IMG_1329

Arrupe Insight Eps. 8: “Bekerja Bukan dengan Perasaan, Melainkan Profesionalitas – Memaknai Kesabaran dan Tanggung Jawab Moral”

Pada Kamis, 8 Januari 2026, ruang diskusi Arrupe Insight kembali menyapa para mahasiswa. Tepat pukul 19.16 WIB, acara yang dipandu oleh Gracia dan Louissa tersebut dibuka dengan sapaan hangat.

Episode kedelapan kali ini menghadirkan Yohannes Satrio Nugroho, atau yang akrab disapa Mas Satrio, alumni Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika Politeknik Industri ATMI Cikarang angkatan ke-10.

Melalui kisah perjalanan hidup dan kariernya, Mas Satrio mengajak para mahasiswa untuk melihat bahwa dunia kerja menuntut lebih dari sekadar keterampilan teknis. Kedewasaan emosional, ketangguhan karakter, profesionalitas, kesabaran, serta kemampuan mengambil tanggung jawab menjadi bekal penting dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan dan dunia industri.

Kilas Balik: Dari Mesin Turning hingga Logika Kehidupan

Perjalanan Mas Satrio bermula dari bangku sekolah negeri. Awalnya, ia mendaftar ke ATMI Solo, tetapi kemudian memilih melanjutkan pendidikan di Politeknik Industri ATMI Cikarang. Konsekuensinya, ia harus tinggal di indekos yang jauh dari rumah.

Banyak kenangan yang membekas selama masa perkuliahan. Salah satu yang paling berkesan adalah rutinitas cleaning atau bersih-bersih bengkel yang wajib dilakukan sebelum masa libur tiba.

Selain itu, ia juga mengenang masa-masa bercanda bersama teman-teman seperjuangannya. Bahkan, pernah ada momen menegangkan sekaligus menggelitik ketika salah seorang temannya tanpa sengaja “menerbangkan” benda kerja saat sedang melaksanakan praktik mesin turning.

Di luar rutinitas bengkel, Mas Satrio memiliki ketertarikan yang besar terhadap pelajaran fisika dan logika. Melalui kedua bidang tersebut, ia belajar memahami konsep input dan output, sebuah pemahaman yang kelak sangat relevan dengan dunia industri.

Realitas Industri: Tidur di Pabrik dan Seni Mengelola Perasaan

Langkah awal Mas Satrio di dunia kerja dimulai di PT Dynaplast melalui program apprentice atau magang. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan kariernya di PT Kimpai Dyna.

Ketahanan mentalnya benar-benar diuji ketika mendapatkan tugas untuk menginstalasi mesin di Thailand. Di sana, ia dituntut untuk bekerja setiap hari, bahkan hingga harus merebahkan diri dan tidur di pabrik.

Ironisnya, meskipun telah bekerja keras dan mengerahkan tenaga sedemikian rupa, ia tetap mendapatkan teguran dari atasannya. Dari pengalaman yang tidak mudah tersebut, ia belajar sebuah pelajaran penting:

“Kita harus tetap profesional dan dewasa dalam melihat keadaan. Harus bisa bekerja tidak dengan perasaan, tapi dengan profesional.”

Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa dunia kerja tidak selalu memberikan apresiasi sesuai dengan usaha yang telah dilakukan. Karena itu, kemampuan untuk tetap profesional dan tidak membiarkan emosi mengendalikan keputusan menjadi salah satu hal yang sangat penting.

Mas Satrio juga tidak menampik bahwa ia pernah merasa “terlambat” dalam mencapai beberapa hal dalam hidup. Sebagai contoh, ketika teman-temannya sudah berhasil memiliki rumah pada tahun ketiga bekerja, ia baru mampu membeli rumah pada tahun keenam.

Namun, ia menegaskan bahwa seseorang tidak boleh goyah oleh perkataan atau pencapaian orang-orang di sekitarnya. Setiap orang memiliki perjalanan dan waktunya masing-masing. Yang terpenting adalah tetap teguh mengikuti tujuan yang telah dipilih sejak awal.

Di mata industri, keterampilan teknis lulusan ATMI memang telah dikenal memiliki kualitas yang baik. Kendati demikian, Mas Satrio mengingatkan agar para mahasiswa tidak pernah melupakan nilai-nilai dan etika dasar yang telah ditanamkan selama berada di kampus.

Nilai-nilai tersebut menjadi salah satu alasan yang membuatnya mampu bertahan hingga saat ini di grup perusahaan yang sama. Baginya, keluarga, lingkungan kerja, nilai-nilai kehidupan yang dipegang teguh, serta kekuatan doa merupakan fondasi utama dalam menjalani kehidupan dan karier.

Sebagai seorang pemimpin, Mas Satrio juga menghadapi berbagai tantangan dalam menerapkan karakter leadership kepada karyawan. Setiap individu memiliki karakter, kebutuhan, dan cara pandang yang berbeda.

Tantangan tersebut datang dari dua arah. Dari sisi internal, ia harus menghadapi karyawan yang merasa tidak puas dengan apa yang mereka dapatkan. Sementara dari sisi eksternal, dinamika persaingan industri menuntut perusahaan untuk terus beradaptasi dan berkembang.

Di tengah dinamika tersebut, Mas Satrio tetap mensyukuri berbagai perjumpaan dengan teman-teman semasa kuliah. Menurutnya, tetap terhubung dan saling memedulikan satu sama lain di dunia kerja merupakan hal yang sangat membahagiakan.

Diskusi Interaktif

Sesi malam itu semakin mendalam ketika memasuki sesi tanya jawab. Para mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan yang tidak hanya berkaitan dengan dunia kerja, tetapi juga menyentuh persoalan pilihan hidup, kegagalan, serta proses menemukan arah.

Teddy, mahasiswa angkatan 2023, membuka sesi dengan menanyakan apakah Mas Satrio pernah merasa salah jurusan dan bagaimana cara menghadapinya.

Mas Satrio menjawab dengan bijak bahwa perasaan tersebut perlu dihadapi dengan melihat kembali ke dalam diri sendiri. Ia juga mengapresiasi Teddy karena pada dasarnya Teddy telah berani melakukan apa yang menurutnya benar.

Pertanyaan selanjutnya datang dari Vianney, mahasiswa angkatan 2023, yang menanyakan dilema ketika menghadapi lingkungan kerja baru: apakah harus bertahan atau memilih keluar.

Mas Satrio mengakui bahwa tidak ada yang mudah dalam dunia kerja. Ia kemudian menyarankan sebuah metode yang taktis sekaligus reflektif, yaitu membuat matriks untuk mengukur dan memetakan kondisi lingkungan kerja.

Setelah itu, seseorang perlu melakukan examen atau pemeriksaan batin untuk melihat realitas secara lebih jernih, kemudian masuk ke tahap refleksi untuk memaknainya. Hasil dari proses tersebut dapat menjadi dasar yang lebih kuat dalam menentukan apakah seseorang perlu bertahan atau mengambil keputusan lain.

Yoga, mahasiswa angkatan 2023, kemudian menanyakan pandangan Mas Satrio mengenai masa-masa Bench Work (BW) yang melegenda di ATMI.

Dengan singkat, tetapi sarat makna, Mas Satrio menjawab bahwa BW merupakan fondasi dasar sebelum seseorang memegang mesin yang sesungguhnya. Di sanalah nilai kesabaran, ketelitian, dan ketekunan ditempa.

Pertanyaan terakhir datang dari Imelda, mahasiswi angkatan 2023, yang bertanya apakah Mas Satrio pernah merasa tersesat ketika berada di tengah perjalanan hidup.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Mas Satrio mengingatkan agar seseorang tidak hanya berfokus pada satu kesalahan dan menjadikannya pusat dari kehidupan.

“Jika kita melakukan kesalahan, tidak apa-apa. Yang harus kita fokuskan adalah apa hal lain yang bisa ditingkatkan lagi,” terangnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesalahan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti. Sebaliknya, kesalahan dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.

Pesan Penutup: Kejatuhan sebagai Modal

Arrupe Insight episode kedelapan ditutup dengan sebuah pesan yang sederhana, tetapi menyentuh bagi siapa pun yang sedang kehilangan arah.

Mas Satrio menyampaikan:

“Ketika kalian kehilangan arah atau tersesat saat kuliah di ATMI, kalian harus ingat kembali alasan apa kalian ada di sini. Itu adalah kewajiban moral, merupakan sebuah rasa tanggung jawab.”

Pesan tersebut mengajak mahasiswa untuk kembali mengingat alasan dan tujuan ketika mulai merasa lelah, kehilangan arah, atau menghadapi berbagai tekanan selama menjalani pendidikan.

Menyempurnakan malam yang penuh refleksi tersebut, Romo Kris turut memberikan sebuah kalimat penutup yang menguatkan:

“Kejatuhan kita adalah modal untuk mencapai tujuan kita.”

Kisah Mas Satrio dalam Arrupe Insight Eps. 8 menunjukkan bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu berjalan lurus. Ada masa ketika seseorang merasa tertinggal, menghadapi tekanan, mendapatkan teguran, mengalami kegagalan, bahkan mempertanyakan arah hidupnya sendiri.

Namun, setiap pengalaman tersebut dapat menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter.

Pada akhirnya, profesionalitas bukan berarti bekerja tanpa perasaan, melainkan mampu mengelola perasaan dengan dewasa agar tetap dapat menjalankan tanggung jawab dengan baik. Kesabaran bukan berarti pasif menerima keadaan, tetapi memiliki keteguhan untuk terus bertumbuh. Sementara itu, kegagalan bukanlah akhir perjalanan, melainkan modal untuk melangkah menuju tujuan yang lebih baik.

Sebab, dalam perjalanan hidup dan dunia kerja, kita tidak hanya dituntut untuk menjadi orang yang terampil, tetapi juga menjadi pribadi yang mampu bertanggung jawab, bertahan, dan memaknai setiap proses yang dijalani.


Penulis:
Divisi KMK Arrupe IGNITE

IMG_0720

Arrupe Insight Eps. 7: “Jika Kita Tidak Membidik Sesuatu, Maka Kita Tidak Akan Mendapatkan Sesuatu”

Suasana malam di area kolam renang Guest House Pedro Arrupe terasa berbeda pada Kamis, 27 November 2025. Mulai pukul 19.00 hingga 20.50 WIB, ruang bincang interaktif Arrupe Insight kembali digelar.

Dipandu oleh Mario dan Reinardus sebagai moderator, episode ketujuh ini menghadirkan Kristoforus Stefan, atau yang akrab disapa Mas Kristo. Ia merupakan alumni Politeknik Industri ATMI Cikarang angkatan ke-15 dari Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika.

Melalui sesi sharing kali ini, Mas Kristo mengajak para mahasiswa untuk merefleksikan pentingnya keberanian dalam bertindak, kemampuan bertahan menghadapi tekanan, serta ketegasan dalam mengambil keputusan.

Kilas Balik: Tertatih di Bengkel, Bertumbuh di Organisasi

Mas Kristo, yang berasal dari Bintaro dan bersekolah di SMA Pangudi Luhur Brawijaya, pada awalnya mendapatkan rekomendasi dari kerabat dan saudaranya untuk melanjutkan pendidikan di ATMI Solo. Namun, ia akhirnya memilih untuk datang dan menimba ilmu di ATMI Cikarang.

Masa transisi dari bangku SMA menuju pendidikan teknik sangat ia rasakan. Secara teori, ia merasa masih mampu mengikuti pelajaran, tetapi ia sempat merasa down karena mengalami kesulitan mengikuti proses pembelajaran praktik di bengkel.

Menyadari keterbatasannya dalam praktik di bengkel, Mas Kristo justru memilih untuk mengembangkan kemampuannya di bidang organisasi. Perjalanan tersebut akhirnya membawanya terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa.

Pengalamannya selama praktik di bengkel pun menyisakan banyak kenangan yang tidak terlupakan. Ia kerap mendapatkan kompensasi (kompen) hingga mengumpulkan total 287 jam.

Salah satu momen yang paling berkesan terjadi ketika ia sedang menjalani praktik Bench Work (BW). Ia pernah tidak sengaja “menerbangkan” benda kerja karena lupa mengencangkan ragum (vice).

Dari berbagai pengalaman tersebut, Mas Kristo menyadari satu prinsip penting:

“Jika kita melakukan perintah dengan ‘tepat’, maka proses yang akan dikerjakan akan sukses.”

Bagi Mas Kristo, pengalaman di bengkel bukan sekadar tentang kemampuan teknis, tetapi juga tentang belajar dari kesalahan, memahami konsekuensi, dan membangun ketelitian dalam setiap proses.

Nilai ATMI di Dunia Kerja: Kejujuran dan Mental Petarung

Saat menjalani masa magang, Mas Kristo mulai memikirkan langkah yang akan diambil setelah lulus. Ia akhirnya memutuskan untuk langsung bekerja, dengan PT Sanova yang bergerak di bidang chemical sebagai tempat kerja pertamanya.

Di dunia kerja, nilai-nilai ATMI yang paling mendasar, terutama kejujuran dan mental, sangat ia rasakan manfaatnya. Bagi Mas Kristo, memiliki “mental” berarti berani mengambil risiko dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai hal yang ada di lingkungan sekitar.

Jika seseorang sudah memiliki tujuan, menurutnya, ia harus terus berjuang melakukan berbagai upaya untuk mencapainya. Ia juga meyakini bahwa apa pun yang dilakukan pada akhirnya akan membawa hasil yang baik selama seseorang mau terus berusaha dan mulai mengurangi kebiasaan mengeluh.

Setelah bekerja selama kurang lebih dua tahun di PT Sanova, Mas Kristo berpindah ke Bumi Mulia sebagai Technical Trainer dan kemudian dipromosikan menjadi Management Trainee. Meski mendapatkan banyak rekan baru di sana, ia sempat menghadapi dinamika internal. Semangat kerjanya mulai menurun karena ia kerap membandingkan dirinya dengan orang lain.

Mencari lingkungan yang lebih sesuai dengan dirinya, ia kemudian melanjutkan karier ke Unggul Semesta di divisi Sales and Marketing. Di sinilah ia seolah menemukan passion-nya, yaitu bertemu dengan rekan-rekan baru dan berinteraksi dengan customer.

Namun, menawarkan produk robot bukanlah perjalanan yang mudah. Ia mendapatkan tentangan dari sejumlah senior yang khawatir pekerjaan mereka akan tergantikan. Beruntung, melalui proses mediasi yang berkelanjutan, kendala tersebut akhirnya dapat diatasi dengan baik.

Kini, Mas Kristo dipercaya berkarya di UNICAM Indonesia.

Dari perjalanan kariernya, ia menekankan pentingnya memiliki gambaran mengenai apa yang ingin dilakukan setelah lulus. Menurutnya, kita perlu memiliki “peta” yang dapat menjadi penuntun menuju tujuan.

Di luar kemampuan teknis, ia juga sangat bersyukur atas relasi dan pertemanan yang diperoleh selama berada di ATMI. Baginya, memiliki banyak teman dapat menghadirkan kebahagiaan tersendiri, terutama ketika kehidupan dan pekerjaan sedang berada dalam kondisi sulit.

Diskusi Interaktif

Sesi tanya jawab malam itu berlangsung sangat interaktif dan sarat makna. Para mahasiswa antusias menggali pengalaman serta pandangan Mas Kristo mengenai dunia kerja dan kehidupan setelah lulus.

Boni, mahasiswa angkatan 2023, menjadi salah satu peserta yang mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana cara survive di dunia industri hanya dengan mengandalkan gelar Diploma 3.

Mas Kristo menjawab dengan lugas bahwa dirinya saat ini belum memikirkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 karena yang terpenting baginya adalah terus survive dan berkembang dalam dunia kerja.

“Apa yang didapat dari ATMI masih cukup untuk melanjutkan di dunia industri. Jika ingin melanjutkan S1 tidak apa-apa, tetapi yang terpenting harus tahu untuk apa gelar itu didapatkan,” tegasnya.

Selanjutnya, Eric, mahasiswa angkatan 2023, mengajukan pertanyaan mengenai batas antara mengeksplorasi keingintahuan dan mematuhi instruksi, serta dampaknya di tempat kerja.

Menanggapi hal tersebut, Mas Kristo menyarankan agar seseorang terlebih dahulu memikirkan dampak dari eksplorasi yang ingin dilakukan.

“Jika sudah yakin dapat bertanggung jawab atas apa yang dikerjakan, maka kita boleh melakukannya,” paparnya.

Di satu sisi, ia juga menegaskan bahwa proses eksplorasi tetap diperlukan agar seseorang dapat terus mengikuti perkembangan industri yang berlangsung dengan cepat.

Gracia, mahasiswi angkatan 2023, kemudian bertanya mengenai cara terbaik untuk menemukan tujuan hidup setelah lulus.

Berdasarkan pengalamannya, Mas Kristo menyarankan untuk berfokus pada “aksi” nyata.

“Yang penting mulai saja dulu. Kita harus mencoba kesempatan yang datang kepada kita dan kita lakukan dengan ikhlas,” jawabnya.

Sebagai penutup sesi diskusi, Mario, mahasiswa angkatan 2022, melontarkan sebuah pertanyaan eksistensial: Apa itu sukses, dan apakah Mas Kristo sudah mencapainya?

Dengan sederhana dan membumi, Mas Kristo menjawab:

“Sukses itu adalah bisa hidup tanpa merepotkan orang lain.”

Sejauh ini, ia bersyukur karena merasa telah berhasil mencapai definisi kesuksesan tersebut.

Pesan Penutup: Menghadapi Masalah dan Makna Melayani

Mengakhiri acara malam itu, Mas Kristo mengingatkan seluruh peserta bahwa masalah akan selalu hadir dalam kehidupan.

“Jika tidak ada masalah dalam hidup, maka sama dengan mati. Masalah itu harus dihadapi,” tegasnya.

Ia juga membagikan pandangannya bahwa ia tidak percaya pada keberuntungan semata. Menurutnya, segala sesuatu dalam kehidupan juga berkaitan dengan timing. Jika ingin maju, seseorang harus siap melakukan atau mengorbankan sesuatu.

Keberuntungan tidak akan datang dengan sendirinya jika kita tidak berani bertindak dan mengambil keputusan.

 

“Jika kita tidak membidik sesuatu, maka kita tidak akan mendapatkan apa yang kita inginkan,”

Kalimat tersebut menjadi penutup sekaligus pengingat bagi setiap mahasiswa untuk berani menentukan arah dan memiliki tujuan yang ingin dicapai.

Mas Kristo juga memberikan apresiasi kepada para mahasiswa yang hadir. Menurutnya, keberadaan mereka di titik saat ini merupakan sebuah pencapaian tersendiri. Perjalanan yang sedang dijalani merupakan bagian dari proses untuk terus bertumbuh dan menemukan arah kehidupan.

Sesi Arrupe Insight malam itu kemudian dilengkapi dengan refleksi penutup dari Romo Doni. Beliau berpesan kepada para mahasiswa bahwa wajar jika saat ini mereka belum dapat membayangkan secara jelas apa yang akan terjadi di masa depan.

“Syukuri aja apa yang sedang dilakukan sekarang. Tapi yang penting adalah tekun dan setia,” ujar Romo Doni.

Sebagai penutup, beliau juga menyampaikan pesan mendalam bagi para mahasiswa yang kelak akan terjun ke dunia industri:

“Bekerja itu juga melayani. Lihatlah makna dari seluruh kerja keras yang kita lakukan.”

Pesan tersebut menjadi penutup yang selaras dengan semangat Arrupe Insight: bahwa perjalanan pendidikan bukan hanya tentang mempersiapkan seseorang untuk bekerja, tetapi juga membentuk pribadi yang berani mengambil keputusan, mampu bertahan dalam tekanan, memiliki arah hidup, dan mampu memaknai pekerjaan sebagai bentuk pelayanan.

Berani membidik tujuan. Berani mengambil langkah. Berani menghadapi proses. Karena tanpa keberanian untuk menentukan arah, kita tidak akan pernah tahu sejauh mana kita dapat melangkah.

Penulis:
Divisi KMK Arrupe IGNITE

IMG20251106202148

Arrupe Insight Eps. 6: “Mimpi Itu Gratis – Merajut Daya Tahan dan Menjadi Pemimpin yang Menggerakkan”

Pada Kamis malam, 6 November 2025, ruang diskusi kembali hangat melalui kegiatan Arrupe Insight. Dipandu oleh Yeni dan Anton sebagai pembawa acara, kegiatan yang dimulai pada pukul 19.10 WIB ini menghadirkan sosok inspiratif, Angga Limanggus, atau yang akrab disapa Mas Angga, alumni Politeknik Industri ATMI Cikarang angkatan ke-5.

Melalui kisah dan pengalamannya, Mas Angga mengajak para mahasiswa untuk melihat bahwa daya tahan dalam menghadapi masa-masa sulit merupakan salah satu fondasi penting dalam membentuk pribadi dan pemimpin yang tangguh.

Kilas Balik: Dari Menjaga Warung hingga Menahan Lapar

Perjalanan Mas Angga menuju ATMI Cikarang tidaklah mudah. Berasal dari Karanganyar, Surakarta, ia lahir dan tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Ketika menyadari bahwa orang tuanya mengalami kesulitan untuk membiayai pendidikan, sempat muncul gejolak dalam dirinya. Ia bahkan bersikukuh untuk tetap tinggal di rumah dan membantu menjaga warung keluarga.

Namun, dorongan kuat dari orang tuanya yang sangat menginginkannya melanjutkan pendidikan membuat Mas Angga mencoba mengikuti program beasiswa. Pilihan tersebut akhirnya membawanya melangkah menuju Politeknik Industri ATMI.

Meski sempat ditolak di ATMI Solo, ia akhirnya diterima di ATMI Cikarang pada 2007 dan menyelesaikan pendidikannya pada 2010. Masa-masa awal perkuliahannya penuh dengan tantangan dan air mata. Sebagai mahasiswa rantau yang jauh dari keluarga, ia tidak mendapatkan kiriman uang sehingga harus berpindah-pindah tempat tinggal dengan menumpang di kos teman-temannya.

Dengan Indeks Prestasi (IP) sebesar 2,4, Mas Angga mengaku rajin mendaraskan doa Rosario untuk menguatkan diri ketika berada di titik hampir menyerah pada keadaan.

Salah satu titik terendah yang sangat membekas dalam hidupnya adalah ketika ia pernah tidak makan sama sekali selama dua hari berturut-turut. Beruntung, sang kakak yang saat itu bekerja di Karawang datang menjenguk dan memberinya uang sebesar Rp10.000 untuk membeli makanan. Mas Angga menyantap makanan tersebut sambil berderai air mata.

Namun, pengalaman tersebut justru semakin menguatkan tekadnya. Ia memaksakan diri untuk terus bertahan menempuh pendidikan di ATMI Cikarang karena satu alasan yang sangat kuat: tidak ingin merepotkan orang lain.

Membentuk Karakter Kepemimpinan di Luar Kelas

Menyadari bahwa kompetensi teknis saja tidak cukup, Mas Angga meyakini bahwa karakter tidak hanya dibentuk di dalam ruang kelas, tetapi juga melalui berbagai pengalaman di luar lingkungan akademik.

Rekam jejak organisasinya cukup panjang. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa, Ketua Orang Muda Katolik (OMK), anggota Komunikasi Sosial (Komsos) Gereja, hingga kini dipercaya menjadi ketua lingkungan.

Dari berbagai pengalaman tersebut, ia memetik pelajaran bahwa keterlibatan dalam berbagai kegiatan di luar kampus menjadi salah satu sarana penting untuk mengasah soft skills, kemampuan beradaptasi, serta jiwa kepemimpinan.

Baginya, pengalaman berorganisasi memberikan ruang bagi seseorang untuk belajar menghadapi berbagai karakter, mengambil keputusan, berkomunikasi, serta bertanggung jawab terhadap orang lain.

Realitas Dunia Kerja: Pemimpin, Integritas, dan Pekerja yang Bertahan

Setelah lulus, Mas Angga sempat mengabdi sebagai pengajar di ATMI Cikarang dari 2010 hingga 2014. Ketika akhirnya memutuskan untuk melamar pekerjaan di industri, ia sempat mengalami kebingungan dalam menentukan arah karier. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan seorang alumni ATMI Solo yang memberinya kesempatan untuk bekerja di perusahaan tersebut.

Mas Angga mengungkapkan rasa syukurnya karena pernah menempuh pendidikan di ATMI Cikarang. Menurutnya, lulusan ATMI Cikarang memiliki kedekatan yang kuat dengan dunia industri dan kebutuhan pengguna tenaga kerja. Hal tersebut menjadi salah satu keunggulan yang memberikan peluang luas bagi mahasiswa untuk berkembang dan berkarier.

Di tempat kerja barunya, Mas Angga kemudian menghadapi salah satu ujian kepemimpinan yang paling berat. Ketika mengemban jabatan sebagai pemimpin dan memimpin sebuah tim, ia menyadari bahwa sebagian besar anggota timnya ternyata tidak menyukai kehadirannya. Dampaknya cukup besar: 13 dari 15 anggota tim memilih untuk mengundurkan diri.

Menghadapi situasi tersebut, Mas Angga mengambil jeda untuk menenangkan diri melalui examen, kemudian melakukan refleksi dan berpegang pada sebuah prinsip:

“Situasi apa pun yang dihadapi adalah baik. Apakah orang lain dapat menerima hal itu atau tidak, itu terserah mereka yang ingin keluar atau bertahan.”

Kepedulian kemudian ia arahkan kepada mereka yang memilih untuk bertahan. Mas Angga berkomitmen untuk berusaha sebaik mungkin agar kehidupan para pekerja yang tetap bersamanya dapat semakin sejahtera.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting baginya bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang posisi atau kewenangan, tetapi juga tentang bagaimana seorang pemimpin mampu bertahan, berefleksi, dan bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya.

Diskusi Interaktif

Sesi malam itu semakin hidup ketika memasuki ruang diskusi. Beberapa mahasiswa antusias menggali wawasan dan pengalaman langsung dari Mas Angga.

Kukuh, mahasiswa angkatan 2023, membuka sesi dengan pertanyaan mengenai soft skills yang paling banyak digunakan di dunia kerja dan bagaimana cara melatihnya.

Mas Angga menjawab bahwa seseorang harus selalu siap untuk menjadi pemimpin dan mampu berhadapan dengan berbagai karakter manusia.

“Yang paling hebat adalah saat ada orang yang bisa kita ubah, yang awalnya tidak suka dengan kita, pada akhirnya menjadi hormat kepada kita,” ujarnya.

 

Selanjutnya, Eric, mahasiswa angkatan 2023, mengajukan pertanyaan reflektif mengenai bagaimana seharusnya kita bersikap ketika melihat seseorang yang berusaha lebih sedikit tetapi justru mendapatkan hasil yang lebih baik.

Menanggapi pertanyaan tersebut, Mas Angga mengingatkan bahwa dalam kehidupan selalu ada hal yang adil dan tidak adil. Namun, pada akhirnya, semuanya kembali pada bagaimana seseorang memilih untuk menghadapi dan memaknainya.

Pertanyaan berikutnya datang dari Rein, mahasiswa angkatan 2022, yang menanyakan cara untuk terus bertahan di ATMI ketika menghadapi keadaan yang sangat tidak menyenangkan.

Menurut Mas Angga, sikap dan pembawaan dalam diri merupakan hal yang sangat penting, disertai dengan tujuan spesifik yang ingin dicapai. Seseorang perlu memiliki pola pikir bahwa hidup tidak sekadar tentang bekerja, tetapi juga tentang memiliki mimpi dan tujuan untuk membuat orang lain menjadi lebih baik melalui apa yang dikerjakan.

Pertanyaan terakhir disampaikan oleh Andrian, mahasiswa angkatan 2021, yang menanyakan strategi untuk menggerakkan hati para anggota agar bersedia aktif mengikuti kegiatan dalam organisasi non-profit.

Mas Angga menjelaskan bahwa pekerjaan dapat terbagi menjadi dua, yaitu pekerjaan yang lebih banyak membutuhkan hard skills dan pekerjaan yang membutuhkan soft skills. Keduanya sama-sama penting dan memiliki perannya masing-masing.

Dalam sebuah organisasi, menurutnya, wajar apabila tidak semua orang merasa nyaman atau menyukai setiap kegiatan yang dilakukan. Namun, fokus utama harus tetap diarahkan pada goal, yaitu membawa anggota menuju kehidupan yang lebih baik.

Ia juga mengingatkan bahwa hasil dari perjuangan dalam organisasi non-profit mungkin tidak selalu terlihat secara langsung dan tidak selalu berbentuk materi. Namun, kebaikan yang dilakukan akan memberikan dampak dan kembali kepada diri kita pada waktunya.

Pesan Penutup: Beranilah Bermimpi

Menutup perbincangan, Mas Angga membagikan sebuah pesan yang tajam sekaligus menyemangati para mahasiswa yang sedang berjuang:

“Mimpi itu gratis, entah sebesar apa pun itu. Dan mungkin orang akan tertawa, tapi apa yang dirasakan, itu semua tergantung pada kita.”

Ia menambahkan bahwa setelah menentukan tujuan akhir atau mimpi, seseorang perlu menghitung dan merencanakan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapainya.

“Kita bisa memulai dari posisi mana pun, tetapi yang terpenting adalah hasil akhir kita bisa menjadi apa. Harus merasa beruntung kuliah di ATMI Cikarang. Selalu jadi orang baik, dan kita dapat mengubah orang lain menjadi lebih baik lagi.”

Kisah Mas Angga menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu dimulai dari kondisi yang ideal. Terkadang, seseorang harus melewati keterbatasan, kegagalan, penolakan, bahkan masa-masa ketika harus berjuang untuk sekadar bertahan.

Namun, dari situlah daya tahan, karakter, dan kepemimpinan ditempa.

Mimpi memang gratis. Namun, untuk mewujudkannya dibutuhkan keberanian untuk memulai, ketekunan untuk bertahan, dan kemauan untuk terus bertumbuh serta memberikan dampak bagi orang lain.


Penulis:
Divisi KMK Arrupe IGNITE

IMG_9343

Arrupe Insight Eps. 5: “Stay Foolish, Stay Hungry – Belajar Bertanggung Jawab atas Sebuah Pilihan”

Pada Kamis malam, 23 Oktober 2025, ruang diskusi kembali dihidupkan melalui kegiatan Arrupe Insight. Dipandu oleh Bagus dan Eric sebagai pembawa acara, kegiatan yang dimulai pada pukul 19.24 WIB ini menghadirkan Theodorus Argo Nugroho, alumni Politeknik Industri ATMI Cikarang angkatan ke-10.

Saat ini, Mas Theo bekerja sebagai Quality Assurance sekaligus menjalankan perusahaan trading di bidang mesin industri. Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan kisah reflektif mengenai perjalanan hidup dan kariernya—sebuah perjalanan yang tidak selalu dimulai dari pilihan yang diinginkan, tetapi justru membawanya pada pemahaman bahwa sebuah keterpaksaan, ketika dijalani dengan penuh tanggung jawab, dapat mengantarkan seseorang pada tujuan hidup yang bermakna.

Kilas Balik: Dari Seminari hingga Merasa Salah Jurusan

Perjalanan Theo di Politeknik Industri ATMI ternyata tidak dimulai dari sebuah mimpi yang telah direncanakan. Sebelumnya, ia pernah menempuh pendidikan di seminari dan memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menjadi seorang romo. Bahkan, ia sempat berseloroh bahwa dirinya sampai lupa bagaimana menjadi seorang awam. Di sisi lain, ia juga memiliki ketertarikan yang besar terhadap dunia politik.

Keputusan untuk masuk ATMI pada awalnya merupakan sebuah keterpaksaan, semata-mata untuk menghindari berbagai permintaan orang tua. Terlebih lagi, sebelumnya ia sempat mengalami penolakan ketika mendaftar di ATMI Solo.

Tahun pertama perkuliahan terasa sangat berat. Ia sempat merasa salah memilih jalan. Namun, di tengah pergulatan tersebut, Mas Theo memegang teguh satu prinsip:

“Apa yang dipilih harus dipertanggungjawabkan dan harus diselesaikan, apa pun pilihannya.”

Prinsip sederhana tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan hidupnya.

Menemukan Keseimbangan melalui Komunitas

Untuk mengimbangi beratnya dinamika perkuliahan, Mas Theo mencari “napas” di luar kesibukan akademis. Ia aktif dalam KMK ATMI yang saat itu sedang menjalin kerja sama dengan KMK di Bekasi. Ia juga turut mengambil peran dalam mengaktifkan kembali Koor Balthasar.

Berbagai aktivitas di luar jam perkuliahan tersebut justru membuat beban akademis terasa lebih ringan. Baginya, yang terpenting bukanlah selalu berada dalam situasi yang ideal, melainkan bagaimana seseorang menyikapi keadaan dan tetap berusaha memberikan yang terbaik.

Sebagai mahasiswa yang dipercaya menjadi ketua angkatan, Mas Theo tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Salah satu pengalaman yang paling ia kenang adalah ketika menginisiasi kelas belajar bersama untuk mata kuliah Mekanika Teknik. Inisiatif tersebut memberikan hasil yang positif. Beberapa teman yang mengikuti kegiatan belajar bersama bahkan berhasil memperoleh beasiswa.

Tidak berhenti di sana, ia juga membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bernama ROJANI (Robot Berjiwa Seni) yang berfokus pada pertunjukan teater. Melalui ROJANI, mereka berhasil meraih Juara 1 dalam sebuah perlombaan di Universitas Atma Jaya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kehidupan mahasiswa tidak hanya dibentuk melalui ruang kelas, tetapi juga melalui komunitas, kolaborasi, kepemimpinan, dan keberanian untuk mengambil inisiatif.

Realitas Industri: Jatuh, Bangun, dan “Stay Foolish”

Seperti banyak mahasiswa pada umumnya, Mas Theo juga pernah mengalami fase kebingungan ketika berada di tingkat dua dan tiga. Ia mulai mempertanyakan akan menjadi apa dirinya setelah lulus.

Pada masa tersebut, ia bertemu dengan sosok Mas Bambang, seorang instruktur sekaligus pengajar desain dies yang juga merupakan direktur perusahaan. Sosok tersebut kemudian menjadi salah satu role model yang banyak memengaruhi perjalanan hidupnya.

Karier pertama Mas Theo dimulai di Bekasi. Selama tiga bulan, ia bekerja keras sebagai tenaga penggambar (drafter) sekaligus membantu mengangkat barang. Setelah itu, ia berpindah ke sebuah perusahaan plastik.

Merasa perkembangan hidupnya belum banyak berubah, ia kemudian melakukan refleksi dan kembali mengingat salah satu cita-cita lamanya: bekerja di Jepang. Ia mulai menggali informasi dan mencari perusahaan Jepang yang bersedia memberinya kesempatan untuk bekerja di sana.

Proses tersebut tentu tidak berlangsung secara instan. Mas Theo pernah mendapat panggilan wawancara dari Mitsubishi. Namun, ia datang tanpa persiapan yang matang. Karena wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris, ia akhirnya harus menerima penolakan.

Namun, kegagalan tersebut justru menjadi batu loncatan. Ketika mendapat panggilan dari perusahaan tempatnya bekerja saat ini, ia datang dengan persiapan yang jauh lebih matang. Ia membawa daftar pertanyaan beserta jawaban dalam bahasa Inggris yang telah dipersiapkan sebelumnya. Strategi tersebut membuahkan hasil dan ia berhasil lolos.

Tantangan pada awal masa kerjanya pun tidak mudah. Ia belum sepenuhnya memahami apa yang harus dipersiapkan dan masih harus berjuang untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Namun, prinsip yang telah dipegangnya sejak awal tidak berubah:

“Apa pun yang dipilih, jalani saja. Jalani dengan maksimal.”

Proses panjang tersebut perlahan mengubah cara pandangnya. Jika sebelumnya bekerja hanya dipandang sebagai bentuk tanggung jawab (responsibility), seiring waktu pekerjaan mulai dimaknai sebagai bagian dari tujuan hidup (purpose).

Puncaknya, pada 2019, impiannya untuk terbang ke Jepang akhirnya terwujud. Ia berkesempatan pergi ke Jepang untuk mempelajari teknologi semiconductor.

Bagi Mas Theo, memiliki role model sangat penting untuk membantu seseorang memetakan arah perjalanan hidup. Ia mengutip sebuah nasihat dari Frater Hendrikus yang menjadi salah satu panutannya:

“Stay Foolish, Stay Hungry.”

Kutipan tersebut menjadi pengingat untuk senantiasa merasa “bodoh” dalam arti positif—menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahui. Dengan demikian, seseorang akan terus “lapar” untuk belajar, mencari ilmu, dan tidak mudah berpuas diri.

Selain itu, kata-kata dari Romo Cassutt juga menjadi pegangan moral baginya:

“Lebih baik menyalakan lilin kecil daripada mengutuk kegelapan.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa terlalu banyak orang terkadang lebih sibuk menyalahkan keadaan daripada berusaha mencari solusi.

Semangat untuk terus bertumbuh inilah yang kemudian membawanya berani mengembangkan usaha, termasuk memulai bisnis pengolahan sampah dengan modal yang tidak sedikit, hingga akhirnya terjun ke dunia ekspor pada 2021.

Ia memilih jalur ekspor bukan tanpa alasan. Selain ingin mengembangkan bisnis, ia juga ingin berkontribusi dalam menyumbangkan devisa bagi negara sekaligus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan para petani di tingkat akar rumput.

Diskusi Interaktif

Sesi berbagi pengalaman semakin hidup melalui antusiasme para mahasiswa yang hadir.

Yoga, salah satu mahasiswa yang hadir malam itu, mengajukan pertanyaan mengenai pengalaman Mas Theo ketika pertama kali masuk ATMI yang dikenal memiliki proses pendidikan yang sangat disiplin dan menantang.

Mas Theo menjawab dengan lugas bahwa pada awalnya semua terasa tidak nyaman dan sangat berat.

“Tapi yang harus diperhatikan adalah positive feeling, bukan sekadar positive thinking, untuk mengimbangi perasaan tidak enak selama perkuliahan,” jelasnya.

Ia kembali mengingatkan bahwa ketika seseorang merasa telah salah memilih, bukan berarti pilihan tersebut harus segera ditinggalkan. Ada tanggung jawab yang perlu dijalani dan proses yang perlu diselesaikan.

Selanjutnya, Radit mengajukan pertanyaan yang tidak kalah penting: bagaimana cara menemukan role model yang tepat?

Menjawab pertanyaan tersebut, Mas Theo menyarankan mahasiswa untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan dan seminar, seperti Arrupe Insight, serta berani membangun relasi dengan para narasumber yang hadir.

“Yang paling bisa disadari oleh diri kita saat mencari role model adalah kita merasa senang terhadap orang itu. Selain itu, carilah orang yang relevan dengan apa yang sedang kita lakukan,” imbuhnya.

Di tengah diskusi yang interaktif, Mas Theo juga menyampaikan pesan kewaspadaan terhadap perkembangan teknologi yang semakin pesat. Menurutnya, ketergantungan terhadap penggunaan AI (Kecerdasan Buatan) perlu diwaspadai karena dapat membuat seseorang terlalu terbiasa dengan segala sesuatu yang serba mudah, sehingga berpotensi mengurangi kemampuan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan pola pikir secara mandiri.

Pesan Penutup: Jangan Takut Memilih

Sesi Arrupe Insight kali ini ditutup dengan sebuah pesan yang kuat dan membumi dari Mas Theo:

“Jangan takut memilih. Ada benar dan ada salah, tapi jikalau salah juga bukan berarti akan berakhir. Pilih role model, jalani pilihan kalian.”

Pesan tersebut seolah merangkum seluruh esensi dari daya juang seorang mahasiswa. Pada akhirnya, keberhasilan bukan semata-mata tentang siapa yang tidak pernah salah melangkah, melainkan tentang siapa yang berani mengambil pilihan, bersedia bertanggung jawab atas pilihan tersebut, belajar dari prosesnya, dan terus melangkah.

Kisah Mas Theo mengingatkan kita bahwa tidak semua perjalanan hidup dimulai dari pilihan yang sempurna. Terkadang, sebuah pilihan yang awalnya terasa sebagai keterpaksaan justru menjadi jalan untuk menemukan makna, tujuan, dan panggilan hidup.

Jangan takut memilih. Jangan takut salah. Yang terpenting adalah berani bertanggung jawab, terus belajar, dan menjalani pilihan dengan sebaik-baiknya.

Penulis: Divisi KMK Arrupe IGNITE

CW ARRUPE EPS 4.jpg

Arrupe Insight Eps. 4 “Misteri Kehidupan : Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi”

Di teras yang tidak begitu besar, berdiri sebuah gazebo sederhana. Kursi-kursi tersusun rapi, lampu-lampu telah dinyalakan, dan para mahasiswa duduk dengan penuh perhatian, mendengarkan kisah dari seseorang yang telah lebih dahulu bergelut dalam kehidupan nyata.

Pada Kamis, 9 Oktober 2025, KMK Pedro Arrupe mengundang seorang alumnus Politeknik ATMI sebagai pembicara dalam kegiatan Arrupe Insight. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk bincang-bincang santai bersama alumnus, membahas seputar dunia kerja dan pengalaman selama menempuh pendidikan di Politeknik ATMI. Pada kesempatan ini, Gregorius Superma Putra hadir dengan penuh semangat mengisi Arrupe Insight episode keempat.

Akrab disapa Mas Greg, ia merupakan alumnus ATMI Surakarta Angkatan 41 dari jurusan Mekatronika. Lahir sebagai anak keenam dari enam bersaudara, Mas Greg besar di Magelang bersama ibunya yang berasal dari Klaten dan ayahnya dari Nusa Tenggara Timur. Ia menempuh pendidikan kejuruan di SMK Pangudi Luhur Muntilan, yang membentuk kedekatannya dengan dunia teknik perkakas.

Motivasi awal Mas Greg mendaftar ATMI adalah keinginannya untuk membanggakan sang ayah. Ia diterima sebagai mahasiswa Mekatronika meski sempat berada di posisi cadangan kelima. Masa-masa awal perkuliahan terasa berat karena muncul perasaan “salah masuk jurusan”. Namun, berkat dukungan teman-teman, ia memilih untuk bertahan. Kesulitan akademik yang dihadapi sempat menimbulkan kekhawatiran, tetapi melihat kakak tingkat yang tetap naik tingkat meski mendapat nilai kurang baik menjadi sumber kekuatan dan semangat tersendiri.

Masa perkuliahan di ATMI diwarnai banyak tantangan, salah satunya persaingan dengan mahasiswa dari kolese ternama seperti De Britto dan Loyola. Hal tersebut justru memacu Mas Greg untuk terus berkembang. Ia aktif berpartisipasi dalam berbagai organisasi kampus, bahkan menjadi salah satu mahasiswa pertama yang ditawari terlibat dalam berbagai kegiatan kampus. Pengalaman organisasi ini menjadi bekal berharga dalam membangun relasi dan membentuk pribadi yang lebih luwes.

Masa Bekerja

Mas Greg mengawali pengalaman kerjanya sebagai seorang mekanik, bidang yang tidak sepenuhnya sejalan dengan jurusan yang ia ambil. Ia memaknai hal tersebut sebagai bagian dari misteri kehidupan—tidak ada yang benar-benar tahu apa yang akan dihadapi ke depan. Tantangan dalam dunia kerja selalu ada, dan kunci utamanya adalah memiliki sikap terbuka serta kemauan untuk terus belajar.

Berkonsultasi dengan senior, berbagi pengalaman, dan mempertimbangkan masukan menjadi langkah konkret untuk beradaptasi. Salah satu pengalaman berkesan adalah saat bekerja di perusahaan asal Jerman. Ia kembali merasakan perasaan minder, serupa dengan yang dialami saat kuliah, ketika berhadapan dengan rekan kerja yang memiliki European-minded. Namun, dari kegelisahan tersebut muncul keberanian untuk tampil dan bersuara.

Dalam sebuah kepanitiaan, Mas Greg berani mengingatkan setiap divisi agar tidak bersikap egois, bahkan menyampaikan pendapat di hadapan jajaran pimpinan. Semua itu berangkat dari modal pengalaman berorganisasi di ATMI. “Kita harus membiasakan diri untuk tampil dan memimpin,” ujar Mas Greg.

Menggali Lebih Dalam

Seiring berjalannya waktu, antusiasme peserta semakin terasa. Beberapa mahasiswa mengangkat tangan untuk bertanya. Radi, mahasiswa tingkat dua, menanyakan sosok Romo Cassut, SJ semasa berkarya. Menurut Mas Greg, kesederhanaan, keramahan, dan ketekunan dalam doa merupakan gambaran pribadi Romo Cassut, SJ. Keramahannya terasa saat beliau menanyakan pengalaman kuliah Mas Greg ketika makan bersama. Ketekunannya dalam doa terlihat ketika beliau berkeliling bengkel sambil mendaraskan doa Rosario pada malam hari. Bahkan, Romo Cassut, SJ pernah memiliki proyek pembuatan eretan untuk menurunkan peti ke dalam tanah, dan beliau sendiri menjadi orang pertama yang menggunakannya. “Itulah misteri kehidupan,” ungkap Mas Greg.

Pertanyaan berikutnya datang dari Martin, Eric, dan Adam, mahasiswa tingkat satu, mengenai cara menjalani proses belajar agar efektif dan efisien. Berdasarkan pengalamannya, Mas Greg menekankan pentingnya fokus pada apa yang sedang dihadapi saat ini serta menemukan hal-hal yang memberi kebahagiaan ketika kembali ke bengkel. Jika menemui kegagalan, seperti ukuran yang tidak sesuai, jangan larut dalam satu kejatuhan. Segera beralih dan memperjuangkan hal-hal yang masih bisa diusahakan.

Menutup sesi tanya jawab, Mario, mahasiswa tingkat dua, menanyakan relevansi refleksi sebagai tradisi pendidikan Ignasian dalam dunia kerja. Bagi Mas Greg, refleksi merupakan sarana olah pikir dan olah rasa dalam memecahkan masalah. Refleksi mendorong munculnya pertanyaan “mengapa” serta mengajak seseorang untuk melihat persoalan dari sudut pandang orang lain. Refleksi adalah proses mempertimbangkan segala sesuatu secara mendalam dan mendasar.

Kuliah Kehidupan

Menutup rangkaian talkshow, Romo Kristiono Puspo , SJ hadir memberikan peneguhan yang memperdalam seluruh pembahasan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan hari itu merupakan “kuliah kehidupan”. “Hidup itu harian, bukan borongan,” ujar Romo Kristiono Puspo, SJ. Hidup dijalani hari demi hari, sepenuhnya pada saat ini.

Terkait refleksi, beliau memaknainya sebagai upaya menghadirkan Yang Ilahi dalam setiap pengalaman keseharian. Di akhir sesi, Romo Kristiono, SJ mengajak seluruh peserta untuk menjadi “Friends in the Lord”, teman dalam perutusan.

Selama kurang lebih satu setengah jam, para peserta diajak memaknai berbagai pengalaman yang relevan dengan tantangan perkuliahan dan dunia kerja ke depan. Dinamika Arrupe Insight episode keempat ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam menjalani proses pendidikan. Menutup keseluruhan acara, Mas Greg menyampaikan kalimat peneguh,
“Ad Maiorem Dei Gloriam—hebat bukan karena diri sendiri, melainkan karena keterlibatan Tuhan.”

Mario Imanuel (Mesin Industri Tk2)

CW ARRUPE EPS 3.jpg

Arrupe Insight Eps. 3 “Roda Kehidupan Selalu Berputar”

Salah satu yang menjadi kegiatan rutin Komunitas Mahasiswa Katolik (KMK), Arrupe INSIGHT, kembali digelar dengan menghadirkan narasumber istimewa, Yoannes Fredy Sakti, CEO PT Trimitra Nusantara Sakti. Dalam episode ke-3 ini, Pak Fredy berbagi kisah perjalanan hidup dan pelajaran berharga yang ia dapatkan selama berkecimpung di dunia industri.

Kisah Masa Kuliah: Belajar untuk Saling Membantu

Pak Fredy mengawali ceritanya dengan mengenang masa kuliah di ATMI Solo. Ia merupakan angkatan 37 (2007) dari jurusan Perancangan, yang saat itu masih tergolong baru. Menariknya, pada masa itu terdapat dua kelompok mahasiswa yang cukup kontras: lulusan SMK, yang unggul dalam praktik, dan lulusan SMA, yang lebih kuat di teori. Kedua kelompok cenderung berjalan sendiri-sendiri tanpa mau saling membantu.

Melihat kondisi itu, Pak Fredy bersama teman-temannya sepakat untuk menghapus sekat dan saling mendukung agar tidak ada yang tertinggal. Ia masih mengingat satu kejadian menyedihkan, ketika seorang teman harus dikeluarkan karena gagal dalam praktik, padahal ia sangat cerdas secara teori. Menurut Pak Fredy, hal tersebut bisa dihindari jika antar-mahasiswa mau saling membantu. Dari pengalaman itu, ia belajar pentingnya kerjasama dan solidaritas.

Bertahan di Masa Sulit: Ketika Pandemi Menguji

Tantangan besar datang ketika pandemi COVID-19 melanda dunia pada tahun 2019–2022. Saat itu, Pak Fredy baru saja mendirikan PT Trimitra Nusantara Sakti. Kebijakan pembatasan aktivitas membuat hampir seluruh bidang usaha lumpuh, termasuk perusahaannya yang kesulitan mendapatkan pesanan. Kondisi tersebut membuat Pak Fredy sempat mengalami tekanan mental dan mempertanyakan rencana Tuhan.

Namun, keajaiban datang dari arah yang tak terduga. Seorang alumni ATMI menghubunginya dan memesan baju hazmat, produk yang sebenarnya di luar bidang utama perusahaannya. Dengan tekad dan keyakinan, Pak Fredy menerima pesanan itu. Keputusan tersebut menjadi titik balik kebangkitan perusahaannya. Kini, PT Trimitra Nusantara Sakti telah berkembang pesat dan memiliki enam cabang di berbagai daerah.

Pelajaran Hidup: Roda Selalu Berputar

Dalam sesi sharing, Pak Fredy menegaskan bahwa roda kehidupan akan selalu berputar—kadang di bawah, kadang di atas. Ia teringat dengan teman-teman masa kuliah yang dulu ia bantu. Ia merasa bahwa segala kebaikan yang ia lakukan di masa lalu kini berbuah menjadi berkat di kehidupannya saat ini.

Menurutnya, kebaikan akan selalu kembali, meski tidak selalu melalui orang yang sama. “Kalau kita berbuat baik, hasilnya akan kembali dalam bentuk yang tak disangka. Begitu pula sebaliknya,” ujarnya. Saya pribadi sangat setuju dengan pesan tersebut. Dalam hidup, sering kali saat kita berada di posisi sulit, selalu ada jalan keluar yang muncul dengan cara yang tidak terduga. Kebaikan memang tidak pernah hilang.

Gigih dan Percaya pada Rencana Tuhan

Di akhir sesi, Pak Fredy berpesan kepada peserta untuk tetap gigih dan percaya pada Tuhan. Setiap kesulitan, adalah proses pembentukan diri agar menjadi pribadi yang lebih kuat. “Selalu ingat Tuhan dalam setiap langkah. Ajaklah Tuhan berbicara seperti kamu mengobrol dengan temanmu,” tuturnya.

Pesan tersebut menjadi penutup yang hangat sekaligus pengingat bahwa dalam setiap putaran roda kehidupan, iman, ketekunan, dan kebaikan hati akan selalu membawa kita menuju terang.

Renata Veronika

Prodi : Manajemen Industri (tk3)