahwa refleksi membantu mahasiswa menyadari perjalanan batinnya, sementara pendidik dipanggil untuk menyambut, bukan menghakimi.

Setelah sesi pengantar, para dosen dan instruktur diajak masuk ke pengalaman konkret melalui dinamika kelompok kecil yang difasilitasi oleh tim kemahasiswaan Politeknik Industri ATMI. Menggunakan alur Pedagogi Ignatian, para peserta menuliskan refleksi mereka sendiri, dimulai dari konteks pendampingan mahasiswa yang nyata. Para peserta diajak mengingat pengalaman, menafsirkan makna, merumuskan kehendak atau aksi, serta melakukan evaluasi atas pendampingan yang selama ini dijalani. Refleksi yang telah ditulis kemudian dipertukarkan untuk dibaca dan diberi tanggapan oleh peserta lain. Dinamika ini menjadi ruang belajar bersama, sekaligus simulasi (role play) nyata dari peran yang kelak mereka jalani bersama mahasiswa.

Beragam kesan muncul dari proses tersebut mencerminkan betapa refleksi adalah pengalaman personal yang tidak seragam. Sebagian peserta mengaku masih bingung karena baru pertama kali menulis refleksi secara terstruktur. Ada pula yang merasa canggung dan belum sepenuhnya leluasa menuangkan isi hati ke dalam tulisan. Namun, tidak sedikit yang merasa dikuatkan dan tervalidasi ketika refleksinya dibaca dengan sungguh dan ditanggapi secara empatik oleh orang lain. Pengalaman ini menyadarkan bahwa komentar atas refleksi bukan soal benar atau salah, melainkan soal kehadiran dan pengakuan.

Pembekalan ini menegaskan kembali bahwa refleksi adalah sarana pendampingan manusiawi, bukan sekadar metode pedagogis. Melalui refleksi, pendidik diajak untuk melihat mahasiswa sebagai pribadi yang utuh, dengan luka, harapan, dan pencarian makna. Sikap unconditional positive regard (penerimaan individual sebagaimana adanya) menjadi kunci agar mahasiswa memiliki ruang aman untuk jujur terhadap diri sendiri dan pengalamannya. Dengan membaca dan menanggapi refleksi, budaya appreciative inquiry pun diharapkan tumbuh, menggantikan budaya penilaian yang kaku. Dalam semangat inilah, Politeknik Industri ATMI terus melangkah, menemani mahasiswa menjadi pribadi yang reflektif, berdaya, dan semakin manusiawi terhadap sesamanya. (HM-campusministry)

Finding God in all things. 

Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG)

WhatsApp Image 2026-01-28 at 14.27.52

Rekoleksi Sejarah Hidup : Semua Karena Cinta (Mengingat, Mengekspresikan, dan Bertumbuh)

Selama tiga hari, 21–23 November 2025, mahasiswa/i Tingkat 1 Xaverius Dormitory mengikuti kegiatan Rekoleksi Sejarah Hidup yang diselenggarakan di Aula Xaverius Dormitory bersama Tim Campus Ministry Politeknik Industri ATMI X UNIKA Atma Jaya Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa/i untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menoleh ke dalam diri, serta memahami pengalaman hidup—terutama pengalaman luka—sebagai bagian penting dari proses pertumbuhan pribadi.

Rekoleksi dirancang mengalir secara bertahap, mulai dari membangun kesadaran diri, keterbukaan dalam kebersamaan, pengolahan pengalaman masa lalu, hingga peneguhan untuk melangkah ke depan dengan lebih sadar dan utuh.

Sejarah Hidup: Membaca Diri Apa Adanya

Sesi awal rekoleksi mengajak mahasiswa/i memandang sejarah hidup bukan sebagai kumpulan peristiwa acak, melainkan rangkaian pengalaman yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan di masa kini. Mahasiswa/i diajak menelusuri perjalanan hidup mereka dan menyadari pengalaman-pengalaman yang membentuk siapa diri mereka saat ini.

Melalui refleksi awal dan pengecekan kondisi emosional, mahasiswa/i mulai mengenali pola-pola dalam diri, seperti reaksi yang berulang, perasaan yang kerap muncul, serta dorongan yang selama ini mungkin tidak disadari. Proses ini menumbuhkan kesadaran diri sebagai fondasi penting untuk bertumbuh secara dewasa dan bertanggung jawab.

Semua Karena Cinta: Akar dari Luka Batin

Salah satu materi kunci dalam rekoleksi menegaskan bahwa luka batin dan trauma kerap berakar dari cinta—bukan kebencian. Cinta yang berlebihan dapat menjelma menjadi sikap overprotektif, sementara cinta yang kurang dapat menimbulkan defisit afektif. Keduanya sama-sama berpotensi meninggalkan luka.

Mahasiswa/i diajak memahami bahwa luka batin tidak disembuhkan melalui pemenuhan materi, melainkan melalui hati yang mencintai. Cinta yang defisit sering mendorong seseorang terus mencari pengakuan, perhatian, dan penerimaan dari luar. Kesadaran ini membantu mahasiswa/i memandang diri sendiri dan orang lain dengan sudut pandang yang lebih utuh dan berbelas kasih.

PLR (Past Life Regression): Mengingat dan Mengekspresikan

Memasuki sesi inti, mahasiswa/i mengikuti PLR (Past Life Regression), sebuah proses pengolahan luka batin melalui audio terpandu. Dalam suasana hening, mahasiswa/i diajak berbaring, menutup mata, dan mengikuti alur audio secara perlahan untuk mengingat kembali pengalaman masa lalu, terutama pengalaman luka yang belum terselesaikan.

PLR memberi ruang bagi mahasiswa/i untuk mengekspresikan emosi secara jujur—mulai dari kemarahan, kesedihan, kekecewaan, hingga ketakutan—yang selama ini mungkin terpendam. Mahasiswa/i belajar bahwa emosi bersifat netral dan tidak perlu dihakimi. Justru dengan mengekspresikannya, seseorang dapat lebih memahami diri dan melepaskan beban emosional yang menumpuk.

Trauma yang Belum Selesai dan Dampaknya

Dalam proses refleksi dan sharing, mahasiswa/i menyadari bahwa trauma yang belum diolah dapat menghambat pertumbuhan emosional, mental, bahkan fisik. Luka yang tidak diterima sering kali membelenggu seseorang dalam ilusi, dusta terhadap diri sendiri, penggelembungan ego yang tidak seimbang, hingga sikap tidak autentik dalam relasi.

Beragam pengalaman dibagikan, mulai dari tuntutan keluarga, konflik relasi, hingga pengalaman perundungan. Proses berbagi ini membuka kesadaran bahwa banyak respons dalam kehidupan saat ini berakar pada pengalaman masa lalu yang belum sepenuhnya diterima.

Sembuh adalah Menerima dan Bertumbuh

Rekoleksi menegaskan bahwa trauma tidak selalu bisa dihapus, namun dapat diolah dan diterima. Sembuh bukan berarti melupakan, melainkan berani kembali menatap pengalaman masa lalu dan menerimanya apa adanya sebagai bagian dari diri.

Melalui refleksi, journaling, dan sharing, mahasiswa/i belajar berdamai dengan sejarah hidupnya. Dari proses ini, tumbuh ketenangan baru serta kesiapan untuk melangkah ke depan. Rekoleksi ditutup dengan peneguhan bahwa perjalanan refleksi tidak berhenti di aula, tetapi dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari—melalui kesadaran diri, kepedulian terhadap sesama, komitmen untuk terus bertumbuh, serta keberanian mengambil peran dan tanggung jawab secara lebih dewasa.

 

Penulis : Promoter of Leaders

IMG_9201

Arrupe Insight Eps. 4 “Misteri Kehidupan : Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi”

Di teras yang tidak begitu besar, berdiri sebuah gazebo sederhana. Kursi-kursi tersusun rapi, lampu-lampu telah dinyalakan, dan para mahasiswa duduk dengan penuh perhatian, mendengarkan kisah dari seseorang yang telah lebih dahulu bergelut dalam kehidupan nyata.

Pada Kamis, 9 Oktober 2025, KMK Pedro Arrupe mengundang seorang alumnus Politeknik ATMI sebagai pembicara dalam kegiatan Arrupe Insight. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk bincang-bincang santai bersama alumnus, membahas seputar dunia kerja dan pengalaman selama menempuh pendidikan di Politeknik ATMI. Pada kesempatan ini, Gregorius Superma Putra hadir dengan penuh semangat mengisi Arrupe Insight episode keempat.

Akrab disapa Mas Greg, ia merupakan alumnus ATMI Surakarta Angkatan 41 dari jurusan Mekatronika. Lahir sebagai anak keenam dari enam bersaudara, Mas Greg besar di Magelang bersama ibunya yang berasal dari Klaten dan ayahnya dari Nusa Tenggara Timur. Ia menempuh pendidikan kejuruan di SMK Pangudi Luhur Muntilan, yang membentuk kedekatannya dengan dunia teknik perkakas.

Motivasi awal Mas Greg mendaftar ATMI adalah keinginannya untuk membanggakan sang ayah. Ia diterima sebagai mahasiswa Mekatronika meski sempat berada di posisi cadangan kelima. Masa-masa awal perkuliahan terasa berat karena muncul perasaan “salah masuk jurusan”. Namun, berkat dukungan teman-teman, ia memilih untuk bertahan. Kesulitan akademik yang dihadapi sempat menimbulkan kekhawatiran, tetapi melihat kakak tingkat yang tetap naik tingkat meski mendapat nilai kurang baik menjadi sumber kekuatan dan semangat tersendiri.

Masa perkuliahan di ATMI diwarnai banyak tantangan, salah satunya persaingan dengan mahasiswa dari kolese ternama seperti De Britto dan Loyola. Hal tersebut justru memacu Mas Greg untuk terus berkembang. Ia aktif berpartisipasi dalam berbagai organisasi kampus, bahkan menjadi salah satu mahasiswa pertama yang ditawari terlibat dalam berbagai kegiatan kampus. Pengalaman organisasi ini menjadi bekal berharga dalam membangun relasi dan membentuk pribadi yang lebih luwes.

Masa Bekerja

Mas Greg mengawali pengalaman kerjanya sebagai seorang mekanik, bidang yang tidak sepenuhnya sejalan dengan jurusan yang ia ambil. Ia memaknai hal tersebut sebagai bagian dari misteri kehidupan—tidak ada yang benar-benar tahu apa yang akan dihadapi ke depan. Tantangan dalam dunia kerja selalu ada, dan kunci utamanya adalah memiliki sikap terbuka serta kemauan untuk terus belajar.

Berkonsultasi dengan senior, berbagi pengalaman, dan mempertimbangkan masukan menjadi langkah konkret untuk beradaptasi. Salah satu pengalaman berkesan adalah saat bekerja di perusahaan asal Jerman. Ia kembali merasakan perasaan minder, serupa dengan yang dialami saat kuliah, ketika berhadapan dengan rekan kerja yang memiliki European-minded. Namun, dari kegelisahan tersebut muncul keberanian untuk tampil dan bersuara.

Dalam sebuah kepanitiaan, Mas Greg berani mengingatkan setiap divisi agar tidak bersikap egois, bahkan menyampaikan pendapat di hadapan jajaran pimpinan. Semua itu berangkat dari modal pengalaman berorganisasi di ATMI. “Kita harus membiasakan diri untuk tampil dan memimpin,” ujar Mas Greg.

Menggali Lebih Dalam

Seiring berjalannya waktu, antusiasme peserta semakin terasa. Beberapa mahasiswa mengangkat tangan untuk bertanya. Radi, mahasiswa tingkat dua, menanyakan sosok Romo Cassut, SJ semasa berkarya. Menurut Mas Greg, kesederhanaan, keramahan, dan ketekunan dalam doa merupakan gambaran pribadi Romo Cassut, SJ. Keramahannya terasa saat beliau menanyakan pengalaman kuliah Mas Greg ketika makan bersama. Ketekunannya dalam doa terlihat ketika beliau berkeliling bengkel sambil mendaraskan doa Rosario pada malam hari. Bahkan, Romo Cassut, SJ pernah memiliki proyek pembuatan eretan untuk menurunkan peti ke dalam tanah, dan beliau sendiri menjadi orang pertama yang menggunakannya. “Itulah misteri kehidupan,” ungkap Mas Greg.

Pertanyaan berikutnya datang dari Martin, Eric, dan Adam, mahasiswa tingkat satu, mengenai cara menjalani proses belajar agar efektif dan efisien. Berdasarkan pengalamannya, Mas Greg menekankan pentingnya fokus pada apa yang sedang dihadapi saat ini serta menemukan hal-hal yang memberi kebahagiaan ketika kembali ke bengkel. Jika menemui kegagalan, seperti ukuran yang tidak sesuai, jangan larut dalam satu kejatuhan. Segera beralih dan memperjuangkan hal-hal yang masih bisa diusahakan.

Menutup sesi tanya jawab, Mario, mahasiswa tingkat dua, menanyakan relevansi refleksi sebagai tradisi pendidikan Ignasian dalam dunia kerja. Bagi Mas Greg, refleksi merupakan sarana olah pikir dan olah rasa dalam memecahkan masalah. Refleksi mendorong munculnya pertanyaan “mengapa” serta mengajak seseorang untuk melihat persoalan dari sudut pandang orang lain. Refleksi adalah proses mempertimbangkan segala sesuatu secara mendalam dan mendasar.

Kuliah Kehidupan

Menutup rangkaian talkshow, Romo Kristiono Puspo , SJ hadir memberikan peneguhan yang memperdalam seluruh pembahasan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan hari itu merupakan “kuliah kehidupan”. “Hidup itu harian, bukan borongan,” ujar Romo Kristiono Puspo, SJ. Hidup dijalani hari demi hari, sepenuhnya pada saat ini.

Terkait refleksi, beliau memaknainya sebagai upaya menghadirkan Yang Ilahi dalam setiap pengalaman keseharian. Di akhir sesi, Romo Kristiono, SJ mengajak seluruh peserta untuk menjadi “Friends in the Lord”, teman dalam perutusan.

Selama kurang lebih satu setengah jam, para peserta diajak memaknai berbagai pengalaman yang relevan dengan tantangan perkuliahan dan dunia kerja ke depan. Dinamika Arrupe Insight episode keempat ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam menjalani proses pendidikan. Menutup keseluruhan acara, Mas Greg menyampaikan kalimat peneguh,
“Ad Maiorem Dei Gloriam—hebat bukan karena diri sendiri, melainkan karena keterlibatan Tuhan.”

Mario Imanuel (Mesin Industri Tk2)

WhatsApp Image 2025-10-20 at 08.29.19

Angkatan 23 – Di Balik Segala Hal yang Melelahkan, Ada Perasaan yang Tak Tergantikan

Be A Light. Fight Against Bad Spirit” menjadi moto Politeknik Industri ATMI Cikarang dalam peringatan Santo Michael, sosok pelindung dan teladan bagi kaum muda. Momen perayaan ini seharusnya jatuh pada 29 September, namun tahun ini Politeknik Industri ATMI Cikarang berkesempatan merayakannya pada Jumat, 3 Oktober 2025.

Mahasiswa dari semua tingkat — mulai dari tingkat 1, 2, hingga 3 — ikut ambil bagian dalam berbagai kegiatan dan penampilan pada malam puncak Michael Day. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian: semangat dan kekompakan mahasiswa Angkatan 23, para mahasiswa baru yang berhasil mencuri perhatian lewat penampilan mereka.

Persiapan Singkat, Semangat Tak Terbatas

Meski disibukkan dengan jadwal praktik dan masa adaptasi di kampus, mahasiswa tingkat 1 tetap menyempatkan diri untuk menyiapkan penampilan terbaik. Di tengah kebingungan awal, dua mahasiswa, Mandala dan Syaila, muncul sebagai penanggung jawab yang membawa ide segar dan arah yang jelas.

Awalnya, mereka berencana menampilkan flashmob, namun kemudian muncul gagasan untuk menambah variasi agar lebih menarik. Akhirnya, disepakati tema besar “Keberagaman Budaya Indonesia” sebagai wujud kekayaan dan persatuan bangsa.

Mandala kemudian membagi teman-teman menjadi lima kelompok besar berdasarkan lima pulau utama di Indonesia: Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Setiap kelompok diminta mengeksplorasi kekhasan daerah masing-masing — mulai dari tarian, permainan tradisional, hingga adat istiadat.

Tak Hanya Menari, Tapi Juga Bernyanyi

Selain kelompok budaya, beberapa mahasiswa juga membentuk band angkatan. Terdiri dari Ardi (drum), Grego dan Marcel (gitar), Lintang (bass), serta Louissa (vokal), mereka berasal dari berbagai program studi yang berbeda. Dalam waktu hanya satu minggu, mereka berlatih intens dan memutuskan untuk membawakan tiga lagu dari musisi legendaris Indonesia seperti Once Mekel dan Sheila On 7.

Kesibukan Bukan Penghalang, Semua Dikerjakan Sepenuh Hati

Setelah berbagai diskusi dan perdebatan — mulai dari konsep, kostum, hingga properti — akhirnya setiap kelompok menemukan bentuk penampilan mereka. Beberapa di antaranya adalah:

  • Pulau Jawa: menampilkan adat sunatan dengan arak-arakan kapal mini,

  • Pulau Sumatra: menari Sinanggar Tulo,

  • Pulau Kalimantan: memperagakan tradisi Lompat Tongkat,

  • Pulau Sulawesi: memainkan Majeka dan Makkadendeng,

  • Pulau Papua: membawakan tarian Tamang Pung Kisah dari Indonesia Timur.

Seluruh properti, mulai dari rok rumbai-rumbai hingga hiasan kepala, dibuat sendiri oleh para mahasiswa. Mereka bekerja sepenuh hati, tanpa paksaan, demi menampilkan yang terbaik di malam Michael Day.

Lebih dari Sekadar Michael Day — Ini Tentang Kebersamaan

Sebelum acara puncak, mahasiswa Katolik mengikuti Misa Perayaan Santo Mikael, sementara mahasiswa Muslim mengadakan Tasyakuran. Setelah itu, seluruh tim langsung bersiap untuk tampil di panggung.

Penampilan dibuka dengan tarung sarung, dilanjutkan band perform, dan ditutup oleh flashmob angkatan yang penuh energi.
Seluruh rangkaian berjalan meriah, disambut sorak dukungan antarangkatan yang menambah hangat suasana malam itu.

Meski awalnya semua terasa melelahkan, usai acara justru muncul perasaan haru dan rindu. Kebersamaan, kerja sama, dan solidaritas yang terjalin selama persiapan meninggalkan kesan mendalam bagi setiap mahasiswa. “Awalnya berat, tapi karena saling dukung, semua terasa ringan dan menyenangkan,” ungkap salah satu anggota Angkatan 23.

Dari sinilah tumbuh rasa kekeluargaan yang kuat di antara mereka — sebuah pengalaman berharga yang akan selalu dikenang, bahkan setelah lampu panggung Michael Day padam.

Catharina Yumalouissa Crysanti (Mahasiswi Angkatan 23)

WhatsApp Image 2025-10-20 at 14.38.46 (2)

Xaverius Dormitory Politeknik Industri ATMI Cikarang Gelar Pelatihan Kampus Tangguh Bencana

Cikarang – Suasana Aula Xaverius Dormitory Politeknik Industri ATMI Cikarang tampak serius pada Jumat, 10 Oktober 2025. Mahasiswa tingkat I Politeknik Industri ATMI Cikarang mengikuti kegiatan rekoleksi kedua yang menjadi bagian dari rangkaian pembinaan di Rumah Formasi Xaverius Dormitory. Rekoleksi kali ini mengusung tema “Pelatihan Kampus Tangguh Bencana Politeknik Industri ATMI”, sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan dan mitigasi bencana di lingkungan kampus.

Kegiatan yang berlangsung pada 10–12 Oktober 2025 ini resmi dibuka oleh Drs. Pangarso Suryotomo, Direktur Kesiapsiagaan BNPB. Beberapa narasumber inspiratif turut hadir, di antaranya B. Sulistyono A.R., S.E., M.M., Koordinator Bidang Kebencanaan Lembaga Daya Dharma (LDD) Keuskupan Agung Jakarta beserta timnya, serta rekan-rekan dari Medisar Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, organisasi mahasiswa yang berfokus pada penanganan kegawatdaruratan medis dan telah bersertifikat SAR darat dari BNPB.

Pelatihan Kampus Tangguh Bencana tahun ini menjadi momen istimewa bagi Promoter Xaverius Dormitory generasi kedua, karena mereka tidak hanya berperan sebagai peserta, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendampingi dan membimbing adik tingkatnya selama kegiatan berlangsung.

Penanggulangan Kebakaran: APAR dan Karung Goni

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pelaksanaan, pelatihan kali ini menghadirkan sesi khusus mengenai penanggulangan kebakaran. Sesi yang berlangsung pada Sabtu, 11 Oktober 2025 ini menghadirkan Pak Fredrick dari Lembaga Daya Dharma KAJ sebagai pemateri. Ia memberikan pemahaman tentang K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) dalam konteks kebakaran, teori api dan anatomi kebakaran, serta pengenalan sistem proteksi dan prosedur darurat.

Menjelang siang, peserta berkesempatan melakukan simulasi pemadaman api langsung menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) dan karung goni. Suasana menjadi antusias saat para mahasiswa mencoba memadamkan api bergiliran, menerapkan teori yang baru mereka pelajari.
Melalui latihan ini, peserta diharapkan lebih siap dan sigap menghadapi situasi darurat kebakaran, baik di lingkungan kampus maupun di tempat tinggal.

Pertolongan Pertama: Aku Hadir untuk Menyelamatkan

Siang hingga sore hari, kegiatan berlanjut dengan sesi pelatihan pertolongan pertama yang dibawakan oleh tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta — Alexander David Silawa, Ferdian Manuel Wijaya, dan Mercelinda Safitri — yang tergabung dalam organisasi Medisar (Medical Search and Rescue).

Materi yang diberikan meliputi Bantuan Hidup Dasar (BHD), penanganan tersedak (choking), fraktur, balutan dan pembidaian (immobilisasi), luka dan pendarahan, gigitan ular, sengatan listrik, serta penggunaan tandu dan teknik logroll.

Selain itu, Ibu Puspita dari LDD KAJ memberikan tambahan materi mengenai evakuasi dan P3K saat bencana.

Sebagai penutup sesi, peserta melakukan praktik langsung seperti CPR dengan ambu bag, simulasi penggunaan tandu, serta penanganan fraktur. Semangat belajar dan kerja sama tim tampak kuat selama pelatihan berlangsung.

Simulasi Gempa: Uji Kesiapsiagaan di Xaverius Dormitory

Pelatihan ditutup pada Minggu, 12 Oktober 2025 dengan simulasi bencana gempa bumi. Simulasi berjalan lancar dan tertib. Para peserta menunjukkan keseriusan dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang mereka pelajari dua hari sebelumnya — mulai dari prosedur evakuasi, pertolongan pertama, hingga koordinasi antar tim.

Fasilitator menilai, para peserta telah mampu menerapkan prinsip-prinsip tanggap darurat dengan baik. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesiapsiagaan bencana di lingkungan kampus dan tempat tinggal masing-masing.

Refleksi Peserta: Belajar dari Pengalaman Nyata

Salah satu peserta, Ignatius Radyamas Lintang Widyantoro, mengungkapkan kesan mendalam terhadap kegiatan ini.

“Bagian paling berkesan adalah simulasi tanggap bencana. Kami berlatih langsung menerapkan SOP 1 sampai 3 dengan runtut. Dari pelatihan ini, saya belajar bagaimana bertindak teratur dan aman dalam situasi darurat,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman ini menumbuhkan kesadaran pentingnya disiplin demi keselamatan bersama.

“Dengan menaati prosedur, saya semakin mengerti bahwa tata tertib sangat berpengaruh terhadap keselamatan diri sendiri dan orang lain,” lanjutnya.

Peserta lainnya, Stephanus Yortin Yoga, juga menyampaikan antusiasmenya.

“Saya sangat senang ikut pelatihan ini karena sekarang saya tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi. Minimal saya bisa menyelamatkan diri sendiri, orang yang saya sayangi, bahkan membantu orang lain,” katanya.
“Kita tidak pernah tahu kapan bencana datang, jadi pengetahuan dan kesiapan seperti ini sangat penting,” tutupnya.

Menjadi Cerminan Kebaikan Tuhan

Melalui pelatihan Kampus Tangguh Bencana, para peserta tidak hanya dibekali kemampuan teknis menghadapi situasi darurat, tetapi juga ditumbuhkan semangat kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama.
Pembelajaran tentang kesiapsiagaan, pertolongan pertama, dan kerja sama tim menjadi pengalaman berharga yang menanamkan nilai tanggung jawab serta empati.

Kegiatan ini juga mengingatkan bahwa ketangguhan bukan hanya soal fisik, tetapi juga kesiapan hati untuk melayani. Dengan semangat Ignasian, seluruh civitas Xaverius Dormitory dan Politeknik Industri ATMI Cikarang diajak untuk menjadi pribadi yang siap menolong, tangguh menghadapi tantangan, dan menjadi cerminan kebaikan Tuhan di tengah masyarakat.

Felix Gerardo Yunanto Putro (Promoter of Leaders)