WhatsApp Image 2026-01-28 at 14.27.52

Rekoleksi Sejarah Hidup : Semua Karena Cinta (Mengingat, Mengekspresikan, dan Bertumbuh)

Selama tiga hari, 21–23 November 2025, mahasiswa/i Tingkat 1 Xaverius Dormitory mengikuti kegiatan Rekoleksi Sejarah Hidup yang diselenggarakan di Aula Xaverius Dormitory bersama Tim Campus Ministry Politeknik Industri ATMI X UNIKA Atma Jaya Jakarta. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa/i untuk berhenti sejenak dari rutinitas, menoleh ke dalam diri, serta memahami pengalaman hidup—terutama pengalaman luka—sebagai bagian penting dari proses pertumbuhan pribadi.

Rekoleksi dirancang mengalir secara bertahap, mulai dari membangun kesadaran diri, keterbukaan dalam kebersamaan, pengolahan pengalaman masa lalu, hingga peneguhan untuk melangkah ke depan dengan lebih sadar dan utuh.

Sejarah Hidup: Membaca Diri Apa Adanya

Sesi awal rekoleksi mengajak mahasiswa/i memandang sejarah hidup bukan sebagai kumpulan peristiwa acak, melainkan rangkaian pengalaman yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan di masa kini. Mahasiswa/i diajak menelusuri perjalanan hidup mereka dan menyadari pengalaman-pengalaman yang membentuk siapa diri mereka saat ini.

Melalui refleksi awal dan pengecekan kondisi emosional, mahasiswa/i mulai mengenali pola-pola dalam diri, seperti reaksi yang berulang, perasaan yang kerap muncul, serta dorongan yang selama ini mungkin tidak disadari. Proses ini menumbuhkan kesadaran diri sebagai fondasi penting untuk bertumbuh secara dewasa dan bertanggung jawab.

Semua Karena Cinta: Akar dari Luka Batin

Salah satu materi kunci dalam rekoleksi menegaskan bahwa luka batin dan trauma kerap berakar dari cinta—bukan kebencian. Cinta yang berlebihan dapat menjelma menjadi sikap overprotektif, sementara cinta yang kurang dapat menimbulkan defisit afektif. Keduanya sama-sama berpotensi meninggalkan luka.

Mahasiswa/i diajak memahami bahwa luka batin tidak disembuhkan melalui pemenuhan materi, melainkan melalui hati yang mencintai. Cinta yang defisit sering mendorong seseorang terus mencari pengakuan, perhatian, dan penerimaan dari luar. Kesadaran ini membantu mahasiswa/i memandang diri sendiri dan orang lain dengan sudut pandang yang lebih utuh dan berbelas kasih.

PLR (Past Life Regression): Mengingat dan Mengekspresikan

Memasuki sesi inti, mahasiswa/i mengikuti PLR (Past Life Regression), sebuah proses pengolahan luka batin melalui audio terpandu. Dalam suasana hening, mahasiswa/i diajak berbaring, menutup mata, dan mengikuti alur audio secara perlahan untuk mengingat kembali pengalaman masa lalu, terutama pengalaman luka yang belum terselesaikan.

PLR memberi ruang bagi mahasiswa/i untuk mengekspresikan emosi secara jujur—mulai dari kemarahan, kesedihan, kekecewaan, hingga ketakutan—yang selama ini mungkin terpendam. Mahasiswa/i belajar bahwa emosi bersifat netral dan tidak perlu dihakimi. Justru dengan mengekspresikannya, seseorang dapat lebih memahami diri dan melepaskan beban emosional yang menumpuk.

Trauma yang Belum Selesai dan Dampaknya

Dalam proses refleksi dan sharing, mahasiswa/i menyadari bahwa trauma yang belum diolah dapat menghambat pertumbuhan emosional, mental, bahkan fisik. Luka yang tidak diterima sering kali membelenggu seseorang dalam ilusi, dusta terhadap diri sendiri, penggelembungan ego yang tidak seimbang, hingga sikap tidak autentik dalam relasi.

Beragam pengalaman dibagikan, mulai dari tuntutan keluarga, konflik relasi, hingga pengalaman perundungan. Proses berbagi ini membuka kesadaran bahwa banyak respons dalam kehidupan saat ini berakar pada pengalaman masa lalu yang belum sepenuhnya diterima.

Sembuh adalah Menerima dan Bertumbuh

Rekoleksi menegaskan bahwa trauma tidak selalu bisa dihapus, namun dapat diolah dan diterima. Sembuh bukan berarti melupakan, melainkan berani kembali menatap pengalaman masa lalu dan menerimanya apa adanya sebagai bagian dari diri.

Melalui refleksi, journaling, dan sharing, mahasiswa/i belajar berdamai dengan sejarah hidupnya. Dari proses ini, tumbuh ketenangan baru serta kesiapan untuk melangkah ke depan. Rekoleksi ditutup dengan peneguhan bahwa perjalanan refleksi tidak berhenti di aula, tetapi dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari—melalui kesadaran diri, kepedulian terhadap sesama, komitmen untuk terus bertumbuh, serta keberanian mengambil peran dan tanggung jawab secara lebih dewasa.

 

Penulis : Promoter of Leaders