WhatsApp Image 2026-04-10 at 10.56.36 (2)

Merayakan Tri Hari Suci Paskah 2026 ala KMK Pedro Arrupe Jalan Kaki ‘ Camino’ dari Bekasi ke Kolese Kanisius

Secara fisik kami lelah tapi di saat bersamaan kami merasa penuh. Itulah yang dialami oleh para pendamping dan mahasiswa KMK Pedro Arrupe Politeknik Industri ATMI Cikarang dalam kegiatan yang bertajuk Camino “Bekasi to Canisius College” pada perayaan Tri Hari Suci tahun ini. Kegiatan ini bukan sekadar perjalanan fisik dari satu titik ke titik lain, melainkan sebuah ziarah yang mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesamanya, dan dengan Tuhan yang hadir dalam pengalaman konkret. Pengalaman ini menghidupkan apa yang disebut sebagai contemplativus in actione atau sebuah cara beriman di mana kontemplasi tidak menjauh dari dunia, tetapi justru ditemukan di tengah tindakan, di tengah gerak, dan di tengah kehidupan yang nyata.

Berangkat dari pengalaman Camino tahun sebelumnya, penyelenggaraan kali ini terasa lebih matang, lebih terarah, dan lebih sadar akan tujuan reflektif yang hendak dicapai. Setiap detail dipersiapkan bukan hanya demi kelancaran acara, tetapi demi menciptakan pengalaman yang otentik dan transformatif. Bahkan medali yang dibuat dari daur ulang tutup botol oleh ATMI Recycle Studio menjadi simbol bahwa sesuatu yang tampak sederhana, bahkan terbuang, dapat diolah menjadi tanda makna dan pencapaian. Sejak awal, Camino ini telah mengundang para pesertanya untuk melihat hidup dengan cara yang baru dengan berbagai pengalamannya. 

Perjalanan Camino kali ini diawali dengan perayaan Ekaristi Kamis Putih yang dirayakan bersama di Aula Xaverius Dormitory. Ekaristi ini menjadi sebuah momen yang langsung menempatkan kami para peserta dalam pengalaman iman yang tidak biasa. Dalam ritus pembasuhan kaki, kami tidak hanya menjadi penonton, tetapi pelaku yang saling membasuh kaki teman di sebelahnya sekaligus menghadirkan pengalaman konkret tentang kerendahan hati dan pelayanan. Dalam homilinya, Romo Kris, SJ mengajak semua yang hadir untuk tidak hanya melihat dengan mata, tetapi dengan hati dan batin yang peka. Ia menunjukkan sebuah karya Yesus memanggul salib yang terbuat dari bahan daur ulang, yang tampak indah dari satu sisi namun menyimpan ketidaksempurnaan (cacat produksi) di sisi lainnya. Dari sana, kami diajak menyadari bahwa hidup manusia pun demikian, penuh dengan sisi rapuh yang sering kali tersembunyi di balik tampilan luar. Pesan ini menjadi semacam kompas yang menemani perjalanan Camino yang akan segera dimulai. Setelah misa, suasana kebersamaan semakin diperteguh melalui makan malam dan bonding dalam kelompok kecil sekaligus menciptakan rasa aman dan keterhubungan sebelum memasuki perjalanan yang tidak mudah. Dengan semangat contemplativus in actione, momen-momen sederhana ini menjadi kontemplasi di mana relasi, tubuh, dan pengalaman menjadi jalan untuk menemukan makna yang lebih dalam.

Perjalanan Camino dimulai dengan dinamika yang tidak terduga yakni ketika hujan deras dan angin kencang sempat menunda keberangkatan kami menuju Stasiun Cikarang. Keterbatasan akses transportasi menjadi tantangan awal yang harus dihadapi bersama, menguji kesabaran sekaligus solidaritas di antara anggota kelompok. Namun justru dalam ketidaknyamanan itulah pengalaman mulai berbicara, mengajak kami untuk keluar dari zona nyaman dan masuk ke dalam realitas. Setibanya di Stasiun Bekasi, langkah kaki benar-benar kami mulai. Setiap langkah dan kelelahan menjadi pintu masuk menuju kesadaran diri. Dinamika kelompok pun mulai terlihat dengan jelas, menghadirkan wajah-wajah yang apa adanya. Ada yang berjalan cepat hingga tanpa sadar meninggalkan temannya, ada yang memilih berjalan pelan namun konsisten, dan ada pula yang mulai merasakan sakit ketika tubuh mencapai batasnya.

Di tengah segala dinamika, muncul pula momen-momen kecil yang justru menjadi sumber kekuatan yang tidak terduga. Tawa ringan, percakapan sederhana, dan kata-kata penyemangat menjadi penopang yang menjaga langkah tetap bergerak maju. Bahkan kalimat sederhana seperti “sedikit lagi sampai” menjadi bentuk harapan yang meskipun tidak selalu akurat, mampu menjaga semangat tetap menyala. Beberapa memilih berjalan berdua agar perjalanan terasa lebih ringan, sementara yang lain menemukan kekuatan dalam kebersamaan kelompok. Melalui pengalaman ini, nilai solidaritas tidak diajarkan sebagai konsep, tetapi dialami sebagai kenyataan yang menghidupkan. Camino memperlihatkan bahwa dalam perjalanan hidup, kita tidak pernah benar-benar berjalan sendiri, meskipun terkadang merasa demikian. Setiap orang membawa beban masing-masing, tetapi juga menjadi penopang bagi yang lain. Di hadapan kelelahan yang sama, kami menemukan bahwa kebersamaan adalah bentuk rahmat yang sering kali baru disadari ketika dibutuhkan. Dalam contemplativus in actione, relasi ini bukan sekadar interaksi sosial, melainkan ruang di mana Tuhan hadir melalui sesama yang berjalan bersama kita.

Setibanya di Kolese Kanisius, kami disambut dengan hangat oleh panitia dan para pendamping. Momen tersebut menegaskan bahwa setiap perjuangan dan perjalanan layak untuk dihargai. Medali yang dikalungkan dan jersey yang diberikan bukan sekadar simbol penyelesaian perjalanan, tetapi pengakuan atas proses yang telah dilalui dengan segala dinamika di dalamnya. Namun Camino tidak berhenti pada pencapaian fisik tersebut, melainkan berlanjut dalam proses refleksi yang menjadi inti dari pedagogi Ignatian. Pada Jumat Agung, setelah ibadat, para peserta diajak untuk masuk ke dalam sharing kelompok dan pleno, mengolah pengalaman yang telah kami jalani menjadi makna yang lebih dalam. Cerita-cerita yang muncul sangat beragam, mulai dari rasa syukur, kegembiraan, hingga kejengkelan terhadap dinamika kelompok yang tidak selalu mudah. Namun justru dari keberagaman itulah terlihat bahwa setiap orang mengalami Camino dengan cara yang unik dan personal. Pengalaman melihat “dunia malam” membuka mata kami terhadap realitas kehidupan yang lebih luas, menghadirkan rasa syukur yang sebelumnya mungkin tidak disadari. Dalam refleksi tersebut, kami yang menyadari bahwa rasa sakit yang kami alami hanyalah sebagian kecil dari penderitaan yang dialami Yesus dalam jalan salib-Nya.

Perjalanan ini mencapai puncaknya dalam perayaan Vigili Paskah yang dirayakan bersama di Sport Hall Kolese Kanisius.  Ekaristi ini menjadi momen yang merangkum seluruh pengalaman dalam terang kebangkitan Paskah. Dalam homilinya, Romo Kris mengajak semua umat yang hadir untuk tidak berhenti pada pengalaman dan refleksi semata, tetapi melangkah lebih jauh menuju aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Dunia yang kita hidupi ini sedang terluka. Ia menekankan pentingnya pemulihan semesta yang dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan kesadaran dan tanggung jawab. Pesan ini menjadi peneguhan bahwa Camino bukanlah sebuah peristiwa yang selesai ketika langkah berhenti, melainkan sebuah cara hidup yang terus berlanjut. Semangat contemplativus in actione menyadarkan bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, dapat menjadi perjumpaan dengan Tuhan jika dijalani dengan kesadaran batin yang reflektif. Ketika kami kembali ke ATMI Cikarang, kami tidak hanya membawa kenangan, tetapi juga cara pandang baru terhadap hidup dan iman. Kami telah belajar bahwa iman tidak selalu hadir dalam momen besar dan spektakuler, tetapi justru dalam hal-hal sederhana yang dijalani dengan kesadaran penuh. Dalam setiap langkah yang lelah, dalam setiap tawa kecil di tengah perjalanan, dan dalam setiap keheningan batin yang muncul, kami menemukan bahwa Tuhan hadir secara nyata. Camino ini menjadi pengingat bahwa hidup itu sendiri adalah sebuah perjalanan, dan dalam perjalanan itu, kita selalu diundang untuk melihat lebih dalam, merasakan lebih jujur, dan berjalan bersama dengan penuh harapan. (HM-Campus Ministry)

Ad Maiorem Dei Gloriam.

Refleksi : Walking the wounded world