IMG_0720

Arrupe Insight Eps. 7: “Jika Kita Tidak Membidik Sesuatu, Maka Kita Tidak Akan Mendapatkan Sesuatu”

Suasana malam di area kolam renang Guest House Pedro Arrupe terasa berbeda pada Kamis, 27 November 2025. Mulai pukul 19.00 hingga 20.50 WIB, ruang bincang interaktif Arrupe Insight kembali digelar.

Dipandu oleh Mario dan Reinardus sebagai moderator, episode ketujuh ini menghadirkan Kristoforus Stefan, atau yang akrab disapa Mas Kristo. Ia merupakan alumni Politeknik Industri ATMI Cikarang angkatan ke-15 dari Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika.

Melalui sesi sharing kali ini, Mas Kristo mengajak para mahasiswa untuk merefleksikan pentingnya keberanian dalam bertindak, kemampuan bertahan menghadapi tekanan, serta ketegasan dalam mengambil keputusan.

Kilas Balik: Tertatih di Bengkel, Bertumbuh di Organisasi

Mas Kristo, yang berasal dari Bintaro dan bersekolah di SMA Pangudi Luhur Brawijaya, pada awalnya mendapatkan rekomendasi dari kerabat dan saudaranya untuk melanjutkan pendidikan di ATMI Solo. Namun, ia akhirnya memilih untuk datang dan menimba ilmu di ATMI Cikarang.

Masa transisi dari bangku SMA menuju pendidikan teknik sangat ia rasakan. Secara teori, ia merasa masih mampu mengikuti pelajaran, tetapi ia sempat merasa down karena mengalami kesulitan mengikuti proses pembelajaran praktik di bengkel.

Menyadari keterbatasannya dalam praktik di bengkel, Mas Kristo justru memilih untuk mengembangkan kemampuannya di bidang organisasi. Perjalanan tersebut akhirnya membawanya terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa.

Pengalamannya selama praktik di bengkel pun menyisakan banyak kenangan yang tidak terlupakan. Ia kerap mendapatkan kompensasi (kompen) hingga mengumpulkan total 287 jam.

Salah satu momen yang paling berkesan terjadi ketika ia sedang menjalani praktik Bench Work (BW). Ia pernah tidak sengaja “menerbangkan” benda kerja karena lupa mengencangkan ragum (vice).

Dari berbagai pengalaman tersebut, Mas Kristo menyadari satu prinsip penting:

“Jika kita melakukan perintah dengan ‘tepat’, maka proses yang akan dikerjakan akan sukses.”

Bagi Mas Kristo, pengalaman di bengkel bukan sekadar tentang kemampuan teknis, tetapi juga tentang belajar dari kesalahan, memahami konsekuensi, dan membangun ketelitian dalam setiap proses.

Nilai ATMI di Dunia Kerja: Kejujuran dan Mental Petarung

Saat menjalani masa magang, Mas Kristo mulai memikirkan langkah yang akan diambil setelah lulus. Ia akhirnya memutuskan untuk langsung bekerja, dengan PT Sanova yang bergerak di bidang chemical sebagai tempat kerja pertamanya.

Di dunia kerja, nilai-nilai ATMI yang paling mendasar, terutama kejujuran dan mental, sangat ia rasakan manfaatnya. Bagi Mas Kristo, memiliki “mental” berarti berani mengambil risiko dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai hal yang ada di lingkungan sekitar.

Jika seseorang sudah memiliki tujuan, menurutnya, ia harus terus berjuang melakukan berbagai upaya untuk mencapainya. Ia juga meyakini bahwa apa pun yang dilakukan pada akhirnya akan membawa hasil yang baik selama seseorang mau terus berusaha dan mulai mengurangi kebiasaan mengeluh.

Setelah bekerja selama kurang lebih dua tahun di PT Sanova, Mas Kristo berpindah ke Bumi Mulia sebagai Technical Trainer dan kemudian dipromosikan menjadi Management Trainee. Meski mendapatkan banyak rekan baru di sana, ia sempat menghadapi dinamika internal. Semangat kerjanya mulai menurun karena ia kerap membandingkan dirinya dengan orang lain.

Mencari lingkungan yang lebih sesuai dengan dirinya, ia kemudian melanjutkan karier ke Unggul Semesta di divisi Sales and Marketing. Di sinilah ia seolah menemukan passion-nya, yaitu bertemu dengan rekan-rekan baru dan berinteraksi dengan customer.

Namun, menawarkan produk robot bukanlah perjalanan yang mudah. Ia mendapatkan tentangan dari sejumlah senior yang khawatir pekerjaan mereka akan tergantikan. Beruntung, melalui proses mediasi yang berkelanjutan, kendala tersebut akhirnya dapat diatasi dengan baik.

Kini, Mas Kristo dipercaya berkarya di UNICAM Indonesia.

Dari perjalanan kariernya, ia menekankan pentingnya memiliki gambaran mengenai apa yang ingin dilakukan setelah lulus. Menurutnya, kita perlu memiliki “peta” yang dapat menjadi penuntun menuju tujuan.

Di luar kemampuan teknis, ia juga sangat bersyukur atas relasi dan pertemanan yang diperoleh selama berada di ATMI. Baginya, memiliki banyak teman dapat menghadirkan kebahagiaan tersendiri, terutama ketika kehidupan dan pekerjaan sedang berada dalam kondisi sulit.

Diskusi Interaktif

Sesi tanya jawab malam itu berlangsung sangat interaktif dan sarat makna. Para mahasiswa antusias menggali pengalaman serta pandangan Mas Kristo mengenai dunia kerja dan kehidupan setelah lulus.

Boni, mahasiswa angkatan 2023, menjadi salah satu peserta yang mengajukan pertanyaan mengenai bagaimana cara survive di dunia industri hanya dengan mengandalkan gelar Diploma 3.

Mas Kristo menjawab dengan lugas bahwa dirinya saat ini belum memikirkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1 karena yang terpenting baginya adalah terus survive dan berkembang dalam dunia kerja.

“Apa yang didapat dari ATMI masih cukup untuk melanjutkan di dunia industri. Jika ingin melanjutkan S1 tidak apa-apa, tetapi yang terpenting harus tahu untuk apa gelar itu didapatkan,” tegasnya.

Selanjutnya, Eric, mahasiswa angkatan 2023, mengajukan pertanyaan mengenai batas antara mengeksplorasi keingintahuan dan mematuhi instruksi, serta dampaknya di tempat kerja.

Menanggapi hal tersebut, Mas Kristo menyarankan agar seseorang terlebih dahulu memikirkan dampak dari eksplorasi yang ingin dilakukan.

“Jika sudah yakin dapat bertanggung jawab atas apa yang dikerjakan, maka kita boleh melakukannya,” paparnya.

Di satu sisi, ia juga menegaskan bahwa proses eksplorasi tetap diperlukan agar seseorang dapat terus mengikuti perkembangan industri yang berlangsung dengan cepat.

Gracia, mahasiswi angkatan 2023, kemudian bertanya mengenai cara terbaik untuk menemukan tujuan hidup setelah lulus.

Berdasarkan pengalamannya, Mas Kristo menyarankan untuk berfokus pada “aksi” nyata.

“Yang penting mulai saja dulu. Kita harus mencoba kesempatan yang datang kepada kita dan kita lakukan dengan ikhlas,” jawabnya.

Sebagai penutup sesi diskusi, Mario, mahasiswa angkatan 2022, melontarkan sebuah pertanyaan eksistensial: Apa itu sukses, dan apakah Mas Kristo sudah mencapainya?

Dengan sederhana dan membumi, Mas Kristo menjawab:

“Sukses itu adalah bisa hidup tanpa merepotkan orang lain.”

Sejauh ini, ia bersyukur karena merasa telah berhasil mencapai definisi kesuksesan tersebut.

Pesan Penutup: Menghadapi Masalah dan Makna Melayani

Mengakhiri acara malam itu, Mas Kristo mengingatkan seluruh peserta bahwa masalah akan selalu hadir dalam kehidupan.

“Jika tidak ada masalah dalam hidup, maka sama dengan mati. Masalah itu harus dihadapi,” tegasnya.

Ia juga membagikan pandangannya bahwa ia tidak percaya pada keberuntungan semata. Menurutnya, segala sesuatu dalam kehidupan juga berkaitan dengan timing. Jika ingin maju, seseorang harus siap melakukan atau mengorbankan sesuatu.

Keberuntungan tidak akan datang dengan sendirinya jika kita tidak berani bertindak dan mengambil keputusan.

 

“Jika kita tidak membidik sesuatu, maka kita tidak akan mendapatkan apa yang kita inginkan,”

Kalimat tersebut menjadi penutup sekaligus pengingat bagi setiap mahasiswa untuk berani menentukan arah dan memiliki tujuan yang ingin dicapai.

Mas Kristo juga memberikan apresiasi kepada para mahasiswa yang hadir. Menurutnya, keberadaan mereka di titik saat ini merupakan sebuah pencapaian tersendiri. Perjalanan yang sedang dijalani merupakan bagian dari proses untuk terus bertumbuh dan menemukan arah kehidupan.

Sesi Arrupe Insight malam itu kemudian dilengkapi dengan refleksi penutup dari Romo Doni. Beliau berpesan kepada para mahasiswa bahwa wajar jika saat ini mereka belum dapat membayangkan secara jelas apa yang akan terjadi di masa depan.

“Syukuri aja apa yang sedang dilakukan sekarang. Tapi yang penting adalah tekun dan setia,” ujar Romo Doni.

Sebagai penutup, beliau juga menyampaikan pesan mendalam bagi para mahasiswa yang kelak akan terjun ke dunia industri:

“Bekerja itu juga melayani. Lihatlah makna dari seluruh kerja keras yang kita lakukan.”

Pesan tersebut menjadi penutup yang selaras dengan semangat Arrupe Insight: bahwa perjalanan pendidikan bukan hanya tentang mempersiapkan seseorang untuk bekerja, tetapi juga membentuk pribadi yang berani mengambil keputusan, mampu bertahan dalam tekanan, memiliki arah hidup, dan mampu memaknai pekerjaan sebagai bentuk pelayanan.

Berani membidik tujuan. Berani mengambil langkah. Berani menghadapi proses. Karena tanpa keberanian untuk menentukan arah, kita tidak akan pernah tahu sejauh mana kita dapat melangkah.

Penulis:
Divisi KMK Arrupe IGNITE

Comments are closed.