IMG_9343

Arrupe Insight Eps. 5: “Stay Foolish, Stay Hungry – Belajar Bertanggung Jawab atas Sebuah Pilihan”

Pada Kamis malam, 23 Oktober 2025, ruang diskusi kembali dihidupkan melalui kegiatan Arrupe Insight. Dipandu oleh Bagus dan Eric sebagai pembawa acara, kegiatan yang dimulai pada pukul 19.24 WIB ini menghadirkan Theodorus Argo Nugroho, alumni Politeknik Industri ATMI Cikarang angkatan ke-10.

Saat ini, Mas Theo bekerja sebagai Quality Assurance sekaligus menjalankan perusahaan trading di bidang mesin industri. Dalam kesempatan tersebut, ia membagikan kisah reflektif mengenai perjalanan hidup dan kariernya—sebuah perjalanan yang tidak selalu dimulai dari pilihan yang diinginkan, tetapi justru membawanya pada pemahaman bahwa sebuah keterpaksaan, ketika dijalani dengan penuh tanggung jawab, dapat mengantarkan seseorang pada tujuan hidup yang bermakna.

Kilas Balik: Dari Seminari hingga Merasa Salah Jurusan

Perjalanan Theo di Politeknik Industri ATMI ternyata tidak dimulai dari sebuah mimpi yang telah direncanakan. Sebelumnya, ia pernah menempuh pendidikan di seminari dan memiliki keinginan yang sangat kuat untuk menjadi seorang romo. Bahkan, ia sempat berseloroh bahwa dirinya sampai lupa bagaimana menjadi seorang awam. Di sisi lain, ia juga memiliki ketertarikan yang besar terhadap dunia politik.

Keputusan untuk masuk ATMI pada awalnya merupakan sebuah keterpaksaan, semata-mata untuk menghindari berbagai permintaan orang tua. Terlebih lagi, sebelumnya ia sempat mengalami penolakan ketika mendaftar di ATMI Solo.

Tahun pertama perkuliahan terasa sangat berat. Ia sempat merasa salah memilih jalan. Namun, di tengah pergulatan tersebut, Mas Theo memegang teguh satu prinsip:

“Apa yang dipilih harus dipertanggungjawabkan dan harus diselesaikan, apa pun pilihannya.”

Prinsip sederhana tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi penting dalam perjalanan hidupnya.

Menemukan Keseimbangan melalui Komunitas

Untuk mengimbangi beratnya dinamika perkuliahan, Mas Theo mencari “napas” di luar kesibukan akademis. Ia aktif dalam KMK ATMI yang saat itu sedang menjalin kerja sama dengan KMK di Bekasi. Ia juga turut mengambil peran dalam mengaktifkan kembali Koor Balthasar.

Berbagai aktivitas di luar jam perkuliahan tersebut justru membuat beban akademis terasa lebih ringan. Baginya, yang terpenting bukanlah selalu berada dalam situasi yang ideal, melainkan bagaimana seseorang menyikapi keadaan dan tetap berusaha memberikan yang terbaik.

Sebagai mahasiswa yang dipercaya menjadi ketua angkatan, Mas Theo tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Salah satu pengalaman yang paling ia kenang adalah ketika menginisiasi kelas belajar bersama untuk mata kuliah Mekanika Teknik. Inisiatif tersebut memberikan hasil yang positif. Beberapa teman yang mengikuti kegiatan belajar bersama bahkan berhasil memperoleh beasiswa.

Tidak berhenti di sana, ia juga membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) bernama ROJANI (Robot Berjiwa Seni) yang berfokus pada pertunjukan teater. Melalui ROJANI, mereka berhasil meraih Juara 1 dalam sebuah perlombaan di Universitas Atma Jaya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kehidupan mahasiswa tidak hanya dibentuk melalui ruang kelas, tetapi juga melalui komunitas, kolaborasi, kepemimpinan, dan keberanian untuk mengambil inisiatif.

Realitas Industri: Jatuh, Bangun, dan “Stay Foolish”

Seperti banyak mahasiswa pada umumnya, Mas Theo juga pernah mengalami fase kebingungan ketika berada di tingkat dua dan tiga. Ia mulai mempertanyakan akan menjadi apa dirinya setelah lulus.

Pada masa tersebut, ia bertemu dengan sosok Mas Bambang, seorang instruktur sekaligus pengajar desain dies yang juga merupakan direktur perusahaan. Sosok tersebut kemudian menjadi salah satu role model yang banyak memengaruhi perjalanan hidupnya.

Karier pertama Mas Theo dimulai di Bekasi. Selama tiga bulan, ia bekerja keras sebagai tenaga penggambar (drafter) sekaligus membantu mengangkat barang. Setelah itu, ia berpindah ke sebuah perusahaan plastik.

Merasa perkembangan hidupnya belum banyak berubah, ia kemudian melakukan refleksi dan kembali mengingat salah satu cita-cita lamanya: bekerja di Jepang. Ia mulai menggali informasi dan mencari perusahaan Jepang yang bersedia memberinya kesempatan untuk bekerja di sana.

Proses tersebut tentu tidak berlangsung secara instan. Mas Theo pernah mendapat panggilan wawancara dari Mitsubishi. Namun, ia datang tanpa persiapan yang matang. Karena wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris, ia akhirnya harus menerima penolakan.

Namun, kegagalan tersebut justru menjadi batu loncatan. Ketika mendapat panggilan dari perusahaan tempatnya bekerja saat ini, ia datang dengan persiapan yang jauh lebih matang. Ia membawa daftar pertanyaan beserta jawaban dalam bahasa Inggris yang telah dipersiapkan sebelumnya. Strategi tersebut membuahkan hasil dan ia berhasil lolos.

Tantangan pada awal masa kerjanya pun tidak mudah. Ia belum sepenuhnya memahami apa yang harus dipersiapkan dan masih harus berjuang untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Namun, prinsip yang telah dipegangnya sejak awal tidak berubah:

“Apa pun yang dipilih, jalani saja. Jalani dengan maksimal.”

Proses panjang tersebut perlahan mengubah cara pandangnya. Jika sebelumnya bekerja hanya dipandang sebagai bentuk tanggung jawab (responsibility), seiring waktu pekerjaan mulai dimaknai sebagai bagian dari tujuan hidup (purpose).

Puncaknya, pada 2019, impiannya untuk terbang ke Jepang akhirnya terwujud. Ia berkesempatan pergi ke Jepang untuk mempelajari teknologi semiconductor.

Bagi Mas Theo, memiliki role model sangat penting untuk membantu seseorang memetakan arah perjalanan hidup. Ia mengutip sebuah nasihat dari Frater Hendrikus yang menjadi salah satu panutannya:

“Stay Foolish, Stay Hungry.”

Kutipan tersebut menjadi pengingat untuk senantiasa merasa “bodoh” dalam arti positif—menyadari bahwa masih banyak hal yang belum diketahui. Dengan demikian, seseorang akan terus “lapar” untuk belajar, mencari ilmu, dan tidak mudah berpuas diri.

Selain itu, kata-kata dari Romo Cassutt juga menjadi pegangan moral baginya:

“Lebih baik menyalakan lilin kecil daripada mengutuk kegelapan.”

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa terlalu banyak orang terkadang lebih sibuk menyalahkan keadaan daripada berusaha mencari solusi.

Semangat untuk terus bertumbuh inilah yang kemudian membawanya berani mengembangkan usaha, termasuk memulai bisnis pengolahan sampah dengan modal yang tidak sedikit, hingga akhirnya terjun ke dunia ekspor pada 2021.

Ia memilih jalur ekspor bukan tanpa alasan. Selain ingin mengembangkan bisnis, ia juga ingin berkontribusi dalam menyumbangkan devisa bagi negara sekaligus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan para petani di tingkat akar rumput.

Diskusi Interaktif

Sesi berbagi pengalaman semakin hidup melalui antusiasme para mahasiswa yang hadir.

Yoga, salah satu mahasiswa yang hadir malam itu, mengajukan pertanyaan mengenai pengalaman Mas Theo ketika pertama kali masuk ATMI yang dikenal memiliki proses pendidikan yang sangat disiplin dan menantang.

Mas Theo menjawab dengan lugas bahwa pada awalnya semua terasa tidak nyaman dan sangat berat.

“Tapi yang harus diperhatikan adalah positive feeling, bukan sekadar positive thinking, untuk mengimbangi perasaan tidak enak selama perkuliahan,” jelasnya.

Ia kembali mengingatkan bahwa ketika seseorang merasa telah salah memilih, bukan berarti pilihan tersebut harus segera ditinggalkan. Ada tanggung jawab yang perlu dijalani dan proses yang perlu diselesaikan.

Selanjutnya, Radit mengajukan pertanyaan yang tidak kalah penting: bagaimana cara menemukan role model yang tepat?

Menjawab pertanyaan tersebut, Mas Theo menyarankan mahasiswa untuk aktif mengikuti berbagai kegiatan dan seminar, seperti Arrupe Insight, serta berani membangun relasi dengan para narasumber yang hadir.

“Yang paling bisa disadari oleh diri kita saat mencari role model adalah kita merasa senang terhadap orang itu. Selain itu, carilah orang yang relevan dengan apa yang sedang kita lakukan,” imbuhnya.

Di tengah diskusi yang interaktif, Mas Theo juga menyampaikan pesan kewaspadaan terhadap perkembangan teknologi yang semakin pesat. Menurutnya, ketergantungan terhadap penggunaan AI (Kecerdasan Buatan) perlu diwaspadai karena dapat membuat seseorang terlalu terbiasa dengan segala sesuatu yang serba mudah, sehingga berpotensi mengurangi kemampuan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan pola pikir secara mandiri.

Pesan Penutup: Jangan Takut Memilih

Sesi Arrupe Insight kali ini ditutup dengan sebuah pesan yang kuat dan membumi dari Mas Theo:

“Jangan takut memilih. Ada benar dan ada salah, tapi jikalau salah juga bukan berarti akan berakhir. Pilih role model, jalani pilihan kalian.”

Pesan tersebut seolah merangkum seluruh esensi dari daya juang seorang mahasiswa. Pada akhirnya, keberhasilan bukan semata-mata tentang siapa yang tidak pernah salah melangkah, melainkan tentang siapa yang berani mengambil pilihan, bersedia bertanggung jawab atas pilihan tersebut, belajar dari prosesnya, dan terus melangkah.

Kisah Mas Theo mengingatkan kita bahwa tidak semua perjalanan hidup dimulai dari pilihan yang sempurna. Terkadang, sebuah pilihan yang awalnya terasa sebagai keterpaksaan justru menjadi jalan untuk menemukan makna, tujuan, dan panggilan hidup.

Jangan takut memilih. Jangan takut salah. Yang terpenting adalah berani bertanggung jawab, terus belajar, dan menjalani pilihan dengan sebaik-baiknya.

Penulis: Divisi KMK Arrupe IGNITE

Comments are closed.