Rekoleksi Our Identity yang diikuti mahasiswa tingkat 2 dan 3 Politeknik ATMI menjadi kesempatan bagi para peserta untuk berhenti sejenak, merefleksikan perjalanan hidup, serta meneguhkan nilai dan tujuan pribadi. Dalam suasana yang hening dan reflektif, mahasiswa diajak untuk semakin mengenal diri dan memaknai proses pembelajaran yang mereka jalani.
Tulisan-tulisan berikut ini merupakan rangkuman hasil refleksi para peserta rekoleksi. Setiap refleksi menggambarkan pengalaman, kesadaran baru, serta komitmen pribadi yang tumbuh selama kegiatan berlangsung. Semoga refleksi ini dapat menjadi inspirasi dan pengingat akan pentingnya proses mengenal diri dalam perjalanan pendidikan dan kehidupan.
Who Am I? – Refleksi Memahami Makna Cinta dan Diri
Sudah lama aku tidak merasakan rekoleksi. Rasanya aku diajak kembali untuk melihat apa saja yang sudah kulewati. Banyak hal yang kupelajari tentang makna cinta yang sebenarnya. Aku merasa terpanggil ketika membaca teks The Art of Love. Selama ini, aku mengira cinta yang kujalani sudah merupakan makna cinta yang sebenarnya.
Aku terlalu terlena untuk terus berharap pada orang lain, pencapaian, bahkan pada pengakuan bahwa aku adalah orang yang spesial atau berharga. Aku berharap lewat cinta, hidupku bisa terisi. Semua itu bukanlah kesalahan, melainkan kekeliruan, karena cinta ternyata bukan hanya tentang perasaan yang harus dipenuhi, tetapi juga sikap hidup yang membutuhkan pembelajaran dan proses. Aku mengira aku selalu gagal dalam percintaan, ternyata akulah yang belum sungguh belajar apa itu cinta sejati.
Melalui rekoleksi ini, aku juga diajak kembali untuk menengok peristiwa-peristiwa yang terus kuingat hingga saat ini. Aku membayangkan kembali bagaimana perasaanku saat berada dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Dari sana, aku mulai mengenali emosi yang paling menonjol dalam diriku, serta figur-figur yang paling berkesan dalam perjalanan hidupku. Aku juga diajak untuk melihat sejauh mana 4C & 1L berperan dalam diriku.
Dari semua proses itu, aku belajar bahwa manusia akan terus belajar sepanjang hidupnya: belajar memahami cinta yang sesungguhnya, belajar mengenali emosi dalam diri, dan belajar melihat peran 4C & 1L dalam hidup. (Hizkia Putra Azarya-Prodi TRM Tk2)
“Cinta karena luka, dan luka membentuk cinta”
Saya selalu merasa senang saat rekoleksi karena saya diajak untuk mengolah diri saya melalui materi-materi yang dibawakan.
Setiap orang datang ke dunia dengan membawa cerita bahkan sebelum ia mampu merangkai kata. Dan saya yakin bahwa setiap orang datang ke dunia dengan membawa luka bahkan sebelum ia mampu merangkai kata. Luka karena rasa aman atau bahkan luka karena merasa terancam. Saya baru menyadari bahwa “luka” memiliki arti yang sangat dalam, pengaruh yang sangat dalam, padahal kita sendiri tidak menyadari bahwa itu adalah luka. Luka membentuk dialog batin dan dialog batin lah yang menentukan bagaimana cara kita mencintai.
Di sini, di titik ini saya menyadari bahwa cinta dalam diriku adalah cinta yang salah. Maka dari itu, aku ingin memperbaikinya, memperbaiki bagaimana aku mencintai diriku sendiri. (Simon Permadi – Prodi TRM)
Saat saya membaca “The Art of Loving,” dimana saya dapat memahami cinta itu adalah seni, banyak yang dipahami untuk mencintai kita, tetapi harus berdamai terlebih dahulu dengan masa lalu. Memahami cinta itu rumit tetapi itu penting untuk kita ketahui bahwa cinta bukan kata yang indah. Ada satu kalimat yang membuat saya benar-benar tersentuh. Kalimat itu berbunyi, “Pengenalan diri membawa kita pada satu kesadaran mendasar bahwa aku adalah pribadi yang dikasihi.”
Ketika mengulang kembali kejadian-kejadian masa lalu sebagai rangkaian batin yang belum selesai. Kita diajak untuk berdamai dengan masa lalu. Bagaimana kehidupan dahulu kita, respon di setiap orang yang kadang menyedihkan, merasa senang dan lain-lain perasaan waktu itu. dimana letak dominan yang kita terima waktu itu dan dikelompokan menjadi satu bingkai identitas kita. (Muhammad Habib – Prodi TRM)
“Cinta yang Menumbuhkan”
Saya memaknai kegiatan hari ini untuk menyelami kedalaman batin dan memeriksa apa yang salah dari diri ini serta langkah apa yang dapat dilakukan untuk kedepannya. Hasil dari pengolahan 4C+1L menunjukkan bahwa kedepannya saya harus lebih berani ambil tanggung jawab yang lebih besar dari apa yang saya lakukan hari ini, mengingat logo saya adalah vas bunga pecah yang mana vas bunga pecah ini disambung menggunakan lem berwarna emas, yang mana maknanya lebih dalam saya lebih percaya diri akan kemampuan dan being shape not broken. hail ini membuat vas bunga menjadi lebih cantik. karena retakannya aksi konkrit saya di masa yang akan datang jauh lebih intentional dalam setiap tindakan berkata dan bertindak, memastikan bahwa semua keputusan diambil dalam dasar kesadaran, serta niat menjadi lebih baik. (Efrata Gading Pasoloran – Prodi TRM)
“Who Am I?”
Sudah lama aku tidak merasakan rekoleksi. Rasanya aku diajak kembali lagi, untuk melihat apa saja yang sudah kulewati. Banyak hal yang kupelajari tentang makna cinta yang sebenarnya. Aku merasa terpanggil ketika membaca teks tentang Art of Love. Rasanya cinta yang kujalani ku mengira merupakan makna sebenarnya dari cinta itu sendiri. Akuterlalu terlena untuk terus berharap pada orang lain, pencapaian, bahkan hingga pengakuan bahwa aku adalah orang spesial / berharga. Aku berharap lewat cinta, hidupku bisa terisi. Dan hal itu semua bukan kesalahan, tapi kekeliruan, karena cinta ternyata bukan hanya tentang perasaan yang harus dipenuhi, namun juga sikap hidup, dimana disitu butuh pembelajaran, proses, dan lainnya. Aku kira aku selalu gagal dalam percintaan, ternyata diriku lah yang tak pernah belajar apa itu cinta sejati?
Dari rekoleksi ini aku juga diajak kembali untuk flashback peristiwa apa saja yang membuatku terus mengingatnya hingga saat ini. Dan aku pun membayangkan bagaimana perasaanku saat ada di peristiwa itu. Dari situ aku mulai tau, emosional apa yang paling menonjol dari diriku, serta figur yang paling berkesan dalam peristiwa hidupku. Aku juga diajak untuk mengenal diriku sejauh mana 4C+1L berperan dalam diriku.
Dari itu semua aku belajar, bahwa sampai kapanpun manusia akan terus belajar. Belajar mengerti cinta sesungguhnya. Belajar mengenali emosional dalam diri kita, belajar sejauh mana 4C+1L berperan dalam hidup kita. (Hizkia Putra Azarya – Prodi TRM)
Pada saat kita lahir, kita memiliki trauma karena kita seperti terpisah dari kondisi nyaman, maka bayi pada saat lahir itu menangis. Kemudian aku sadar terkadang diriku yang terkadang aku masih terlalu sibuk dengan apa yang di luar diri. Ternyata diri sendiri pun perlu diperhatikan. Pada bagian kekosongan yang disangkal terkadang aku sering ingin melupakan pengalaman-pengalaman yang pahit, ternyata pengalaman itu seharusnya merasakan kembali dan menerimanya. Aku disini untuk belajar untuk fokus terhadap diri sendiri untuk memberikan perhatian dan aku juga belajar untuk mengingat dan menerima perasaan yang dipendam. (Timothy Joseph Wijaya – Prodi TRM)
“Apa itu CINTA”
Hari ini aku belajar banyak hal dimulai membaca buku dari Erich Fromm yang berjudul “The Art of Loving.” Aku sadari ada banyak hal dari kutipan buku ini yang menarik bagiku. Menurut buku ini, manusia selalu dibentuk oleh pengalaman dicintai atau tidak dicintai. Aku sadar diriku yang seperti ini, baik sifat emosi dan lain-lain disebabkan oleh pengalaman dicintai seiring perkembangan waktu rasa pengalaman dicintai dan tidak dicintai ini membentuk diri hingga saat ini aku belajar cara menginvestigasi diri dari yang diremehkan hingga diterima oleh orang disekitarku. Saat ini aku menyadari bahwa aku adalah pribadi yang cuek karena beberapa pengalaman sebelumnya. Aku akan banyak berlatih untuk menerima dan aku sedang belajar untuk lebih baik lagi. Aku belajar 4C & 1L melalui gambar timbangan dan bagian mana yang diriku banget ternyata competence dan conscience adalah keunggulanku. Aku berusaha agar 2C lainnya bisa aku kembangkan dalam diri ini. (Muhammad Zidan K – Prodi TRM)
“Arti Kata Cinta”
Dari situ saya menyadari bahwa saya adalah saya, bukan orang lain. Saya sangatlah berharga terlepas dari apa yang telah saya lakukan dan lalui, saya sangat bangga terhadapdiri sendiri karena mampu melangkah sejauh ini, serta berjuang sekuat tenaga untuk memberikan yang terbaik di hidup ini. (Muhammad Rafi Pratama – Prodi)
Hii, aku Miko. Hari ini aku seneng banget bisa rekoleksi saling bertukar pikiran kembali ke dalam masa lalu ku yang rapuh. Hari ini banyak belajar tentang cinta. Ternyata cinta bukan hanya untaian kata, namun perlu aksi nyata. Tidak hanya cinta tetapi juga luka, luka juga perlu diberi ruang cerita agar dari luka menjadi sukacita. Hari ini aku juga menjadi pendengar sekaligus yang bercerita tentang suatu hal. Saling bertukar pikiran satu dengan yang lain, menumbuhkan rasa empati serta peduli kepada teman.
Begitu banyak pelajaran, masukan, dan pengalaman hari ini yang dapat aku jadikan acuan dalam menata atau menyusun masa depan yang lebih baik, menjadi pribadi yang tidak lagi bergelut dengan luka batin, tetapi aku akan menjadi pribadi yang dengan rendah hati dalam melangkah untuk mencapai tujuan yang aku inginkan dengan semangat 4C&1L yang sudah kupelajari serta memahami siapakah aku. Aku sangat yakin dengan semua ini untuk menuju masa depan yang baik dan dengan selalu rendah hati/ Terimakasih kepada Mba Feli, Mas Hari, serta semua tim kemahasiswaan yang terlibat. (Yohanes Miko Gotama – Prodi Manajemen Industri)
Sharing bersama teman-teman memberikan pemahaman baru bahwa setiap orang memiliki lukanya masing-masing atau masalahnya sendiri. Cinta gagal karena manusia tidak mau belajar. Maka dari itu, pelan-pelan aku akan membuka diriku, mencintai diriku bersama dengan luka di masa lalu yang akan kujadikan sebagai pembelajaran. Menjadi diriku yang jauh lebih baik di masa depan. (Stefani Citra – Prodi Manajemen Industri)
“Rekoleksi Kembali”
Pada rekoleksi ini aku mendengarkan bahwa cinta itu adalah seni. Bukan hanya “Aku suka kamu, aku cinta kamu.” Bukan hanya sekedar omongan yang lewat telinga kanan keluar telinga kiri. Tetapi harus dimaknai. Kita harus mencintai dengan yang berisi bukan yang kosong lalu kita mencintai. Aku menjadi bersyukur bisa mengetahui tentang hal mencintai dan dicintai.
Aku juga menemukan melalui identifikasi kepribadian, aku siapa. Ternyata aku memiliki pola yang aku tidak ketahui, yaitu “kebebasan” yang dimana jika aku makin terikat maka aku akan stress. Maka dari itu aku harus memperbaiki agar tidak berkelanjutan dan mengontrolnya dengan baik. (Lukas Tatag Hari Utama – Prodi Manajemen Industri)
Berikut adalah refleksi mahasiswa yang dirangkum oleh pendamping sebagai potret perjalanan batin selama rekoleksi Our Identity.
“Setiap orang datang ke dunia dengan membawa cerita bahkan sebelum ia mampu merangkai kata. Dan saya yakin bahwa setiap orang datang ke dunia dengan membawa luka bahkan sebelum ia mampu merangkai kata. Luka membentuk dialog batin dan dialog batinlah yang menentukan bagaimana cara kita mencintai. Maka dari itu, aku ingin memperbaikinya, memperbaiki bagaimana aku mencintai diriku sendiri.” (Simon Permadi – Prodi TRM Tk2)
“Pengenalan diri membawa kita pada satu kesadaran mendasar bahwa aku adalah pribadi yang dikasihi. Ketika mengulang kembali kejadian-kejadian masa lalu sebagai rangkaian batin yang belum selesai, kita diajak untuk berdamai dengan masa lalu. Dari situlah identitas kita terbentuk.” (Muhammad Habib – Prodi TRM Tk2)
“Vas bunga pecah yang disambung menggunakan lem berwarna emas yang merupakan simbol diriku, memiliki makna bahwa i’m being shaped, not broken. Retakan membuat vas bunga menjadi lebih cantik.” (Efrata Gading Pasoloran – Prodi TRM Tk2)
“Aku sadar terkadang diriku masih terlalu sibuk dengan apa yang di luar diri. Pada bagian kekosongan yang disangkal, terkadang aku sering ingin melupakan pengalaman-pengalaman yang pahit. Ternyata pengalaman itu seharusnya dirasakan kembali dan diterima.” (Timothy Joseph Wijaya – Prodi TRM Tk2)
“Menurut buku ini, manusia selalu dibentuk oleh pengalaman dicintai atau tidak dicintai. Pengalaman dicintai dan tidak dicintai ini membentuk diri hingga saat ini. Aku menyadari bahwa aku adalah pribadi yang cuek karena beberapa pengalaman sebelumnya.” (Muhammad Zidhan K – Prodi TRM Tk2)
“Saya menyadari bahwa saya adalah saya, bukan orang lain. Saya sangatlah berharga terlepas dari apa yang telah saya lakukan dan lalui. Saya sangat bangga terhadap diri sendiri karena mampu melangkah sejauh ini.” (Muhammad Rafi Pratama – Prodi TRM Tk2)
“Ternyata cinta bukan hanya untaian kata, namun perlu aksi nyata. Tidak hanya cinta tetapi juga luka, luka juga perlu diberi ruang cerita agar dari luka menjadi sukacita. Begitu banyak pelajaran yang dapat aku jadikan acuan dalam menata masa depan yang lebih baik.” (Yohanes Miko Gotama – Prodi Manajemen Industri Tk2)
“Setiap orang memiliki lukanya masing-masing atau masalahnya sendiri. Cinta gagal karena manusia tidak mau belajar. Maka dari itu, pelan-pelan aku akan membuka diriku dan mencintai diriku bersama dengan luka di masa lalu.” (Stefani Citra – Prodi Manajemen Industri Tk2)
“Cinta itu adalah seni. Bukan hanya “aku suka kamu, aku cinta kamu,” tetapi harus dimaknai. Melalui identifikasi kepribadian, aku menemukan pola dalam diriku yang sebelumnya tidak aku ketahui.” (Lukas Tatag Hari Utama – Prodi Manajemen Industri Tk2)
(FSM – Kemahasiswaan)

