WhatsApp Image 2026-04-10 at 11.22.48 (1)

Walking the Wounded World

Sebenarnya apa arti berjalan ini? Apakah ini hanya sekadar perjalanan fisik yang menguji kekuatan tubuh? Camino sama seperti perjalanan panjang setiap manusia semasa hidup. Perjalanan yang penuh kejutan, kelelahan, ketakutan juga harapan. Perjalanan yang bukan hanya soal sampai tujuan, bukan tentang seberapa cepat, bukan tentang seberapa jauh, juga bukan tentang seberapa tangguh tetapi tentang seberapa rela kita, seberapa peka kita, dan seberapa peduli kita terhadap proses perjalanan yang panjang ini. Apakah kita sudah membuka hati nurani kita untuk segala hal yang ada di sekitar kita? Kita kerap kali tidak peduli pada diri sendiri, pada sesama, pada dunia dan kerap kali tutup mata tentang Tuhan yang selalu sabar dan setia menuntun perjalanan kita.

Aku sangat bersyukur bisa memiliki pengalaman camino ini. Berjalan bersama dunia yang terluka dan rapuh adalah pengalaman yang sangat berharga juga menyakitkan bagiku. Ketika aku melihat anak kecil mengemis dan mengamen di jam 12 malam, lalu ada pengemudi taxi tidur di kursi mobil, pemulung yang merogoh tempat sampah, orang yang tidur di depan sebuah ruko dengan beralaskan kardus tanpa menggunakan bantal ataupun selimut, seorang waria yang merayu pria di pinggir jalan, hingga seorang penjaga parkir di alfamart yang sedang bertengkar dengan seseorang demi memperebutkan lahan parkir, mereka bertarung mati-matian dengan segala kondisi demi bisa hidup. Aku mulai menyadari bahwa luka dunia yang kulihat bukan hanya milik mereka yang hidup di pinggir jalan, tetapi juga ada dalam diriku sendiri luka karena kurang bersyukur, luka karena sering mengeluh, luka karena memilih untuk tidak peduli. Hatiku bergejolak, bagaimana bisa aku yang hidup jauh lebih aman dan nyaman dari mereka masih selalu mengeluh atas apa yang sudah kumiliki. Aku merasa seperti ditampar kenyataan, aku yang sedikit lelah justru memilih ingin menyerah, sedangkan mereka terus memperjuangkan hidupnya hari demi hari, detik demi detik. Sangat tidak pantas kita menyalahkan dunia ataupun menyalahkan Tuhan padahal kita sendiri sering acuh tak acuh pada nilai-nilai kemanusiaan kita sendiri. Kita tidak dapat memilih lahir dari siapa dan tinggal di lingkungan yang bagaimana. Kaum behavioristik (Skinner) menganggap bahwa manusia sepenuhnya makhiuk reaktif, yang tingkah lakunya dikontrol oleh faktor-faktor dari luar. Lingkungan menjadi penentu tunggal tingkah laku manusia. Manusia tidak pada dasarnya baik atau jelek, tetapi netral, menjadi baik atau jelek tergantung lingkungannya. Kepribadian manusia terbentuk dari hubungan individu dengan lingkungannya. Aku sering berpikir bahwa aku adalah pribadi yang cukup peka dan peduli. Namun perjalanan ini seperti membuka topeng yang selama ini kupakai. Hingga aku berpikir apakah aku mampu membuat lingkungan yang aman dan nyaman bagi orang-orang seperti mereka?

Di tengah perjalanan aku benar-benar sangat lelah, kakiku lecet dan sakit, aku merasa sangat jengkel terhadap diriku sendiri, aku ingin menyerah, tapi setiap bertemu orang-orang yang berjuang untuk hidupnya dipinggir jalan membuatku merasa sangat bersalah jika aku memilih menyerah. Bahkan tanpa kusadari ternyata rekan seperjalananku sudah merasa lelah dan tidak kuat untuk melanjutkan perjalan. Aku sadari ternyata aku salah satu bagian dari manusia yang ingin menutup mata dari luka dunia. Ketika kakiku semakin sakit dan langkahku semakin berat, aku mulai memahami bahwa kelelahan ini bukan hanya tentang fisik. Ada kelelahan batin yang selama ini mungkin aku abaikan. Aku lelah karena terlalu sering menuntut hidup berjalan sesuai keinginanku. Aku lelah karena terlalu fokus pada diriku sendiri. Dan dalam kelelahan itu, aku justru dipaksa untuk berhenti sejenak, untuk melihat, untuk mendengar, dan untuk merasakan dengan lebih jujur. Tuhan hadir dalam setiap langkah yang terasa berat, dalam setiap perjumpaan yang membuka mataku, bahkan dalam rasa lelah yang hampir membuatku menyerah. Tuhan tidak menghilangkan rasa sakitku, tetapi Ia memberiku kekuatan untuk tetap melangkah. Dalam kelelahan dan rasa sakit itu, aku juga mulai merenungkan penderitaan Yesus Kristus ketika memanggul salib-Nya.

Jalan salib bukan hanya tentang penderitaan fisik, tetapi tentang kesetiaan untuk terus berjalan meskipun ditolak, disakiti, dan ditinggalkan. Aku menyadari bahwa sering kali aku mudah menyerah dalam hal hal kecil, sementara Yesus tetap melangkah dalam penderitaan yang begitu besar, bukan untuk diri-Nya sendiri, tetapi demi kasih kepada manusia. Bukan untuk menyamakan penderitaanku dengan penderitaan Kristus, tetapi untuk belajar setia, belajar bertahan, dan belajar mengasihi di tengah ketidaknyamanan. Harapan bagiku sekarang bukan lagi tentang hidup tanpa masalah, tetapi tentang keberanian untuk tetap berjalan meskipun ada luka. Harapan adalah percaya bahwa setiap langkah kecil memiliki arti, dan bahwa Tuhan bekerja bahkan dalam hal-hal yang tidak terlihat.

Sebagai langkah nyata, aku tidak ingin refleksi ini berhenti hanya sebagai tulisan atau perasaan sesaat. Dalam minggu ini, aku ingin mulai dari hal-hal kecil: lebih sadar ketika melihat orang lain yang membutuhkan, tidak langsung menghakimi, dan berani memberikan bantuan sederhana entah itu waktu, perhatian, atau materi sesuai kemampuanku. Aku juga ingin melatih diriku untuk tidak mengeluh dalam hal-hal kecil, tetapi belajar bersyukur dalam setiap keadaan. Perjalanan ini mengajarkanku bahwa berjalan bersama dunia yang terluka berarti juga bersedia terluka. Terluka karena berani melihat, karena berani peduli, dan karena berani mengasihi. Camino ini belum selesai, bukan hanya karena jarak yang belum kutempuh, tetapi karena proses di dalam diriku yang masih terus berjalan. Aku ingin belajar untuk tidak hanya berjalan melewati dunia yang terluka, tetapi juga berjalan bersama dunia itu dengan hati yang lebih terbuka, dengan langkah yang lebih sadar, dan dengan iman yang lebih hidup.

(Simon Permadi, TRM tk2)

Comments are closed.