Di teras yang tidak begitu besar, berdiri sebuah gazebo sederhana. Kursi-kursi tersusun rapi, lampu-lampu telah dinyalakan, dan para mahasiswa duduk dengan penuh perhatian, mendengarkan kisah dari seseorang yang telah lebih dahulu bergelut dalam kehidupan nyata.
Pada Kamis, 9 Oktober 2025, KMK Pedro Arrupe mengundang seorang alumnus Politeknik ATMI sebagai pembicara dalam kegiatan Arrupe Insight. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk bincang-bincang santai bersama alumnus, membahas seputar dunia kerja dan pengalaman selama menempuh pendidikan di Politeknik ATMI. Pada kesempatan ini, Gregorius Superma Putra hadir dengan penuh semangat mengisi Arrupe Insight episode keempat.
Akrab disapa Mas Greg, ia merupakan alumnus ATMI Surakarta Angkatan 41 dari jurusan Mekatronika. Lahir sebagai anak keenam dari enam bersaudara, Mas Greg besar di Magelang bersama ibunya yang berasal dari Klaten dan ayahnya dari Nusa Tenggara Timur. Ia menempuh pendidikan kejuruan di SMK Pangudi Luhur Muntilan, yang membentuk kedekatannya dengan dunia teknik perkakas.
Motivasi awal Mas Greg mendaftar ATMI adalah keinginannya untuk membanggakan sang ayah. Ia diterima sebagai mahasiswa Mekatronika meski sempat berada di posisi cadangan kelima. Masa-masa awal perkuliahan terasa berat karena muncul perasaan “salah masuk jurusan”. Namun, berkat dukungan teman-teman, ia memilih untuk bertahan. Kesulitan akademik yang dihadapi sempat menimbulkan kekhawatiran, tetapi melihat kakak tingkat yang tetap naik tingkat meski mendapat nilai kurang baik menjadi sumber kekuatan dan semangat tersendiri.
Masa perkuliahan di ATMI diwarnai banyak tantangan, salah satunya persaingan dengan mahasiswa dari kolese ternama seperti De Britto dan Loyola. Hal tersebut justru memacu Mas Greg untuk terus berkembang. Ia aktif berpartisipasi dalam berbagai organisasi kampus, bahkan menjadi salah satu mahasiswa pertama yang ditawari terlibat dalam berbagai kegiatan kampus. Pengalaman organisasi ini menjadi bekal berharga dalam membangun relasi dan membentuk pribadi yang lebih luwes.
Masa Bekerja
Mas Greg mengawali pengalaman kerjanya sebagai seorang mekanik, bidang yang tidak sepenuhnya sejalan dengan jurusan yang ia ambil. Ia memaknai hal tersebut sebagai bagian dari misteri kehidupan—tidak ada yang benar-benar tahu apa yang akan dihadapi ke depan. Tantangan dalam dunia kerja selalu ada, dan kunci utamanya adalah memiliki sikap terbuka serta kemauan untuk terus belajar.
Berkonsultasi dengan senior, berbagi pengalaman, dan mempertimbangkan masukan menjadi langkah konkret untuk beradaptasi. Salah satu pengalaman berkesan adalah saat bekerja di perusahaan asal Jerman. Ia kembali merasakan perasaan minder, serupa dengan yang dialami saat kuliah, ketika berhadapan dengan rekan kerja yang memiliki European-minded. Namun, dari kegelisahan tersebut muncul keberanian untuk tampil dan bersuara.
Dalam sebuah kepanitiaan, Mas Greg berani mengingatkan setiap divisi agar tidak bersikap egois, bahkan menyampaikan pendapat di hadapan jajaran pimpinan. Semua itu berangkat dari modal pengalaman berorganisasi di ATMI. “Kita harus membiasakan diri untuk tampil dan memimpin,” ujar Mas Greg.
Menggali Lebih Dalam
Seiring berjalannya waktu, antusiasme peserta semakin terasa. Beberapa mahasiswa mengangkat tangan untuk bertanya. Radi, mahasiswa tingkat dua, menanyakan sosok Romo Cassut, SJ semasa berkarya. Menurut Mas Greg, kesederhanaan, keramahan, dan ketekunan dalam doa merupakan gambaran pribadi Romo Cassut, SJ. Keramahannya terasa saat beliau menanyakan pengalaman kuliah Mas Greg ketika makan bersama. Ketekunannya dalam doa terlihat ketika beliau berkeliling bengkel sambil mendaraskan doa Rosario pada malam hari. Bahkan, Romo Cassut, SJ pernah memiliki proyek pembuatan eretan untuk menurunkan peti ke dalam tanah, dan beliau sendiri menjadi orang pertama yang menggunakannya. “Itulah misteri kehidupan,” ungkap Mas Greg.
Pertanyaan berikutnya datang dari Martin, Eric, dan Adam, mahasiswa tingkat satu, mengenai cara menjalani proses belajar agar efektif dan efisien. Berdasarkan pengalamannya, Mas Greg menekankan pentingnya fokus pada apa yang sedang dihadapi saat ini serta menemukan hal-hal yang memberi kebahagiaan ketika kembali ke bengkel. Jika menemui kegagalan, seperti ukuran yang tidak sesuai, jangan larut dalam satu kejatuhan. Segera beralih dan memperjuangkan hal-hal yang masih bisa diusahakan.
Menutup sesi tanya jawab, Mario, mahasiswa tingkat dua, menanyakan relevansi refleksi sebagai tradisi pendidikan Ignasian dalam dunia kerja. Bagi Mas Greg, refleksi merupakan sarana olah pikir dan olah rasa dalam memecahkan masalah. Refleksi mendorong munculnya pertanyaan “mengapa” serta mengajak seseorang untuk melihat persoalan dari sudut pandang orang lain. Refleksi adalah proses mempertimbangkan segala sesuatu secara mendalam dan mendasar.
Kuliah Kehidupan
Menutup rangkaian talkshow, Romo Kristiono Puspo , SJ hadir memberikan peneguhan yang memperdalam seluruh pembahasan. Ia menyampaikan bahwa kegiatan hari itu merupakan “kuliah kehidupan”. “Hidup itu harian, bukan borongan,” ujar Romo Kristiono Puspo, SJ. Hidup dijalani hari demi hari, sepenuhnya pada saat ini.
Terkait refleksi, beliau memaknainya sebagai upaya menghadirkan Yang Ilahi dalam setiap pengalaman keseharian. Di akhir sesi, Romo Kristiono, SJ mengajak seluruh peserta untuk menjadi “Friends in the Lord”, teman dalam perutusan.
Selama kurang lebih satu setengah jam, para peserta diajak memaknai berbagai pengalaman yang relevan dengan tantangan perkuliahan dan dunia kerja ke depan. Dinamika Arrupe Insight episode keempat ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam menjalani proses pendidikan. Menutup keseluruhan acara, Mas Greg menyampaikan kalimat peneguh,
“Ad Maiorem Dei Gloriam—hebat bukan karena diri sendiri, melainkan karena keterlibatan Tuhan.”
Mario Imanuel (Mesin Industri Tk2)

