Pada Jumat, 6 Februari 2026, Politeknik Industri ATMI Cikarang mengambil jeda yang tidak biasa. Di tengah ritme perkuliahan yang padat, setelah pekan ujian dan di sela special course, mahasiswa tingkat II dan III diajak berhenti sejenak dari dunia target, capaian, dan performa. Bukan untuk menambah materi kuliah, melainkan untuk kembali pada pertanyaan yang lebih mendasar siapakah aku, dan bagaimana aku hadir di dunia? Rekoleksi singkat bertajuk “Our Identity” ini menjadi yang pertama bagi mahasiswa tingkat II dan III, sebuah tonggak baru dalam pembinaan manusia berkelanjutan di Polin ATMI. Di sinilah pendidikan vokasi berbasis Jesuit kembali menegaskan jati dirinya untuk mendidik manusia secara utuh, bukan sekadar mencetak tenaga terampil. Rekoleksi ini bukan ruang pelarian, melainkan ruang pendalaman sebagai tempat mahasiswa belajar mendengarkan hidupnya sendiri.
Sebagai institusi pendidikan tinggi vokasi yang berakar pada tradisi Jesuit School, Politeknik Industri ATMI memandang refleksi-rekoleksi sebagai bagian esensial dari proses belajar. Dalam spiritualitas Ignasian, refleksi bukan aktivitas tambahan, melainkan cara hidup finding God in all things. Mahasiswa tingkat I telah mengalami ritme refleksi-rekoleksi bulanan selama tinggal di dormitory, dengan fokus pada pertanyaan who am I? dan pendalaman Seven Habits Stephen Covey. Namun perjalanan pembentukan manusia tidak berhenti di tahun pertama. Oleh karena itu, Campus Ministry bersama Tim Kemahasiswaan menggagas rekoleksi bagi tingkat II dan III sebagai bentuk pendampingan yang berkelanjutan. Rekoleksi ini menjadi penanda bahwa perhatian pada dimensi batin mahasiswa tidak berakhir saat mereka meninggalkan asrama. Pendidikan manusia tetap berjalan, seiring bertambahnya usia, pengalaman, dan tanggung jawab.
Tema Our Identity dipilih bukan tanpa alasan. Mahasiswa tingkat II dan III berada dalam fase hidup yang berbeda dari tahun pertama lebih sadar akan diri, mulai bergulat dengan pilihan, relasi, kegagalan, dan harapan. Identitas tidak lagi sekadar “siapa aku”, tetapi “bagaimana aku hidup, bertindak, dan mengambil sikap”. Karena itu, rekoleksi ini diarahkan pada pendalaman cara bertindak reflektif dan internalisasi nilai 4C 1L (competence, conscience, compassion, commitment, and leadership). Khusus bagi mahasiswa tingkat III, rekoleksi ini juga diberi aksen Man on Mission, sebagai persiapan batin menjelang masa magang dan perutusan ke dunia kerja. Identitas tidak berhenti pada pemahaman diri, tetapi menemukan arah dan tujuan hidup.
Secara teknis, peserta rekoleksi dibagi ke dalam tiga kelas yakni Tingkat II Program Studi Mesin Industri, Tingkat II Program Studi Manajemen Industri yang digabung dengan Teknologi Rekayasa Mekatronika, serta Tingkat III Program Studi Teknologi Rekayasa Mekatronika. Meskipun berada dalam kelas yang berbeda, seluruh sesi dirancang dalam kerangka yang sama. Rekoleksi ini menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry, sebuah metode yang menekankan kekuatan, pengalaman hidup, dan harapan. Metode ini tidak diperkenalkan secara teoritis kepada mahasiswa, tetapi dihadirkan secara implisit melalui alur sesi. Empat tahap (Discover, Dream, Design, Destiny) diterjemahkan ke dalam pengalaman konkret yang dekat dengan dunia mahasiswa. Dengan cara ini, refleksi tidak terasa abstrak, melainkan kontekstual dan personal.
Sesi pertama menjadi pintu masuk yang hening dan personal. Seluruh peserta, dari ketiga kelas, diajak membaca artikel yang sama berjudul “Aku Dikasihi–Dicintai”, sebuah refleksi yang terinspirasi dari buku The Art of Loving karya Erich Fromm. Bacaan ini tidak disajikan sebagai materi akademik, melainkan sebagai teks reflektif yang dibaca dalam suasana silentium terbatas, menyerupai praktik Lectio Divina. Mahasiswa membaca perlahan, berhenti ketika menemukan kalimat yang “menempel”, lalu diam untuk membiarkan perasaan dan pikiran hadir. Dalam keheningan itu, teks menjadi cermin pengalaman hidup. Banyak mahasiswa menyadari bahwa berbicara tentang cinta ternyata tidak sesederhana yang mereka bayangkan.
Artikel tersebut mengajak peserta menyelami tema-tema mendasar antara lain trauma of birth, pengalaman dicintai, dan pemahaman cinta sebagai sebuah seni. Bagi sebagian mahasiswa, kata-kata dalam teks itu beresonansi dengan luka masa lalu, relasi keluarga, atau dinamika cinta yang sedang mereka jalani. Setelah membaca, peserta diminta menuliskan satu kalimat yang paling menyentuh serta merefleksikan apa yang mereka rasakan dan pikirkan. Proses ini sederhana, tetapi dampaknya nyata. Tidak sedikit mahasiswa yang mengaku mendapatkan cara pandang baru tentang cinta bukan sebagai sesuatu yang instan, melainkan sebagai proses belajar, merawat, dan bertumbuh. Di titik ini, sesi Discover dan Dream mulai bekerja secara halus dan tidak langsung.
Sesi kedua membawa peserta masuk lebih jauh ke dalam kisah hidupnya masing-masing. Metode yang digunakan berbeda di setiap kelas, tetapi tujuannya sama untuk membantu mahasiswa mengenali diri secara lebih jujur dan mendalam. Di kelas Mesin Industri Tingkat II, sesi ini dinamai My Mindmap. Mahasiswa diajak mengenali figur-figur berpengaruh dalam hidupnya, talenta yang dimiliki, serta gambaran diri yang mereka sadari selama ini. Semua itu diekspresikan dalam bentuk mindmap yang dilengkapi simbol-simbol personal. Proses visual ini membantu mahasiswa melihat dirinya secara utuh, bukan sekadar potongan-potongan pengalaman.
Di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, sesi kedua diberi nama Life Investigation. Dengan pendekatan metafora seorang detektif, mahasiswa diajak menelusuri pola-pola hidup, keputusan penting, serta figur yang membentuk perjalanan mereka. Namun yang membedakan sesi ini adalah sudut pandang syukur. Mahasiswa tidak hanya diminta mengenali peristiwa, tetapi juga memaknainya dengan rasa terima kasih bahkan atas pengalaman yang tidak selalu menyenangkan. Proses ini membuka kesadaran bahwa identitas dibentuk bukan hanya oleh keberhasilan, tetapi juga oleh kegagalan dan keterbatasan. Di sinilah refleksi mulai bersentuhan dengan kedewasaan.
Untuk kelas TRM Tingkat III, alur sesi sedikit dimodifikasi. Sesi pertama diawali dengan perkenalan yang unik dengan menyebutkan fun fact tentang diri disertai gerakan. Dinamika ini mencairkan suasana sekaligus membuka sisi lain dari diri dan sesama yang jarang terlihat di ruang kelas. Baru pada sesi kedua, peserta diajak membaca teks “Aku Dikasihi–Dicintai”. Urutan ini membantu mahasiswa tingkat akhir memasuki refleksi dengan kesiapan emosional yang lebih terbuka. Mereka tidak hanya membaca teks, tetapi membacanya dari ruang relasi yang sudah terbangun.
Sesi ketiga dan keempat merupakan turunan dari tahap Design dan Destiny dalam Appreciative Inquiry. Di kelas Mesin Industri Tingkat II, setelah menyelesaikan mindmap, mahasiswa diajak mengikuti Peer Walk. Dalam sesi ini, mahasiswa berpasangan dan berjalan bersama sambil mengontemplasikan pengalaman hidup dan cinta secara empatik. Peer Walk menjadi latihan nyata kontemplasi empatik untuk belajar mendengarkan tanpa menghakimi, hadir tanpa memberi solusi. Banyak mahasiswa menyadari bahwa didengarkan dengan sungguh adalah pengalaman yang menyembuhkan. Empati tidak diajarkan lewat teori, tetapi dialami secara langsung.
Di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, kontemplasi empatik dilakukan dalam kelompok kecil berisi tiga orang. Setiap peserta bergantian berperan sebagai pencerita, pendengar aktif, dan pendengar pasif. Dinamika ini melatih keterampilan mendengarkan, melakukan probing, dan paraphrase seperti sebuah latihan menjadi konselor awam. Prinsipnya sederhana yakni we listen, we don’t judge. Mahasiswa belajar bahwa kehadiran yang penuh perhatian sering kali lebih bermakna daripada nasihat. Latihan ini menumbuhkan kepekaan sosial dan belas kasih sebagai bagian dari identitas diri.
Di kelas TRM Tingkat III, sesi ketiga dikemas dalam aktivitas Life Graph dan simbol diri. Mahasiswa diajak memetakan perjalanan hidupnya dalam bentuk grafik, dari masa lalu hingga saat ini. Melalui visualisasi ini, peserta diajak menemukan pola, titik balik, dan momen penting yang membentuk diri mereka. Lebih dari itu, mereka diajak melihat kembali jejak Tuhan dalam setiap fase hidup. Aktivitas ini membantu mahasiswa tingkat akhir memaknai perjalanan panjang yang telah mereka lalui sebelum melangkah ke fase baru.
Sesi keempat menjadi puncak rekoleksi yakni tentang perumusan diri. Di kelas Mesin Industri Tingkat II dan TRM Tingkat III, perumusan ini dikaitkan dengan Latihan Rohani 23 tentang asas dan dasar. Mahasiswa diajak mengenali prinsip-prinsip hidup yang menjadi fondasi tindakan mereka. Identitas diri dirumuskan dalam kaitannya dengan nilai 4C 1L, bukan sebagai konsep abstrak, tetapi sebagai arah hidup yang konkret. Sementara itu, di kelas Manajemen Industri dan TRM Tingkat II, mahasiswa diajak mendalami self-concept. Mereka merefleksikan aspek diri yang sudah kuat dan yang masih perlu dikembangkan dalam terang Our Identity 4C 1L.
Sebagai penutup, seluruh peserta menuliskan refleksi jurnal secara utuh atas pengalaman rekoleksi dari pagi hingga sore hari. Refleksi ini menggunakan kerangka Pedagogi Ignasian untuk mengenali gerak batin, mensyukuri pengalaman, menemukan makna, dan merumuskan kehendak atau aksi ke depan. Menulis menjadi ruang dialog batin, tempat mahasiswa menyusun kembali pengalaman yang telah mereka jalani. Tidak ada jawaban benar atau salah, hanya kejujuran pada diri sendiri. Sarana yang digunakan membantu mahasiswa berdamai dengan dirinya dan berani melangkah.
Dengan terselenggaranya rekoleksi tingkat II dan III ini, Politeknik Industri ATMI menegaskan komitmennya pada pendampingan manusia secara berkelanjutan. Perhatian pada dimensi batin tidak hanya menjadi hak mahasiswa dormitory, tetapi dialami oleh seluruh mahasiswa. Rekoleksi ini juga membuka jalan bagi pengembangan kurikulum pendidikan manusia yang lebih utuh dan berkesinambungan. Rekoleksi menjadi ruang jeda, ruang napas, sekaligus ruang peneguhan arah hidup. Harapannya, setiap mahasiswa semakin mengenal dirinya, sesamanya, dan panggilan hidupnya. (HM-Campus Ministry)
Ad Maiorem Dei gloriam.
Refleksi peserta : (Rekoleksi Our Identity)

