WhatsApp Image 2026-01-28 at 14.29.46

Di Balik Pilihan Menyekolahkan Anak di ATMI Refleksi Orang Tua tentang Harapan, Kekhawatiran, dan Pertumbuhan

(Berdasarkan sharing dalam acara Hari Orang Tua, Sabtu, 13 Desember 2025)

Di antara hiruk pikuk bengkel, jadwal padat, dan disiplin yang ketat, ada satu suara yang sering kali tidak terdengar dengan jelas: suara orang tua. Pada Hari Orang Tua Xaverius Dormitory, suara itu muncul, yaitu pelan, jujur, dan apa adanya. Bukan dalam bentuk tuntutan, melainkan refleksi tentang harapan, rasa lelah, kekhawatiran, dan kepercayaan.

Artikel ini bukan tentang keberhasilan acara, melainkan tentang makna pendidikan di ATMI dari sudut pandang mereka yang pertama kali percaya dan melepas anaknya pergi: orang tua.

“Kami Tidak Menyesal, Tapi Kami Lelah”

Hampir semua orang tua menyampaikan hal yang sama: tidak ada penyesalan menyekolahkan anak di ATMI. Mereka melihat ATMI sebagai tempat yang serius mendidik, tidak membuang waktu, dan sungguh menyiapkan anak untuk dunia kerja dan kehidupan nyata.

Namun di balik keyakinan itu, ada kejujuran yang menyentuh: lelah.
Lelah secara fisik, emosional, dan finansial. Terutama bagi orang tua tunggal, menyekolahkan anak di ATMI adalah perjuangan yang tidak ringan. Ada rasa pegal karena bekerja keras, ada rasa kehilangan karena anak tidak lagi tinggal di rumah, bahkan ada yang sempat jatuh dalam kesedihan karena harus berpisah.

Di sinilah pendidikan di Politeknik Industri ATMI bukan hanya soal mahasiswa, tetapi juga tentang orang tua yang sedang berproses melepaskan.

Disiplin yang Terlihat, Karakter yang Mulai Tumbuh

Banyak orang tua bersyukur melihat perubahan konkret: anak yang dulu sulit bangun pagi, kini mulai disiplin; anak yang dulu santai, kini lebih bertanggung jawab; anak yang dulu tertutup, kini mulai menyapa, peduli, dan berinteraksi.

 

Bagi sebagian orang tua, perubahan itu sangat terasa. Bagi sebagian lainnya, perubahan terlihat perlahan atau belum signifikan, terutama jika anak sejak awal sudah dibiasakan disiplin di rumah. Refleksi ini penting: pertumbuhan tidak selalu spektakuler, tetapi sering kali terjadi secara diam-diam.

Orang tua tidak menuntut anak menjadi sempurna. Mereka hanya berharap satu hal sederhana namun mendasar:

Bertumbuh menjadi pribadi yang lebih siap menghadapi hidup.

ATMI: Mahal, Keras, Tapi Dipercaya

Beberapa orang tua dengan jujur menyebut ATMI sebagai pendidikan yang mahal dan keras. Anak diperlakukan “seperti orang kerja”, dengan ritme yang menuntut fisik dan mental. Ada kekhawatiran soal kelelahan, soal makan, soal minum saat praktik bengkel. Namun di saat yang sama, justru karena itu orang tua merasa lebih tenang. ATMI dipercaya karena ada sistem, ada pembinaan karakter, ada romo, pamong, dan promoter yang mendampingi. Pendidikan di ATMI dipandang bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan manusia.

Bagi orang tua, ATMI bukan tempat “menjerumuskan” anak, melainkan menempa.

Harapan Orang Tua: Sederhana, Tapi Dalam

Jika dirangkum, harapan orang tua sebenarnya tidak rumit:

  • Anak lulus
  • Anak bekerja
  • Anak mandiri dan bertanggung jawab
  • Anak punya karakter dan sikap yang baik
  • Anak tetap terbuka pada orang tua, terutama saat kesulitan

Mereka tidak menuntut anak menjadi orang besar. Mereka berharap anak bisa berdiri sendiri ketika suatu hari orang tua sudah tidak ada. Harapan ini sederhana, tetapi sarat cinta dan kecemasan.

Refleksi untuk Kita: Pendidik dan Mahasiswa

Bagi kita karyawan, pamong, romo, promoter, dan pendidik di Kampus Politeknik Industri ATMI, refleksi orang tua ini adalah cermin. Bahwa setiap aturan, jadwal, dan tuntutan bukan sekadar sistem, tetapi menyangkut anak yang dipercayakan sepenuhnya oleh keluarga.

Bagi mahasiswa Tingkat 1, suara orang tua ini adalah pengingat sunyi: bahwa di balik seragam bengkel yang bau oli, di balik uang jajan yang bertambah, dan di balik jadwal yang padat, ada orang tua yang lelah tapi percaya, rindu tapi mendukung.

Pendidikan di Politeknik Industri ATMI bukan hanya soal menjadi kompeten, tetapi juga tentang menghargai cinta yang sudah lebih dulu berjuang.

(Promoter of Leaders)

Comments are closed.