Politeknik Industri ATMI melalui Xaverius Dormitory kembali menyelenggarakan Rekoleksi pada Bulan Januari tanggal 9–11 Januari 2026 di Aula Loyola bagi mahasiswa/i Tingkat 1. Kegiatan ini menjadi bagian dari Leadership Program yang bertujuan membentuk karakter mahasiswa agar lebih proaktif dan memiliki arah hidup yang jelas.
Dalam rekoleksi ini, mahasiswa mendalami Habit 1 (Be Proactive) dan Habit 2 (Begin with the End in Mind) dari buku The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey. Kedua habit ini diperkenalkan sebagai bekal untuk membangun kesadaran diri, tanggung jawab pribadi, serta perencanaan hidup yang terarah.
Selama tiga hari, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga menjalani proses refleksi secara menyeluruh—mulai dari cara memandang realitas, merespons situasi, hingga merancang tujuan hidup secara konkret.
Satu Realitas, Banyak Cara Pandang
Rekoleksi diawali dengan sesi pembuka yang mengajak peserta menyadari bahwa satu realitas dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Melalui contoh visual dan diskusi kelompok, peserta memahami bahwa perbedaan pandangan tidak selalu berkaitan dengan benar atau salah, melainkan dipengaruhi oleh pengalaman hidup masing-masing.
Kesadaran ini menjadi pintu masuk untuk memahami Seven Habits, bahwa perubahan sejati berawal dari dalam diri, bukan dari situasi di luar. Peserta diajak untuk lebih terbuka, tidak reaktif, serta berani menunda penilaian.
Habit 1 – Proaktif: Hening Sebelum Bertindak
Pada sesi Habit 1 (Be Proactive), peserta diajak membedakan sikap reaktif dan proaktif. Sikap reaktif ditandai dengan respons yang dikuasai emosi, pikiran yang “berisik”, dan kecenderungan mendramatisasi keadaan. Banyak peserta menyadari bahwa mereka sering menjadi “sutradara” atas pikiran dan perasaan sendiri.
Melalui latihan hening dan refleksi, peserta belajar mengambil jarak dari situasi, mempertimbangkan pilihan, dan tidak langsung mengikuti dorongan emosi. Sikap proaktif dimaknai sebagai kemampuan memilih respons secara sadar, bukan sekadar bereaksi.
Konsep See – Judge – Act diperkenalkan sebagai langkah praktis: melihat situasi secara objektif, menimbang dengan jernih, lalu bertindak secara sadar. Dari sini, peserta memahami bahwa sikap proaktif merupakan bentuk kemerdekaan pribadi.
Melatih Sikap Proaktif melalui Aktivitas
Pemahaman tentang proaktif diperdalam melalui berbagai aktivitas. Peserta membaca materi Habit 1 secara individu dalam suasana hening, kemudian membagikan pemahaman dalam diskusi kelompok.
Permainan kartu situasi dan kartu reaksi melatih peserta merespons berbagai kondisi secara spontan. Aktivitas ini membantu peserta mengenali perbedaan bahasa reaktif dan bahasa proaktif, sekaligus menyadari bahwa setiap respons adalah pilihan.
Selain itu, latihan menggambar alam sekitar dalam keheningan menjadi pengalaman reflektif yang sederhana namun bermakna. Peserta belajar untuk hadir sepenuhnya pada momen, melatih fokus, ketenangan, dan kesadaran diri.
Habit 2 – Merujuk pada Tujuan Akhir
Memasuki Habit 2 (Begin with the End in Mind), peserta diajak merenungkan pertanyaan mendasar: “Ke mana arah hidup saya?” Mereka diajak membayangkan tujuan akhir hidup untuk menyadari nilai, prinsip, dan harapan yang ingin diwujudkan.
Peserta juga diperkenalkan pada konsep “dua kali penciptaan”, yaitu penciptaan mental dan penciptaan fisik. Hidup tanpa arah disadari sebagai hidup yang mudah mengikuti jalur orang lain. Sebaliknya, hidup yang terarah adalah hidup yang direncanakan dan dipimpin oleh diri sendiri.
Sesi ini menegaskan bahwa tujuan hidup bukanlah batasan, melainkan panduan agar setiap keputusan memiliki makna.
Dari Tujuan ke Komitmen: Menyusun SMART Goals
Rekoleksi ditutup dengan penyusunan SMART Goals sebagai langkah konkret menerjemahkan tujuan hidup. Peserta membuat timeline rencana hidup selama masa studi di ATMI, setelah lulus, hingga sepuluh tahun ke depan.
Tujuan yang dirumuskan harus Spesifik, Terukur, Dapat Dicapai, Relevan, dan Terikat Waktu. Proses ini membantu peserta memahami bahwa impian memerlukan perencanaan dan tanggung jawab pribadi.
Sebagai peneguhan komitmen, peserta membacakan tujuan hidupnya di hadapan teman-teman. Momen ini menjadi simbol keberanian untuk mengambil kendali atas hidup dan berkomitmen pada arah yang dipilih.
Rekoleksi ditutup dengan lari pagi, refleksi benang merah, dan post-test. Seluruh rangkaian kegiatan menegaskan bahwa proses refleksi tidak berhenti pada kegiatan ini, tetapi dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap yang lebih sadar, terarah, dan bertanggung jawab.
(Promoter of Leaders)

