Pada Kamis malam, 6 November 2025, ruang diskusi kembali hangat melalui kegiatan Arrupe Insight. Dipandu oleh Yeni dan Anton sebagai pembawa acara, kegiatan yang dimulai pada pukul 19.10 WIB ini menghadirkan sosok inspiratif, Angga Limanggus, atau yang akrab disapa Mas Angga, alumni Politeknik Industri ATMI Cikarang angkatan ke-5.
Melalui kisah dan pengalamannya, Mas Angga mengajak para mahasiswa untuk melihat bahwa daya tahan dalam menghadapi masa-masa sulit merupakan salah satu fondasi penting dalam membentuk pribadi dan pemimpin yang tangguh.
Kilas Balik: Dari Menjaga Warung hingga Menahan Lapar
Perjalanan Mas Angga menuju ATMI Cikarang tidaklah mudah. Berasal dari Karanganyar, Surakarta, ia lahir dan tumbuh dalam keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Ketika menyadari bahwa orang tuanya mengalami kesulitan untuk membiayai pendidikan, sempat muncul gejolak dalam dirinya. Ia bahkan bersikukuh untuk tetap tinggal di rumah dan membantu menjaga warung keluarga.
Namun, dorongan kuat dari orang tuanya yang sangat menginginkannya melanjutkan pendidikan membuat Mas Angga mencoba mengikuti program beasiswa. Pilihan tersebut akhirnya membawanya melangkah menuju Politeknik Industri ATMI.
Meski sempat ditolak di ATMI Solo, ia akhirnya diterima di ATMI Cikarang pada 2007 dan menyelesaikan pendidikannya pada 2010. Masa-masa awal perkuliahannya penuh dengan tantangan dan air mata. Sebagai mahasiswa rantau yang jauh dari keluarga, ia tidak mendapatkan kiriman uang sehingga harus berpindah-pindah tempat tinggal dengan menumpang di kos teman-temannya.
Dengan Indeks Prestasi (IP) sebesar 2,4, Mas Angga mengaku rajin mendaraskan doa Rosario untuk menguatkan diri ketika berada di titik hampir menyerah pada keadaan.
Salah satu titik terendah yang sangat membekas dalam hidupnya adalah ketika ia pernah tidak makan sama sekali selama dua hari berturut-turut. Beruntung, sang kakak yang saat itu bekerja di Karawang datang menjenguk dan memberinya uang sebesar Rp10.000 untuk membeli makanan. Mas Angga menyantap makanan tersebut sambil berderai air mata.
Namun, pengalaman tersebut justru semakin menguatkan tekadnya. Ia memaksakan diri untuk terus bertahan menempuh pendidikan di ATMI Cikarang karena satu alasan yang sangat kuat: tidak ingin merepotkan orang lain.
Membentuk Karakter Kepemimpinan di Luar Kelas
Menyadari bahwa kompetensi teknis saja tidak cukup, Mas Angga meyakini bahwa karakter tidak hanya dibentuk di dalam ruang kelas, tetapi juga melalui berbagai pengalaman di luar lingkungan akademik.
Rekam jejak organisasinya cukup panjang. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa, Ketua Orang Muda Katolik (OMK), anggota Komunikasi Sosial (Komsos) Gereja, hingga kini dipercaya menjadi ketua lingkungan.
Dari berbagai pengalaman tersebut, ia memetik pelajaran bahwa keterlibatan dalam berbagai kegiatan di luar kampus menjadi salah satu sarana penting untuk mengasah soft skills, kemampuan beradaptasi, serta jiwa kepemimpinan.
Baginya, pengalaman berorganisasi memberikan ruang bagi seseorang untuk belajar menghadapi berbagai karakter, mengambil keputusan, berkomunikasi, serta bertanggung jawab terhadap orang lain.
Realitas Dunia Kerja: Pemimpin, Integritas, dan Pekerja yang Bertahan
Setelah lulus, Mas Angga sempat mengabdi sebagai pengajar di ATMI Cikarang dari 2010 hingga 2014. Ketika akhirnya memutuskan untuk melamar pekerjaan di industri, ia sempat mengalami kebingungan dalam menentukan arah karier. Hingga akhirnya, ia bertemu dengan seorang alumni ATMI Solo yang memberinya kesempatan untuk bekerja di perusahaan tersebut.
Mas Angga mengungkapkan rasa syukurnya karena pernah menempuh pendidikan di ATMI Cikarang. Menurutnya, lulusan ATMI Cikarang memiliki kedekatan yang kuat dengan dunia industri dan kebutuhan pengguna tenaga kerja. Hal tersebut menjadi salah satu keunggulan yang memberikan peluang luas bagi mahasiswa untuk berkembang dan berkarier.
Di tempat kerja barunya, Mas Angga kemudian menghadapi salah satu ujian kepemimpinan yang paling berat. Ketika mengemban jabatan sebagai pemimpin dan memimpin sebuah tim, ia menyadari bahwa sebagian besar anggota timnya ternyata tidak menyukai kehadirannya. Dampaknya cukup besar: 13 dari 15 anggota tim memilih untuk mengundurkan diri.
Menghadapi situasi tersebut, Mas Angga mengambil jeda untuk menenangkan diri melalui examen, kemudian melakukan refleksi dan berpegang pada sebuah prinsip:
“Situasi apa pun yang dihadapi adalah baik. Apakah orang lain dapat menerima hal itu atau tidak, itu terserah mereka yang ingin keluar atau bertahan.”
Kepedulian kemudian ia arahkan kepada mereka yang memilih untuk bertahan. Mas Angga berkomitmen untuk berusaha sebaik mungkin agar kehidupan para pekerja yang tetap bersamanya dapat semakin sejahtera.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting baginya bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang posisi atau kewenangan, tetapi juga tentang bagaimana seorang pemimpin mampu bertahan, berefleksi, dan bertanggung jawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya.
Diskusi Interaktif
Sesi malam itu semakin hidup ketika memasuki ruang diskusi. Beberapa mahasiswa antusias menggali wawasan dan pengalaman langsung dari Mas Angga.
Kukuh, mahasiswa angkatan 2023, membuka sesi dengan pertanyaan mengenai soft skills yang paling banyak digunakan di dunia kerja dan bagaimana cara melatihnya.
Mas Angga menjawab bahwa seseorang harus selalu siap untuk menjadi pemimpin dan mampu berhadapan dengan berbagai karakter manusia.
“Yang paling hebat adalah saat ada orang yang bisa kita ubah, yang awalnya tidak suka dengan kita, pada akhirnya menjadi hormat kepada kita,” ujarnya.
Selanjutnya, Eric, mahasiswa angkatan 2023, mengajukan pertanyaan reflektif mengenai bagaimana seharusnya kita bersikap ketika melihat seseorang yang berusaha lebih sedikit tetapi justru mendapatkan hasil yang lebih baik.
Menanggapi pertanyaan tersebut, Mas Angga mengingatkan bahwa dalam kehidupan selalu ada hal yang adil dan tidak adil. Namun, pada akhirnya, semuanya kembali pada bagaimana seseorang memilih untuk menghadapi dan memaknainya.
Pertanyaan berikutnya datang dari Rein, mahasiswa angkatan 2022, yang menanyakan cara untuk terus bertahan di ATMI ketika menghadapi keadaan yang sangat tidak menyenangkan.
Menurut Mas Angga, sikap dan pembawaan dalam diri merupakan hal yang sangat penting, disertai dengan tujuan spesifik yang ingin dicapai. Seseorang perlu memiliki pola pikir bahwa hidup tidak sekadar tentang bekerja, tetapi juga tentang memiliki mimpi dan tujuan untuk membuat orang lain menjadi lebih baik melalui apa yang dikerjakan.
Pertanyaan terakhir disampaikan oleh Andrian, mahasiswa angkatan 2021, yang menanyakan strategi untuk menggerakkan hati para anggota agar bersedia aktif mengikuti kegiatan dalam organisasi non-profit.
Mas Angga menjelaskan bahwa pekerjaan dapat terbagi menjadi dua, yaitu pekerjaan yang lebih banyak membutuhkan hard skills dan pekerjaan yang membutuhkan soft skills. Keduanya sama-sama penting dan memiliki perannya masing-masing.
Dalam sebuah organisasi, menurutnya, wajar apabila tidak semua orang merasa nyaman atau menyukai setiap kegiatan yang dilakukan. Namun, fokus utama harus tetap diarahkan pada goal, yaitu membawa anggota menuju kehidupan yang lebih baik.
Ia juga mengingatkan bahwa hasil dari perjuangan dalam organisasi non-profit mungkin tidak selalu terlihat secara langsung dan tidak selalu berbentuk materi. Namun, kebaikan yang dilakukan akan memberikan dampak dan kembali kepada diri kita pada waktunya.
Pesan Penutup: Beranilah Bermimpi
Menutup perbincangan, Mas Angga membagikan sebuah pesan yang tajam sekaligus menyemangati para mahasiswa yang sedang berjuang:
“Mimpi itu gratis, entah sebesar apa pun itu. Dan mungkin orang akan tertawa, tapi apa yang dirasakan, itu semua tergantung pada kita.”
Ia menambahkan bahwa setelah menentukan tujuan akhir atau mimpi, seseorang perlu menghitung dan merencanakan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapainya.
“Kita bisa memulai dari posisi mana pun, tetapi yang terpenting adalah hasil akhir kita bisa menjadi apa. Harus merasa beruntung kuliah di ATMI Cikarang. Selalu jadi orang baik, dan kita dapat mengubah orang lain menjadi lebih baik lagi.”
Kisah Mas Angga menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu dimulai dari kondisi yang ideal. Terkadang, seseorang harus melewati keterbatasan, kegagalan, penolakan, bahkan masa-masa ketika harus berjuang untuk sekadar bertahan.
Namun, dari situlah daya tahan, karakter, dan kepemimpinan ditempa.
Mimpi memang gratis. Namun, untuk mewujudkannya dibutuhkan keberanian untuk memulai, ketekunan untuk bertahan, dan kemauan untuk terus bertumbuh serta memberikan dampak bagi orang lain.
Penulis:
Divisi KMK Arrupe IGNITE

