Pada Kamis, 8 Januari 2026, ruang diskusi Arrupe Insight kembali menyapa para mahasiswa. Tepat pukul 19.16 WIB, acara yang dipandu oleh Gracia dan Louissa tersebut dibuka dengan sapaan hangat.
Episode kedelapan kali ini menghadirkan Yohannes Satrio Nugroho, atau yang akrab disapa Mas Satrio, alumni Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika Politeknik Industri ATMI Cikarang angkatan ke-10.
Melalui kisah perjalanan hidup dan kariernya, Mas Satrio mengajak para mahasiswa untuk melihat bahwa dunia kerja menuntut lebih dari sekadar keterampilan teknis. Kedewasaan emosional, ketangguhan karakter, profesionalitas, kesabaran, serta kemampuan mengambil tanggung jawab menjadi bekal penting dalam menghadapi berbagai dinamika kehidupan dan dunia industri.
Kilas Balik: Dari Mesin Turning hingga Logika Kehidupan
Perjalanan Mas Satrio bermula dari bangku sekolah negeri. Awalnya, ia mendaftar ke ATMI Solo, tetapi kemudian memilih melanjutkan pendidikan di Politeknik Industri ATMI Cikarang. Konsekuensinya, ia harus tinggal di indekos yang jauh dari rumah.
Banyak kenangan yang membekas selama masa perkuliahan. Salah satu yang paling berkesan adalah rutinitas cleaning atau bersih-bersih bengkel yang wajib dilakukan sebelum masa libur tiba.
Selain itu, ia juga mengenang masa-masa bercanda bersama teman-teman seperjuangannya. Bahkan, pernah ada momen menegangkan sekaligus menggelitik ketika salah seorang temannya tanpa sengaja “menerbangkan” benda kerja saat sedang melaksanakan praktik mesin turning.
Di luar rutinitas bengkel, Mas Satrio memiliki ketertarikan yang besar terhadap pelajaran fisika dan logika. Melalui kedua bidang tersebut, ia belajar memahami konsep input dan output, sebuah pemahaman yang kelak sangat relevan dengan dunia industri.
Realitas Industri: Tidur di Pabrik dan Seni Mengelola Perasaan
Langkah awal Mas Satrio di dunia kerja dimulai di PT Dynaplast melalui program apprentice atau magang. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan kariernya di PT Kimpai Dyna.
Ketahanan mentalnya benar-benar diuji ketika mendapatkan tugas untuk menginstalasi mesin di Thailand. Di sana, ia dituntut untuk bekerja setiap hari, bahkan hingga harus merebahkan diri dan tidur di pabrik.
Ironisnya, meskipun telah bekerja keras dan mengerahkan tenaga sedemikian rupa, ia tetap mendapatkan teguran dari atasannya. Dari pengalaman yang tidak mudah tersebut, ia belajar sebuah pelajaran penting:
“Kita harus tetap profesional dan dewasa dalam melihat keadaan. Harus bisa bekerja tidak dengan perasaan, tapi dengan profesional.”
Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa dunia kerja tidak selalu memberikan apresiasi sesuai dengan usaha yang telah dilakukan. Karena itu, kemampuan untuk tetap profesional dan tidak membiarkan emosi mengendalikan keputusan menjadi salah satu hal yang sangat penting.
Mas Satrio juga tidak menampik bahwa ia pernah merasa “terlambat” dalam mencapai beberapa hal dalam hidup. Sebagai contoh, ketika teman-temannya sudah berhasil memiliki rumah pada tahun ketiga bekerja, ia baru mampu membeli rumah pada tahun keenam.
Namun, ia menegaskan bahwa seseorang tidak boleh goyah oleh perkataan atau pencapaian orang-orang di sekitarnya. Setiap orang memiliki perjalanan dan waktunya masing-masing. Yang terpenting adalah tetap teguh mengikuti tujuan yang telah dipilih sejak awal.
Di mata industri, keterampilan teknis lulusan ATMI memang telah dikenal memiliki kualitas yang baik. Kendati demikian, Mas Satrio mengingatkan agar para mahasiswa tidak pernah melupakan nilai-nilai dan etika dasar yang telah ditanamkan selama berada di kampus.
Nilai-nilai tersebut menjadi salah satu alasan yang membuatnya mampu bertahan hingga saat ini di grup perusahaan yang sama. Baginya, keluarga, lingkungan kerja, nilai-nilai kehidupan yang dipegang teguh, serta kekuatan doa merupakan fondasi utama dalam menjalani kehidupan dan karier.
Sebagai seorang pemimpin, Mas Satrio juga menghadapi berbagai tantangan dalam menerapkan karakter leadership kepada karyawan. Setiap individu memiliki karakter, kebutuhan, dan cara pandang yang berbeda.
Tantangan tersebut datang dari dua arah. Dari sisi internal, ia harus menghadapi karyawan yang merasa tidak puas dengan apa yang mereka dapatkan. Sementara dari sisi eksternal, dinamika persaingan industri menuntut perusahaan untuk terus beradaptasi dan berkembang.
Di tengah dinamika tersebut, Mas Satrio tetap mensyukuri berbagai perjumpaan dengan teman-teman semasa kuliah. Menurutnya, tetap terhubung dan saling memedulikan satu sama lain di dunia kerja merupakan hal yang sangat membahagiakan.
Diskusi Interaktif
Sesi malam itu semakin mendalam ketika memasuki sesi tanya jawab. Para mahasiswa mengajukan berbagai pertanyaan yang tidak hanya berkaitan dengan dunia kerja, tetapi juga menyentuh persoalan pilihan hidup, kegagalan, serta proses menemukan arah.
Teddy, mahasiswa angkatan 2023, membuka sesi dengan menanyakan apakah Mas Satrio pernah merasa salah jurusan dan bagaimana cara menghadapinya.
Mas Satrio menjawab dengan bijak bahwa perasaan tersebut perlu dihadapi dengan melihat kembali ke dalam diri sendiri. Ia juga mengapresiasi Teddy karena pada dasarnya Teddy telah berani melakukan apa yang menurutnya benar.
Pertanyaan selanjutnya datang dari Vianney, mahasiswa angkatan 2023, yang menanyakan dilema ketika menghadapi lingkungan kerja baru: apakah harus bertahan atau memilih keluar.
Mas Satrio mengakui bahwa tidak ada yang mudah dalam dunia kerja. Ia kemudian menyarankan sebuah metode yang taktis sekaligus reflektif, yaitu membuat matriks untuk mengukur dan memetakan kondisi lingkungan kerja.
Setelah itu, seseorang perlu melakukan examen atau pemeriksaan batin untuk melihat realitas secara lebih jernih, kemudian masuk ke tahap refleksi untuk memaknainya. Hasil dari proses tersebut dapat menjadi dasar yang lebih kuat dalam menentukan apakah seseorang perlu bertahan atau mengambil keputusan lain.
Yoga, mahasiswa angkatan 2023, kemudian menanyakan pandangan Mas Satrio mengenai masa-masa Bench Work (BW) yang melegenda di ATMI.
Dengan singkat, tetapi sarat makna, Mas Satrio menjawab bahwa BW merupakan fondasi dasar sebelum seseorang memegang mesin yang sesungguhnya. Di sanalah nilai kesabaran, ketelitian, dan ketekunan ditempa.
Pertanyaan terakhir datang dari Imelda, mahasiswi angkatan 2023, yang bertanya apakah Mas Satrio pernah merasa tersesat ketika berada di tengah perjalanan hidup.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Mas Satrio mengingatkan agar seseorang tidak hanya berfokus pada satu kesalahan dan menjadikannya pusat dari kehidupan.
“Jika kita melakukan kesalahan, tidak apa-apa. Yang harus kita fokuskan adalah apa hal lain yang bisa ditingkatkan lagi,” terangnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesalahan tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti. Sebaliknya, kesalahan dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah berikutnya.
Pesan Penutup: Kejatuhan sebagai Modal
Arrupe Insight episode kedelapan ditutup dengan sebuah pesan yang sederhana, tetapi menyentuh bagi siapa pun yang sedang kehilangan arah.
Mas Satrio menyampaikan:
“Ketika kalian kehilangan arah atau tersesat saat kuliah di ATMI, kalian harus ingat kembali alasan apa kalian ada di sini. Itu adalah kewajiban moral, merupakan sebuah rasa tanggung jawab.”
Pesan tersebut mengajak mahasiswa untuk kembali mengingat alasan dan tujuan ketika mulai merasa lelah, kehilangan arah, atau menghadapi berbagai tekanan selama menjalani pendidikan.
Menyempurnakan malam yang penuh refleksi tersebut, Romo Kris turut memberikan sebuah kalimat penutup yang menguatkan:
“Kejatuhan kita adalah modal untuk mencapai tujuan kita.”
Kisah Mas Satrio dalam Arrupe Insight Eps. 8 menunjukkan bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu berjalan lurus. Ada masa ketika seseorang merasa tertinggal, menghadapi tekanan, mendapatkan teguran, mengalami kegagalan, bahkan mempertanyakan arah hidupnya sendiri.
Namun, setiap pengalaman tersebut dapat menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter.
Pada akhirnya, profesionalitas bukan berarti bekerja tanpa perasaan, melainkan mampu mengelola perasaan dengan dewasa agar tetap dapat menjalankan tanggung jawab dengan baik. Kesabaran bukan berarti pasif menerima keadaan, tetapi memiliki keteguhan untuk terus bertumbuh. Sementara itu, kegagalan bukanlah akhir perjalanan, melainkan modal untuk melangkah menuju tujuan yang lebih baik.
Sebab, dalam perjalanan hidup dan dunia kerja, kita tidak hanya dituntut untuk menjadi orang yang terampil, tetapi juga menjadi pribadi yang mampu bertanggung jawab, bertahan, dan memaknai setiap proses yang dijalani.
Penulis:
Divisi KMK Arrupe IGNITE

