WhatsApp Image 2026-04-10 at 10.43.50

Perayaan Ekaristi Paskahan Civitas dan Pelantikan Pengurus Senat Baru

Pada Jumat, 10 April 2026, Civitas Akademika Politeknik Industri ATMI Cikarang menyelenggarakan perayaan ekaristi bersama dalam rangka Paskah 2026 yang sekaligus dirangkai dengan serah terima jabatan pengurus senat lama ke pengurus baru serta pelantikan kepengurusan Senat Mahasiswa baru. Perayaan ini menjadi bagian dari tradisi tahunan sebagai warga komunitas yang berakar pada pedagogi Ignatian sekaligus momentum untuk memperteguh dan memperbarui semangat serta komitmen dalam kehidupan bersama. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Romo Ch. Kristiono Puspo, SJ sebagai selebran utama, didampingi Romo T. Agus Sriyono, SJ sebagai konselebran yang juga membawakan homili. Perayaan ekaristi dihadiri para mahasiswa, dosen dan instruktur, alumni, umat umum, serta perwakilan dari PT. ATMI dengan iringan koor dari Balthasar Choir.

 

Dalam pengantar ekaristi, Romo Kris, SJ menyapa umat sekaligus memberikan salam dengan melontarkan sebuah adagium khas jesuit “Ite, Inflammate Omnia!” yang berarti Pergilah dan Kobarkanlah Dunia! Melalui sapaan ini, umat  diajak untuk menjadi pribadi yang berani memantik dan jadi pemantik api kehidupan di tengah dunia yang terluka ini. Dalam homilinya, Romo Agus, SJ menawarkan sebuah refleksi atas perayaan paskah atau merefleksikan paskah sebagai intervensi ilahi berhadapan dengan ketidakberdayaan manusia. Ia menegaskan bahwa umat manusia itu punya sisi lemah atau tidak berdaya bahkan seorang imam pun juga demikian. Romo Agus, SJ menyebutkan bahwa salah satu efek perkembangan teknologi dan jaman dengan adanya handphone atau gadget semua bisa terdistrak atau fokus ke barang kecil itu. Misal, dalam perkuliahan mahasiswa jaman sekarang tidak membiasakan untuk mencatat tetapi memfoto saja slide ppt. “tapi setelah itu ya tidak dibaca lagi,” candanya. Dari salah satu contoh itu, Romo Agus, SJ mau mengatakan bahwa sering kali kita mempunyai niat yang baik tapi sering pula kita lemah dalam pelaksanaan. Romo Agus, SJ menegaskan bahwa paskah itu merupakan ajakan untuk kita percaya pada Allah yang bekerja dalam keterbatasan manusia.

Romo Agus, SJ juga kembali menyerukan “Ite, Infalammate Omnia!” khusus untuk para pengurus senat yang baru agar mau dan berani memantik keaktifan para mahasiswa serta memberikan dampak nyata. Setelah homili, perayaan ekaristi dilanjutkan dengan prosesi serah terima jabatan dan pelantikan pengurus senat baru. Estafet kepemimpinan dari kepengurusan yang lama di bawah pimpinan Sdr. Kristoforus Anggitya Luhung dan Sdr. Alexander Budianto secara resmi dilanjutkan oleh Sdr. Yuan Riveriano dan Sdr. Antonius Mikael Marcellius Noviar. Dalam suasana yang khidmat, para pengurus baru mengucapkan janji sebagai calon pengurus, menandai dimulainya tanggung jawab dan perutusan mereka dalam melayani komunitas.

Di akhir perayaan ekaristi, Romo Kris, SJ sebagai selebran utama kembali menegaskan seruan “Ite, Inflammate Omnia!” sebagai ajakan bersama untuk terus memantik api kehidupan dan memberikan dampak positif dalam kehidupan bersama. Seruan ini menjadi peneguhan bahwa perayaan Paskah tidak berhenti pada liturgi, melainkan berlanjut dalam tindakan nyata sehari-hari. Perayaan Ekaristi ditutup secara khidmat dan megah dengan iringan lagu Hallelujah karya Handel yang dibawakan oleh Balthasar Choir.

Salam, Ad Maiorem Dei Gloriam. 

(HM/CampusMinistry)

WhatsApp Image 2026-04-11 at 13.46.19

“Belajar Menang Bersama: Membangun Pola Pikir Win-Win” Leadership Program: Rekoleksi 7 Habits (Habit-4)

Rekoleksi bulanan menjadi bagian penting dalam perjalanan pembentukan karakter mahasiswa tingkat 1 yang tinggal di Dormitory Xaverius. Didampingi oleh para pamong serta tim Promoter of Leaders, mahasiswa/i angkatan 23 kembali berhenti sejenak untuk merefleksikan diri dan belajar bersama. Memasuki rekoleksi ke-6 yang dilaksanakan pada Jumat, 6 Maret 2026 hingga Minggu, 8 Maret 2026, mahasiswa/i kembali diajak menyelami makna Habit 4: Win-Win Solution tentang bagaimana belajar untuk tidak hanya menang sendiri, tetapi bertumbuh bersama.

Rekoleksi dimulai dengan sebuah ajakan yang sederhana namun menantang: melihat ke dalam diri sendiri. Bersama Rm. Kristiono Puspo, SJ, mahasiswa/i diajak menyadari bahwa akar dari setiap tindakan adalah integritas, yaitu kesatuan antara apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan.

Dalam proses belajar, bahkan di hal teknis seperti permesinan, pertanyaan utamanya bukan sekadar “bagaimana caranya”, tetapi “apakah aku sungguh memahami dan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan?”. Pada titik inilah integritas diuji.

Mahasiswa/i juga diajak masuk ke tahap berikutnya: kedewasaan, yaitu kemampuan untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi juga melihat pertumbuhan orang lain sebagai bagian dari keberhasilan bersama. Dari sini, lahirlah mentalitas abundance cara pandang yang tidak dilandasi rasa takut kekurangan, tetapi keyakinan bahwa semua orang bisa bertumbuh dan “cukup”.

Antara Kompetisi dan Kolaborasi: Belajar dari Realita

Melalui money games dan berbagai aktivitas kelompok, mahasiswa/i merasakan langsung dinamika antara kompetisi dan kolaborasi. Dalam permainan, seringkali terlihat bahwa “bandar tetap menang,” sebuah refleksi bahwa sistem tertentu bisa membuat sebagian pihak selalu tertinggal.

`Dari pengalaman ini, muncul kesadaran bahwa dunia nyata tidak hanya soal menjadi yang terbaik, tetapi juga tentang bagaimana kita bertumbuh bersama. Kolaborasi bukan berarti menghilangkan kompetisi, melainkan menempatkannya secara sehat, di mana proses saling membantu justru memperkuat hasil akhir.

Dari Rasa Takut ke Rasa Cukup

Salah satu refleksi penting dalam rekoleksi ini adalah tentang dua pola pikir: mentalitas kelangkaan dan mentalitas kelimpahan.

Ketika seseorang hidup dalam rasa takut seperti takut kalah, takut tersaingi, takut tidak cukup, maka keputusan yang diambil cenderung defensif, bahkan bisa merugikan orang lain. Sebaliknya, ketika seseorang merasa “cukup”, ia lebih mampu bersyukur, berbagi, dan membuka ruang bagi orang lain untuk berkembang.

Melalui refleksi hirarki kebutuhan Maslow, mahasiswa/i diajak bertanya secara jujur:
“Apakah aku sudah cukup?” Bukan untuk cepat menjawab, tetapi untuk benar-benar memahami posisi diri dalam perjalanan hidup masing-masing.

Memahami Cara Kita Berelasi: 6 Paradigma Interaksi Manusia

Dalam sesi berikutnya, mahasiswa/i dikenalkan pada 6 paradigma interaksi manusia, mulai dari win-lose, lose-win, hingga win-win or no deal. Hal yang menarik, tidak ada satu paradigma yang bisa langsung dilabelkan begitu saja dalam sebuah situasi. Sebuah konflik bisa terlihat seperti “menang-kalah”, namun jika dilihat lebih dalam, bisa jadi berubah menjadi “kalah-kalah” dalam jangka panjang.

Di sinilah pentingnya keseimbangan antara keberanian dan tenggang rasa. Menjadi pribadi win-win bukan berarti selalu mengalah, tetapi mampu mencari titik temu tanpa kehilangan prinsip.

Menjadi Pribadi Win-Win: Sebuah Kebiasaan, Bukan Kebetulan

Seluruh rangkaian rekoleksi mulai dari refleksi, permainan, materi, hingga kebersamaan dalam makrab dan kegiatan santai, mengarah pada satu benang merah: Bahwa menjadi pribadi win-win bukan sesuatu yang terjadi sekali jadi. Ia adalah kebiasaan yang dilatih setiap hari dalam cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan. Pada ruang Dormitory Xaverius, proses ini tidak berhenti di ruang rekoleksi. Justru di sanalah ia dimulai dalam kehidupan bersama, dalam konflik kecil sehari-hari, dan dalam pilihan-pilihan sederhana yang membentuk karakter.

🌱 Menang bersama bukan berarti semua menjadi sama, tetapi semua diberi ruang untuk bertumbuh.

Promoter of Leaders – Xaverius Dormitory

WhatsApp Image 2026-04-10 at 10.56.36 (2)

Merayakan Tri Hari Suci Paskah 2026 ala KMK Pedro Arrupe Jalan Kaki ‘ Camino’ dari Bekasi ke Kolese Kanisius

Secara fisik kami lelah tapi di saat bersamaan kami merasa penuh. Itulah yang dialami oleh para pendamping dan mahasiswa KMK Pedro Arrupe Politeknik Industri ATMI Cikarang dalam kegiatan yang bertajuk Camino “Bekasi to Canisius College” pada perayaan Tri Hari Suci tahun ini. Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan fisik dari satu titik ke titik lain, melainkan sebuah ziarah yang mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesamanya, dan dengan Tuhan yang hadir dalam pengalaman konkret. Pengalaman ini menghidupkan apa yang disebut sebagai contemplativus in actione atau sebuah cara beriman di mana kontemplasi tidak menjauh dari dunia, tetapi justru ditemukan di tengah tindakan, di tengah gerak, dan di tengah kehidupan yang nyata.

Berangkat dari pengalaman Camino tahun sebelumnya, penyelenggaraan kali ini terasa lebih matang, lebih terarah, dan lebih sadar akan tujuan reflektif yang hendak dicapai. Setiap detail dipersiapkan bukan hanya demi kelancaran acara, tetapi demi menciptakan pengalaman yang otentik dan transformatif. Bahkan medali yang dibuat dari daur ulang tutup botol oleh ATMI Recycle Studio menjadi simbol bahwa sesuatu yang tampak sederhana, bahkan terbuang, dapat diolah menjadi tanda makna dan pencapaian. Sejak awal, Camino ini telah mengundang para pesertanya untuk melihat hidup dengan cara yang baru dengan berbagai pengalamannya. 

Perjalanan Camino kali ini diawali dengan perayaan Ekaristi Kamis Putih yang dirayakan bersama di Aula Xaverius Dormitory. Ekaristi ini menjadi sebuah momen yang langsung menempatkan kami para peserta dalam pengalaman iman yang tidak biasa. Dalam ritus pembasuhan kaki, kami tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku yang saling membasuh kaki teman di sebelahnya sekaligus menghadirkan pengalaman konkret tentang kerendahan hati dan pelayanan. Dalam homilinya, Romo Kris, SJ mengajak semua yang hadir untuk tidak hanya melihat dengan mata, tetapi dengan hati dan batin yang peka. Ia menunjukkan sebuah karya Yesus memanggul salib yang terbuat dari bahan daur ulang, yang tampak indah dari satu sisi namun menyimpan ketidaksempurnaan (cacat produksi) di sisi lainnya. Dari sana, kami diajak menyadari bahwa hidup manusia pun demikian, penuh dengan sisi rapuh yang sering kali tersembunyi di balik tampilan luar. Pesan ini menjadi semacam kompas yang menemani perjalanan Camino yang akan segera dimulai. Setelah misa, suasana kebersamaan semakin diperteguh melalui makan malam dan bonding dalam kelompok kecil sekaligus menciptakan rasa aman dan keterhubungan sebelum memasuki perjalanan yang tidak mudah. Dengan semangat contemplativus in actione, momen-momen sederhana ini menjadi kontemplasi di mana relasi, tubuh, dan pengalaman menjadi jalan untuk menemukan makna yang lebih dalam.

Perjalanan Camino dimulai dengan dinamika yang tidak terduga yakni ketika hujan deras dan angin kencang sempat menunda keberangkatan kami menuju Stasiun Cikarang. Keterbatasan akses transportasi menjadi tantangan awal yang harus dihadapi bersama, menguji kesabaran sekaligus solidaritas di antara anggota kelompok. Namun justru dalam ketidaknyamanan itulah pengalaman mulai berbicara, mengajak kami untuk keluar dari zona nyaman dan masuk ke dalam realitas. Setibanya di Stasiun Bekasi, langkah kaki benar-benar kami mulai. Setiap langkah dan kelelahan menjadi pintu masuk menuju kesadaran diri. Dinamika kelompok pun mulai terlihat dengan jelas, menghadirkan wajah-wajah yang apa adanya. Ada yang berjalan cepat hingga tanpa sadar meninggalkan temannya, ada yang memilih berjalan pelan namun konsisten, dan ada pula yang mulai merasakan sakit ketika tubuh mencapai batasnya.

Di tengah segala dinamika, muncul pula momen-momen kecil yang justru menjadi sumber kekuatan yang tidak terduga. Tawa ringan, percakapan sederhana, dan kata-kata penyemangat menjadi penopang yang menjaga langkah tetap bergerak maju. Bahkan kalimat sederhana seperti “sedikit lagi sampai” menjadi bentuk harapan yang meskipun tidak selalu akurat, mampu menjaga semangat tetap menyala. Beberapa memilih berjalan berdua agar perjalanan terasa lebih ringan, sementara yang lain menemukan kekuatan dalam kebersamaan kelompok. Melalui pengalaman ini, nilai solidaritas tidak diajarkan sebagai konsep, tetapi dialami sebagai kenyataan yang menghidupkan. Camino memperlihatkan bahwa dalam perjalanan hidup, kita tidak pernah benar-benar berjalan sendiri, meskipun terkadang merasa demikian. Setiap orang membawa beban masing-masing, tetapi juga menjadi penopang bagi yang lain. Di hadapan kelelahan yang sama, kami menemukan bahwa kebersamaan adalah bentuk rahmat yang sering kali baru disadari ketika dibutuhkan. Dalam contemplativus in actione, relasi ini bukan sekadar interaksi sosial, melainkan ruang di mana Tuhan hadir melalui sesama yang berjalan bersama kita.

Setibanya di Kolese Kanisius, kami disambut dengan hangat oleh panitia dan para pendamping. Momen tersebut menegaskan bahwa setiap perjuangan dan perjalanan layak untuk dihargai. Medali yang dikalungkan dan jersey yang diberikan bukan sekadar simbol penyelesaian perjalanan, tetapi pengakuan atas proses yang telah dilalui dengan segala dinamika di dalamnya. Namun Camino tidak berhenti pada pencapaian fisik tersebut, melainkan berlanjut dalam proses refleksi yang menjadi inti dari pedagogi Ignatian. Pada Jumat Agung, setelah ibadat, para peserta diajak untuk masuk ke dalam sharing kelompok dan pleno, mengolah pengalaman yang telah kami jalani menjadi makna yang lebih dalam. Cerita-cerita yang muncul sangat beragam, mulai dari rasa syukur, kegembiraan, hingga kejengkelan terhadap dinamika kelompok yang tidak selalu mudah. Namun justru dari keberagaman itulah terlihat bahwa setiap orang mengalami Camino dengan cara yang unik dan personal. Pengalaman melihat “dunia malam” membuka mata kami terhadap realitas kehidupan yang lebih luas, menghadirkan rasa syukur yang sebelumnya mungkin tidak disadari. Dalam refleksi tersebut, kami yang menyadari bahwa rasa sakit yang kami alami hanyalah sebagian kecil dari penderitaan yang dialami Yesus dalam jalan salib-Nya.

Perjalanan ini mencapai puncaknya dalam perayaan Vigili Paskah yang dirayakan bersama di Sport Hall Kolese Kanisius.  Ekaristi ini menjadi momen yang merangkum seluruh pengalaman dalam terang kebangkitan Paskah. Dalam homilinya, Romo Kris mengajak semua umat yang hadir untuk tidak berhenti pada pengalaman dan refleksi semata, tetapi melangkah lebih jauh menuju aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dunia yang kita hidupi ini sedang terluka. Ia menekankan pentingnya pemulihan semesta yang dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab. Pesan ini menjadi peneguhan bahwa Camino bukanlah sebuah peristiwa yang selesai ketika langkah berhenti, melainkan sebuah cara hidup yang terus berlanjut. Semangat contemplativus in actione menyadarkan bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, dapat menjadi perjumpaan dengan Tuhan jika dijalani dengan kesadaran batin yang reflektif. Ketika kami kembali ke ATMI Cikarang, kami tidak hanya membawa kenangan, tetapi juga cara pandang baru terhadap hidup dan iman. Kami telah belajar bahwa iman tidak selalu hadir dalam momen besar dan spektakuler, tetapi justru dalam hal-hal sederhana yang dijalani dengan kesadaran penuh. Dalam setiap langkah yang lelah, dalam setiap tawa kecil di tengah perjalanan, dan dalam setiap keheningan batin yang muncul, kami menemukan bahwa Tuhan hadir secara nyata. Camino ini menjadi pengingat bahwa hidup itu sendiri adalah sebuah perjalanan, dan dalam perjalanan itu, kita selalu diundang untuk melihat lebih dalam, merasakan lebih jujur, dan berjalan bersama dengan penuh harapan. (HM-Campus Ministry)

Ad Maiorem Dei Gloriam.

Refleksi : Walking the wounded world 

IMG_0940

Mendahulukan yang Utama: Rekoleksi 7 Habits (Habit 3) Belajar Memilih Yang Paling Bermakna

Leadership Program: Rekoleksi Habit 3 “Dahulukan yang Utama”

Ada satu kebiasaan yang hampir dimiliki semua mahasiswa: sibuk. Jadwal penuh, tugas selesai, agenda berjalan. Dari luar semuanya tampak produktif. Namun jika ditanya dengan jujur, tidak jarang muncul perasaan yang sulit dijelaskan: mengapa rasanya lelah, tetapi tidak jelas lelah untuk apa?

Pertanyaan inilah yang menjadi titik awal Rekoleksi 7 Habits – Habit 3: Dahulukan yang Utama, yang diselenggarakan di Dormitory mahasiswa tingkat 1 Politeknik Industri ATMI pada 13–14 Februari 2026.

Program ini merupakan bagian dari Leadership Program pembentukan karakter mahasiswa, yang mengajak mahasiswa tidak hanya belajar mengatur waktu, tetapi juga memahami apa yang benar-benar penting dalam hidup mereka.

Ketika Hal Mendesak Selalu Menjadi Prioritas

Dalam sesi refleksi pembuka berjudul “Yang Utama Menunggu”, mahasiswa diajak melihat pola yang sangat manusiawi: kita hampir selalu merespons hal yang paling mendesak.

Pesan yang masuk langsung dibalas.
Tugas dengan deadline dikerjakan terlebih dahulu.
Hal yang menuntut perhatian segera otomatis menjadi prioritas.

Namun masalahnya, hal-hal yang benar-benar penting dalam hidup sering kali tidak datang dengan alarm.

Relasi yang perlu dirawat tidak selalu menuntut segera.
Nilai hidup tidak datang dengan notifikasi.
Arah hidup juga tidak memiliki tenggat waktu.

Akibatnya, semuanya terasa seperti “bisa nanti saja.”

Di sinilah paradoks kehidupan muncul: yang paling penting justru sering paling sering ditunda.

Seperti diingatkan oleh Viktor Frankl, manusia selalu hidup tertarik pada sesuatu yang memberinya makna. Namun tanpa disadari, cara kita mengatur hari sebenarnya sudah menunjukkan apa yang kita anggap penting. Apa yang kita dahulukan, lama-kelamaan akan membentuk siapa diri kita.

Manajemen Waktu atau Manajemen Hidup?

Dalam berbagai sesi rekoleksi, mahasiswa diperkenalkan dengan beberapa alat sederhana seperti:

  • To-do list

  • Skala prioritas

  • Perencanaan mingguan

  • Perencanaan bulanan

Sekilas semua ini tampak seperti teknik manajemen waktu biasa. Namun sebenarnya ada pertanyaan yang lebih mendasar di baliknya:

Waktu kita sedang dipakai untuk apa?

Konsep empat kuadran prioritas dari Stephen R. Covey membantu mahasiswa melihat pola hidup manusia. Banyak orang terjebak pada hal-hal yang mendesak, sementara hal-hal penting yang bersifat jangka panjang justru sering tertunda.

Salah satu ilustrasi yang digunakan dalam rekoleksi adalah botol, batu besar, dan pasir.

Jika pasir dimasukkan terlebih dahulu, batu besar tidak akan muat.
Namun jika batu besar dimasukkan terlebih dahulu, pasir masih dapat mengisi ruang yang tersisa.

Pesannya sederhana namun kuat: Jika hidup sudah penuh dengan “pasir”, jangan heran jika hal-hal besar tidak pernah mendapat tempat.

Kebebasan Memilih dan Tanggung Jawab Hidup

Salah satu sesi rekoleksi juga membahas tema yang cukup mendalam, yaitu pembedaan roh dalam spiritualitas Ignasian.

Intinya sederhana tetapi menantang: manusia itu bebas.

Kita bebas memilih untuk belajar, menunda tugas, tidur, makan, atau bahkan menghindari tanggung jawab. Namun setiap kebebasan selalu membawa konsekuensi. Pilihan kecil hari ini perlahan membentuk arah hidup kita.

Dalam tradisi spiritualitas Ignatian, latihan seperti Examen, refleksi, dan agere contra membantu seseorang mengenali gerak batin dalam dirinya.

Pendiri spiritualitas ini, Ignatius Loyola, pernah menulis:

“Bukan banyaknya pengetahuan yang memuaskan jiwa, melainkan merasakan dan mengecap sesuatu secara batin.”

Artinya, memahami hidup tidak cukup hanya melalui teori. Manusia perlu mengalaminya secara reflektif.

Mengapa Kita Sering Ikut Arus?

Salah satu bagian yang paling menarik dalam rekoleksi ini adalah permainan tentang konformitas sosial.

Melalui simulasi sederhana, mahasiswa melihat kenyataan yang cukup mengejutkan: manusia bisa ikut menjawab sesuatu yang salah hanya karena semua orang lain menjawab salah.

Fenomena ini berkaitan dengan dua kebutuhan dasar manusia:

  • ingin benar

  • ingin diterima

Kadang seseorang tahu sesuatu tidak tepat, tetapi tetap mengikuti arus karena tidak ingin menjadi orang yang berbeda.

Masalahnya, jika terlalu sering mengikuti arus, seseorang bisa menjalani hidup yang sebenarnya tidak pernah benar-benar dipilihnya sendiri.

Yang Paling Penting Tidak Pernah Berisik

Pada akhirnya, rekoleksi ini tidak menawarkan rumus hidup instan. Tidak ada jadwal ajaib yang membuat semua orang tiba-tiba disiplin.

Yang ditawarkan justru sesuatu yang lebih sederhana: kesadaran.

Kesadaran bahwa hidup tidak hanya diisi oleh apa yang kita lakukan, tetapi juga oleh apa yang kita pilih untuk didahulukan.

Karena dalam kenyataannya, hal-hal yang paling penting dalam hidup jarang berteriak. Ia tidak mendesak, tidak memaksa, dan tidak panik.

Ia hanya menunggu.

Kadang yang perlu kita lakukan hanyalah berhenti sejenak, melihat isi “botol” hidup kita, lalu memutuskan: batu mana yang sebenarnya perlu dimasukkan lebih dulu.

Valentine yang Berbeda di Dormitory ATMI

Tanggal 14 Februari sering identik dengan coklat, bunga, dan pesan singkat bertuliskan Happy Valentine’s Day. Namun di Dormitory Politeknik Industri ATMI, hari tersebut dirayakan dengan cara yang berbeda: melalui rekoleksi tentang prioritas hidup.

Alih-alih bertanya “siapa yang kita cintai?”, rekoleksi ini justru mengajak mahasiswa bertanya sesuatu yang lebih mendasar:

“Apa yang sebenarnya kita cintai dalam hidup kita?”

Kegiatan ditutup dengan sebuah sesi unik yaitu Candle Light Dinner—yang justru dilakukan pada siang hari.

Mahasiswa makan bersama dalam kelompok basis dengan suasana sederhana namun hangat, ditemani cahaya lilin yang memberi nuansa reflektif. Dalam momen tersebut, mahasiswa diajak berbagi pengalaman personal:

  • kapan mereka merasa sungguh dicintai

  • kapan mereka merasa telah mencintai orang lain

Percakapan sederhana ini membuka kesadaran bahwa cinta tidak selalu hadir dalam bentuk yang besar atau dramatis. Sering kali cinta muncul dalam hal-hal kecil: perhatian, kehadiran, dan kesediaan meluangkan waktu bagi orang lain.

Dari sana muncul satu refleksi yang jujur:

Apa yang kita cintai biasanya terlihat dari apa yang kita dahulukan.

Dan mungkin itulah pesan paling tenang dari rekoleksi ini:

Yang utama dalam hidup tidak pernah berisik—ia hanya menunggu untuk dipilih.

Promoter of Leaders Xaverius Dormitory

WhatsApp Image 2026-02-06 at 16.11.03

Rekoleksi Our Identity Sebagai Ruang Jeda dan Peneguhan Arah

Pada Jumat, 6 Februari 2026, Politeknik Industri ATMI Cikarang mengambil jeda yang tidak biasa. Di tengah ritme perkuliahan yang padat, setelah pekan ujian dan di sela special course, mahasiswa tingkat II dan III diajak berhenti sejenak dari dunia target, capaian, dan performa. Bukan untuk menambah materi kuliah, melainkan untuk kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar siapakah aku, dan bagaimana aku hadir di dunia? Rekoleksi singkat bertajuk “Our Identity” ini menjadi yang pertama bagi mahasiswa tingkat II dan III, sebuah tonggak baru dalam pembinaan manusia berkelanjutan di Polin ATMI. Di sinilah pendidikan vokasi berbasis Jesuit kembali menegaskan jati dirinya untuk mendidik manusia secara utuh, bukan sekadar mencetak tenaga terampil. Rekoleksi ini bukan ruang pelarian, melainkan ruang pendalaman sebagai tempat mahasiswa belajar mendengarkan hidupnya sendiri.

Sebagai institusi pendidikan tinggi vokasi yang berakar pada tradisi Jesuit School, Politeknik Industri ATMI memandang refleksi-rekoleksi sebagai bagian esensial dari proses belajar. Dalam spiritualitas Ignasian, refleksi bukan aktivitas tambahan, melainkan cara hidup finding God in all things. Mahasiswa tingkat I telah mengalami ritme refleksi-rekoleksi bulanan selama tinggal di dormitory, dengan fokus pada pertanyaan who am I? dan pendalaman Seven Habits Stephen Covey. Namun perjalanan pembentukan manusia tidak berhenti di tahun pertama. Oleh karena itu, Campus Ministry bersama Tim Kemahasiswaan menggagas rekoleksi bagi tingkat II dan III sebagai bentuk pendampingan yang berkelanjutan. Rekoleksi ini menjadi penanda bahwa perhatian pada dimensi batin mahasiswa tidak berakhir saat mereka meninggalkan asrama. Pendidikan manusia tetap berjalan, seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan tanggung jawab.

Tema Our Identity dipilih bukan tanpa alasan. Mahasiswa tingkat II dan III berada dalam fase hidup yang berbeda dari tahun pertama lebih sadar akan diri, mulai bergulat dengan pilihan, relasi, kegagalan, dan harapan. Identitas tidak lagi sekadar “siapa aku”, tetapi “bagaimana aku hidup, bertindak, dan mengambil sikap”. Karena itu, rekoleksi ini diarahkan pada pendalaman cara bertindak reflektif dan internalisasi nilai 4C 1L (competence, conscience, compassion, commitment, and leadership). Khusus bagi mahasiswa tingkat III, rekoleksi ini juga diberi aksen Man on Mission, sebagai persiapan batin menjelang masa magang dan perutusan ke dunia kerja. Identitas tidak berhenti pada pemahaman diri, tetapi menemukan arah dan tujuan hidup.

Secara teknis, peserta rekoleksi dibagi ke dalam tiga kelas yakni Tingkat II Program Studi Mesin Industri, Tingkat II Program Studi Manajemen Industri yang digabung dengan Teknologi Rekayasa Mekatronika, serta Tingkat III Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika. Meskipun berada dalam kelas yang berbeda, seluruh sesi dirancang dalam kerangka yang sama. Rekoleksi ini menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry, sebuah metode yang menekankan kekuatan, pengalaman hidup, dan harapan. Metode ini tidak diperkenalkan secara teoritis kepada mahasiswa, tetapi dihadirkan secara implisit melalui alur sesi. Empat tahap (Discover, Dream, Design, Destiny) diterjemahkan ke dalam pengalaman konkret yang dekat dengan dunia mahasiswa. Dengan cara ini, refleksi tidak terasa abstrak, melainkan kontekstual dan personal.

Sesi pertama menjadi pintu masuk yang hening dan personal. Seluruh peserta, dari ketiga kelas, diajak membaca artikel yang sama berjudul “Aku Dikasihi–Dicintai”, sebuah refleksi yang terinspirasi dari buku The Art of Loving karya Erich Fromm. Bacaan ini tidak disajikan sebagai materi akademik, melainkan sebagai teks reflektif yang dibaca dalam suasana silentium terbatas, menyerupai praktik Lectio Divina. Mahasiswa membaca perlahan, berhenti ketika menemukan kalimat yang “menempel”, lalu diam untuk membiarkan perasaan dan pikiran hadir. Dalam keheningan itu, teks menjadi cermin pengalaman hidup. Banyak mahasiswa menyadari bahwa berbicara tentang cinta ternyata tidak sesederhana yang mereka bayangkan.

Artikel tersebut mengajak peserta menyelami tema-tema mendasar antara lain trauma of birth, pengalaman dicintai, dan pemahaman cinta sebagai sebuah seni. Bagi sebagian mahasiswa, kata-kata dalam teks itu beresonansi dengan luka masa lalu, relasi keluarga, atau dinamika cinta yang sedang mereka jalani. Setelah membaca, peserta diminta menuliskan satu kalimat yang paling menyentuh serta merefleksikan apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Proses ini sederhana, tetapi dampaknya nyata. Tidak sedikit mahasiswa yang mengaku mendapatkan cara pandang baru tentang cinta bukan sebagai sesuatu yang instan, melainkan sebagai proses belajar, merawat, dan bertumbuh. Di titik ini, sesi Discover dan Dream mulai bekerja secara halus dan tidak langsung.

Sesi kedua membawa peserta masuk lebih jauh ke dalam kisah hidupnya masing-masing. Metode yang digunakan berbeda di setiap kelas, tetapi tujuannya sama untuk membantu mahasiswa mengenali diri secara lebih jujur dan mendalam. Di kelas Mesin Industri Tingkat II, sesi ini dinamai My Mindmap. Mahasiswa diajak mengenali figur-figur berpengaruh dalam hidupnya, talenta yang dimiliki, serta gambaran diri yang mereka sadari selama ini. Semua itu diekspresikan dalam bentuk mindmap yang dilengkapi simbol-simbol personal. Proses visual ini membantu mahasiswa melihat dirinya secara utuh, bukan sekadar potongan-potongan pengalaman.

Di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, sesi kedua diberi nama Life Investigation. Dengan pendekatan metafora seorang detektif, mahasiswa diajak menelusuri pola-pola hidup, keputusan penting, serta figur yang membentuk perjalanan mereka. Namun yang membedakan sesi ini adalah sudut pandang syukur. Mahasiswa tidak hanya diminta mengenali peristiwa, tetapi juga memaknainya dengan rasa terima kasih bahkan atas pengalaman yang tidak selalu menyenangkan. Proses ini membuka kesadaran bahwa identitas dibentuk bukan hanya oleh keberhasilan, tetapi juga oleh kegagalan dan keterbatasan. Di sinilah refleksi mulai bersentuhan dengan kedewasaan.

Untuk kelas TRM Tingkat III, alur sesi sedikit dimodifikasi. Sesi pertama diawali dengan perkenalan yang unik dengan menyebutkan fun fact tentang diri disertai gerakan. Dinamika ini mencairkan suasana sekaligus membuka sisi lain dari diri dan sesama yang jarang terlihat di ruang kelas. Baru pada sesi kedua, peserta diajak membaca teks “Aku Dikasihi–Dicintai”. Urutan ini membantu mahasiswa tingkat akhir memasuki refleksi dengan kesiapan emosional yang lebih terbuka. Mereka tidak hanya membaca teks, tetapi membacanya dari ruang relasi yang sudah terbangun.

Sesi ketiga dan keempat merupakan turunan dari tahap Design dan Destiny dalam Appreciative Inquiry. Di kelas Mesin Industri Tingkat II, setelah menyelesaikan mindmap, mahasiswa diajak mengikuti Peer Walk. Dalam sesi ini, mahasiswa berpasangan dan berjalan bersama sambil mengontemplasikan pengalaman hidup dan cinta secara empatik. Peer Walk menjadi latihan nyata kontemplasi empatik untuk belajar mendengarkan tanpa menghakimi, hadir tanpa memberi solusi. Banyak mahasiswa menyadari bahwa didengarkan dengan sungguh adalah pengalaman yang menyembuhkan. Empati tidak diajarkan lewat teori, tetapi dialami secara langsung.

Di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, kontemplasi empatik dilakukan dalam kelompok kecil berisi tiga orang. Setiap peserta bergantian berperan sebagai pencerita, pendengar aktif, dan pendengar pasif. Dinamika ini melatih keterampilan mendengarkan, melakukan probing, dan paraphrase seperti sebuah latihan menjadi konselor awam. Prinsipnya sederhana yakni we listen, we don’t judge. Mahasiswa belajar bahwa kehadiran yang penuh perhatian sering kali lebih bermakna daripada nasihat. Latihan ini menumbuhkan kepekaan sosial dan belas kasih sebagai bagian dari identitas diri.

Di kelas TRM Tingkat III, sesi ketiga dikemas dalam aktivitas Life Graph dan simbol diri. Mahasiswa diajak memetakan perjalanan hidupnya dalam bentuk grafik, dari masa lalu hingga saat ini. Melalui visualisasi ini, peserta diajak menemukan pola, titik balik, dan momen penting yang membentuk diri mereka. Lebih dari itu, mereka diajak melihat kembali jejak Tuhan dalam setiap fase hidup. Aktivitas ini membantu mahasiswa tingkat akhir memaknai perjalanan panjang yang telah mereka lalui sebelum melangkah ke fase baru.

Sesi keempat menjadi puncak rekoleksi yakni tentang perumusan diri. Di kelas Mesin Industri Tingkat II dan TRM Tingkat III, perumusan ini dikaitkan dengan Latihan Rohani 23 tentang asas dan dasar. Mahasiswa diajak mengenali prinsip-prinsip hidup yang menjadi fondasi tindakan mereka. Identitas diri dirumuskan dalam kaitannya dengan nilai 4C 1L, bukan sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai arah hidup yang konkret. Sementara itu, di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, mahasiswa diajak mendalami self-concept. Mereka merefleksikan aspek diri yang sudah kuat dan yang masih perlu dikembangkan dalam terang Our Identity 4C 1L.

Sebagai penutup, seluruh peserta menuliskan refleksi jurnal secara utuh atas pengalaman rekoleksi dari pagi hingga sore hari. Refleksi ini menggunakan kerangka Pedagogi Ignasian untuk mengenali gerak batin, mensyukuri pengalaman, menemukan makna, dan merumuskan kehendak atau aksi ke depan. Menulis menjadi ruang dialog batin, tempat mahasiswa menyusun kembali pengalaman yang telah mereka jalani. Tidak ada jawaban benar atau salah, hanya kejujuran pada diri sendiri. Sarana yang digunakan membantu mahasiswa berdamai dengan dirinya dan berani melangkah.

Dengan terselenggaranya rekoleksi tingkat II dan III ini, Politeknik Industri ATMI menegaskan komitmennya pada pendampingan manusia secara berkelanjutan. Perhatian pada dimensi batin tidak hanya menjadi hak mahasiswa dormitory, tetapi dialami oleh seluruh mahasiswa. Rekoleksi ini juga membuka jalan bagi pengembangan kurikulum pendidikan manusia yang lebih utuh dan berkesinambungan. Rekoleksi menjadi ruang jeda, ruang napas, sekaligus ruang peneguhan arah hidup. Harapannya, setiap mahasiswa semakin mengenal dirinya, sesamanya, dan panggilan hidupnya. (HM-Campus Ministry) 

Ad Maiorem Dei gloriam.

 

Refleksi peserta : (Rekoleksi Our Identity) 

WhatsApp Image 2026-02-05 at 10.57.18

Rekoleksi Habit 1 & Habit 2: See, Judge, Act Leadership Program Xaverius Dormitory: Menjadi Proaktif dan Merujuk pada Tujuan Akhir

Politeknik Industri ATMI melalui Xaverius Dormitory kembali menyelenggarakan Rekoleksi pada Bulan Januari tanggal 9–11 Januari 2026 di Aula Loyola bagi mahasiswa/i Tingkat 1. Kegiatan ini menjadi bagian dari Leadership Program yang bertujuan membentuk karakter mahasiswa agar lebih proaktif dan memiliki arah hidup yang jelas.

Dalam rekoleksi ini, mahasiswa mendalami Habit 1 (Be Proactive) dan Habit 2 (Begin with the End in Mind) dari buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey. Kedua habit ini diperkenalkan sebagai bekal untuk membangun kesadaran diri, tanggung jawab pribadi, serta perencanaan hidup yang terarah.

Selama tiga hari, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga menjalani proses refleksi secara menyeluruh—mulai dari cara memandang realitas, merespons situasi, hingga merancang tujuan hidup secara konkret.

Satu Realitas, Banyak Cara Pandang

Rekoleksi diawali dengan sesi pembuka yang mengajak peserta menyadari bahwa satu realitas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Melalui contoh visual dan diskusi kelompok, peserta memahami bahwa perbedaan pandangan tidak selalu berkaitan dengan benar atau salah, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman hidup masing-masing.

Kesadaran ini menjadi pintu masuk untuk memahami Seven Habits, bahwa perubahan sejati berawal dari dalam diri, bukan dari situasi di luar. Peserta diajak untuk lebih terbuka, tidak reaktif, serta berani menunda penilaian.

Habit 1 – Proaktif: Hening Sebelum Bertindak

Pada sesi Habit 1 (Be Proactive), peserta diajak membedakan sikap reaktif dan proaktif. Sikap reaktif ditandai dengan respons yang dikuasai emosi, pikiran yang “berisik”, dan kecenderungan mendramatisasi keadaan. Banyak peserta menyadari bahwa mereka sering menjadi “sutradara” atas pikiran dan perasaan sendiri.

Melalui latihan hening dan refleksi, peserta belajar mengambil jarak dari situasi, mempertimbangkan pilihan, dan tidak langsung mengikuti dorongan emosi. Sikap proaktif dimaknai sebagai kemampuan memilih respons secara sadar, bukan sekadar bereaksi.

Konsep See – Judge – Act diperkenalkan sebagai langkah praktis: melihat situasi secara objektif, menimbang dengan jernih, lalu bertindak secara sadar. Dari sini, peserta memahami bahwa sikap proaktif merupakan bentuk kemerdekaan pribadi.

Melatih Sikap Proaktif melalui Aktivitas

Pemahaman tentang proaktif diperdalam melalui berbagai aktivitas. Peserta membaca materi Habit 1 secara individu dalam suasana hening, kemudian membagikan pemahaman dalam diskusi kelompok.

Permainan kartu situasi dan kartu reaksi melatih peserta merespons berbagai kondisi secara spontan. Aktivitas ini membantu peserta mengenali perbedaan bahasa reaktif dan bahasa proaktif, sekaligus menyadari bahwa setiap respons adalah pilihan.

Selain itu, latihan menggambar alam sekitar dalam keheningan menjadi pengalaman reflektif yang sederhana namun bermakna. Peserta belajar untuk hadir sepenuhnya pada momen, melatih fokus, ketenangan, dan kesadaran diri.

Habit 2 – Merujuk pada Tujuan Akhir

Memasuki Habit 2 (Begin with the End in Mind), peserta diajak merenungkan pertanyaan mendasar: “Ke mana arah hidup saya?” Mereka diajak membayangkan tujuan akhir hidup untuk menyadari nilai, prinsip, dan harapan yang ingin diwujudkan.

Peserta juga diperkenalkan pada konsep “dua kali penciptaan”, yaitu penciptaan mental dan penciptaan fisik. Hidup tanpa arah disadari sebagai hidup yang mudah mengikuti jalur orang lain. Sebaliknya, hidup yang terarah adalah hidup yang direncanakan dan dipimpin oleh diri sendiri.

Sesi ini menegaskan bahwa tujuan hidup bukanlah batasan, melainkan panduan agar setiap keputusan memiliki makna.

Dari Tujuan ke Komitmen: Menyusun SMART Goals

Rekoleksi ditutup dengan penyusunan SMART Goals sebagai langkah konkret menerjemahkan tujuan hidup. Peserta membuat timeline rencana hidup selama masa studi di ATMI, setelah lulus, hingga sepuluh tahun ke depan.

Tujuan yang dirumuskan harus Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, dan Terikat Waktu. Proses ini membantu peserta memahami bahwa impian memerlukan perencanaan dan tanggung jawab pribadi.

Sebagai peneguhan komitmen, peserta membacakan tujuan hidupnya di hadapan teman-teman. Momen ini menjadi simbol keberanian untuk mengambil kendali atas hidup dan berkomitmen pada arah yang dipilih.

Rekoleksi ditutup dengan lari pagi, refleksi benang merah, dan post-test. Seluruh rangkaian kegiatan menegaskan bahwa proses refleksi tidak berhenti pada kegiatan ini, tetapi dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap yang lebih sadar, terarah, dan bertanggung jawab.

(Promoter of Leaders)

CW HARI OTANGTUA 2025.jpg

Hari Orang Tua Mahasiswa Xaverius Dormitory Politeknik Industri ATMI 2025: Momen Kebersamaan, Refleksi, dan Apresiasi Proses Pendidikan

Politeknik Industri ATMI melalui Xaverius Dormitory menyelenggarakan kegiatan Hari Orang Tua Mahasiswa (HOT) 2025 pada Sabtu, 13 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa/i Tingkat 1 yang tinggal di Xaverius Dormitory dan menjadi momen perjumpaan hangat untuk mempertemukan mahasiswa dengan orang tua, sekaligus memperlihatkan proses pendidikan, pembentukan karakter, dan kehidupan berasrama di lingkungan kampus Politeknik Industri ATMI (POLIN ATMI).

Selama enam bulan pertama menempuh pendidikan di Politeknik Industri ATMI, mahasiswa tidak hanya dibekali kompetensi akademik dan keterampilan vokasi, tetapi juga nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kebersamaan. Seluruh rangkaian kegiatan Hari Orang Tua ini dipersiapkan dan dijalankan langsung oleh mahasiswa/i Tingkat 1, mulai dari kepanitiaan, dekorasi, hingga penampilan acara.

Rangkaian Acara Hari Orang Tua Mahasiswa ATMI

Kegiatan dimulai sejak pukul 09.00 WIB dengan kehadiran para orang tua dan wali mahasiswa. Acara dibuka oleh MC, dilanjutkan dengan menyanyikan Mars ATMI serta penampilan tarian pembuka bernuansa tradisional-modern yang menampilkan kreativitas mahasiswa.

Sambutan disampaikan oleh Romo Yakobus Rudiyanto, SJ, beliau adalah Ketua Yayasan Karya ATMI. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi refleksi bersama RomoCh. Kristiono Puspo SJ, yang mengajak mahasiswa dan orang tua untuk memaknai refleksi sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran, kehidupan berasrama, dan pertumbuhan pribadi.

Apresiasi Mahasiswa dan Promoter Xaverius Dormitory

Sebagai bentuk penghargaan atas keterlibatan aktif dan kedisiplinan mahasiswa selama tinggal di Xaverius Dormitory, diberikan beberapa penghargaan, antara lain:

Mahasiswa Ter-Proaktif:
Mandala Rizky Kusharyanto, Teddy Paschalis Giawa, Radhitya Kukuh Wicaksono, Valentino Yeriko Cargon

Mahasiswa Ter-Aktif:
Syaila Fiani, Chatarina Yumalouissa Crysanti, Frederick Liang

Mahasiswa Ter-Responsible:
Yohanes Vianney Agustino Sina, Muhammad Rizki Kurniawan

Award Promoter of Leaders:

  • Ter-Proaktif: Missella Amelia

  • Ter-Administratif: Antonius Mikael Noviar

  • Outstanding Mentor: Aditya Wahyu Santoso, Fransiskus Xaverius Dennis

  • Ter-Disiplin: Yuan Riveriano, Benediktus Diego De San Vitores

Tour Bengkel Politeknik Industri ATMI

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tour bengkel kampus ATMI yang dipandu langsung oleh mahasiswa/i Tingkat 1. Orang tua diajak mengunjungi berbagai fasilitas pembelajaran, seperti bench work, milling, turning, grinding, dan laboratorium. Pada setiap section, mahasiswa menjelaskan aktivitas perkuliahan dan praktik vokasi yang mereka jalani sebagai bagian dari kurikulum Politeknik Industri ATMI.

Sharing Orang Tua dan Mahasiswa

Setelah makan siang bersama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi sharing kelompok kecil yang difasilitasi oleh mahasiswa. Dalam sesi ini, orang tua menyampaikan apresiasi atas perubahan positif anak, harapan akan kemandirian dan tanggung jawab, serta dukungan terhadap proses pembentukan karakter mahasiswa melalui pendidikan vokasi dan kehidupan berasrama di Politeknik Industri ATMI.

Penampilan Mahasiswa dan Penutup

Acara ditutup dengan berbagai penampilan mahasiswa, seperti band, biola, dan pembacaan puisi. Sebagai penutup, mahasiswa/i Tingkat 1 menyerahkan surat refleksi enam bulan perjalanan pendidikan di Politeknik Industri ATMI serta bunga mawar kepada orang tua sebagai ungkapan terima kasih dan penghargaan.

Kegiatan Hari Orang Tua Mahasiswa Xaverius Dormitory ATMI 2025 menjadi ruang perjumpaan yang bermakna, di mana orang tua dapat melihat secara langsung proses pendidikan, pembentukan karakter, dan pertumbuhan mahasiswa selama menempuh pendidikan di Politeknik Industri ATMI.

(Promoter of Leaders)

Refleksi : (Harapan Kekhawatiran & Pertumbuhan)

CW PEMBEKALAN REFLEKSI.jpg

Pembekalan Menulis dan Menanggapi Refleksi Dosen dan Instruktur Politeknik Industri ATMI Cikarang 27–28 Januari 2026

Di tengah dinamika pendidikan vokasi yang sarat target, kompetensi, dan tuntutan performa, Politeknik Industri ATMI Cikarang kembali menegaskan identitas pendidikannya sebagai Jesuit School yang menempatkan refleksi sebagai jantung proses belajar. Refleksi tidak dipahami sekadar sebagai jeda, melainkan sebagai cara memaknai pengalaman dan menemukan kehadiran Tuhan dalam keseharian akademik. Selama ini, praktik refleksi melalui jurnaling telah menjadi ritme hidup mahasiswa tingkat I yang tinggal di dormitory. Setiap malam, mahasiswa diajak menuliskan pengalaman, pergulatan, dan perasaan yang dialami sepanjang hari. Kini, semangat reflektif tersebut hendak diperluas agar hadir dalam seluruh proses perkuliahan, baik teori maupun praktik, sebagai bagian integral dari pembentukan pribadi mahasiswa.

Kesadaran inilah yang melatarbelakangi diselenggarakannya Pembekalan Menulis dan Menanggapi Refleksi bagi dosen dan instruktur Politeknik Industri ATMI pada 27–28 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi internal antara Tim SDM dan Campus Ministry, sebagai langkah awal sebelum praktik refleksi diintegrasikan secara lebih luas pada Semester II. Para pendidik tidak hanya dipersiapkan sebagai fasilitator akademik, tetapi juga sebagai pembaca yang empatik dan penanggap yang bijaksana atas refleksi mahasiswa. Membaca refleksi berarti memasuki ruang batin orang lain, dan memberi tanggapan berarti mengambil posisi etis sebagai pendamping. Oleh karena itu, pembekalan ini dirancang bukan sekadar teknis, melainkan menyentuh dimensi psikologis, pedagogis, dan spiritual.

 

Sesi pengantar dibuka oleh Felicia Sabrina (Pamong Dormitory) bersama Hari Maryanto (Campus Ministry) yang mengajak peserta terlebih dahulu memahami mahasiswa dari perspektif psikologi perkembangan. Felicia mengulas kondisi mahasiswa sebagai individu yang berada pada fase remaja akhir menuju dewasa awal, sebagaimana dijelaskan dalam teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Pada fase ini, mahasiswa mulai mampu berpikir abstrak, merefleksikan pengalaman, serta mempertanyakan makna di balik apa yang mereka jalani. Namun, kemampuan tersebut sering kali berjalan beriringan dengan kebingungan, ketidakpastian, dan proses coba-salah. Pemahaman ini menjadi penting agar para pendidik tidak terburu-buru menuntut kedewasaan yang belum sepenuhnya matang, melainkan mampu membaca proses yang sedang berlangsung.

 

Hari (CM) kemudian memperluas kerangka tersebut dengan mengulas teori psikososial Erik Erikson, yang melihat mahasiswa sebagai individu yang sedang bergulat dengan krisis identitas. Elaborasi dilanjutkan dengan pandangan Jacques Lacan mengenai desire dan symbolic order, yang menyoroti bagaimana hasrat mahasiswa kerap dibentuk oleh tuntutan sosial, simbol prestasi, dan ekspektasi lingkungan. Dalam konteks ini, refleksi menjadi ruang untuk menyadari hasrat mana yang sungguh berasal dari diri, dan mana yang sekadar tuntutan luar. Perspektif ini diperkaya dengan logoterapi Viktor Frankl tentang will to meaning, yang menegaskan bahwa manusia, termasuk mahasiswa, memiliki kebutuhan mendasar untuk menemukan makna dalam penderitaan maupun rutinitas. Refleksi pun dipahami bukan sebagai tambahan beban, melainkan sebagai sarana eksistensial untuk bertumbuh.

Pendalaman makna refleksi kemudian dilanjutkan oleh Romo Vincentius Doni Erlangga, SJ, melalui perspektif teologis yang kontekstual. Dalam pemaparannya, Romo Doni SJ berulang kali menekankan pentingnya kata “menemani” dalam pendampingan mahasiswa. Menemani berarti hadir tanpa mendominasi, berjalan bersama tanpa menggurui, dan memberi ruang bagi proses yang tidak selalu rapi. Mengacu pada Christus Vivit dari Paus Fransiskus, Romo Doni SJ menegaskan bahwa kaum muda bukanlah masalah yang harus diperbaiki, melainkan subjek yang sedang mencari arah hidup. Perumpamaan Anak yang Hilang (Injil Lukas) pun dihadirkan sebagai cermin bagi para pendidik, bahwa refleksi membantu mahasiswa menyadari perjalanan batinnya, sementara pendidik dipanggil untuk menyambut, bukan menghakimi.

Setelah sesi pengantar, para dosen dan instruktur diajak masuk ke pengalaman konkret melalui dinamika kelompok kecil yang difasilitasi oleh tim kemahasiswaan Politeknik Industri ATMI. Menggunakan alur Pedagogi Ignatian, para peserta menuliskan refleksi mereka sendiri, dimulai dari konteks pendampingan mahasiswa yang nyata. Para peserta diajak mengingat pengalaman, menafsirkan makna, merumuskan kehendak atau aksi, serta melakukan evaluasi atas pendampingan yang selama ini dijalani. Refleksi yang telah ditulis kemudian dipertukarkan untuk dibaca dan diberi tanggapan oleh peserta lain. Dinamika ini menjadi ruang belajar bersama, sekaligus simulasi (role play) nyata dari peran yang kelak mereka jalani bersama mahasiswa.

Beragam kesan muncul dari proses tersebut mencerminkan betapa refleksi adalah pengalaman personal yang tidak seragam. Sebagian peserta mengaku masih bingung karena baru pertama kali menulis refleksi secara terstruktur. Ada pula yang merasa canggung dan belum sepenuhnya leluasa menuangkan isi hati ke dalam tulisan. Namun, tidak sedikit yang merasa dikuatkan dan tervalidasi ketika refleksinya dibaca dengan sungguh dan ditanggapi secara empatik oleh orang lain. Pengalaman ini menyadarkan bahwa komentar atas refleksi bukan soal benar atau salah, melainkan soal kehadiran dan pengakuan.

Pembekalan ini menegaskan kembali bahwa refleksi adalah sarana pendampingan manusiawi, bukan sekadar metode pedagogis. Melalui refleksi, pendidik diajak untuk melihat mahasiswa sebagai pribadi yang utuh, dengan luka, harapan, dan pencarian makna. Sikap unconditional positive regard (penerimaan individual sebagaimana adanya) menjadi kunci agar mahasiswa memiliki ruang aman untuk jujur terhadap diri sendiri dan pengalamannya. Dengan membaca dan menanggapi refleksi, budaya appreciative inquiry pun diharapkan tumbuh, menggantikan budaya penilaian yang kaku. Dalam semangat inilah, Politeknik Industri ATMI terus melangkah, menemani mahasiswa menjadi pribadi yang reflektif, berdaya, dan semakin manusiawi terhadap sesamanya. (HM-campusministry)

Finding God in all things. 

Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG)

WhatsApp Image 2026-01-28 at 14.27.52

Rekoleksi Sejarah Hidup : Semua Karena Cinta (Mengingat, Mengekspresikan, dan Bertumbuh)

Selama tiga hari, 21–23 November 2025, mahasiswa/i Tingkat 1 Xaverius Dormitory mengikuti kegiatan Rekoleksi Sejarah Hidup yang diselenggarakan di Aula Xaverius Dormitory bersama Tim Campus Ministry Politeknik Industri ATMI X UNIKA Atma Jaya Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa/i untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menoleh ke dalam diri, serta memahami pengalaman hidup—terutama pengalaman luka—sebagai bagian penting dari proses pertumbuhan pribadi.

Rekoleksi dirancang mengalir secara bertahap, mulai dari membangun kesadaran diri, keterbukaan dalam kebersamaan, pengolahan pengalaman masa lalu, hingga peneguhan untuk melangkah ke depan dengan lebih sadar dan utuh.

Sejarah Hidup: Membaca Diri Apa Adanya

Sesi awal rekoleksi mengajak mahasiswa/i memandang sejarah hidup bukan sebagai kumpulan peristiwa acak, melainkan rangkaian pengalaman yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan di masa kini. Mahasiswa/i diajak menelusuri perjalanan hidup mereka dan menyadari pengalaman-pengalaman yang membentuk siapa diri mereka saat ini.

Melalui refleksi awal dan pengecekan kondisi emosional, mahasiswa/i mulai mengenali pola-pola dalam diri, seperti reaksi yang berulang, perasaan yang kerap muncul, serta dorongan yang selama ini mungkin tidak disadari. Proses ini menumbuhkan kesadaran diri sebagai fondasi penting untuk bertumbuh secara dewasa dan bertanggung jawab.

Semua Karena Cinta: Akar dari Luka Batin

Salah satu materi kunci dalam rekoleksi menegaskan bahwa luka batin dan trauma kerap berakar dari cinta—bukan kebencian. Cinta yang berlebihan dapat menjelma menjadi sikap overprotektif, sementara cinta yang kurang dapat menimbulkan defisit afektif. Keduanya sama-sama berpotensi meninggalkan luka.

Mahasiswa/i diajak memahami bahwa luka batin tidak disembuhkan melalui pemenuhan materi, melainkan melalui hati yang mencintai. Cinta yang defisit sering mendorong seseorang terus mencari pengakuan, perhatian, dan penerimaan dari luar. Kesadaran ini membantu mahasiswa/i memandang diri sendiri dan orang lain dengan sudut pandang yang lebih utuh dan berbelas kasih.

PLR (Past Life Regression): Mengingat dan Mengekspresikan

Memasuki sesi inti, mahasiswa/i mengikuti PLR (Past Life Regression), sebuah proses pengolahan luka batin melalui audio terpandu. Dalam suasana hening, mahasiswa/i diajak berbaring, menutup mata, dan mengikuti alur audio secara perlahan untuk mengingat kembali pengalaman masa lalu, terutama pengalaman luka yang belum terselesaikan.

PLR memberi ruang bagi mahasiswa/i untuk mengekspresikan emosi secara jujur—mulai dari kemarahan, kesedihan, kekecewaan, hingga ketakutan—yang selama ini mungkin terpendam. Mahasiswa/i belajar bahwa emosi bersifat netral dan tidak perlu dihakimi. Justru dengan mengekspresikannya, seseorang dapat lebih memahami diri dan melepaskan beban emosional yang menumpuk.

Trauma yang Belum Selesai dan Dampaknya

Dalam proses refleksi dan sharing, mahasiswa/i menyadari bahwa trauma yang belum diolah dapat menghambat pertumbuhan emosional, mental, bahkan fisik. Luka yang tidak diterima sering kali membelenggu seseorang dalam ilusi, dusta terhadap diri sendiri, penggelembungan ego yang tidak seimbang, hingga sikap tidak autentik dalam relasi.

Beragam pengalaman dibagikan, mulai dari tuntutan keluarga, konflik relasi, hingga pengalaman perundungan. Proses berbagi ini membuka kesadaran bahwa banyak respons dalam kehidupan saat ini berakar pada pengalaman masa lalu yang belum sepenuhnya diterima.

Sembuh adalah Menerima dan Bertumbuh

Rekoleksi menegaskan bahwa trauma tidak selalu bisa dihapus, namun dapat diolah dan diterima. Sembuh bukan berarti melupakan, melainkan berani kembali menatap pengalaman masa lalu dan menerimanya apa adanya sebagai bagian dari diri.

Melalui refleksi, journaling, dan sharing, mahasiswa/i belajar berdamai dengan sejarah hidupnya. Dari proses ini, tumbuh ketenangan baru serta kesiapan untuk melangkah ke depan. Rekoleksi ditutup dengan peneguhan bahwa perjalanan refleksi tidak berhenti di aula, tetapi dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari—melalui kesadaran diri, kepedulian terhadap sesama, komitmen untuk terus bertumbuh, serta keberanian mengambil peran dan tanggung jawab secara lebih dewasa.

 

Penulis : Promoter of Leaders

CW ARRUPE EPS 4.jpg

Arrupe Insight Eps. 4 “Misteri Kehidupan : Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi”

Di teras yang tidak begitu besar, berdiri sebuah gazebo sederhana. Kursi-kursi tersusun rapi, lampu-lampu telah dinyalakan, dan para mahasiswa duduk dengan penuh perhatian, mendengarkan kisah dari seseorang yang telah lebih dahulu bergelut dalam kehidupan nyata.

Pada Kamis, 9 Oktober 2025, KMK Pedro Arrupe mengundang seorang alumnus Politeknik ATMI sebagai pembicara dalam kegiatan Arrupe Insight. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk bincang-bincang santai bersama alumnus, membahas seputar dunia kerja dan pengalaman selama menempuh pendidikan di Politeknik ATMI. Pada kesempatan ini, Gregorius Superma Putra hadir dengan penuh semangat mengisi Arrupe Insight episode keempat.

Akrab disapa Mas Greg, ia merupakan alumnus ATMI Surakarta Angkatan 41 dari jurusan Mekatronika. Lahir sebagai anak keenam dari enam bersaudara, Mas Greg besar di Magelang bersama ibunya yang berasal dari Klaten dan ayahnya dari Nusa Tenggara Timur. Ia menempuh pendidikan kejuruan di SMK Pangudi Luhur Muntilan, yang membentuk kedekatannya dengan dunia teknik perkakas.

Motivasi awal Mas Greg mendaftar ATMI adalah keinginannya untuk membanggakan sang ayah. Ia diterima sebagai mahasiswa Mekatronika meski sempat berada di posisi cadangan kelima. Masa-masa awal perkuliahan terasa berat karena muncul perasaan “salah masuk jurusan”. Namun, berkat dukungan teman-teman, ia memilih untuk bertahan. Kesulitan akademik yang dihadapi sempat menimbulkan kekhawatiran, tetapi melihat kakak tingkat yang tetap naik tingkat meski mendapat nilai kurang baik menjadi sumber kekuatan dan semangat tersendiri.

Masa perkuliahan di ATMI diwarnai banyak tantangan, salah satunya persaingan dengan mahasiswa dari kolese ternama seperti De Britto dan Loyola. Hal tersebut justru memacu Mas Greg untuk terus berkembang. Ia aktif berpartisipasi dalam berbagai organisasi kampus, bahkan menjadi salah satu mahasiswa pertama yang ditawari terlibat dalam berbagai kegiatan kampus. Pengalaman organisasi ini menjadi bekal berharga dalam membangun relasi dan membentuk pribadi yang lebih luwes.

Masa Bekerja

Mas Greg mengawali pengalaman kerjanya sebagai seorang mekanik, bidang yang tidak sepenuhnya sejalan dengan jurusan yang ia ambil. Ia memaknai hal tersebut sebagai bagian dari misteri kehidupan—tidak ada yang benar-benar tahu apa yang akan dihadapi ke depan. Tantangan dalam dunia kerja selalu ada, dan kunci utamanya adalah memiliki sikap terbuka serta kemauan untuk terus belajar.

Berkonsultasi dengan senior, berbagi pengalaman, dan mempertimbangkan masukan menjadi langkah konkret untuk beradaptasi. Salah satu pengalaman berkesan adalah saat bekerja di perusahaan asal Jerman. Ia kembali merasakan perasaan minder, serupa dengan yang dialami saat kuliah, ketika berhadapan dengan rekan kerja yang memiliki European-minded. Namun, dari kegelisahan tersebut muncul keberanian untuk tampil dan bersuara.

Dalam sebuah kepanitiaan, Mas Greg berani mengingatkan setiap divisi agar tidak bersikap egois, bahkan menyampaikan pendapat di hadapan jajaran pimpinan. Semua itu berangkat dari modal pengalaman berorganisasi di ATMI. “Kita harus membiasakan diri untuk tampil dan memimpin,” ujar Mas Greg.

Menggali Lebih Dalam

Seiring berjalannya waktu, antusiasme peserta semakin terasa. Beberapa mahasiswa mengangkat tangan untuk bertanya. Radi, mahasiswa tingkat dua, menanyakan sosok Romo Cassut, SJ semasa berkarya. Menurut Mas Greg, kesederhanaan, keramahan, dan ketekunan dalam doa merupakan gambaran pribadi Romo Cassut, SJ. Keramahannya terasa saat beliau menanyakan pengalaman kuliah Mas Greg ketika makan bersama. Ketekunannya dalam doa terlihat ketika beliau berkeliling bengkel sambil mendaraskan doa Rosario pada malam hari. Bahkan, Romo Cassut, SJ pernah memiliki proyek pembuatan eretan untuk menurunkan peti ke dalam tanah, dan beliau sendiri menjadi orang pertama yang menggunakannya. “Itulah misteri kehidupan,” ungkap Mas Greg.

Pertanyaan berikutnya datang dari Martin, Eric, dan Adam, mahasiswa tingkat satu, mengenai cara menjalani proses belajar agar efektif dan efisien. Berdasarkan pengalamannya, Mas Greg menekankan pentingnya fokus pada apa yang sedang dihadapi saat ini serta menemukan hal-hal yang memberi kebahagiaan ketika kembali ke bengkel. Jika menemui kegagalan, seperti ukuran yang tidak sesuai, jangan larut dalam satu kejatuhan. Segera beralih dan memperjuangkan hal-hal yang masih bisa diusahakan.

Menutup sesi tanya jawab, Mario, mahasiswa tingkat dua, menanyakan relevansi refleksi sebagai tradisi pendidikan Ignasian dalam dunia kerja. Bagi Mas Greg, refleksi merupakan sarana olah pikir dan olah rasa dalam memecahkan masalah. Refleksi mendorong munculnya pertanyaan “mengapa” serta mengajak seseorang untuk melihat persoalan dari sudut pandang orang lain. Refleksi adalah proses mempertimbangkan segala sesuatu secara mendalam dan mendasar.

Kuliah Kehidupan

Menutup rangkaian talkshow, Romo Kristiono Puspo , SJ hadir memberikan peneguhan yang memperdalam seluruh pembahasan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan hari itu merupakan “kuliah kehidupan”. “Hidup itu harian, bukan borongan,” ujar Romo Kristiono Puspo, SJ. Hidup dijalani hari demi hari, sepenuhnya pada saat ini.

Terkait refleksi, beliau memaknainya sebagai upaya menghadirkan Yang Ilahi dalam setiap pengalaman keseharian. Di akhir sesi, Romo Kristiono, SJ mengajak seluruh peserta untuk menjadi “Friends in the Lord”, teman dalam perutusan.

Selama kurang lebih satu setengah jam, para peserta diajak memaknai berbagai pengalaman yang relevan dengan tantangan perkuliahan dan dunia kerja ke depan. Dinamika Arrupe Insight episode keempat ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam menjalani proses pendidikan. Menutup keseluruhan acara, Mas Greg menyampaikan kalimat peneguh,
“Ad Maiorem Dei Gloriam—hebat bukan karena diri sendiri, melainkan karena keterlibatan Tuhan.”

Mario Imanuel (Mesin Industri Tk2)